
Bersandar pada jok mobil dengan mata sedikit terpejam, Pak Sas membawa kami menuju auditorium Universitas ABCDE, tempat kuliah Kak Litha.
"Kau tidur jam berapa tadi malam sampai mengantuk begini?" tanya Bibi Rima yang duduk di sampingku.
Dengan malas dan tidak nyambung kujawab pertanyaan Bibi, "Susah tidur Bi, sekalinya tidur mimpi cium cowok."
Plak.
Bibi memukul pahaku, "Jangan macam-macam, Nia!Sekolah yang benar. Kau tidak boleh melakukan hal-hal bodoh!"
"Ih, kan cuman mimpi Bi, MIM-PI. Buat pemanasan di real life."
Plak.
Bini memukulku lagi, ck.
Jika Bibi langsung naik darah mendengarku mencium seorang pria, lain halnya Paman yang duduk di samping Pak Sas yang mengemudikan mobil, dia malah tertawa, "Memangnya siapa yang kau cium, Nia? Hahahaha ...."
"Asisten Yan," sebutku asal.
Plak.
Ketiga kalinya Bibi Rima memukul pahaku dan ini yang paling perih di kulitku.
"Jaga bicaramu, Bocah Genit!"
Paman Tino terbahak melihatku menggoda Bibi yang kalang kabut, Pak Sas pun ikut menyunggingkan senyum di wajah robotnya.
.
.
.
"Eittss ... tunggu dulu! Asisten Yan. Kita berfoto dulu, boleh kan?-- Untuk newsfeed Shortpink FC." Aku setengah berlari menuju mobil Kakak Ipar di parkiran VIP, "Kak, fotoin sebentar," pintaku sambil menyodorkan ponsel pada Kak Litha yang tengah memakai topi toganya.
"Ih, ni anak merepotkan sekali. Gak lihat Kakakmu ini lagi ribet, ya sudah ayo cepetan! Kasihan Kakak Iparmu menunggu Asisten Yan," gerutunya sebal.
Dengan cengengesan aku langsung mengambil posisi untuk berfoto di samping kiri Asisten Yan. Tinggi badanku hanya sampai pada pundaknya.
1 ... 2 ... 3 ... Say Cheese
Deg.
Hatiku terkesiap saat tangannya merangkul bahuku.
Klik.
Terekam sudah gambar manis yang menyisakan segenggam rasa aneh dalam hati, padahal aku tahu benar kalau rangkulan lelaki itu layaknya rangkulan seorang kakak laki-laki terhadap adik perempuannya.
Tidak lama kemudian Kakak Ipar pamit menuju gedung rektorat terlebih dahulu dikuti Asisten Yan untuk bergabung dengan tamu VIP, sedangkan kami berbasa-basi dengan keluarga Kak Ninda yang semuanya hadir, ada kedua orangtua dan kedua abangnya. Ah, aku tersenyum kecut, kan jadinya. Sebulir rasa iri menyelusup sanubari melihat keluarga Kak Ninda yang lengkap.
Bibi Rima yang tadi memukulku sebanyak tiga kali peka melihat perubahan raut wajahku, dia mengusap lembut punggungku sembari tersenyum, "Kalian masih punya orang tua, Paman dan Bibi kan, pengganti ayah ibumu," bisiknya nyaris tak terdengar.
Aku mengangguk pelan, tersenyum padanya. Bibi dan Paman adalah padanan suami-istri yang yang saling melengkapi, Bibi yang galak dan Paman yang lucu, meski begitu aku dan kedua kakakku tetap menaruh hormat pada keduanya. Dulu aku heran mengapa Bibi dan Paman tidak memiliki anak dan sangat menyayangi kami seperti anak sendiri, ternyata ada penyebab yang membuat Bibi tidak bisa mengandung dan melahirkan layaknya wanita pada umumnya. Itu pasti sangat menyakitkan buat Bibi, juga Paman.
"Ayo Nia, kita masuk sekarang. Biarkan kakakmu masuk bersama Ninda," ajak Bibi menggandeng tanganku, lagi-lagi aku tersenyum padanya. "Ayo Pak," Bibi juga mengajak Paman yang berada di belakang kami.
"Pulang nanti Bibi harus mengobati pahaku yang biru-biru dipukul Bibi tadi," kataku manja membalas gandengan tangannya sambil berjalan.
__ADS_1
"Eh, enak saja! Siapa suruh kau jadi ganjen begitu, mimpi cium-ciuman segala. Haishh ... diusiamu sekarang ini, perbanyaklah belajar bukan mengkhayal," elak Bibi mulai mengomel.
Aku terkekeh, padahal aku hanya menggodanya saja, ternyata reaksinya sangat diluar dugaan. Begitu protektifnya dia padaku seperti Ayah.
