Kepingan Hati Vania

Kepingan Hati Vania
Senang atau Sedih?


__ADS_3

"Rawat jalan saja dari sini! Aku tidak mau rawat inap apalagi di rumah sakit Kakak," seruku tetap berkeras dengan kemauanku sendiri.


"Tapi tubuhmu butuh perawatan, Nia," bujuk kakak iparku.


Cih. Aku tidak sudi dirawat di Rumah Sakit Pradipta selama ada Dokter Vivian. Kalaupun aku harus dirawat lebih baik aku dirawat di rumah sakit ini, tempat aku dilarikan oleh pengemudi yang melintas saat mobilku menabrak pembatas jalan dengan keras. Beruntung mobil hadiah ulangtahun dari Kakak Ipar dilengkapi fitur keselamatan yang mumpuni. Airbag untuk pengemudi maupun penumpang di samping pengemudi mengembang dengan sempurna sehingga cedera pada kepala dapat terhindarkan, hanya saja sepertinya urat di belikat kananku mengsle.


"Tapi tanganmu?"


"Tidak patah atau retak, kan? Artinya diurut saja nanti membaik."


"Kau ini! Patuh sedikit kenapa sih."


Kakak Ipar sudah kehilangan kesabaran tapi aku juga tetap tidak mau dirawat di rumah sakit miliknya, kecuali– tidak ada lagi dokter yang membuatku tidak nyaman dengan berbincang berdua di dalam ruangan tertutup bersama tunanganku.


Omong-omong tunanganku, Asisten Yan dari tadi hanya memperhatikanku tanpa mengucapkan sepatah kata. Apa dia tidak punya hati melihat kondisi tunangannya seperti ini– kondisi dengan tangan kanan yang tidak berfungsi sementara?


"Aku akan patuh jika Kakak juga menghormati keinginanku."


"Kau!"


"Ray, tenanglah. Sebaiknya kau hubungi kembali istrimu, dia sangat cemas saat ini," kata Asisten Yan sambil mengusap pundak Kakak Ipar.


"Yan, urus lah tunanganmu ini. Aku pusing dibuatnya," balas Kakak Ipar lalu melengos pergi keluar ruangan, perkiraanku mungkin dia menghubungi Kak Litha.


"Bagaimana perasaanmu?" tanya padaku setelah duduk di samping kananku di atas pembaringan.


Perasaanku?


Aku terkesiap sekaligus bingung, kenapa dia menanyakan perasaanku.


"Aku tahu bagaimana keadaan fisikmu saat ini, jadi aku ingin tahu perasaanmu sekarang."


"Ini pertama kali kau peduli dengan perasaanku."


Dia terkekeh, "Anggap saja begitu kalau kau memang berpikiran seperti itu, Nia."


Ya Tuhan. Jantungku berdetak tidak karuan, bicaranya sangat lembut, tidak seperti biasanya yang selalu memancing perdebatan denganku. Aku jadi kehilangan kata-kata, speachless.


"Kau sangat berani tadi. Kau berinisiatif dengan sigap menghalau mobil hitam yang membututiku dan Nyonya. Tidak pernah kutemui sebelumnya gadis se-heroik dirimu."


Ya Tuhan, dia menguji perasaanku dengan cara yang berbeda. Lelaki ini memujiku! Menyanjungku dengan tulus, ya ... Aku bisa merasakan ketulusan dalam ucapannya kali ini.


"A– aku hanya–"


"Aku tahu, kau melakukannya hanya karena di dalam mobil itu ada kakakmu. Tapi tetap saja kau hebat, Nia," ujarnya mengusap keningku.


"Berhenti! Berhenti melakukan semua hal yang bisa membuatku jatuh hati lagi padamu, Asisten Yan!" pekikku dalam hati memalingkan wajah darinya.


"Makanya kutanya bagaimana perasaanmu sekarang. Mengetahui kakakmu aman namun tanganmu terluka," sambungnya membelai tangan kananku.


"Aku baik-baik saja. Ini hanya keseleo, aku akan mencari tukang urut setelah sampai di rumah," kataku acuh tak acuh.


