Kepingan Hati Vania

Kepingan Hati Vania
Mengusik Rasa Sakit


__ADS_3

Mungkin karena pengaruh hormon ibu hamil yang membuat malas-malasan atau terlalu penurut dengan suaminya, Kak Litha betah berada di dalam kamar.


Untungnya ada Bibi Lidya yang membuatku tidak merasa sepi saat kakakku beristirahat. Kami saling bercerita apa saja, terlebih Daerah C berbatasan langsung di bagian timur Kota A. Jadi sangat wajar jika banyak hal yang nyambung ketika kami mengobrol, bahkan kadang-kadang Pak Is -Kepala Pelayan- ikut nimbrung dalam obrolan.


Bibi Lidya sangat menyukai teh buatanku, padahal sebenarnya teh itu campuran semua merk teh yang dijual di Kota A dan kucampur jadi satu dengan takaran kira-kira. Kali ini aku akan membuatnya dalam jumlah banyak -untuk semua penghuni di kediaman Keluarga Pradipta- karena sebentar lagi Kakak Ipar pulang bersama asistennya.


Kulirik sekilas dua pria dewasa yang baru saja pulang. Asisten Yan selalu mampir sejenak setiap menjemput Kakak Ipar berangkat dan pulang kantor karena Bibi Lidya tinggal disini. Keduanya lelah bekerja namun tidak terlihat satupun keburukan pada diri mereka, terutama– Asisten Yan yang berjalan di belakang Kaka Ipar. Haisshh ... pikiran apa ini?


"Maaf Bi, ada yang harus aku selesaikan hari ini, jadi pulang terlambat," sapa Kakak Ipar.


"Tidak apa-apa, Tuan," jawab Bibi Lidya.


"Apa istriku sudah tidur?" tanya Kakak Ipar seraya duduk di sofa dan melonggarkan dasinya.


"Sepertinya belum. Kak Litha keasyikan menonton film tentang hewan buas di alam liar," jawabku yang muncul dari dapur diikuti Pak Is dari belakang membawa nampan berisi teko dan beberapa cangkir.


"Film apa?"


"Film dokumenter tentang kehidupan singa di gurun savana di Afrika. Kata Kak Litha singa jantan di film itu mengingatkannya pada seseorang kalau mengamuk. Dan berkat amukannya itu berhasil membuat dia hamil."


Pppfffttt ...


Suara tawa tertahan menggema di dalam ruangan seiring dengan getar bahu orang-orang yang menundukkan kepalanya.


"Jangan marah padaku, Kakak Ipar. Aku hanya meneruskan yang Kak Litha bilang tadi siang, mana bilangnya sambil senyum-senyum sendiri lagi. Ckckck ..." kataku cuek sambil menuangkan teh ke dalam cangkir-cangkir.


Mata Kakak Ipar membelalak lebar menepuk jidatnya, "Astaga!"


Hahaha ...


Kembali kulirik Asisten Yan, dia terlihat sedikit menjauh untuk menerima telepon yang nampaknya serius.


"Ada hal apa sampai dia menerima telepon dengan sangat serius?" tanyaku dalam hati.


"Nia, kapan kau kembali ke sekolahmu?" tanya Kakak Ipar yang menghentikan perhatianku pada asistennya.


"Aku kembali saat seremonial kelulusan, Kak." Aku menjawab sambil menyodorkan secangkir teh padanya.


"Kau tidak sekolah memangnya?" tanya Kakak Ipar lagi setelah menyeruput teh.


Sedangkan aku masih menuangkan teh ke cangkir yang lain buat Bibi Lidya, Asisten Yan dan Pak Is. Kami asyik bercengkrama, lupa kalau ada Nyonya Pradipta yang dibiarkan sendirian di kamar.


"Aku sudah menyelesaikan ujian akhirku, nilaiku pasti bagus dan lulus. Lagipula aku sudah bilang sama wali kelas kalau aku diminta oleh Presdir Pradipta Corp. mendampingi istrinya dalam masa pemulihan. Tentu saja aku diizinkan, siapa yang berani menolak titah Tuan Muda."


