
"Aku menyukaimu, Asisten Yan."
Matanya terbelalak, tubuhnya kaku dan mulutnya setengah terbuka tanda dia mendapat serangan kejut luar biasa.
"Ka– kau?"
"Kaget ya, hahaha ... Aku juga sama kaget sepertimu karena baru menyadarinya. Aku tidak mengenal sikap bodohku selama ini. Maafkan aku, Asisten Yan," ujarku tersenyum tetap berusaha setenang mungkin meski tidak bisa dipungkiri gemuruh hatiku bagai badai di tengah samudera.
"..."
"Tetapi–" lanjutku menarik nafas memalingkan wajah dari pandangannya, menatap lurus ke depan, "Aku sudah memutuskan kalau rasa sukaku cukup sampai disini saja. Aku akan berhenti bersikap bodoh dan menjaga jarak se-natural mungkin denganmu. Kau juga tidak perlu merasa canggung karena aku kekanak-kanakan mengungkapkan perasaan padamu ... Inilah cara agar aku bisa melepaskannya."
"..."
Kunyalakan mesin mobil dan mengatur persneling, "Kau juga tidak perlu merasa bersalah menciumku kemarin. Aku yang salah karena sudah membuatmu kesal."
"Kesal?" tanyanya heran.
"Ya, aku terlalu dalam mencampuri kehidupan pribadimu," jawabku dengan membelokkan kemudi ke kiri perlahan, "Maafkan aku Asisten Yan, kedepan aku akan lebih menjaga sikap dan jarak."
"..."
"Kenapa sekarang dia lebih banyak diam? Parah ni laki! Kenapa aku yang terus-terusan meminta maaf padahal aku korban disini," gerutuku dalam hati.
"Kita lupakan semua. Kuharap kau tidak memberitahu siapapun mengenai apa yang sebenarnya terjadi karena aku pun juga begitu. Kita anggap tidak terjadi apa-apa."
"Maksudmu?"
"Ya, kita rahasiakan ciuman kemarin dari siapapun terutama pada kakakku, Kakak Ipar dan Bibi Lidya."
Aku bisa merasakan dia memandangku dengan lekat meski tanpa melihatnya, "Kau keberatan?" tanyaku.
"Setengah mati aku berpikir kalau kejadian kemarin begitu melukaimu, ternyata kau bisa mudah melupakannya," ujarnya yang membuatku sedikit terpancing emosi.
"Kau tidak perlu melakukannya untukku. Aku bisa menghadapi mereka, kalaupun ada sesuatu yang harus kutanggung akan kulakukan sebagai bentuk tanggung jawab," sambungnya lagi yang semakin menambah kekesalanku.
Citt.
Kuinjak rem seketika, rasanya darahku mendidih mendengar ucapannya. Mudah melupakannya? Hei! Asal dia tahu, sampai kapanpun dirinya akan terus kuingat karena dialah pemilik ciuman pertamaku.
"Asisten Yan," panggilku menghela nafas panjang, "Jangan Ge-eR. Aku sama sekali tidak peduli padamu dan apa isi kepalamu tentangku. Aku hanya peduli pada kakakku, Kakak Ipar dan ibumu. Apa kau ingin aku memberi tahu mereka? Supaya apa? Itu hanya akan menyakiti mereka dan membuat mereka berada dalam pilihan sulit."
Amarah di hatiku mereda, aku berhasil menguasai diri. Aku kembali menoleh padanya, memberanikan menatap lagi manik tanpa memperlihatkan luka di mata. Aku memang tidak se-menawan wanita pujaannya tetapi aku masih punya harga diri. Dia pikir aku apa dengan mudah melupakan semua yang terjadi kemarin. Apa dia mengira aku terbiasa dicium laki-laki? Dan lagi kenapa dia bisa begitu percaya diri aku akan melakukan demi dirinya? Ashole!