"Kau yakin tidak butuh dirawat di rumah sakit? Atau mungkin kakak iparmu bisa memerintahkan seseorang untuk merawatmu di rumah."


"Tidak perlu."


"Benar kau yakin? Tangan kananmu sementara tidak bisa digunakan seperti biasa. Bagaimana kau beraktivitas?"


"Akan kupikirkan caranya."


"Hmmppffhh ... Baiklah, aku salah satu caranya."


"Maksudnya?" kataku tanpa sadar menoleh ke arahnya hingga manik kami bertemu.


"Tanganku yang akan menjadi tanganmu kecuali untuk mandi dan berpakaian."

__ADS_1


Aku terpaku sejenak mendengarnya sebelum kutanyakan alasannya.


"Ya, karena aku tunanganmu. Orang akan bertanya bagaimana aku memperlakukanmu saat kondisimu seperti ini."


"Oh."


Tersibak kecewa dalam hati mendapati alasan semua yang dilakukannya hanyalah semata-mata menjaga sebuah citra, tapi entah kenapa -citra atau apapun itu- aku tetap merasakan ketulusan darinya.


"Aku mau pulang. Aku mau lihat kakakku."


"Kita lihat pendapat dokter bagaimana. Kalau memang bisa, aku akan menyampaikan ke kakak iparmu untuk rawat jalan saja di rumah, tetapi kalau dokter mengatakan ada yang serius hingga harus dirawat di rumah sakit, kau sebaiknya tidak membantah, oke?"


Kuhela nafasku, "Baiklah, namun misalkan aku harus dirawat di rumah sakit, aku tidak mau dirawat di Rumah Sakit Pradipta. Carikan rumah sakit lainnya."


"Kenapa?"


"Ya, karena mengetahui satu atap bersama dengan rivalku tidak akan membuat keadaanku lebih baik."


"Rival? Siapa?" tanya Asisten Yan bingung.


"Pikir saja sendiri, aku tidak mau menyebut dirinya."


"Ck. Dasar bocah! Masih saja suka bermain tebak-tebakan. Aku tidak punya kekuatan super yang bisa mendengar pikiranmu, jangan buat aku salah paham," ujarnya mencubit pelan pipiku.


Aih ... kenapa aku jadi tersipu.


"Kenapa pipimu jadi merah, Nia? Apa aku mencubitnya terlalu keras?" tanyanya sedikit panik menatap lekat wajahku.


Oh Tuhan ... Bisa kupastikan kedua pipiku semakin memerah beradu pandang dari jarak sedekat ini dengannya, terlebih matanya terfokus pada– bibirku.


"Tapi lucu. Kamu seperti tomat," gumamnya tersenyum.


"Apa aku buah-buahan? Si Kucing Kribo itu sering menyebutku strawberry."


"Kucing Kribo?" tanya tunanganku dengan memicingkan mata.


"Cih. Bisa-bisanya kau punya panggilan kesayangan buatnya sedangkan tunanganmu sendiri tidak," protesnya tidak suka.


Ha.


"Aku juga punya panggilan sendiri buatnya. Bocah Bau. Tahu kenapa? Karena dia bocah yang baunya menyengat sehingga lebih baik kita menjauhinya sejauh mungkin," sambungnya sinis.


Hah. Apa lagi ini?


"Kau sering kupanggil Tuan Asisten, anggaplah itu panggilanku untukmu."


"Tuan Asisten? Apa bedanya dengan Asisten Yan? Yang benar saja, Nia."


"Bedanya, kalau aku menyebut Tuan Asisten biasanya aku sedang emosi denganmu, hahaha ..."


Tawaku pecah seketika melihat bentuk mukanya yang tertekuk. Dia ngambek dan persis seperti anak kecil yang kehilangan permennya.


"Sudahlah, Asisten Yan. Oh ya, bagaimana kabar Nezar? Apa dia terluka?"


Hening.


Tunanganku sepertinya menganggap serius apa yang barusan kukatakan.


"Nezar tidak terluka karena kecelakaan, hanya sedikit shock melihatmu bagai pemeran di film Fast and Fourius tadi. Lukanya yang nampak itu ya, jejak tangan tunanganmu sendiri, " kata Kakak Ipar yang tiba-tiba masuk ke dalam ruang perawatan.


