
Tabir misteri kini terkuak tanpa sengaja. Di heningnya malam aku bisa jelas mendengar Bibi Rima berkisah dengan runut. Bak dongeng dari negeri antah berantah yang diluar nalarku tapi tidak bisa juga dinafikan bahwa itulah fakta silsilah keluargaku.
Melihat dan mendengar Bibi terisak sambil menceritakannya mengundang rasa penasaran hingga aku makin menajamkan semaksimal mungkin pendengaranku.
Deg. Deg. Deg.
Airmataku luruh begitu saja. Dimata kami, orangtuaku adalah sepasang sejoli dengan segala keindahannya. Namun nyatanya mereka memiliki sebuah kisah cinta yang penuh pertaruhan dan tidak berakhir bahagia.
Beruntung, isakan tangisku tidak pernah menimbulkan suara sehingga aku dapat leluasa mendengarnya sampai selesai.
.
.
.
Aku duduk termangu di kamar, seperti mimpi rasanya mendapati kenyataan bahwa kehidupan kami sebenarnya terhubung pada lingkup salah satu kerajaan/kesultanan yang masih berdiri di negeri ini meski nama kerajaan yang kudengar barusan tidak se-familiar kerajaan/kesultanan yang ada di daerah asalku.
Tuanku Agung Putri Mahkota Dewi Anjani Dirayya adalah sebenarnya nama dan gelar mendiang ibuku, bukan Asmarini seperti yang tertera di kartu identitasnya. Calon Baginda Ratu dari Kerajaan Sungai Bulan yang diusir dan lari dari perjodohannya demi memilih hidup dengan cinta sejatinya.
"Apakah ini benar? Atau Bibi hanya mengarang cerita untuk mendapat simpati seorang Tuan Muda?"
Bathinku bergejolak penuh dugaan. Aku berusaha mengingat beberapa nama dari cerita Bibi sebagai kunci untuk merangkai potongan puzzle yang bersliweran dalam otakku. Kubuka laptop yang disediakan Kak Litha selama aku disini, kunyalakan dan mulai cari informasi dari mesin pencarian di internet.
Kerajaan Sungai Bulan.
Klik. Muncul beberapa situs terkait dengan kata kunci yang kuketikkan, salah satunya :
Kerajaan Sungai Bulan adalah kerajaan terbesar di pulau EX. Berpusat di Provinsi BX yang melingkupi Provinsi AX dan CX. Kerajaan ini terbentuk dibawah kepemimpinan Raja Pusawarman ke-I sejak memenangkan perang antara beberapa suku-suku besar di sekitar Sungai Bulan, sungai terpanjang di pulau EX dalam perebutan tanah kekuasaan sebelum masa penjajahan kolonial.
Menurut sejarah yang dikutip dari 'Peradaban Sungai Terpanjang di Pulau EX', pemenang perang tersebut adalah Suku Ragnaya, suku tertua yang terkenal dengan kecantikan alami para wanitanya. Suku ini memiliki peran penting dalam terbentuknya sebuah peradaban manusia di pulau EX yang kompleks, dalam artian memiliki kehidupan yang sistematis, baik secara tradisi, budaya, sosial kemasyarakatan, hukum dan sistem pemerintahan.
Dan seterusnya.
Dan seterusnya.
__ADS_1
Kuketik lagi kata kunci dalam browser pencari informasi seperti Suku Ragnaya, Tarian Raghi, Raja Pursawarman ke-14, Gubernur BX Bhrata Dharnika, Putri Mahkota, dan kutukan wanita Suku Ragnaya. Aku terus membuka semua laman yang terkait di mesin pencari. Kucoret-coret kertas di hadapanku, menghubungkan segala benang merah yang saling terkait, memahami sampai membuat teori sendiri.
Tidak terasa jarum jam menunjukkan pukul tiga pagi, hampir menjelang subuh. Kupandangi lekat-lekat kertas berukuran folio yang sudah penuh dengan tulisanku, bagan-bagan yang saling berhubungan membuatku berdecak takjub.
"Shi*t! Semua informasi bisa kudapatkan meski aku yakin semua yang ada di internet hanyalah kulit luarnya saja. Tapi tidak ada satupun yang membahasa Putri Mahkota. Hanya Putra Mahkota, Pangeran Drana, saudara tiri Ibu yang jahat. Apakah mereka sengaja tidak mempublish Ibu sebagai Putri Mahkota dari Permaisuri pertama yang sah? Dan-- kutukan wanita Suku Ragnaya yang disebutkan Bibi tadi juga tidak ada sama sekali," kataku bicara sendiri mengetuk-ngetuk pena dengan mata yang tidak lepas dari layar laptop.
