
Menjelang masa kelahiran penerus Keluarga Pradipta, rumah ini nampak tenang meski sebenarnya itu hanya buah penekanan dari hati yang gelisah, terutama si calon ayah. Selain itu ada beberapa masalah perusahaan juga menyita pikirannya. Seperti saat ini, aku tidak tahu apa yang didiskusikan antara Kakak Ipar dan asistennya, yang jelas dari percakapan mereka mengangkut hal serius bahkan sampai Kak Litha ikut menimpalinya.
"Terbakar? Kapan?" tanya Kak Litha kaget.
"Tadi malam. Gudang itu gudang pertama yang dibangun oleh Pradipta Corp. Sudah lama tidak digunakan karena letaknya jauh dan biaya renovasinya besar," jawab Asisten Yan.
"Tidak apa-apa, Sayang. Itu hanya gudang tua yang terbengkalai. Syukurlah terbakar karena setahun terakhir gudang itu sering dijadikan tempat uji nyali. Bahkan kalau tidak terbakar tadi malam, akhir tahun ini aku yang akan meratakannya dengan tanah," sahut Kakak Ipar mengiris roti isi daging asap atau yang biasa disebut sandwich.
Tiba-tiba kakakku meringis memegangi perutnya, semuanya panik. Ketika Kakak Ipar meminta Pak Is untuk menelepon dr. Lena -dokter kandungan pribadi Nyonya Pradipta- Kak Litha segera bersuara, "Tidak apa-apa. Sakitnya sudah hilang. Maaf– mengacaukan sarapan pagi ini. Ha– hanya sedikit kontraksi tapi sudah hilang, memang seperti ini kan, Bi menjelang HPL?"
Bibi Lidya mengangguk.
"Ah, kau Lith ... hampir saja membuat jantungku mau copot. Ku kira sudah waktunya." Kakak Ipar menghela nafas dan mengelus dadanya, lega– sebab tadi dia terlihat sangat panik.
"Siapa suruh buat Kak Litha orgas*me? Orgas*me pada trimester ketiga kehamilan kadang akan menimbulkan kontraksi," celetukku sambil mengiris sandwich tuna mozarella.
Dengan ekor mata, aku bisa memastikan kalau Kak Litha sekarang memakiku habis-habisan dalam hatinya, tidak terkecuali Kakak Ipar. Semua orang di ruang makan menjadi salah tingkah apalagi Asisten Yan setengah mati menahan tawa sampai wajahnya memerah.
"Apa aku salah?" tanyaku polos sambil mengunyah dan melihat satu-persatu orang di sana. Lucu sekali mengamati sekumpulan orang dewasa dengan pikirannya masing-masing, hihihi ....
"Ehm." Kakak Ipar berdehem, "Lupakan masalah tadi. Itu tidak penting dibahas." Mengambil nafas sejenak untuk menelan saliva dan melanjutkan lagi kalimatnya, "Vania, kakakmu benar kadang mulutmu itu sangat lancang dan– mematikan. Jadi, lebih baik kau belajar sesuatu yang bermanfaat." Dia melihat istrinya yang masih menunduk malu menatap piring makannya, "Kakak kesayanganmu ini sudah memberi izin untukmu mengendarai mobil."
Tring.
Garpu dan pisau yang kugenggam terlepas menimbulkan denting di piringku, aku melongo tidak percaya menatap ibu hamil yang baru saja kubuat malu.
"Benarkah?" tanyaku.
"Dengan satu syarat."
"Apa? Lekas katakan Kak!" tanyaku sangat bersemangat.
"Litha hanya ingin kau diajari mengemudi oleh Abyan."
APA!
Aku dan Asisten Yan berteriak bersamaan dan mengagetkan semua orang di ruang makan.
"TIDAK MAU!" Aku menolak tegas. "Rencana siapa ini yang menjadikan Asisten Yan mentorku mengemudi? Yang jelas orang itu diantara Kak Litha atau Kakak Ipar."
