
PoV Vania (Tokoh Utama)
Kak Litha merenggut kesal sebab tidak diizinkan untuk ikut ke mall bersamaku dan Bibi Lidya di hari minggu.
"Kalau begitu Mas juga ikut kalau aku hanya boleh keluar rumah sama Mas!" sungutnya.
"Tidak bisa. Baru saja minggu kemarin kamu dibuntuti sampai Vania terluka. Aku tidak mau ambil resiko, Lith," ujar Kakak Ipar tetap keukeh dengan keputusannya, "Kalau kau mau barang apa pesan saja ke manajer mall, nanti–"
"Tidak usah!"
"Lith, jangan marah begitu. Ini–"
"Iya, aku tahu– ini demi kebaikanku. Tidak usah Mas ulang-ulang!"
Kak Litha sewot, dia begitu sensitif akhir-akhir ini. Kasihan Kakak Ipar jadi pelampiasan kekesalan kakak perempuanku, "Kakak mau makan apa? Nanti aku belikan," bujukku.
"Kau juga sama, Nia. Sejak semua kebutuhanmu dipenuhi kakak iparmu, kau melupakan kakak kandungmu. Hish! Pergi sana! Jangan mencoba membujukku dengan makanan."
Ya Tuhan, aku kena marah. Ketika aku memberi isyarat mata 'Bagaimana ini?' pada Kakak Ipar, dia hanya mengedikkan bahunya pasrah.
"Hanya Zean yang mengerti. Kalian semua sudah tidak peduli lagi padaku, hikss ..."
Baby Zean yang tadinya asyik bermain di lantai langsung digendongnya dan dibawa masuk ke dalam kamar dengan menangis.
"Kak?" Aku memanggil Kakak Ipar .
"Aku pusing, Nia. Tadi malam saja sewaktu aku membangunkannya untuk memberi nasi kucing pesanannya, dia juga menangis. Katanya aku sengaja membuatnya menunggu lama sampai dia ketiduran, untung ada Zean yang menemani katanya. Hufftt ..."
Aku hanya bisa melongo, ikutan bingung.
"Auk ah gelap! Kakak urus saja Kak Litha. Aku mau bersenang-senang sama Bibi Lidya. Dadaaahh ..."
Aku segera menghindar, cepat bersiap-siap pergi sebelum Kakak Ipar melarang imbas dari istrinya yang marah-marah tidak jelas.
.
.
.
"BU!"
Aku dan Bibi Lidya berbalik, nampak Asisten Yan berlari menghampiri kami.
"Mau kemana?"
"Mau jalan-jalan ke mall sama Nona. Selama Ibu di Ibukota sampai sekarang, anak sendiri tidak pernah mengajak ke mall," jawab Bibi Lidya dengan menyindir.
Aku menahan senyumku melihatnya kikuk disindir ibunya. Eh, tapi kenapa dia menatapku seperti aku ini daging panggang yang siap disantapnya.
"Aku ikut!" serunya kemudian.
Hening.
"Tidak bisa! Ini women time kami. Laki-laki tidak diperbolehkan mengikutinya," sanggahku keberatan.
"Aku ikut sebagai pengawal kalian."
"Tidak bisa!"
"Kenapa?"
"Ya karena tidak perlu."
"Oke, kalau begitu aku akan masuk dan kuberitahu Ray kalau kau menolak dikawal. Mengingat kejadian beberapa waktu lalu dia pasti akan mendengarkan aku."
"Ck." Aku berdecak kesal.
"Dasar kompor!" umpat Bibi Lidya.
"Ibu! Kenapa membelanya terus? Aku anak Ibu."
"Sudahlah, Bi. Biarkan saja dia jadi kompor, mau kompor minyak kek, gas kek atau listrik juga terserah. Urusan Kakak Ipar belakangan saja, yang penting kita pergi saja dulu," sahutku cuek sama sekali tidak mempedulikan, "Bibi mau beli apa? Atau kita makan aja dulu Bi."
Tit.
Kutekan remot mobil untuk membuka pintunya, tapi dengan gerakan secepat kilat, tubuh jangkung tunanganku sudah melipir masuk di belakang kemudi.
