
"Selamat Malam Tuan dan Nyonya Pradipta, senang bertemu tanpa sengaja." Suara bariton seorang lelaki paruh baya menggema di telinga kami semua.
Kakak Ipar tersenyum -agak terpaksa- dan mengeratkan genggaman di tangan istrinya, "Senang bertemu dengan Anda juga, Tuan dan Nyonya Gubernur, tapi mohon maaf kami harus segera pulang karena–"
Kalimat Kakak Ipar menggantung, dia melirik ke arahku mencari sebuah alasan masuk akal untuk disampaikan kepada ayah dan ibu Kak Tala.
"Tuan Muda Kecil rewel, mungkin merindukan ibunya," jawabku.
"Zean rewel? Kenapa Bibi Lidya tidak mengabariku?" protes Kak Litha pelan dengan mata menyipit ke arahku. Aku tersenyum canggung.
"Baiklah. Semoga kita punya kesempatan bertemu lagi dan bisa meluangkan waktu untuk berbincang," sahut Tuan Gubernur, "Tapi kenapa bisa ada putraku di belakang Anda, Tuan Pradipta?" tanyanya memandang Kak Tala dan semua mengikut pandangannya.
Aku menyunggingkan senyum di salah satu sudut bibir menyaksikan kebingungan di raut wajah mereka, "Kak Tala adalah seniorku meski kami berbeda jurusan. Kebetulan kami tadi bertemu di lobby dan mengobrol sebentar di taman sebelum kedua kakakku datang untuk mengajakku pulang."
"Tidak kusangka takdir akan membawa kita bertemu," sahut seorang wanita dengan suara bergetar.
"Bu," bisik suaminya memperingati. Lagi-lagi aku tersenyum di satu sudut bibir.
Selain suaranya yang bergetar, dia juga memandang nanar kakak perempuanku. Sekuat mungkin dia menahan gejolak di dalam hatinya, apa ada sesuatu yang diketahuinya?
"Saya pamit Tuan dan Nyonya Gubernur, selamat malam." Kakak Ipar ingin selekasnya meninggalkan tempat ini.
Tuan Gubernur mengangguk, "Berhati-hatilah di jalan, Tuan."
Kakak Ipar tersenyum dan balas mengangguk, kemudian dia menarik tangan Kak Litha yang masih terpaku menatap Nyonya Gubernur.
"Apa mereka saling mengenal?" bisik Kak Tala.
Aku mengangkat bahu, tidak tahu.
"TUNGGU!"
Kak Litha dan Kakak Ipar berbalik.
"Apa aku boleh memelukmu, Nyonya?" pinta Nyonya Gubernur menahan tangis.
"Ten–"
Suara Kak Litha terhenti seiring tangannya digenggam kuat Kakak Ipar hingga dia meringis kesakitan.
"Maaf. Aku begitu emosional melihat Anda karena mengingatkanku pada seseorang yang aku rindukan selama ini," ujarnya pelan nyaris tak terdengar, entah mengapa aku merasa sesak mendengarnya.
"Mas." Sorot mata Kak Litha memohon pada suaminya untuk mengizinkannya memeluk Nyonya Gubernur.
Terdengar helaan nafas yang teramat berat sebelum izin diberikan, "Tidak lama."
"Terimakasih."
Kak Litha mendekati Nyonya Gubernur yang langsung memeluk erat kakakku, saat itulah tangis ibu Kak Tala pecah seakan dia meluapkan semua kerinduan yang sudah lama dipendam.
Setelah beberapa waktu, Nyonya Gubernur mengurai pelukan, memandang lekat wajah Kak Litha, "Kau– kau sangat mirip, mirip–"
"Bu," Tuan Gubernur kembali memperingati istrinya, dengan segera dia memberikan penjelasan, "Maaf Tuan Pradipta. Wajah istri Anda mirip dengan seseorang yang disayangi istriku, jadi dia begitu emosional melihat Nyonya."
Ada ekspresi tidak senang di wajah Kakak Ipar tapi sebisa mungkin ditutupinya sebab lawan bicaranya adalah penguasa tempat dimana lokasi sektor utama bisnis Pradipta Corp. berada.