"Coba kau pikirkan jika mereka bertiga tahu kau menciumku. Bagaimana perasaan Kakak Ipar yang sudah menganggapmu saudaranya sendiri dan kakakku yang juga telah menganggapmu kakak lelakinya, lalu bagaimana perasaan ibumu? Seberapa besar kecewanya mereka terhadapmu? Bagaimana canggungnya mereka saat menghadapi kita? Satu yang pasti, kehangatan di rumah ini akan hilang," cecarku.
"Aku akan menanggungnya."
"Sependek itukah kau berpikir? Apa semua selesai saat kau berkata di depan mereka akan bertanggungjawab? Dalam bentuk apa? Menikahiku? Memacariku? Atau memberiku kompensasi?" sengitku.
Dia diam sesaat, tidak bisa memberi jawaban.
"Lantas kenapa menyukaiku?" tanyanya kemudian.
"Aku pun juga tidak ingin memilih untuk menyukaimu, tapi aku bisa apa?"
Aku bisa mendengar ada kepasrahan pada suara sendiri. Namun, disitu juga terselip ada kelegaan luar biasa. Mengakui perasaan langsung pada orangnya tentu bukan perkara mudah dan aku melakukannya demi kebebasan hati meski harus dilalui dengan kesakitan karena bertepuk sebelah tangan.
"Tapi kau cukup berani mengungkapkan perasaanmu."
"Karena aku bukan pecundang. Aku dengan gagah berani pergi mengakuinya walaupun aku tahu akan pulang dengan bendera putih ... Setidaknya aku tidak kalah sebelum berperang. Aku bukan orang yang bersembunyi dalam diam jika menyukai seseorang."
Jawabanku kali ini bisa dipastikan mencekik harga dirinya dan– aku sangat puas.
"Kau menyindirku, Tawon Kecil?"
Apa ini! Caranya bertanya sangat mendominasi. Tangannya mencengkram daguku dengan tatapan yang menusuk. Aku tidak boleh gentar!
"Kenapa? Apa Tuan Asisten merasa tersindir?" ketusku menepis tangannya, "Aku hanya membicarakan diriku sendiri, jika kontradiktif denganmu bukan berarti aku menyindir."
"Kau sangat cerewet!"
Aku tergelak nyaring mendengarnya mengataiku cerewet, "Melebihi Bibi Lidya?"
Tak kusangka dia meraih daguku lagi dan mencondongkan wajahnya hingga hidung kami nyaris bersentuhan. Ya Tuhan, aku seperti mengalami dejavu.
PLAK.
Kutampar keras wajahnya, "Kuperingatkan Tuan Asisten? Jangan coba-coba untuk menyentuhku lagi! Aku sudah cukup berbaik hati memaafkanmu untuk pertama kali tapi tidak untuk seterusnya."
__ADS_1
"Ma– maaf. A– aku kehilangan kendali," katanya tergagap.
"Aku menyukaimu bukan berarti aku terima diperlakukan apa saja olehmu. Lagipula sudah ku katakan kalau aku berhenti menyukaimu mulai sekarang. Aku menghormatimu sebagai orang penting dalam kehidupan Kak Litha dan Kakak Ipar, hanya itu. INGAT! HANYA ITU– TIDAK LEBIH!" tukasku tajam dengan suara ditekan dan menusuk balik tatapannya.
Aku marah! Ya, aku benar-benar marah. Jika kemarin aku masih bisa memaklumi perbuatannya sebagai reaksi atas provokasiku tapi hari ini, jelas aku menjaga semua perkataanku. Kenapa dia masih terus menyosor bibirku? Apa Bulan Kesiangan ini sudah menarik perhatiannya? Oh, No ... You're late, Dude!
"Belajar hari ini selesai. Akan dilanjutkan jika aku perlukan. Tenang saja, reputasimu di mata kedua kakakku tetap sempurna sebagai orang tanpa cela."
"Kau memerintahku?" pekiknya tidak terima.
"Ya," jawabku membuka pintu mobil, melangkahkan kaki keluar.
"SI*AL! Bisa-bisanya aku diperintah anak kecil!" sungutnya kesal ikut membuka pintu mobil dan keluar berdiri di depan pintu yang terbuka.