"Asisten Yaaann!" teriakku jengkel.
"Tenang, Nona. Kita biarkan dia mengikuti kita tapi kita juga akan membuatnya menyesali keinginannya," kata Bibi Lidya setengah berbisik dengan senyum yang menyeringai.
Jadilah kami pergi bertiga. Kami duduk di deretan kedua dan memperlakukan Asisten Yan seperti sopir.
"Perempatan depan belok ke kanan setelah itu sekitar 500 meter ke kanan lagi," sahut Bibi Lidya.
"Bu, Ibu ini sebenarnya mau kemana? Sebut saja nama mall-nya tidak usah ke kanan, ke kiri. Tahu tidak, kita dari tadi hanya muter-muter di blok ini," sungut Asisten Yan kesal.
"Sekarang kau berani berkata seperti itu ya pada Ibu."
"Kau senang aku dikerjai ibuku sendiri ya?" ucapnya setelah melihatku terkekeh sambil memandang jalanan dari kaca mobil.
"Ih, apaan sih! Aku lihat awan itu, bentuknya lucu seperti rambut Nezar yang kriwil."
Ciittt.
Dia mendadak menginjak rem, hampir membuatku dan ibunya sendiri terdorong ke depan.
"Abyan! Kau sendiri yang mau ikut, kenapa kau kesal?" omel ibunya memukul pundak Asisten Yan dengan keras.
"Aku tidak kesal mengikuti kalian, tapi aku sangat tidak suka mendengar namanya disebut dari mulut tunanganku."
Hah.
"Siapa? Siapa yang kau maksud? Siapa dia?" tanya Bibi Lidya.
"Ibu tanya saja sendiri sama calon menantu kesayangan Ibu itu– dan nasehati dia agar menjauh dari anak itu, kalau tidak Ibu akan kehilangan calon menantu."
"A– apa? Nona, benar yang Abyan bilang?"
Duh, sialan! Dia berhasil memprovokasi Bibi Lidya.
"Nezar itu teman sekampusku, Bi. Kami sudah dekat sebelum aku dan anak Bibi tunangan. Apa tidak lucu kalau aku tiba-tiba menjauhinya dengan alasan tunanganku cemburu padanya? Coba Bibi lihat! Masa putra Bibi yang tampan itu cemburu sama modelan begini," kataku menyodorkan foto Nezar pada Bibi.
Huh! Kau kira aku akan kalah dengan strategimu? Bukan berarti kau anak kandungnya bakal begitu saja dibela.
"Hahahaha ...."
Tawa wanita paruh baya memenuhi ruangan dalam mobilku yang hanya berkapasitas lima penumpang.
"Bodoh!" Bibi Lidya memukul bahu putranya lagi dengan keras, "Apa yang membuatmu mengkhawatirkan– siapa tadi Nona namanya?"
"Nezar."
"Iya, Nezar ... Bukan Bibi merendahkan, tetapi melihat dari sudut pandang wanita pada umumnya pasti akan lebih condong memilihmu, Abyan. Tidak munafik kalau manusia melihat fisik dari pandangan pertama. Kau dan Tuan Muda adalah pria favorit yang diinginkan banyak wanita di negeri ini dan sekarang Tuan Muda sudah berkeluarga. Nak– kau tampan, mapan dan berperilaku baik, tidak fair kau membandingkan apalagi cemburu dengan pria yang masih berproses untuk menjadi dirimu seperti sekarang kecuali–"
Kalimat Bibi Lidya menggantung, dengan senyumnya dia mengusap lembut bahu Asisten Yan yang dua kali dipukulnya, "Kecuali kau tidak bisa menjaga hati wanitamu dengan baik, melukainya terus menerus dan selalu mengharapkan dia memberi maaf. Seorang wanita pasti akan memilih pria yang menjadikannya ratu dalam hati pria tersebut meski dari segi pandangan pertama dia kalah jauh. Hal inilah yang membuat Ibu memilih Bapakmu yang hanya buruh proyek, padahal Nyonya Besar sudah menjodohkan Ibu dengan salah satu teman sekolah Tuan Edwin yang tampan dan berpangkat di kepolisian."