Uhuk.


"Kau!" hardik Kakak Ipar dengan suara tertahan, aku membalasnya dengan senyum kecil karena berhasil menggunakan namanya untuk kepentingan pribadiku.


"Hah! Terserah kaulah," sahut Kakak Ipar menyerah, diseruput lagi tehnya, "Pak Is, tehnya enak."


"Nona Vania yang menggodok daun tehnya, Tuan," sanggah Pak Is.


"Nona Vania memang pandai meracik daun teh dari berbagai produk teh dengan takaran yang pas. Teh buatannya membuat saya ketagihan, beruntung Nona Vania tidak keberatan membuatnya kalau wanita tua ini ingin minum teh," ujar Bibi Lidya sambil menghirup aroma teh.


"Aihh ... Bibi jangan terlalu memujiku. Kepalaku langsung membesar lho. Apa Bibi tidak melihatnya?" gurauku yang disambut dengan kekehan Bibi Lidya dan Pak Is, hanya Kakak Ipar yang mencebikku.


"Ray ...." panggil Asisten Yan tegang.


Oh ya, kadang aku sendiri bingung bagaimana konsep panggilan Asisten Yan antara Kakak Ipar dan kakakku. Dia memanggil Kakak Ipar langsung namanya atas dasar perintah Kak Litha karena mereka merupakan teman dekat sejak kuliah, sedangkan dia memanggil kakakku dengan sebutan formal yaitu Nyonya.


"Ya," jawabnya tanpa menoleh ke Asisten Yan.


"Kabar dari Iptu Andika kalau Ramona baru saja meninggal."


Kakak Ipar langsung meletakkan cangkirnya dan berdiri, "Kapan?"


"Sekitar jam 9 tadi. Jenazahnya sedang diperiksa polisi sebelum dimakamkan besok pagi."


Kakak Ipar nampak gusar dan aku tidak suka melihatnya. Apa yang dia gusarkan? Dia pelaku kriminal percobaan penculikan dan pembunuhan yang mana korbannya adalah istrinya sendiri. Seharusnya Kakak Ipar lebih memikirkan perasaan istrinya jika mengetahui Pak Sas menjadi korban tewas dalam insiden itu.


"Baguslah dia meninggal. Apa Kakak Ipar sedih mendengar beritanya?" sindirku tajam sembari meminum teh.


"Nia! Berempatilah sedikit! Ini kabar duka!" Suara Kakak Ipar mulai meninggi.


"Heh– Kabar duka bagi keluarga dan kerabatnya, tapi tidak bagiku. Itu justru kabar bagus," tandasku meletakkan cangkir di meja.


"Jaga bicaramu, Nia!"


"Kenapa aku harus menjaga bicaraku pada orang yang yang mau membunuh kakakku dan keponakanku? Jangan mendikte perasaanku!" balasku sengit dengan suara yang tidak kalah tinggi.


"Aku tidak akan berkompromi kalau menyangkut kakakku. Walaupun kau kakak iparku atau Tuan Muda, aku tidak takut."


Bibi Lidya, Asisten Yan dan Pak Is berada dalam situasi canggung ketika aku mulai berdebat dengan Kakak Ipar.


"Aku tidak kenal dia, tidak seperti Kakak Ipar yang notabene adalah mantan kekasihnya. Aku mengenalnya hanya sebatas adik dari korban yang hampir terenggut nyawanya. Bukan satu nyawa tapi dua! Dan karena obsesi cintanya pada Kakak Ipar membuat Pak Sas harus mengorbankan nyawa demi melindungi Kak Litha. Tidak berlebihan kan, kalau aku mengharapkan dia mendapat hukuman setimpal? Bahkan dia mati pun aku tidak keberatan, malah bagus lagi– sebab kalau dia hidup siapa yang menjamin dia tidak akan mencelakai Kak Litha lagi."


Skak Mat.