"Heh. Anak kecil lebih baik daripada seorang pecundang," sahutku dan berbalik meninggalkannya.
"VANIA, BERHENTI!"
Teriakannya bagai angin lalu di telingaku.
BRAK.
Suara pintu mobil ditutup keras oleh seseorang kemudian disusul derap langkah cepat di belakangku.
"Vania, Dengarkan aku! Aku akan buktikan kalau aku bukan pecundang!"
Heh, apa peduliku! Kau pecundang atau bukan. Mau membuktikan apa tidak, sama sekali bukan urusanku.
Aku tetap berjalan membelakanginya tanpa mengurangi atau menambah laju langkah kaki.
"Vania! Apa kau dengar? Apa kau tu–"
Suaranya tiba-tiba terhenti, begitu juga langkah cepatnya ikut berhenti saat jari tengah kuangkat sambil tetap berjalan tanpa sedikitpun menoleh ke belakang.
...***...
Hari-hari berlalu seperti biasa, hanya sedikit kecanggungan antara aku dan Asisten Yan. Diam-diam aku belajar mengemudi sendiri. Beruntung ada chanel belajar menyetir secara mandiri di Youtube, sehingga bisa kumanfaatkan dengan sebaik mungkin.
Satu minggu sebelum pekan depan sebelum menunjukkan bahwa aku tidak perlu lagi mentor dalam mengemudi. Pada akhirnya aku bisa mahir mengemudi dan berani menjajal keberanian turun ke jalan raya.
Entah kenapa aku masih sakit hati dikatakan Bulan Kesiangan. Sebab itu, aku juga mulai rajin menonton tutorial make-up dan mulai merias wajah sendiri agar tidak terlihat pucat.
Kakak Ipar sangat baik, dia memperbolehkan aku memakai mobil manapun di garasi untuk sekedar memperlancar berkendara, termasuk pagi ini setelah Kakak Ipar berangkat ke kantor bersama asistennya. Ah, kenapa juga aku mengingatnya? Ternyata untuk menghapus rasa suka itu tidak bisa seperti sulap bahkan terkadang aku masih mengutukinya karena bodohnya mencintai calon istri orang.
"Hmm ... tapi bagaimanapun juga, aku harus berterima kasih padanya karena berkat dia aku bisa menyetir sekarang," kataku sendiri berdiri memutar tubuh ke kanan dan ke kiri melihat penampilanku yang sudah siap, tiba-tiba ...
Tok. Tok.
"Ya, masuk," sahutku.
Pintu dibuka, muncul Bibi Lidya dengan wajah panik, "Nona, jangan pergi dulu. Nyonya–"
Nafas Bibi Lidya tersengal seakan oksigen yang dia hirup habis hingga tidak bisa melanjutkan kalimatnya saking paniknya. Mendengar kata 'Nyonya', aku tahu maksudnya, tidak perlu menunggu aku segera berlari menuju kamar utama.
"KAKAAK! ...." teriakku menghampirinya yang memegangi perut dan pinggangnya.
"Duh– Nia, perut– Kakak sakit sekali."
Kak Litha memegangi perutnya, wajahnya meringis seperti menahan sakit yang hebat ditambah keringat di pelipisnya sebesar biji jagung dan ada cairan bening mengalir melewati pahanya hingga ke betis.
Aku terkesiap, bingung untuk sesaat. Aku yakin ini waktunya kakakku akan melahirkan, tapi apa yang harus kuperbuat? Aku langsung mengeluarkan ponsel dari dalam tas selempang.
Hubungi ... hubungi Kakak Ipar!
Tanpa sadar jariku menekan nomor telepon Abyan saat mencari kontak Kakak Ipar di Buku Telepon ponsel.
"Duh, kenapa dia yang aku telepon," gumamku ketika ingin mematikan sambungan telepon namun suara di seberang sana sudah terdengar.
"Ya, halo."
"Engg ... Maaf meneleponmu, Asisten Yan. Aku akan mengantar Kak Litha ke rumah sakit sekarang. Katakan pada Kakak agar segera menyusul secepatnya ke sana," ujarku cepat tanpa berpikir panjang.