Aku tertegun mendengarnya, lebih-lebih Asisten Yan. Tetapi aku membenarkan apa yang dikatakan Bibi Lidya. Sebenarnya dia tidak perlu khawatir akan Nezar apalagi dia tahu aku yang menyukai dirinya terlebih dulu, hanya saja– tidak tahu apakah rasa suka itu akan terus ada kalau sikapnya sering membuatku kecewa. Bukan tidak mungkin perasaanku bisa teralihkan sama pria yang membuatku nyaman, dipedulikan dan menjadikan aku ratu baginya, kan?
"Aku tidak pernah tahu Ibu dijodohkan sama teman mendiang ayahnya Ray?"
"Bodoh!" Bibi Lidya memukul lagi bahu yang baru saja diusapnya, kali ini paling keras hingga putranya mengaduh kesakitan.
"Bukan itu poin pentingnya! Kau tidak boleh kalah dalam memperhatikan Nona Vania. Bisa saja kau yang kehilangan tunanganmu sendiri karena lebih peduli dengan diri sendiri atau orang lain. Apa kau tidak merasa harga dirimu jatuh, kalau tunanganmu menerima perhatian pria lain?" tukas Bibi Lidya gemas, "Sudah jalan. Mall mana saja yang penting bukan mall milik Tuan Muda. Ibu mau melihat mall lainnya," sambungnya.
"Kok Ibu yang menentukan?"
"Oh iya ya ... Kan, Nona yang mengajak Ibu ke mall." Bibi Lidya baru sadar kalau ada aku di sampingnya, "Maaf, Nona. Bibi lupa kalau sedang pergi bersama Nona."
__ADS_1
"Terserah Bibi-lah mau kemana, aku ikut saja. Tapi–" Kugantungkan kalimatku agak lama.
"Tapi apa?" tanya Bibi Lidya cemas.
"Jangan panggil aku Nona ya, Bi. Nia– Nia-ku," kataku gelendotan di lengannya dengan manja.
Asisten Yan melihatku dengan aneh, tapi dia tidak berani berkomentar setelah aku menjulurkan lidahku meledeknya. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepala dan meneruskan pekerjaannya sebagai sopir saat ini.
"Bibi tahu? Aku punya panggilan kesayangan buat putra Bibi, Tuan Asisten-ku. Sayangnya, dia tidak memilikinya buatku."
"Apa! Dia jahat sekali!"
"Ibu, sakit! Aku lagi menyetir! Jangan jambak rambutku!"
Hahahaha ... Aku senang melihatnya, mengadu pada calon ibu mertuaku adalah cara paling ampuh dan cepat untuk memberi tunanganku hukuman. Tapi aku belum puas sekarang, apalagi melihatnya melotot ke arahku melalui kaca spion depan.
"Bi, mulai sekarang aku panggil Bibi, Ibu ya?" pintaku manja.
Mata ibu anak sama-sama terbelalak. Kuteruskan saja kata-kataku, "Bu, misalkan nanti aku tidak berjodoh dengan putra Ibu satu-satunya yang tampan itu, aku ingin jadi putri Ibu saja– jadi anak bungsu," pintaku lagu dengan memeluk pinggang Bibi Lidya yang meng-kaku.
"Jika tidak berjodoh, kita lihat apa dia lebih baik darimu, kalau tidak jangan harap restu dari Ibu," ujar wanita yang kusapa Ibu itu, kini dia lebih luwes dengan mencubit pucuk hidungku sembari tersenyum.
"Jangan begitu, nanti aku yang dimusuhi anak Bibi. Lihat saja sekarang, dari tadi dia terus melotot padaku."
Mata Bibi Lidya menyorot tajam ke arah si pengemudi, dia mengancam, "Akan kucongkel keluar bola matamu kalau kau masih membuat Nia-ku takut!"
Ahahahayy ...!
Aku punya Bibi di pihakku, besok-besok lawanmu semakin berat kalau kau macam-macam, Asisten Yan. Selain itu aku sangat bahagia bisa merengek memanggil sebutan Ibu, ini bisa sedikit mengobati rasa rindu pada ibuku.
.
.
.