Aku menohok telak Kakak Ipar hingga tidak bisa membalas kalimatku. Dia mau marah atau tidak, bukan urusanku!

__ADS_1


Kulihat Kakak Ipar mengepalkan kedua telapak tangan kuat-kuat agar emosinya tidak meledak. Rahangnya pun sudah mengeras, menampakkan urat-urat di sekitar leher.


"Nona ... pelankan suara Anda. Nyonya bisa mendengarnya."


Asisten Yan berusaha meredam situasi, tentu saja ... dia kan, pembela umum Tuan Muda Pradipta, tapi aku juga tidak akan segan padanya kalau menyangkut kakakku


"Mau sampai kapan kita menyembunyikan fakta dari Kak Litha? Menunggu dia tahu dengan sendirinya? Apa Kakak Ipar pikir Kak Litha akan baik-baik saja jika setahun, dua tahun atau sepuluh tahun baru diberitahu. Kita hanya menunda rasa sakitnya, bukan mengurangi– dan bukan tidak mungkin ini justru akan menambah rasa sakitnya," cecarku dengan volume suara yang sudah high note.


Kakak Ipar memijat keningnya, "Nia, aku hanya tidak ingin Litha sedih kalau dia tahu Pak Sas meninggal. Aku takut kesedihannya akan berpengaruh pada bayi yang ada di dalam perutnya."


"Meski Pak Sas sangat berarti baginya, Kak Litha tidak sepicik itu melarutkan dirinya dalam kesedihan hingga akan mempengaruhi kondisi bayinya."


Tanpa disdari ada sepasang telinga yang mendengar percakapan kami dari tadi. Wajahnya sudah basah dengan airmata, sambil memegangi perutnya dia berusaha menyangkal, "Be– benarkah yang aku dengar barusan?"


Aduh. Selesai sudah ....


Semua mata terpusat ke arah ibu hamil itu, salah tingkah dan gagap untuk bicara, terutama Kakak Ipar. Tatapannya sangat memohon agar Kak Litha tidak salah paham.


"Ja– jadi Pak Sas sudah meninggal?– Kapan?" tanya Kak Litha menangis.


"Sa– sayang, aku–"


Kakak Ipar mencoba memberi penjelasan tapi Kak Litha kadung kecewa dan sakit hati, jadinya dia membalik badannya danberjalan menuju kamar dengan cepat.


"LITHA! AARRGGHHHH... BAGAIMANA INI? GARA-GARA SUARAMU YANG KERAS LITHA JADI TAHU SEKARANG!" berang Kakak Ipar berteriak padaku.


"Hah! Apa peduliku! Memangnya ini salahku?"


"Sampai berapa lama pun Kakak Ipar tunda faktanya, reaksi Kak Litha akan tetap sama," ujarku cuek meninggalkan Kakak Ipar dengan mengikuti langkah Kak Litha, kutengokkan kepala, "Tapi, kalau Kakak Ipar menudingku penyebabnya, aku akan bertanggungjawab supaya Kak Litha tidak marah padamu."


"Cih. Percaya diri sekali kau!"


Kakak Ipar menghardik lagi tapi tidak sekeras tadi dan aku sama sekali tidak peduli. Aku tetap menyusul kakakku, "Ribuan kali pun kau menghardikku tidak akan membuat hati Kak Litha melunak padamu, kecuali kau menurunkan egomu."


.


.


.


Ceklek.


"Kak, apa aku boleh masuk?"


Kak Litha diam saja, masih sesenggukan di tepi pembaringan.


"Kakak diam berarti boleh masuk dan jawaban pertama yang berlaku," kataku memaksa masuk dan duduk di sampingnya, "Maaf, Kak. Kami belum berani memberitahukanmu sebelumnya."


"Pasti karena perintah Kakak Iparmu, kan?" sinis Kak Litha menegaskan kalimatnya padaku, lalu dia menyeka airmata tanpa melihat Kakak Ipar, "Aku tidak mau melihatmu. Mas tidur di kamar lain saja."