"APA! Jangan katakan kau yang akan membawa Nyonya ke rumah sakit," pekiknya di telepon.
"Sudahlah. Aku bisa mengurus kakakku."
Tit.
Aku menutup sambungan telepon, tidak ada waktu berdebat dengannya. Aku harus memikirkan kakakku sekarang. Dengan cepat aku dan Bibi Lidya membopong Kak Litha menuju mobil yang sudah kusiapkan untuk jalan-jalan tadi. Kami akan segera menuju rumah sakit namun seluruh tubuhku lemas tak bertenaga melihat Kak Litha yang kesakitan melalui kaca spion depan. Aku menjadi sangat gugup sampai tangan dan kakiku dingin memikirkan bagaimana membawa seorang ibu yang akan melahirkan, apalagi ini kakak tersayangku. Andai saja ada pintu ajaib Doraemon ....
__ADS_1
Tangan dan kakiku yang dingin sekarang gemetaran tiada henti, belum lagi gigiku yang saling beradu seperti menggigil kedinginan. Kalau begini bagaimana caraku mengemudi?
"Nona, lekaslah ... Nyonya tidak bisa menunggu lama karena ketubannya sudah pecah," ujar Bibi Lidya tergesa dengan mengelus perut Kak Litha.
Tentu saja aku semakin panik, seketika pikiranku nge-blank dan badanku dalam mode pause.
"NONA! NONA! BERHENTI!" teriak Pak Is menggedor-gedor jendela mobil dengan sangat keras.
"Ada apa Pak Is? Jangan membuat kami makin panik," sahut Bibi Lidya seraya menurunkan kaca mobil, "Pak, panggilkan sopir lain segera! Nona gugup, Nona tidak bisa menyetir dalam keadaan seperti ini," lanjutnya.
"Nia ..." lirih Kak Litha.
Diantara rasa sakit yang mendera dia mengulurkan tangan kanannya padaku yang duduk di belakang kemudi. Kusambut dan menggenggam erat tangannya dengan tanganku yang basah karena gugup dan keringat. Disaat kesakitan menderanya dia masih bisa menenangkanku.
"Tuan tadi menelepon, dr. Lena dan bidan juga beberapa perawat sedang dalam perjalanan kesini dengan ambulance. Nyonya tidak perlu ke rumah sakit, Nyonya akan melahirkan di rumah. Tuan juga sedang dalam perjalanan kesini," ujar Pak Is melihat kami berpegangan tangan.
"Begitu? Baik akan aku siapkan semuanya. Pak Is bantu Nyonya kembali ke dalam kamar," sahut Bibi Lidya berbalik mengikuti pandangan Pak Is.
"Nona, tolong bantu Pak Is membawa Nyonya kembali ke dalam kamar. Dokter sedang menuju kesini. Bibi akan segera menyiapkan keperluan Nyonya melahirkan."
"I– iya, Bi."
Aku langsung melepas sabuk pengaman dan membantu kakakku keluar dari mobil dan berjalan kembali ke kamar dengan menahan perutnya yang pasti semakin terasa sakit.
"Nyonya, bertahanlah ... Sebentar lagi tim dokter akan datang, Tuan Muda juga sedang dalam perjalanan pulang," ujar Bibi Lidya sembari membaringkan Litha ke pembaringan.
Kak Litha mengangguk dengan wajah yang memucat. Sangat tergambar bagaimana dia menahan sakitnya kontraksi, sangat sakit sampai dia meneteskan airmata. Mulutnya sibuk mengatur nafas dengan sesekali memanggil nama Kakak Ipar.
"Kak Litha ...."
Aku juga ikut menangis. Selama aku hidup bersamanya, ini lah aku melihatnya begitu kesakitan. Kakiku kembali lemas, tapi aku harus kuat di sampingnya sebelum Kakak Ipar datang.