"Bi, apa aku salah kalau mengkhayal kelak akan memiliki pria seperti Kakak Ipar?"
Syuut.
"Duh, Bibi! Sakit!"
Lenganku dicubit kuat, Bibi menatap wajahku dari dekat, "Astaga, kenapa Bibi menyeramkan begini?"
"Kau, Vania Kirana Larasati," tunjuknya dengan pandangan tajam, "Jangan sekali-sekali mengurusi lelaki. Kurasa kau masih ingat batasan yang diberikan oleh mendiang ayahmu. Apa yang terjadi pada Tisha belum cukup untuk membuka matamu lebar-lebar, ha?"
Ampun ... Bibi benar-benar menyeramkan, kupalingkan wajahku mencari Paman, tapi ternyata Paman sudah duduk di kursi tamu undangan, pura-pura tidak melihat kami.
"Aih, aku lupa. Percuma meminta perlindungan pada Paman. Haisshhh."
"Iya-- iya. Aku tahu batasan, aku akan mengingatnya, Bi," ucapku lalu segera berlalu dari tikaman mata yang mematikan itu.
"Ya, karena di bibir dan tubuhku ini ada racun bagi kaum lelaki, kan? Hahahaha ... kok aku jadi merasa seperti ular yang siap membelit pencuri hatiku. Aih ... aih ... Hahahahaha ...." tawaku dalam hati.
.
.
.
Nuansa megah nan elegan mewarnai perhelatan wisuda layaknya acara pernikahan, meski hiasan bunganya tidak terlalu banyak. Aku diberitahu bahwa semua yang berkaitan dengan acara ini dari paling kecil hingga paling besar ditanggung Kakak Ipar secara pribadi, bukan Keluarga Pradipta apalagi Pradipta Corp. Hal ini menunjukkan Kakak Ipar ingin membahagiakan istrinya dengan jerih payahnya sendiri.
Kupanjangkan leher melihat bagian wisudawan/wisudawati duduk, mencari Kak Litha. "Astaga ... Dasar Kaka Ipar bucin akut! Duduk pun tidak mau jauh, ckckck," gumamku menggeleng-gelengkan kepala melihat posisi Kak Litha yang berada di belakang suaminya.
"Psst ... Jangan berisik! Acaranya sudah dimulai," kata Bibi menyikut perutku dengan sikunya. Aku meringis tanpa suara.
Kalimat pamungkas Rektor Universitas ABCDE benar-benar membuat mataku terbelalak, bukan itu saja, bahkan seisi auditorium seketika gaduh sampai MC harus beberapa kali menenangkan situasi yang ramai.
Kepada Nyonya Pradipta, saya mewakili para tamu undangan mengucapkan selamat ulang tahun. Ini adalah hadiah terbaik yang pernah kami saksikan. Hiduplah dengan saling mencintai dan bahagia. Terimakasih.
Aku menggenggam tangan Bibi erat-erat, menahan diri agar tidak naik ke atas kursi dan berteriak, 'DIA ADALAH KAKAKKU!!!'
Luapan yang sangat emosional juga dirasakan Bibi. Ini tergambar dari kuatnya dia meremas jemariku dan jemari Paman sampai Paman meringis kesakitan.
Fakultas Z, Jurusan X
Satu, Navia Litha Sarasvati dengan IPK 3,87
Suara pembaca surat keputusan rapat senat terbuka membahana menyebutkan Kak Litha sebagai lulusan terbaik karena namanya disebutkan urutan pertama.
"Nia, itu kakakmu-- kakakmu-- Litha-ku." Bibi sudah tidak dapat menahan tangis haru dan kebahagiaannya.
Kak Litha berdiri dan mulai melangkahkan kakinya maju ke atas panggung menerima pemindahan tali topi toga dan salinan ijazah. Dia berjalan sambil sesekali mengusap perutnya, tersenyum bangga atas pencapaiannya yang selama ini mati-matian dia perjuangkan. Kami pun bertepuk tangan keras saat namanya disebutkan.
Betapa bahagianya kami, tunai sudah janji Kak Litha pada mendiang Ayah dan Ibu, bahwa apapun dan bagaimanapun caranya, kakakku akan mengenakan baju hitam kebesaran yang gagal dikenakan mereka.
Tapi-- Pemandangan di panggung membuat riuh kembali. Jelas saja riuh kalau tiba-tiba Kakak Ipar dengan gentle-nya menuntun istrinya menuruni anak tangga yang tidak banyak. Kekhawatiran Kakak Ipar yang berlebihan dimataku adalah sikap romantis di kehidupan nyata, seperti saat dia spontan menggendong Kak Litha tanpa baju yang sempat trending beberapa waktu lalu.