"Dia kakak perempuanku yang sudah meninggal. Kami semua tumbuh bersama sejak kecil, bahkan dialah yang menjadi mak comblang awal hubungan kami. Meski dia kakakku tapi kenyataannya dia lebih menyayangi istriku daripada adiknya sendiri, hehehe ..."
Ada kegetiran pada nada suara Sang Gubernur. Ku alihkan pandanganku menatap bulan, mencoba tidak terbawa suasana. Aku tahu yang dimaksud adalah Ibu dan kakak keduaku itu adalah replika ibuku dari fisik maupun pembawaan sifatnya.
"Ayah tidak pernah cerita kalau aku mempunyai Bibi yang sudah meninggal. Kukira–"
"Apakah sopan bagimu untuk menyela pembicaraan orangtua, Tala?" Nada suara tegas sang ayah membungkam mulut putranya.
"Nia, apa cuma aku yang melihat ini seperti pertemuan drama keluarga?" bisik Asisten Yan di telingaku, pelan– sangat pelan hingga meremangkan rambut halus di sekitar leherku.
"Ih apaan sih! Kau mau menggodaku ya?" pekikku tertahan dan mendorong tubuhnya menjauh.
Kak Tala menoleh padaku, "Ada apa?"
Aku menggeleng. Aih, kesalnya aku sudah ketinggalan beberapa kalimat antara ibu Kak Tala dan Kak Litha gara-gara bisikan Asisten Yan.
"Maaf Nyonya, putra kami di rumah sedang menunggu ibunya, jadi kami haru segera pulang," sahut Kakak Ipar menarik perlahan lengan istrinya.
Nyonya Gubernur mengusap matanya, lalu mengangguk, "Ya, terimakasih telah mengizinkan aku memeluk Nyonya Pradipta. Jika ada kesempatan lagi, aku ingin bertemu dengan Tuan Muda Kecil."
Oh Tuhan, apa istri pamanku ini tidak menyadari ada lagi putri dari orang yang dirindukannua? Kenapa dia hanya memperhatikan kakakku saja. Mentang-mentang wajahku dan ibu tidak mirip jadi dia mengabaikanku, haishh ....
"Senang berkenalan dengan Anda, Nyonya. Jika berkenan, mampirlah di kediaman kami selagi Tuan dan Nyonya Gubernur berada di Ibukota."
Mata Kakak Ipar terbelalak, nampak jelas dia terkejut dengan kalimat istrinya yang mengundang tamu yang tidak dia harapkan ke rumahnya.
"Selamat malam, Tuan dan Nyonya," pamit Kakak Ipar ketus, dia sudah tidak bisa menutupi rasa tidak sukanya.
Kami berlalu meninggalkan mereka. Sengaja aku berjalan paling akhir dan ketika melewati Nyonya Gubernur, aku berbisik, "Kuharap Anda tidak mengabaikan putri Ibu yang lain hanya karena tidak mirip."
__ADS_1
Dia terpana mendengar bisikanku terlebih saat kami saling menatap, tanpa disadari dia berkata, "Mata Kak Anjani. Kau–"
Aku tersenyum penuh arti, lalu menyusul langkah kedua kakakku dan Asisten Yan yang sudah menjauh.
"Nia! Cepat!" teriak Kakak Ipar.
"Ya," balasku dengan teriakan yang sama.
.
.
.
Suasana di dalam mobil begitu canggung, tidak ada yang berani bersuara kecuali Nyonya Pradipta, sang pemilik titah tertinggi.
"Zean, putraku anak baik yang tidak pernah menyusahkan. Mas dengar sendiri kan, Bibi Lidya bilang apa? Dia malah tidur nyenyak setelah minum ASI perahan," omel Kak Litha setelah mengonfirmasi ke Bibi Lidya langsung barusan. Tiba-tiba dia maju dan mencubit keras pinggangku sampai aku berteriak kesakitan.
"Kau juga Nia! Sejak Suamiku memberimu mobil dan uang jajan kau menjadi pendukungnya ya? Aku kakakmu! Kau harusnya berdiri di pihakku. Pakai alasan Zean rewel di depan seorang gubernur, sekalian saja kau bilang kakak iparmu ini superhero yang sedang menyelamatkan umat manusia dari peperangan antar galaksi. Huh! Untung Asisten Yan tidak ikut-ikutan. Kalau kalian bertiga satu konspirasi, aku akan pulang dengan taksi!"