"Lith, jangan begini. Kau tahu kan, aku tidak bisa pisah tidur denganmu," rengek Kakak Ipar seperti bocah namun Kak Litha tidak menggubrisnya, airmatanya terus saja mengalir.


Aku memahami perasaannya saat ini. Hatinya pasti terasa sangat sakit. Tiba-tiba rintihan Kak Litha makin keras sambil memeluk erat perutnya.


"Sudah ... Kakak Ipar keluar saja dulu." Sekalian kukode dengan mataku untuk menyuruh Kakak Ipar keluar.


"Eh! Berani-beraninya kau me–"


"Ayo Ray, berikan Nyonya waktu. Pak Sas adalah orang yang paling dekat dengan Nyonya selain dirimu. Pasti tidak mudah menerima kalau Pak Sas sudah tidak ada." Suara Asisten Yan muncul dan meremas pundak Kakak Ipar dibarengi anggukan Bibi Lidya.


Setelah Kakak Ipar dan Asisten Yan keluar dari kamar, aku mencoba memberi pengertian pada kakakku yang selama mengandung menjadi lebih sensitif.


Melihat sebentar ke arah Bibi Lidya yang berdiri di belakangku, kemudian kuraih kedua tangan Kak Litha yang basah, "Kakak ... Maafkan kami."


"Kalian tega sekali."


"Kakak Ipar punya alasannya. Dia tidak ingin membuat Kak Litha sedih dengan kondisi seperti ini. Kakak Ipar takut terjadi apa-apa dengan istri dan anaknya. Mengertilah posisinya sebagai suami, Kak." Kuhela nafas sejenak, mengatur intonasi suara serendah mungkin tapi tetap jelas terdengar, "Saat Kak Litha belum dinyatakan telah melewati masa kristis. Kakak Ipar terlihat tidak bernyawa. Rambutnya berantakan, mukanya kusut, tampilannya kumal, tatapannya kosong, diajak bicara gak nyambung. Hanya Litha, Litha, selalu Litha saja dalam pikirannya. Tidak tidur, tidak minum juga tidak makan, nafasnya bau kalau bicara–"


"Nia! Jangan kurang ajar begitu mengatai kakak iparmu."


Aku terkekeh, "Kakak Ipar seperti orang gila menunggu Kak Litha melewati masa kritis. Dia baru mau mengganti baju dan membersihkan diri setelah Kak Litha dipindahkan ke kamar rawat inap."


Pipi Litha bersemu merah, "Kenapa kau baru mengatakannya sekarang kalau Mas Rayyendra sekacau itu?" tanyanya pelan.


It works. Kalimat hiperbolaku setidaknya bisa mengurangi kesedihan Kak Litha dan dia juga mulai bisa diberi pengertian.


"Dia melarangku bercerita sama Kakak bagaimana keadaannya saat itu. Kakak Ipar kan, ingin selalu tampak sempurna di mata wanita yang sangat dicintainya. Takut istrinya berpaling mencari kesempurnaan di pria lain– asal Kakak tahu malam itu kudengar bunyi kentutnya. Sepertinya Kakak Ipar masuk angin, ternyata bunyi dan bau kentut seorang Tuan Muda sama saja dengan kita-kita."


"Ya ampun, Nia!" Kak Litha mencubit perutku hingga aku mengaduh sakit.


"Jangan bilang padanya dengan apa yang kukatakan tadi ya, Kak. Nanti jatah uang sakuku akan dikurangi. Eh iya, Kak ... ada satu rahasia lagi. Ini baru diketahui Kakak Ipar, tapi janji setelah aku memberitahukanmu, jangan marah lagi sama Kakak Ipar."


"Sejak kapan kau jadi pendukungnya?" tanya Kak Litha mendelik, curiga.


"Hahaha ... Aku akan jadi pendukung Kakak Ipar selama dia cinta mati sama Kak Litha, tapi kalau dia menyakiti hati Kakak, aku akan jadi musuh terbesarnya."