"Kakak sudah telepon Kak Litha, kan? Dia tahu aku baik-baik saja, kan?"


"Hmmpffhh. Kakakmu sangat cemas dan ingin sekali melihat keadaanmu tapi aku tidak mengizinkannya keluar rumah sekarang."


"Jadi?"

__ADS_1


"Dokter memperbolehkanmu pulang, rawat jalan saja di rumah. Nanti akan ada pelayan yang membantumu."


"Yeay!" teriakku kegirangan menggerakkan kedua tangan hendak menekuk siku.


AUWWW!


Sakit luar biasa menjuluri lengan kananku. Aku lupa tangan kananku sedang tidak waras.


"NIA!" sontak Kakak Ipar dan tunanganku berbarengan.


"Huaaaa ... Sakittt!"


Aku menjerit dengan keras, tak dinyana Asisten Yan langsung berlari ke luar kamar memanggil dokter untuk melihat keadaanku.


"Apakah Anda kakaknya juga, Tuan? Tidak perlu cemas, dengan terapi yang nanti kami berikan, tangannya akan berangsur membaik," ujar dokter paruh baya itu pada Asisten Yan setelah memeriksa lenganku.


"Bukan, dia tunanganku," jawabnya.


Mataku membulat, tercengang tidak percaya dia menyebutku tunangannya di depan orang lain.


"Pantasan Anda begitu khawatir," kata Dokter menanggapi namun matanya melihat ke arahku, "Nona bisa rawat jalan di rumah, nanti akan kami berikan jadwal untuk terapi."


"Terapisnya saja yang datang ke rumah," titah Kakak Ipar.


"..."


"Ajari saja aku bagaimana terapinya. Aku yang akan menerapi tunanganku sendiri," sahut Asisten Yan kemudian.


Lagi-lagi mataku membulat tidak percaya mendengarnya, apa dia tengah berperan sebagai tunangan yang baik?


"Hmm ... Itu bisa didiskusikan di bagian terapi," kata dokter.


"Dokter," panggilku ketika dia beranjak meninggalkan kami.


Si Dokter berbalik dan aku langsung menanyainya, "Bagaimana keadaan teman yang bersamaku di mobil?"


"Dia baik-baik saja. Hanya butuh perawatan."


"Apa dia terluka?"


"Tidak, hanya perawatan luka bawaan. Dia tidak memiliki luka akibat kecelakaan."


"Ada dimana dia?"


"Di ruangan sebelah Anda, Nona."


"Terimakasih, Dokter. Sepertinya pasien Anda yang lain sudah menunggu," timpal Asisten Yan tidak senang.


"Kau tidak perlu memikirkan orang lain– ada pesuruh Tuan Muda yang mengurusnya. Kau hanya perlu memikirkan dirimu sendiri, oke?"


"Hah! Ada apa denganmu, Asisten Yan? Dia temanku dan aku membuatnya mengalami hal yang buruk hari ini."


"Itu sudah takdirnya."


"HAH?"


"Sudahlah Nia, ayo kita bersiap pulang. Aku jamin kawanmu itu baik-baik saja. Jangan membuat tunanganmu makin cemburu," seloroh Kakak Ipar.


"Cemburu?" tanyaku terkejut.


"Siapa yang cemburu?" sanggah Asisten Yan cepat.


"Ah, kalian berdua sungguh membuatku pusing. Cepatlah kau urus kepulangan Nia dan perawatan Nezar. Aku mau segera pulang menemui istriku," sahut Kakak Ipar jengah.


Cemburu? Benarkah demikian? Apa kutukan itu sudah mulai bekerja padanya? Aku tidak tahu apakah aku harus senang atau justru sedih sekaligus miris jikalau hal itu benar. Dia terjerat padaku secara tidak alami– berarti ada paksaan yang muncul disini karena hal tersebut sebenarnya tidak pernah ada untukku. Aaarrggghhh ... Bisa-bisanya aku jadi percaya kutukan wanita suku Ragnaya itu benar-benar nyata.

__ADS_1


- Bersambung -


__ADS_2