Sifat ini lebih mirip Bibi Rima yang sangat cerewet. Lebih baik kami diam menebalkan telinga kalau tidak ingin lebih panjang mendengar omelan kakakku ini. Huftt ....
Sepanjang perjalanan pulang kami bertiga lebih-lebih aku dan Kakak Ipar bagaikan pesakitan yang didakwa dan divonis tanpa henti. Baru kali ini aku melihat Tuan Muda Pradipta kehilangan cakar dan giginya hanya karena seorang wanita, ibu dari anaknya, hahaha .... Sesekali melihat ponsel tapi itupun langsung ditegur istrinya karena dianggap mengabaikan omelannya, duh.
Ddrrrt. Getaran ponselku menandakan ada chat masuk.
Aku tunggu di ruang kerja malam ini. Kau berhutang penjelasan padaku. Tidak ada alasan untuk tidak datang atau kubekukan kartumu.
Pesan teks Kakak Ipar lebih menakutkan daripada omelan Kak Litha, terutama saat dia menuntut penjelasan. Aku benar-benar tidak bisa mengelak lagi.
.
.
.
Di Ruang Kerja Kediaman Pradipta
"Tutup pintunya yang rapat!" serunya dari balik meja kerja yang besar.
Aura ruang kerja Kakak Ipar begitu mengintimidasiku. Ini real teritorial kekuasaannya, tidak ada seorangpun yang bisa menang melawan Kakak Ipar jika sudah berada di dalam ruangan ini, kecuali– ya tahulah sendiri.
"Tidak perlu khawatir. Meski terbuka lebar, Kak Litha akan menutup telinganya sendiri. Dia bukan wanita penggosip dan kepo," kataku sembari meyakinkan kalau pintu ruangan tertutup rapat.
"Makanya kunikahi dia. Istriku bukan wanita dengan seribu telinga dan seribu bibir."
"Bukannya kalian menikah karena wasiat Nyonya Besar? Kakak juga baru menyadari cinta setelah berpisah sesaat dengannya," ceplosku cuek duduk di sofa.
"Ck. Aku emang tidak pernah menang berdebat denganmu ... Sudahlah, katakan padaku kalau kau sebenarnya mengetahui kalau lelaki yang bersamamu di taman tadi adalah sepupumu?"
Glek.
Kakak Ipar langsung menembak langsung tujuannya hingga aku tidak bisa berpikir bagaimana mengalihkan topik pembicaraan.
"Kuanggap diam-mu, ya. Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau satu almamater dengan anak Brata Dhanika?"
"Apa yang akan Kakak Ipar lakukan kalau aku memberitahumu?" tanyaku pelan.
"Aku akan memindahkan kuliahmu ke universitas lain."
"Karena itulah aku tidak memberitahumu, Kak. Selain disana kampus impianku, aku juga ingin mencari tahu–"
"Cari tahu apa?" potong Kakak Ipar dengan suara tinggi, emosinya terpantik.
Aku berusaha menguasai diri untuk tidak gentar, "Tidak banyak informasi tentang kerajaan Sungai Bulan yang bisa kudapatkan. Aku ingin mencari tahu darinya."
BRAK.
"UNTUK APA?"
Nyaliku ciut. Dia berdiri dengan menggebrak keras meja kerjanya sembari berteriak padaku. Hampir saja aku menangis, antara kaget dan takut. Beruntung, aku masih bisa menguasai diri.
"Ma– maaf," ujarku pelan tertunduk saat Kakak Ipar menuju sofa.
"Maaf Nia. Aku terbawa emosi, tapi kali ini kau benar-benar membuatku marah," katanya menatapku dalam setelah dia duduk di hadapanku.
"Jauhi mereka, jauhi kerajaan itu!"
"Aku hanya ingin tahu, Kak, seperti apa tempat asal kami."
"Lalu apa yang mau kalian lakukan setelah mengetahuinya? Mau kembali kesana?" Suara Kakak Ipar mulai meninggi lagi, tapi jelas sekuat tenaga dia menahan emosinya yang bergejolak, "Apa status putri bangsawan penting bagimu? Atau kau ingin menikmati rumah istanamu disana? Rumah kalian disini, Nia. Meski harta Keluarga Pradipta tidak sebanyak harta kerajaan itu, tapi aku bisa menjanjikan tujuh turunan keluargaku tidak akan hidup dalam kesengsaraan materi."
