
"Lith, apa kau akan terus begini? Bersama suamimu, apapun yang telah kulakukan padamu."
Kupalingkan wajah pada mereka berdua. Jantungku berirama cepat bertanya-tanya apakah Kakak Ipar akan membuka asal-usul kami sekarang pada kakak perempuanku?
"Tentu saja aku akan selalu bersama suamiku, tapi apa yang telah Mas lakukan? Mas punya wanita lain?"
"Sembarangan! Siapa bilang aku punya wanita lain? Aku sudah puas lahir batin denganmu, buat apa mencari wanita lain," tukas Kakak Ipar sebal.
"Ck. Mana tahu? Aku kan selalu di rumah, tidak tahu persis sepak terjangmu di luar."
"Kau mencurigaiku? Kau bisa tanyakan detail agenda harianku sama calon adik iparmu."
"Lalu apa maksud pertanyaan Mas tadi?"
"Mmm ...."
Tuh kan, baru begini sudah mati kutu, ckckck.
"Suami Kak Litha hanya takut jika selama ini ada perbuatannya yang menyakiti hati istrinya. Dia takut berbuat salah dan tidak dimaafkan," timpalku melirik sekilas ke Kakak Ipar.
"I–iya, benar begitu," komentar Kakak Ipar yang ditanggapi seringai curiga istrinya
"Kalau suamiku menyayangi dan mencintaiku seperti kata-katanya, pasti dia akan memberikan hasil terbaik dengan jalan yang baik– bukan sekedar hasil terbaik yang melalui jalan penuh kecurangan," ujar Kak Litha.
"..."
"Tapi aku percaya suamiku akan selalu memberikan segala yang terbaik dari awal, proses sampai pada akhirnya," sambungnya lagi.
Lagi-lagi Kakak Ipar dibuat bungkam sama kakak perempuanku.
"Tapi yang pasti aku akan selalu bersamamu, Suamiku Sayang– sepanjang sisa hidupku," sambungnya yang melegakan hati seorang Tuan Muda.
"Aihhh ... Aku masuk duluan, tidak mau jadi obat nyamuk kalian berdua," sahutku membalikkan badan dan bersiap masuk ke dalam rumah.
"Nia," panggil Kak Litha.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi antara kau dan Asisten Yan tapi buatlah dirimu bahagia. Apapun itu aku dan kakak lelakimu ini akan selalu mendukungmu. Jangan takut dan ragu melangkah, tetaplah menjadi Xena kami, Vania."
Tes.
Airmataku luruh, sangat beruntung memiliki mereka dalam hidup hingga aku berkata, "Bisa jadi nanti aku akan lebih mencintai kalian daripada suamiku sendiri, hehehe ... Terimakasih, Kakak."
Kutampakkan saja wajahku yang berlinang airmata haru pada mereka, sambil terkekeh tentunya.
"Nia!"
Kak Litha langsung memelukku erat, makin deraslah airmata ini. Pelukannya begitu hangat dan familiar, mungkin karena wajah, postur tubuh bahkan aroma khas badannya adalah milik Ibu– hanya warna kulit dan suara yang berbeda.
"Kak, tadi aku mimpi Ibu, Ayah dan Paman Tino tapi tidak ada Bibi Rima. Apa ini sebuah pertanda?" isakku masih dalam dekapannya.
"..."
"Aku ingin bermimpi bertemu mereka lagi, Kak," tangisku makin pecah tanpa suara dan aku yakin pasti kakakku juga ikut menangis.
Siang sudah pulang menyambut malam tapi rindu ini tak jua mau pulang, dia malah semakin menari-nari tanpa bersalah di seluruh sudut lipatan otak bahkan sampai yang terdalam dan berlekuk. Kau tahu apa yang paling menyakitkan? Rasa rindu yang tak tersampaikan.
...***...
__ADS_1
Tanganku telah pulih seperti sedia kala, begitu juga Nezar. Menurut kabar, luka memar dan lebam di wajahnya berangsur menghilang. Kami juga kembali ke kampus mengikuti perkuliahan mulai hari ini.
Hubunganku dengan Asisten Yan semakin membingungkan. Dia bersikap baik tapi entah mengapa setiap hal-hal baik yang dilakukannya padaku akan mengingatkan pada kebaikan yang diberikannya untuk Dokter Vivian.
"Ray, aku ijin mengantar jemput Vania ke kampus. Meski sudah sembuh, tangannya belum terlalu baik dipakai menyetir," pinta Asisten Yan saat sarapan.
Semua mata penikmat makan pagi saling melihat satu sama lain.
"Tidak perlu. Aku pergi diantar Pak Wisnu saja dan pulangnya diantar Nezar."
"Ternyata kau lebih bergantung pada laki-laki lain ketimbang tunanganmu sendiri," ketusnya.
Aku hanya berdecak cuek, malas meladeni. Masih teringat kejadian malam minggu lalu.
_Flashbck On_
Malam baru saja menapaki Negeri Eksotis. Semua orang di keluarga Pradipta tengah berkumpul di ruang keluarga pada akhir pekan seperti ini kecuali aku yang ingin menikmati sinar bulan purnama.
"Aku membawakan coklat kesukaanmu, isinya tidak lagi kacang-kacangan," ujar Asisten Yan menyodorkan sekotak coklat saat aku asyik mengamati kilauan cahaya bulan yang terpantul di permukaan kolam renang yang tenang.
"Terimakasih."
"Tumben disini."
Aku memamerkan senyumku, "Hanya ingin disini. Apa harus ada alasannya aku duduk di tepi kolam begini?"