Untunglah rombongan dokter dari rumah sakit akhirnya datang dengan berbagai peralatan medis untuk berjaga-jaga dan mereka langsung mengambil tindakan. Selang beberapa menit kemudian muncul Kakak Ipar yang seperti baru saja mengikuti lomba lari dengan nafas yang tersisa satu-satu.
"M– mas ...."
"Sayang ...."
Kakak Ipar menghampiri istrinya dan mengusap airmata yang mengalir, "Aku datang, Sayang ... Tidak perlu takut. Ada aku– berjuanglah, fokus pada anak kita, ya. Aku mencintaimu," ucapnya menenangkan dengan mengecup kening istrinya yang berpeluh.
Bukannya tenang, tangis Kak Litha malah makin keras, entah kenapa ... meraung antara kesakitan dan dorongan kontraksi yang datang, tangannya bertaut erat dengan tangan suaminya.
"Tarik nafas," dr. Lena memberi instruksi, "Sekarang dorong, Nyonya!" serunya lebih keras.
Kak Litha menarik nafas dan mengejan sekuat tenaga. Kakak Ipar menempelkan keningnya pada genggaman mereka yang bertaut. Airmata lelaki tampan itu turun membasahi pelupuk matanya demi perjuangan istri tercinta melahirkan buah hati mereka ke dunia.
Nafasku tercekat melihat langsung perjuangan hidup dan mati seorang ibu. Kakiku terasa makin lemah tak kuat menopang tubuhku, pandanganku menjadi gelap dan badanku terasa sedikit dingin. Setelah itu aku tidak tahu lagi.
.
.
.
"Sudah sadar?"
Suara bariton yang kukenal memenuhi gendang telingaku. Meski terasa sedikit pusing aku langsung mendudukkan diri, "Kak Litha?"
"Masih di dalam, berjuang melahirkan penerus Pradipta," jawabnya
"Tapi kok tidak ada suara–"
"Kamar tidur utama, kamar tidur Tuan Muda Rayyendra dan Tuan Muda Firza juga ruang kerja dilengkapi dengan pengedap suara. Meski kau berteriak keras di dalam, yang diluar tidak akan dengar."
"Oh ... Pantasan saja–"
"Pikiranmu jangan kemana-mana, masih Bocah pikirannya mesum."
Tunggu! Siapa yang dia kira berpikiran mesum? Aku? Tidak salah? Dia yang menciumku dan ingin mencobanya sekali lagi, lalu dia mengatakan aku berpikiran mesum? Keterlaluan!
"Eh, siapa yang mesum! Aku mau bilang pantasan saja suara erangan Kak Litha bersalin tidak terdengar. Kau yang mesum, makanya jangan kelamaan sendiri, di makan usia jadi pikirannya traveling entah kemana," ujarku sinis sembari merapikan rambut yang tergerai berantakan.
Tidak ada suara balasan, kulirik sekilas yang nampak hanya ujung telinganya yang kemerahan. Tidak peduli dengannya, di otakku hanya terlintas sosok Kak Litha, ingatanku kembali sesaat sebelum aku tidak sadarkan diri, "Duh! Masih berapa lama ya? Aku ingin melihat Kak Litha," keluhku pelan mulai menggigiti kuku ibu jari.
"Apa Kak Litha selamat? Apa bayinya selamat dan sehat? Mengerikan sekali melihat Kak Litha melahirkan bahkan Kak Litha yang pandai menahan sakit saja sampai menjerit dan menangis. Duh! Kalau begini kelak aku tidak mau melahirkan,"
Pipiku terasa hangat, ada air mengalir dari mataku karena begitu banyak bayangan buruk tentang Kak Litha berseliweran. Aku sangat takut sampai-sampai dadaku naik turun. Aku juga merasakan sesak hingga harus sedikit memukul-mukul dada. Pokoknya kalau akhirnya kakakku meninggalkan aku seperti Ayah, Ibu, Paman dan Bibi maka aku akan memaksa ikut dengan mereka meski berpindah alam. Mau diharap siapa lagi yang bisa menjadi sandaranku jika Kak Litha juga pergi?
- Bersambung -
__ADS_1