"Bukan begitu maksudku, Kak."
"Jadi jelaskan apa maksudmu?" tantang Kakak Ipar menusuk netraku.
__ADS_1
"Keluarga Ibu selama ini adalah sebuah misteri tak tersentuh. Tentu saja aku penasaran–"
"Kukira cerita Bibi Rima saat kau menguping cukup jelas, atau ada informasi yang kau lewati? Apa yang membuatmu penasaran? Jelas-jelas ibumu dibuang dari keluarganya, dikejar dan diburu sampai harus bersembunyi dalam identitas palsu. Apa itu tidak cukup? Apa lagi yang kau cari, Nia?" Suaranya bergetar memberondongku dengan pertanyaan bertubi-tubi.
"Apa kau tidak bisa melihat bagaimana Bibi Rima dan Paman Tino menjauhi kita demi kalian, agar kalian tetap aman tanpa mempedulikan nyawa mereka sendiri? Bahkan sampai saat ini kita tidak tahu mereka masih hidup atau sudah mati. Demi kalian Nia– demi kau dan kedua kakakmu! Dan aku sudah menerima permohonannya untuk menjaga kalian. Jadi menjauhlah dari keluarga kerajaan itu, cukup aku saja yang bersentuhan dengan mereka karena bisnis batubara Pradipta Corp. sudah lama berada disana."
Aku tidak bisa berkata apapun, lidahku kelu. Aku memahami perasaan Kakak Ipar sekarang. Kecemasan, keputus-asaan, rasa takut akan kehilangan dan rasa sayangnya pada kami yang sangat besar bercampur jadi satu dan nampak jelas dari tiap susunan kata yang diutarakannya padaku.
"Tapi menurutku Keluarga Tuan Gubernur tidak sejahat adik ibu yang satunya. Kakak bisa lihat sendiri tadi bagaimana reaksi Nyonya Gubernur melihat Kak Litha."
"Siapa yang bisa menjamin? Reaksinya justru membuatku makin waspada. Tuan dan Nyonya Gubernur Daerah BX akhirnya tahu identitas sebenarnya Nyonya Pradipta. Selama ini aku tidak mempublikasikan wajahnya bahkan harus meminta Youtube men-takedown setiap kali ada video atau foto Litha yang diupload, tetapi fanbase sialan itu selalu memosting fotonya di media sosial."
Uhuk.
"Fanbase?"
"BeautyHeartPradipta. Cih, ingin rasanya kutebas leher adminnya. Apa tidak ada wanita lain yang bisa dia puja seperti itu?"
Ppfftt ... Aku berusaha menahan tawa, terkejut dibalik kekhawatiran Kakak Ipar dengan fanbase itu, ternyata ada kecemburuan besar di dalamnya. Ah, sudahlah.
"Kau pikir aku cemburu?"
Glek.
Dia tahu pikiranku ... benar kata Kak Litha, suaminya itu titisan alien, eh bukan, sekarang adalah superhero yang menyelamatkan umat manusia dari peperangan antar galaksi, setidaknya buat kami tiga bersaudara.
"Diantara kalian bertiga, istriku yang mewarisi semua bentuk wajah ibu mertuaku. Siapapun pasti akan menyadarinya, termasuk Nyonya Gubernur Daerah BX dan bukan tidak mungkin pamanmu yang jahat juga menyadarinya."
"Itulah alasan mengapa tidak kuijinkan Litha keluar rumah tanpa seseorang yang aku percaya untuk melindunginya. Itu juga alasan kenapa kusematkan nama Pradipta di belakang namamu, agar publik tahunya kau adalah adik angkatku bukan adik iparku, seperti halnya Firza. Aku juga sudah menghapus riwayat perawatan dan pengobatan Tisha di database Rumah Sakit Jiwa Dharma Yasa agar tidak bisa dilacak, semua filenya dipindahkan di brankas disana," tunjuk Kakak Ipar ke meja kerjanya, "Tisha tidak akan diketahui keberadaannya selama dia berada di luar negeri. Aku berusaha melindungi kalian dari intrik kerajaan Sungai Bulan, tidak kusangka malah kau mendekatinya."