"Bibi, kenapa Kakak Ipar sangat romantis? Ah ... meleleh aku Bi ... Pengen punya suami seperti Kakak Ipar, tapi cari dimana? Kakak Ipar tidak punya kembaran," celotehku dengan imajinasi yang semakin tidak bisa ku kontrol. Kakak Ipar memang suami impian bagi para wanita.
"Belajar yang benar. Lulus lah dengan baik, baru kau bisa bertemu dengan lelaki baik. Kau ini belum apa-apa sudah memikirkan suami," tukas Bini Rima yang disambut kekehan dari Paman Tino di sampingnya.
__ADS_1
"Haissshhh ...." Aku mengerucutkan bibir, "Kak Litha nikah dulu baru lulus."
"Anak ini membantah terus kalau dikasih tahu. Apa kau mau Bibi nikahkan sekarang, ha?" Bibi Rima mencubit lenganku karena jengkel. Entah kenapa hari ini aku menjadi korban penganiayaan bibiku sendiri.
Di penghujung acara, Tuan Muda Pradipta dipersilakan maju untuk mengucapkan sesuatu oleh MC. Sosok tegap nan berwibawa itu berdiri dan mengancingkan kembali jasnya, berjalan ke arah mimbar dimana Pak Rektor dan Tuan Gubernur tadi memberikan sambutannya. Rayyendra Putra Pradipta dengan sumringah menatap lekat istrinya hangat dan penuh cinta dari atas mimbar.
"Ini-- Ini waktunya, Bi. Ini saatnya Kak Litha bisa pingsan kena serangan jantung," bisikku di telinga Bibi.
Syuutt.
"Anak ini benar-benar tidak bisa menjaga mulutnya. Lebih baik kau diam daripada mengeluarkan suara yang berisik. Bibi tidak bisa mendengar apa yang suami kakakmu katakan."
Hari ini adalah hari yang penuh suka cita termasuk saya. Maka dari itu, sebagai Presiden Direktur Pradipta Corp. akan memberikan kesempatan bagi lulusan wisuda periode ini jurusan apapun itu, untuk memasukkan lamarannya pada Pradipta Corp. mulai besok sampai akhir bulan ini, karena bulan ini adalah bulan ulang tahun wanita yang sangat aku cintai. Jika kalian beruntung dan memenuhi kualifikasi, kalian akan langsung bergabung bersama perusahaan. Ini saya lakukan karena ungkapan rasa syukur kami, saya dan istri.
"Wow! Sultan memang beda, apalah daya kami rakyat jelata yang mengharap belas kasihan Tuan, huhuhu ...." kutangkupkan kedua tangan di depan dadaku membuat drama, mengagumi Kakak Ipar sebagai suami yang sangat mencintai belahan jiwanya.
"Tutup mulutmu dan berhenti bicara!" seru Bibi dengan suara pelan namun setajam silet masuk ke lubang telinga.
Namun untuk penyeleksian kali ini ada perlakuan khusus. Sebelum seleksi berkas yang akan ditangani oleh bagian HRD kami, pelamar akan melalui seleksi akhlak terlebih dahulu yang akan diseleksi langsung oleh istri saya.
Eh. Seleksi akhlak, apa ini? Tidak ada sebelumnya seleksi seperti ini untuk melamar kerja di perusahaan selevel Pradipta Corp. Kulihat banyak yang bergumam, sebagian ada yang tersenyum aneh dan sebagian lainnya tertawa kecil menganggapnya lelucon.
Hei kalian yang tertawa, saya tidak bercanda dan sangat serius dengan apa yang kalian tertawakan.
Glek.
Spontan mereka yang tertawa maupun sekedar senyum langsung memasang mimik serius kembai, kini giliranku yang tertawa melihat nyali mereka. Baru saja digertak begitu sudah ketakutan, hahahahaha ....
Plak.
Tanpa bicara, Bibi langsung memukul pahaku, memukul sungguhan-- perih rasanya.
Kikikik ...
Sura tawa Paman tertahan melihatku menderita, tapi seketika mulutnya diam seribu bahasa seiring mata Bibi yang melotot ke arah Paman. Hahahaha ... Aku hanya bisa tertawa dalam hati.
Kelulusan ini sangat berarti bagi istri saya, walaupun pada akhirnya dia tidak menggunakan ilmunya untuk masyarakat alias hanya menjadi Ibu Rumah Tangga. Saya tahu bagaimana dia tetap berjuang sampai akhir untuk mendapatkan sebuah gelar di belakang namanya, karena itu adalah bukti dari jerih payahnya selama ini yang akan diceritakan pada anak-anak kami kelak. Dia tidak pernah mengeluh meski banyak airmata dalam perjuangan itu, jadi wajar, jika saya sebagai suaminya merasa sangat bangga dan bersyukur memilikinya dalam hidup saya. Dia adalah role model seorang wanita di mata saya.