"Tidak, aku hanya bertanya. Bagaimana kondisi tanganmu?"
"Semakin membaik. Mulai senin besok, aku akan mulai ke kampus mengikuti perkuliahan."
"Kakak sudah memerintahkan Pak Wisnu untuk mengantarku ke kampus, nanti pulangnya aku akan minta tolong Nezar yang mengantar pulang," jawabku.
"Dia lagi."
"Kenapa? Dia orang baik, tidak pernah macam-macam denganku."
"Tentu saja dia tidak berani macam-macam, kalau dia berani– kupotong lehernya,"
"Dikira gampang apa menghabisi nyawa orang. Jangan sok jago kalau kira-kira tidak bisa melakukannya."
"Siapa suruh dia mau merebut tunanganku. Apa dia tidak punya kaca di rumah?" sindirnya.
Aku jengah, dia memprotes kedekatanku dengan Nezar sedangkan dia sendiri makin dekat dengan Dokter Vivian setelah pertemuan mereka di rumah sakit, tepatnya setelah wanita itu cur-hat.
"Baiklah. Aku akan menjaga jarak dengan Nezar tapi– jauhi juga Dokter Vivian," pintaku tegas.
"Tidak ada perasaan apa-apa diantara kami. Ibu akan menghapus namaku dari kartu keluarga jika aku berhubungan dengan istri orang. Vivian juga sudah tahu kalau tunanganku adalah adik ipar Tuan Muda, mana berani dia macam-macam," sanggah Asisten Yan.
Huh.
"Nia, kau tahu aku berusaha membuka hati padamu. Buktinya aku sudah seperti pria pada umumnya yang mengapeli kekasihnya di malam minggu."
Kutengok dan mengamati dirinya yang duduk di kursi sebelahku– terasa aneh.
"Jaket, baju dan sepatu ini baru saja kubeli. Bagus tidak?"
"Bagus."
__ADS_1
"Tadinya mau ku ajak jalan, tapi ternyata kau asyik menikmati suasana kolam renang di malam hari."
"Oh ya? Perasaan tidak ada ajakan untuk kencan malam ini atau aku mungkin melewatkannya?"
Dia tersenyum lalu mengusap kepalaku, "Kau pasti bosan berhari-hari di rumah terus. Kita jalan-jalan malam ini, terserah kau mau kemana."
"Benarkah?" tanyaku sangat senang yang dijawab dengan anggukan kepala.
"Waktu itu Bibi Lidya mentraktirku makan di Grey Savanna Restaurant saat siang hari. Katanya view malam hari sangatlah indah. Aku ingin kesana."
Dia terkekeh, "Dengan satu syarat."
"Apa?"
"Merahkan dulu wajahmu. Kau sangat menggemaskan saat pipi dan hidungmu merona."
Mataku terbelalak kaget.
"Kenapa? Susah ya? Kalau tidak bisa, biar aku saja yang membuat wajahmu merona."
Cup.
Dia mencium pipiku dengan cepat dan tertawa, "Tuh, kan, wajahmu langsung merona."
"Apaan sih!"
Aku langsung berlari ke kamar berganti baju. Aku mulai menikmati hubungan yang– menurutku ke arah lebih menyenangkan. Memilih model dan warna pakaian yang cocok dengan warna kulitku ditambah sapuan make-up tipis dan rambut yang cukup dihias bandana Korean Style.
"Apa ini tidak kekanak-kanakan? Nantinya aku seperti jalan dengan Om-om," gumamku melepas bandana dan mengganti tatanan rambut menjadi ikat satu ala pony tale.
"Setidaknya leher jenjangku yang terlihat membuat sedikit lebih dewasa, hehehe ...." kataku berbicara pada diri sendiri, lagi-lagi pipiku merona.
Setelah kurasa siap untuk pergi, entah kenapa dada terus-terusan berdebar. Mungkin saja karena ini kencan pertamaku, jadi sedikit gugup.
"Aku sudah siap," seruku keluar dari kamar menghampiri tunanganku yang sedang menunggu sambil berbincang dengan Kakak Ipar dan Kak Litha– ada Baby Zean juga disana bermain bersama calon ibu mertuaku.
"Cieee ... Adikku akan kencan pertama, selamat bersenang-senang ya," goda Kak Litha mengamati diriku dari atas sampai bawah dengan tertawa kecil, nampak sekali dia bahagia dengan kencan pertamaku.
"Bawa pulang adikku utuh seperti kau membawanya pergi," lontar Kakak Ipar ke sahabatnya.
"Tenang saja, dia akan kembali utuh tapi dengan penuh jejak," timpal Asisten Yan yang membuat mata kami semua melotot padanya.
"Abyan! Kalau kau berani, besok Ibu akan bawakan penghulu untuk kalian menikah," tukas Bibi Lidya tajam.
Aku, Kak Litha dan Kakak Ipar tergelak mendengarnya.
"Jejak kenangan Bu, bukan yang lainnya," ngeles Asisten Yan.
"Bi, dari pihak keluarga perempuan tidak akan menolak jika pernikahan digelar besok, hahaha ..." sahut Kakak Ipar yang disambut cubitan maut Kak Litha di perutnya.
"Sakit, Lith!" pekiknya tertahan mengusap bekas cubitan sang istri.
"Ck. Ayo Nia, kita pergi sekarang. Ibuku dan kakak iparmu akan semakin aneh bicaranya."
Aku mengangguk dan pamit pada mereka, tidak lupa kuciumi Baby Zean yang makin cerewet dan lincah di usianya yang menjelang dua tahun.
- Bersambung -
__ADS_1