"Harus cari kemana lagi informasi tentang kerajaan itu? Ahh ... lelahnya," keluhku memijat leher belakang, sangat pegal.
Kupejamkan mata, mengakses memori mengenai sebuah tarian yang pernah Ibu ajarkan padaku waktu kecil, tarian itu juga katanya diajarkan pada kedua kakakku. Aku baru tahu ternyata itu Tarian Raghi, salah satu jenis tarian daerah Provinsi BX yang hanya dibawakan saat upacara sakral.
Di situs internet yang kubaca, mengenai salah satu aset budaya bangsa ini menuturkan:
Tarian Raghi adalah tarian yang memiliki simbol identitas garis langsung dari keturunan Raja Kerajaan Sungai Bulan. Konon, tarian ini hanya bisa ditarikan oleh perempuan keturunan raja dan diajarkan dalam lingkup terbatas secara turun-temurun. Namun, di jaman sekarang, tarian ini bisa diajarkan kepada siapa saja tetapi tidak semua dapat menarikannya dengan utuh dan sempurna.
Menurut Penasehat Kerajaan Sungai Bulan yang pernah menjadi nara sumber dari wawancara film dokumenter 'Menggali Kejayaan Kerajaan Asli Negeri Eksotis di Pulau EX', Tarian Raghi diciptakan pada saat Raja Pursawarman ke-I berkuasa. Seluruh gerakannya diciptakan oleh Permaisuri Raja saat itu yang dikenal dengan nama Permaisuri Kinanti. Dalam penciptaan setiap gerakan tarian ini, diiringi dengan beberapa ritual suci dengan tujuan agar Tarian Raghi tertanam di alam bawah sadar perempuan keturunan raja Kerajaan Sungai Bulan yang akan meneruskan calon raja berikutnya.
Maka dari itu, Tarian Raghi ini akan diajarkan pada saat mereka masih kecil atau belum baligh (mendapat menstruasi pertama). Disaat jiwa masih murni tarian ini akan masuk dan menetap dalam relung sanubari paling dalam. Cukup sekali diajarkan, maka akan selamanya tersimpan dalam ingatan. Cara menarikannya cukup dengan memusatkan pikiran dan konsentrasi, lalu menyebut kata Ragnaya dalam hati. Dengan begitu semua gerakan tarian tersebut akan teringat sendiri dan tubuh dapat langsung menari dengan sempurna, meski tanpa latihan sebelumnya.
Aku mematikan laptop, berdiri untuk segera beranjak tidur. Besok adalah hari besar Kak Litha, aku harus istirahat sekarang, paling tidak beberapa jam sebelum ikut menghadiri prosesi wisudanya. Namun, sebelum kurebahkan diri di kasur, aku iseng mencoba untuk menarikan tarian Raghi. Membuktikan kebenaran apa yang dikatakan Bibi Rima dan laman situs tersebut.
Kupejamkan mata dan berdiri di depan cermin meja rias. Berkonsentrasi dan memanggil suku leluhurku, RAGNAYA.
"Hah! Luar Biasa! Ini kejutan paling epik. Tarian ini adalah bukti bagi kami sebagai keturunan raja. Tapi mengapa Ibu mengajarkannya pada kami padahal Ibu sendiri sudah lari dan tidak dianggap di keluarga raja?"
Kemudian kurebahkan badan dan membiarkan mata menatap langit-langit kamar sebelum tidur. Aku tersenyum sendiri dan tanpa sadar bergumam, "Jika Tarian Raghi benar adanya, apa juga kutukan itu nyata? Pria yang mencium wanita Suku Ragnaya akan selalu teringat, dan yang menyetubuhinya akan terikat hatinya sampai mati. Berarti--"
Monologku terjeda, memikirkan sesuatu, "Pantas saja Kakak Ipar tidak bisa lepas dari Kak Litha, hihihi ... Mampuslah kau Kakak Ipar! Hahaha ... Dan-- bisa jadi benar kata Ibu, walaupun pelaku kasus Kak Tisha bebas dari jerat hukum dia tidak sepenuhnya bebas, sampai mati hatinya akan terikat pada Kak Tisha."
Monologku terjeda lagi, mengingat-ngingat apa yang dikatakan Bibi tadi.
Itulah hebatnya kami, perempuan Ragnaya. Konon, kaum perempuan suku kami setelah memenangkan perang besar di masa lalu hingga membentuk Kerajaan Sungai Bulan diberikan kutukan sekaligus anugerah oleh leluhur. Dikatakan kutukan, karena bagi setiap lelaki yang mencium kami akan menjadi candu yang mematikan apalagi kalau sampai menyetubuhi kami, hatinya akan terikat dengan perempuan yang ia setubuhi sampai mati. Celakalah bagi lelaki yang berniat mempermainkan perempuan Ragnaya, karena ia tidak akan pernah bisa memalingkan hatinya untuk perempuan lain meski ia ingin.