.Karenanya sebagai rasa syukur yang kami rasakan saat ini, saya membuka kesempatan bagi para sarjana disini yang ingin bergabung dengan Pradipta Corp. Sayangnya saya menyaksikan sendiri ternyata ilmu yang mumpuni tidak sebanding dengan akhlak yang baik. Begitu mudahnya mengeluarkan kata-kata yang masih diragukan kebenarannya dan langsung mengklaim tanpa dasar atau bukti. Gampang termakan hoax dan menelannya mentah-mentah tanpa diolah dulu. Apa seperti ini pola pikir seorang sarjana? Setahu saya, itu adalah orang-orang yang tidak berpendidikan, atau mungkin Sarjana yang Tidak Berpendidikan?
Semua terdiam, termasuk aku, Paman dan Bibi. Sarkasme Kakak Ipar benar-benar menusuk hati semua orang. Hatiku bergemuruh sekaligus haru, betapa mudah dan jahatnya lisan manusia menghakimi manusia lainnya. Tak pelak mata ini tertuju pada Kak Litha yang menundukkan kepalanya. Aku tahu perasaannya saat ini dan aku sangat sakit hati mendapati kakakku yang bagaikan malaikat diperlakukan seperti demikian. Di atas paha yang berkali-kali dipukul Bibi hari ini kukepalkan kedua tangan sekuat-kuatnya, meredam emosi yang kian membuncah.
"Tenanglah, Nia. Ada suaminya yang akan mengembalikan harga diri kakakmu." Berbeda dengan nada sebelumnya, suara lembut Bibi Rima kali ini langsung mengguyur api amarahku yang sempat tersulut. Tangannya yang berada di atas tanganku membuatku tersenyum dan mengangguk. Kami percaya sepenuhnya pada Kakak Ipar.
Apakah orang seperti itu yang ingin saya pekerjakan. Saya seorang pebisnis. Saya harus selalu memperhitungkan untung rugi, dan perusahaan akan sangat rugi mempekerjakan orang-orang seperti itu, bahkan dia bisa menjadi kanker yang pelan-pelan menyebar dan menggerogoti untuk merusak sistem kerja yang sudah baik. Dan saya bisa pastikan orang-orang seperti ini tidak akan ada yang mau menerimanya bekerja!
Mengapa saya memilih istri saya yang menyeleksi akhlak? Karena ia pernah menjadi korban bobroknya akhlak para Sarjana yang Tak Berpendidikan di sini. Difitnah dan dituding terang-terangan tanpa pernah membalas.
Pebisnis Muda nomor satu di negeri ini versi Metropolitan -majalah dan situs berita online paling prestisius dalam negeri- mengambil nafas untuk jeda setelah meninggikan suaranya. Pandangan matanya nanar menatap Kak Litha yang masih menundukkan kepala. Suasana di auditorium menjadi ramai karena spekulasi siapa gerangan istri Tuan Muda Pradipta.
Navia Litha Sarasvati, angkat wajahmu! Jangan kau sembunyikan wajahmu terus di balik kepalamu yang tertunduk. Menjadi istri yang paling kucinta dan mengandung anakku bukanlah suatu aib karena kita menikah dengan sah secara agama dan hukum di negara ini.
Hening ...
Aku, Paman dan Bibi juga terpaku, mematung untuk beberapa saat. Pada akhirnya, terbitlah pengakuan yang disaksikan langsung ribuan orang dan diliput oleh berbagai media cetak maupun elektronik yang memang sengaja diundang oleh Kakak Ipar.
Terima kasih atas waktu dan perhatiannya. Terakhir, lihatlah di bawah kursi masing-masing, bagi yang beruntung akan mendapatkan kejutan. Percayalah, Semua hal baik akan datang pada orang baik.
Sedikit mengucapkan salam penutup formal, Kakak Ipar menuruni mimbar dan berjalan ke arah Kak Litha yang masih menunduk dan memperlihatkan gerakan mengusap mata. Kak Litha menangis, aku dan Bibi juga mengusap ujung mata kami masing-masing. Bibi memelukku dan bergumam tanpa disadarinya, "Bibi harap kalian sehat dan selamat selamanya dibawah perlindungan kekuatan seorang Tuan Muda."
__ADS_1
Jelas saja dari sebutir airmata di sudut mataku kini menjadi anak sungai di pipi karena memahami maksud kalimat Bibi yang sebenarnya. Kehidupan orangtuaku tidaklah baik, sama halnya dengan hidup Bibi dan Paman namun mereka selalu bermain peran di depan kami bahwa mereka selalu baik-baik saja.
- Bersambung -