Kak Litha tersenyum mendengar kalimatku, "Katakan, rahasia apa?"


"Pak Sas adalah paman Asisten Yan dan kakak Bibi Lidya."

__ADS_1


"APA!?!"


Kak Litha benar-benar terkejut sampai tubuhnya tertarik ke belakang. Dia menatap Bibi Lidya, "Benar, Bi?"


Bibi Lidya mengangguk pelan.


"Bagaimana ini?– Karena melindungiku, aku membuat Asisten Yan dan Bibi kehilangan–"


Airmata Kak Litha mengalir deras kembali setelah mengetahui hubungan keluarga antara Pak Sas dengan Asisten Yan dan Bibi Lidya. Ada rasa bersalah menusuk hatinya.


"Yah, balik nangis lagi ...."


"Jangan sedikitpun merasa bersalah, Nyonya. Itu sudah garis takdir beliau. Kami pun menerimanya dengan ikhlas, justru kalau Nyonya bersalah seperti ini akan membuat kami merutuki kepergiannya."


Bibi Lidya mendekati Kak Litha lalu mengusap lembut punggungnya yang bergoncang karena kembali menangis, "Sehat dan berbahagialah dengan Tuan Muda dan Tuan Muda kecil, Nyonya. Pak Sas pasti akan bahagia juga disana," ujar Bibi Lidya sembari mengurai pelukannya.


"Maafkan aku, Bi," ucap ibu hamil itu lirih menunduk.


"Anggap Bibi pengganti Pak Sas ya, kalau Nyonya membutuhkan sesuatu. Jangan sungkan."


"Bibi ...."


Kak Litha memeluk Bibi Lidya agak lama, menumpahkan segala rasa sedih di hatinya.


"Aku akan memanggil Kakak Ipar sekarang. Kak Litha sudah tidak marah, kan?" ujarku berdiri keluar kamar menemui Tuan Muda yang gelisah bukan main.


.


.


.


"Sayang ... maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyembunyikannya. Aku hanya takut kalau kau terlalu sedih sedangkan hari bersalinmu sudah dekat." sesal Kakak Ipar berlutut di hadapan istrinya.


Kak Litha menggeleng pelan, "Harusnya Mas memberitahuku. Sepahit apapun kejujuran itu lebih baik daripada kebohongan."


"Kakak Ipar tidak berbohong, hanya menunda memberitahu. Kakak Ipar tidak pernah mengatakan kalau Pak Sas tidak meninggal, kan?" selorohku.


Kak Litha melirikku tajam, tanda peringatan kalau aku terlalu memihak Kakak Ipar, dihela nafasnya sejenak, "Lalu kabar Ramona bagaimana? Tadi sempat kudengar kalau dia baru–"


"Dia sudah minggat ke alam baka," sahutku spontan memotong kalimatnya.


Plak.


Bibi Lidya memukul pelan bokongku, barangkali gemas dengan ucapanku tetapi dia juga mengangguk seakan menyetujui apa yang kukatakan. Jelas saja, karena kakaknya adalah korban dari perbuatan wanita tidak tahu diuntung itu.


"Berkatalah yang baik, Nia," kata Kak Litha padaku, "Kapan Mas?" tanyanya pada Kakak Ipar.


"Baru saja."


"Perkataan yang baik hanya untuk orang baik," celetukku.


Nampaknya semua tercengang dengan celetukanku, tidak terkecuali Asisten Yan yang terus sok menasehati, "Jangan menyimpan kebencian dalam hati. Meski sakit, melepaskan rasa benci itu melegakan."


Hei! Siapa dia yang berhak mengatur apa yang aku rasakan? Apa dia tidak merasa sakit nyawa pamannya sendiri direnggut paksa? Aku benar-benar kesal dan sambil berlalu keluar kamar kusindir, "Ya, akan kucoba. Karena melepaskan rasa benci itu lebih mudah daripada rasa cinta pada seseorang."


Pppffftttt ...