"Maaf Ray, pekerjaanku banyak yang lebih penting. Kau bisa menyewa guru mengemudi profesional." Asisten Yan juga menolak namun lebih halus.
"Ini bukan perintahku. Ini titah tertinggi dari Nyonya Pradipta. Aku hanya meneruskan saja," elak Kakak Ipar sengaja menyodorkan istrinya sebagai tameng karena dia tahu nama jabatan 'Nyonya Pradipta' di rumah ini sangat keramat.
"Kak, aku tidak mau diajari Asisten Yan. Aku lebih baik belajar sendiri melalui Youtube." Aku berkelit memberi alasan.
"Maaf Nyonya, apa sebaiknya–"
Kak Litha mengangkat wajah dan dengan pandangan mata yang tajam menusuk Asisten Yan, setelah itu gantian matanya beralih menyilet ke arahku. Cara menatapnya sangat mengerikan, persis tatapan Ibu kalau memperingati sesuatu. Tatapan penuh intimidasi dan seakan-akan berkata 'Jangan coba-coba membantah kalau kau tidak ingin kehilangan nyawamu.'
"Kalau kalian tidak mau ya sudah! Jangan harap aku akan mengizinkanmu belajar mengemudi mobil, Nia– dan Asisten Yan kalau kau tidak mau melaksanakannya, aku anggap kau membangkang perintahku." geram Kak Litha berdiri.
"Lith, mau kemana?" tanya Kakak Ipar sedikit cemas.
"Aku kehilangan selera makan karena semeja dengan manusia bermulut tajam dan pembangkang."
__ADS_1
Glek.
Semua terdiam dan tegang. Kakakku benar-benar marah. Dia tidak bercanda ataupun pura-pura, kalau sudah begini bagaimana bisa bilang tidak? Itu sama saja namanya cari mati.
"Kak–"
"Maafkan saya Nyonya atas kelancangan ini. Saya akan melaksanakan perintah Nyonya, mengajari Nona Vania mengemudi mobil," ujar Asisten Yan mengakui sesuatu yang dianggap salah oleh Nyonya Pradipta dengan berdiri dan menunduk hormat untuk meminta maaf.
Hhmppfft ... Aku hanya bisa menghela nafas dan menyandarkan badan di kursi, tidak ada yang bisa kulakukan selain pasrah menerima apa yang diputuskan kakak perempuanku. Belajar darimana cara dia menekan orang sampai orang yang ditekannya tidak berkutik? Ah, sekarang aku yang kehilangan selera makan. Setengah memandang dan sedikit tersenyum paksa pada lelaki yang menjadi guru mengemudiku, aku sudah merasakan berat di kepala dan pundakku.
...***...
Hari ini adalah hari dimana aku mulai belajar mengendarai mobil, Kakak Ipar memberiku kebebasan memilih mobil yang akan kupakai untuk belajar. Sempat aku urungkan niat setelah mengetahui harga mobil termurah di garasi paling tidak hampir menyentuh bunyi M. Jika bukan karena intimidasi Kak Litha yang mengatakan bahwa ini adalah kesempatan satu-satunya dia memberiku izin belajar, aku pastikan akan membatalkannya.
Hari ini juga semakin menyebalkan ketika tahu kedua kakakku akan berburu kuliner mengelilingi Ibukota. Aku kan, juga suka jajan, ingin ikut– tetapi aku hanya diizinkan ikut mengantar mereka sampai pintu ruang tamu. Mereka sungguh tega bersenang-senang di atas penderitaan adik sendiri.
"Sudah siap, Sayang?" sapa Kakak Ipar pada istrinya. Hari ini Kak Litha sangat cantik, mengenakan dress berwarna hijau sage dan make up tipis, aura ibu hamilnya semakin memukau.
"Kami tidak sarapan di rumah. Kalian sarapanlah dulu yang banyak, karena adu mulut itu memerlukan energi yang besar," sahut Kakak Ipar. Tentu saja perkataannya barusan ditujukan buat kami.