Itu cara leluhur kami melindungi anak-anak perempuannya, karena dahulu banyak kaum pendatang di tanah kami yang terpukau dengan kecantikan alami yang kami miliki. Tapi ... kami pun juga menjadi anugerah bagi lelaki yang bisa mengambil hati perempuan Ragnaya. Jika hati kami sudah dimiliki oleh seorang lelaki, kesetiaan kami tidak perlu diragukan. Kemanapun kau pergi dan berapa lama perginya, perempuan Ragnaya tidak peduli, ia akan tetap menunggu lelaki itu. Bahkan dalam keadaan sudah meninggal pun, perempuan Ragnaya tidak akan pernah mencari pengganti.
Kutukan bagi pria namun tameng bagi wanita. Aku justru bertanya-tanya, apa wanita Suku Ragnaya begitu lemah menghadapi laki-laki sampai harus dilindungi oleh leluhur? Atau malah merupakan suatu keuntungan yang bisa dipakai wanita Suku Ragnaya untuk menjerat seorang pria yang disukainya.
__ADS_1
"Haruskah aku mencium laki-laki yang kusukai untuk mendapatkannya kelak? Tapi-- bukankah itu tidak alami?" tanyaku gamang pada langit-langit kamar yang membisu, "Aih-- persetan dengan kutukan dan semacamnya! Aku harus tidur, kalau tidak, bisa bangun kesiangan nanti," selorohku sendiri menarik selimut hingga leher lalu memejamkan mata berupaya terbang ke alam mimpi.
...***...
"NIAAA!!! BANGUUNN!!!"
Lengkingan nyaring Kak Litha menyakiti gendang telingaku, kuintip jam di atas nakas yang menunjukkan jam enam lewat sepuluh.
"Masih bisa tidur sedikit paling tidak lima belas menit," gumamku kembali sambil membetulkan selimut dan meringkukkan kembali badan hingga hanya kepalaku yang terlihat.
"Ini jam berapa Nia? Kau mau ikut tidak? Jangan membuat Kakak terlambat!"
Kak Litha mulai mengomel, khas emak-emak di pagi hari. Ditariknya selimutku dengan kasar, membuka gorden dan jendela untuk membiarkan cahaya matahari pagi masuk ke dalam kamarku.
"Acara itu tidak akan dimulai kalau Kak Litha dan Kakak Ipar belum datang. Tidurku terlalu larut tadi malam, Kak. Santai dikit napa sih!" kataku sembari menutup mata karena silau.
"Apa yang kau lakukan malam-malam kalau tidak tidur, Bocah Nakal? Pak Is, tolong ambilkan hanger!" teriak Kak Litha geram karena aku membantahnya
"Hanger?!? Oh, tidak! Lebih baik aku bangun dan segera mandi," pekikku Vania hati sambil mengintip.
"Hanger? Untuk apa hanger, Nyonya?" Pak Is berlari tergopoh-gopoh membawa beberapa hanger.
"Untuk menggantung lehernya, selalu saja membantah kalau disuruh."
Kak Litha meraih salah satu hanger, ingin mendaratkan ke bokongku tapi dengan gesit aku menghindar dan segera bangun dari tidurku. Tidak menunggu lama aku langsunh berdiri dan berlari menuju kamar mandi. Aku tidak mau berurusan dengan hanger yang perih jika mendarat ke bokongku.
"Aku mandi Kak!" sahutku sambil berlari.
Gubrak.
"Aduh," rintihku sakit mengusap kening lantaran menabrak tembok kamar mandi karena terlalu terburu-buru masuk kamar mandi tanpa melihat.
"Makanya kalau dikasih tahu itu nurut. Kualat kan! Hahahaha ...."
Tawa puas kakakku bergema dalam kamarku dan mungkin juga keluar dari kamar. Di kamar mandi aku meringis dan tertawa miris mengingat apa yang kutemui semalam, yakni lembar sejarah asal-usul kami bertiga yang tertutup rapat, kini terkuak.
__ADS_1
- Bersambung -
Note : Untuk lebih jelas apa yang diceritakan Bibi Rima pada Kakak Ipar Vania, bisa dibaca di Novel Istri Wasiat Tuan Muda pada Bab 137 dan Bab 138. Buat Readers setia yang sudah ngikutin dari Novel tersebut boleh banget dibaca ulang biar ingat lagi 😁😁