Aku bisa mendengar ada suara tawa yang ditahan, entah milik siapa karena aku membelakangi mereka semua.


Pintar sekali kau bermain kata.


Ku hentikan langkah di ambang pintu dan berbalik demi memastikan dugaanku siapa pemilik suara yang menudingku pintar bermain kata.


"Tentu saja. Kalau tidak, aku tidak akan terpilih sebagai Ketua OSIS di sekolah. Jangan merasa tersindir Asisten Yan– yang aku maksud tadi adalah wanita gila yang hampir membunuh kakakku dan keponakanku karena cinta yang tidak bisa dia lepaskan. Kalau Asisten Yan merasa ya– kenapa tidak dilepaskan saja? Jangan sampai menggila seperti dia. Ck, ... Aku kasihan sama Bibi, putra satu-satunya ternyata hanya memikirkan perasaan sendiri."


"Nia! Sopan sedikit! Hormati orang yang lebih tua. Jaga mulutmu!" Kak Litha marah sekaligus memperingatiku untuk menjaga sopan santun.


"Tidak apa-apa, Nyonya. Toh, yang Nona ucapkan itu memang benar. Abyan saja yang keras kepala kalau diberi tahu," kata Bibi Lidya membenarkan ucapanku.


"Heh. Siapa suruh mendikte apa yang dirasakan orang lain, kalau diri sendiri juga tidak ingin didikte perasaannya," kataku melirik tajam ke lelaki bermata teduh itu kemudian beralih ke Kakak Ipar yang sedari tadi menahan tawanya, "Malam ini Kakak Ipar tidak jadi pisah tidur dengan Kak Litha. Aku sudah bertanggungjawab atas perbuatanku, kan? Setidaknya– Kakak Ipar sekarang sudah bisa lebih tenang sedikit."


Aku tahu aku salah telah menyinggung dan turut campur kehidupan pribadi Asisten Yan, tetapi itu semua karena dia duluan mengusik rasa sakitku dengan sok bijak memberi nasehat. Aku sakit hati dan aku tidak akan bisa hidup kalau sampai Kak Litha juga menjadi korban tewas atas insiden itu. Aku sudah cukup kehilangan satu jiwa saudariku dan tidak mau kehilangan jiwa saudariku yang lain, lalu kenapa dengan entengnya dia mengatakan untuk melepaskan begitu saja rasa sakit ini. What the fu*ck! Go to the hell, man!


"Kau baru tahu aku pandai bermain kata, hah? Meskipun aku terbully di SMA tapi aku bisa menguasai seluruh siswa saat SMP. Kau mau berdebat denganku? Jangan mimpi!" gumamku geram sambil berjalan ke kamarku.


"Nona," panggil Bibi Lidya saat aku membuka pintu kamar.


"Ya, Bi."


"Bibi minta maaf kalau Abyan menyinggung Nona."


"Kalau dia ingin meminta maaf maka dia yang seharusnya berinisiatif, bukan Bibi ... Tapi Bibi jangan cemas, aku juga tadi terbawa emosi. Kenapa semua orang masih bersikap baik sama wanita itu? Jelas-jelas dia yang melakukannya."


"Bibi paham perasaanmu karena Bibi juga merasa seperti itu," ujar Bibi Lidya mengejutkanku, "Psst ... jangan bilang ke siapa-siapa ya Nona, Bibi juga bersyukur wanita itu mati," bisiknya setelah menengok ke kanan kiri.


Mataku terbelalak kaget, tidak menyangka aku bisa memiliki pemikiran yang sama dengan ibu dari laki-laki yang sok bijak barusan. Tanpa permisi aku memeluknya dan berujar, "Terimakasih, Bi untuk tidak memaksaku menjadi baik hati."


"Karena Nona sudah baik hati, kenapa perlu dipaksa lagi," ujarnya mengusap punggungku.

__ADS_1


Ah, di saat aku merindukan pelukan Ibu dan Bibi Rima, Tuhan memberiku penggantinya meski hanya untuk sementara.


- Bersambung -


__ADS_2