Ck.
"Kak–"
Aku berusaha memohon terakhir kali tapi Kak Litha malah berujar, "Belajar yang benar. Asisten Yan adalah orang yang sabar. Buktinya hanya dia yang sanggup berada di samping Tuan Muda Pradipta."
Kakak Ipar tergelak melihatku cemberut. Aku tambah jengkel dengan mereka berdua. Nampak ini adalah kesengajaan yang mereka buat, entah kenapa.
"Cantik sekali. Mau kemana, Ratuku?" Kakak Ipar mengecup punggung tangan istrinya sampai tersipu malu.
"Aku akan ikut kemanapun Yang Mulia Raja membawaku," jawab Kak Litha memandang mesra manik suaminya.
.
.
.
"Kapan mereka tidak bermesraan di depan orang? Kekanak-kanakan sekali!" sungut Asisten Yan setelah tiba di meja makan untuk sarapan, kali ini aku setuju dengannya.
"Kenapa? Kau kesal mereka saling mencintai? Makanya temukan pasanganmu untuk saling mencintai, jangan terus jatuh cinta pada seseorang yang tidak bisa mencintaimu," celetuk Bibi Lidya seraya menata meja.
Asisten Yan mendengus sebal.
"Bibi, jatuh cinta itu seperti apa?" tanyaku.
"Kau jatuh cinta pada seseorang, Nona?" sindir Asisten Yan ketus.
"Hei! Aku tidak bertanya padamu Tuan Asisten. Lagian sebenarnya kau marah pada siapa? Kakak Ipar, Bibi Lidya atau aku? Ah, Dasar!" umpatku dalam hati.
"Eng– justru itu aku bertanya, jatuh cinta seperti apa?Jangan sampai aku jatuh cinta dan ternyata itu hanya sebatas kekaguman, lalu aku terjebak sampai tidak bisa melepaskan diri. Konyol kan?"
Hahah ... Bagaimana rasanya kusindir balik? Tidak enak bukan? Begitu tidak enaknya sampai raut wajah kusut mirip sekumpulan benang yang diceker ayam.
"Jatuh cinta itu seperti kau menemukan seseorang yang selalu kau rindukan, terus mengagumi dan memikirkannya– juga ingin menghabiskan waktu bersama saat raga terpisah. Namun seiring berjalannya waktu, perasaan yang mendalam ketika jatuh cinta bisa pudar. Rasa memuja yang intens pada awalnya bisa saja hilang," kata Bibi Lidya sedikit melirik ke putranya, "Jatuh cinta pada seseorang di hari ini bukan jaminan rasa itu akan tetap bertahan untuk selamanya. Berbeda dengan jatuh cinta– mencintai dengan hati yang tulus tanpa syarat akan lebih bertahan lama meskipun orang yang dicintai itu telah mengecewakan kita berkali-kali. Ini juga yang menjadi alasan seseorang untuk bisa terus mencintai pasangannya meskipun hubungan mereka sudah berakhir atau bahkan bagi yang belum memiliki hubungan sekalipun. Antara mengagumi, jatuh cinta dan mencintai sangat rumit untuk dibedakan."
__ADS_1
"Ternyata rumit ya Bi, kadang kita sendiri juga tidak bisa paham sebenarnya perasaan kita itu masuk kategori mana apalagi kalau cinta tak berbalas. Aku jadi takut untuk jatuh cinta, eh bukan– mencintai maksudku," timpalku.
"Dasar bocah, di umur segini memangnya dia mencintai siapa?" ketus Asisten Yan lagi setengah berbisik.
"Tidak– tidak ada orang lain yang aku cintai selain Kak Litha. Aku mencintai semua yang ada di dirinya," jawabku gugup.
Astaga, apa dia pria yang pernah aku kagumi? Sosok penyayang dan lembut hatinya karena pernah memakai celana pendek berwarna pink ternyata punya sikap yang kekanak-kanakan. Aku mencintai siapa, kenapa dia yang sibuk?