Aku tercengang, tidak percaya apa yang Kakak Ipar lakukan ternyata memiliki tujuan. Pantas saja dia memaksaku mengenakan nama Pradipta dan langsung menyetujui ketika Kak Tisha ingin hidup mandiri di negeri orang bahkan sempat beradu pendapat dengan istrinya sendiri. Ah, Kakak Ipar dibalik sikapnya yang temperamental, dia adalah sosok pelindung nan perhatian. Beruntung kami menemukannya di saat yang tepat.
"Besok akan ku urus kepindahan kuliahmu!"
"Eh, jangan, Kak!"
"Sepertinya kau akan sulit menjauh dari putra gubernur itu karena kalian sering bertemu di kampus, jadi lebih baik kau–"
"Dia sedang menyusun skripsi, sebentar lagi dia akan lulus dan aku bisa menjauh darinya. Jangan pindahkan aku, please ...."
Kakak Ipar diam menimbang-nimbang, "Baik aku percaya padamu. Menjauhlah apapun alasannya. Mereka bukan orang yang bisa kau dekati apalagi kau percaya."
Kekhawatiran Kakak Ipar sudah pada puncaknya, dia benar-benar protektif.
"Ya, aku janji, Kak. Aku tidak akan menjaga jarak dengan Kak Tala."
Kakak Ipar mengangguk, "Sudah malam. Kembalilah ke kamarmu dan istirahat."
"Iya Kak. Terimakasih."
"Terimakasih?"
"Terimakasih sudah menjaga kami dengan baik sekali."
"Itu sudah tugasku menjadi kepala keluarga. Jaga dirimu jika di luar dengan baik. Atau kau perlu pengawal?"
Aku terbahak, " Hahaha ... Tidak Perlu, Kak," jawabku berdiri dan melangkahkan kaki menuju pintu.
"Oh ya Nia, ada lagi satu hal yang kuingin tanyakan padamu."
Aku berbalik padanya, "Apa?"
"Apa kau menyukai Abyan?"
Hah.
"Aku hanya meneruskan pertanyaan kakakmu yang sungkan dia tanyakan padamu. Heheheh ... tapi itu tidak mungkin kan? Atau seleramu memang pria matang?"
Aku mematung dengan jantung yang nyaris saja berhenti berdetak. Apa sikapku begitu nampak? Karena tidak mungkin Asisten Yan mengatakannya pada Kak Litha ataupun Kakak Ipar.
Aku terkekeh canggung, "Mungkin aku kehilangan sosok ayah di saat aku masih membutuhkan kasih sayangnya, jadi aku menyukai pria matang yang terlihat bijak Sayangnya penampilan luar kadang berbeda dengan isinya."
"Maksudmu Abyan seperti itu?"
"Aku mau istirahat dulu, Kak."
Kakak Ipar tersenyum dan mengangguk, dia menghargai apa yang kuinginkan, yakni tidak ingin membahas lebih lanjut. Aku berbalik namun terhenti saat suaranya menggema dalam gendang telingaku.
"Berikan dirimu dan dia waktu untuk memahami masing-masing diri kalian. Kurasa itu cukup bijak."
Aku tersenyum getir mendengarnya. "Sampaikan pada Kak Litha, dia tidak perlu mencemaskan adiknya ini."
Tidak ada lagi jawaban, aku berjalan keluar ruangan kembali ke kamarku. Kusingkap gorden dan membuka jendela, memandang bulan di gelapnya malam. Masih ada yang mengganjal di hatiku, jika Tuan dan Nyonya Gubernur saja diperkirakan telah mengetahui identitas Kak Litha, begitu juga dengan saudaranya yang lain. Lalu bagaimana dengan Tuanku Raja? Apa dia pernah melihat Kak Litha melalui internet? Bagaimana perasaannya saat melihat cucu yang begitu mirip dengan putri kesayangannya? Apakah ada kerinduan dan rasa bersalah dalam hatinya terhadap ibuku yang telah diusir dan tidak dianggap sebagai anak lagi? Atau malah sebaliknya, dia termakan oleh ego dengan membenci darah dagingnya sendiri?
Entah mengapa, aku malah sangat ingin bertemu dengannya dan menantang perasaannya sebagai seorang ayah.
__ADS_1
-Bersambung-