"Itu bukan cinta. Itu namanya rasa sayang terhadap keluarga."
"Oh ya? Ternyata menurut Asisten Yan cinta hanya untuk pasangan, begitu? Bukan untuk keluarga? Kasihan sekali seorang ibu–"
"Segera selesaikan sarapan Nona, setelah itu kita langsung praktek. Kau sudah memilih mobilnya?" kilah Asisten Yan sebelum aku menyelesaikan kalimatku.
"Langsung praktek? Bukannya kau harus mengajari teorinya dulu." tanya Bibi Lidya bingung.
"Kalau aku mengajarkan teori padanya." Asisten Yan menunjukku dengan kerlingan jengah matanya, "Yang ada kami hanya saling beradu teori sampai malam."
"Cih."
"Mobil mana yang akan Nona pakai belajar?" tanyanya padaku.
"Mobil yang paling murah harganya. Aku tidak tahu mobil mana di garasi yang paling murah."
"Biasanya Nona membuat standar dengan nilai uang yang tinggi." Lagi-lagi dia menyindirku.
Deg.
"Apa aku begitu terlihat buruk di matanya?"
Kenapa tudingannya itu jadi membekas di hatiku? Rasanya sangat tidak enak sampai menimbulkan sedikit rasa sakit. Padahal menyukai uang merupakan sesuatu yang realistis bagi penduduk di muka bumi.
"Sudahlah, Asisten Yan. Ayo segera ajari aku, terserah kau memilih mobil yang mana, aku tidak peduli– karena esensi belajar berada pada mentornya bukan pada mobil. Apa kau bisa melakukannya, Tuan Asisten?"
"Heh. Kelihatannya Nona meragukan kemampuanku, meski aku belum pernah mengajari orang belajar mengemudi tapi aku tidak pernah meragukan kemampuanku sendiri."
Aku memandang lekat lelaki itu untuk melawan rasa percaya dirinya yang tinggi. Mungkin dia tidak buruk, yang terpenting adalah aku segera bisa mengendarai mobil. Kali ini aku harus menekan ego demi cita-cita agar bisa lebih mandiri.
.
.
.
Tidak bisa dipungkiri kalau aku nampak tegang di balik kemudi. Orang yang sangat dipercayai Kak Litha ini menyuruhku untuk langsung mencoba mengemudikan mobil tanpa sedikitpun penjelasan teori. Beruntung, semalam aku menonton chanel Youtube bagaimana cara dan teori juga tutorial mengemudikan mobil. Jadi setidaknya aku punya bayangan tentang pedal rem dan pedal gas serta bagaimana perpindahan gigi dan cara parkirnya.
"Nona sama sekali tidak seperti orang yang baru belajar," celetuk Asisten Yan setelah aku menyelesaikan beberapa putaran.
"Anggap saja aku memiliki persiapan untuk memudahkanmu mengajar. Apa Tuan Asisten tidak ingin berterimakasih padaku?"
Dia tersenyum. Di dalam mobil milik Kakak Ipar ini hanya ada kami berdua dan satu sama lain berjarak sangat dekat, terang saja senyumnya itu mengganggu konsentrasiku.
"Terimakasih Nona," ucapnya tanpa ragu.
"Oh ya, jangan panggil aku Nona, cukup namaku saja. Sebenarnya aku risih dipanggil Nona apalagi Nona Muda Pradipta, hanya karena menghargai Kakak Ipar aku bersedia dipanggil demikian."
__ADS_1
Pria itu menyipit memperhatikanku. Astaga! Ada apa denganku? Apa tadi aku curhat padanya? Senyaman itukah hingga tanpa sadar aku curhat padahal beberapa waktu kami selalu beradu mulut. Lelaki yang usianya terpaut jauh denganku ini laksana dua sisi mata uang. Satu sisi sangat menyebalkan sedangkan sisi lainnya– memberiku kenyamanan.
- Bersambung -