Aku belanja banyak sekali, mulai dari pakaian, topi, tas, sepatu sampai berbagai aksesoris seperti kacamata, jam tangan sampai perhiasan. Aku pun meminta Bibi membeli apapun yang dia inginkan, tidak kalah kalapnya dia mengambil banyak barang.
"Tumben Bibi belanja sebanyak ini?" tanyaku heran.
"Biar saja, buat apa kita membawa orang itu kalau tidak dimanfaatkan," kata Bibi melirik tunanganku yang tidak berdaya ketika kartu debitnya dipinjam untuk membayar semua barang-barang yang kami beli.
Aku terbahak-bahak, "Bibi! Eh, Ibu! Aku senang sekali melihat muka kesalnya. Hahaha ... Pasti dalam hatinya ada seribu umpatan yang dia berikan untukku, hahaha ...."
"Hahaha ... Biar saja, semakin dia mengumpat semakin kita kuras juga rekeningnya." Bibi Lidya ikut tergelak keras.
"Hahaha ... Sudah begitu dia yang membawa semua barang belanjaan kita, Bu. Kasihan sekali dia, hahaha ...."
Aku tertawa lepas, wajahnya yang merajuk sangatlah menggemaskan. Rasanya ingin kucubit pipinya lalu mengelusnya.
"Nia-ku senang, kan? Semoga ini lebih menghiburmu ketimbang Ibu memukul anak itu untukmu."
Aku langsung diam, tidak menyangka semua yang dilakukan Bibi Lidya dari tadi membuat anaknya kesal hanya untuk menghiburku.
"Nia-ku jauh lebih cantik kalau tersenyum apalagi tertawa dengan catatan senyum dan tawa bahagia yang tulus ya, bukan pura-pura."
"Ibu ...."
Aku langsung memeluknya erat, tidak peduli banyak mata memperhatikan termasuk anak kandungnya.
"Bu, aku lapar," bisikku.
"Mau makan apa?"
Pertanyaan dan caranya bertanya mirip ibuku. Kulepas pelukanku dan tersenyum padanya, "Sushi."
"Bagus," kata Bibi Lidya sambil menyeringai licik dan melirik Asisten Yan yang kerepotan dengan membawa semua barang belanjaan kami.
Apalagi rencana Bibi? Astaga ... senang sekali dia menggoda anaknya.
PoV Abyan Pratama
Tidak murah membuat Vania dan Ibu tergelak bebas tanpa beban. Kartu debitku dikuasai mereka dan seperti tanpa batas menggunakannya untuk belanja. Mereka benar-benar bersenang-senang hari ini. Tidak mengapa tabunganku terkikis, aku rasa cukup setimpal dengan melihat tawa mereka.
Hanya saja– aku sangat kesal dengan membawa semua kantong belanja yang sangat banyak dan merepotkan lalu kesana-kemari mengikuti langkah sesuka hati mereka. Aku tidak diijinkan menaruhnya di mobil terlebih dahulu. Ya Tuhan, mereka sukses mengerjaiku.
Belum selesai, mereka memilih menu makan siang di restoran jepang. Aku sama sekali tidak diperbolehkan memilih menu dengan berbagai alasan. Ibu tahu aku tidak menyukai Sashimi tapi dia diam saja saat Vania memesankannya untukku.
"Bu, aku tidak suka–"
"Apa pernah Ibu mengajarkan untuk menolak makanan yang sudah diberikan pada kita? Jangan menolak rejeki."
Huftt ... Aku menghela nafas pasrah, terserahlah. Aku tidak bisa protes karena menyadari aku sendiri yang bersikeras ikut. Mereka sangat kompak bahkan bisa kubilang satu hobi -hobi menyindir orang-. Tidak bisa kubayangkan bagaimana mereka menyiksaku kalau Vania sudah resmi menjadi istriku. Baru tunangan saja, dia sudah mengambil tempatku di hati Ibu.
"Yan, bekerjalah dengan keras. Ibu dan istrimu ini suka belanja," sahut Ibu.
"Istri?"
"Anggap saja begitu, Ibu sudah menganggap Nia-ku ini istrimu."
Chuaakkkss! Ibu memanggil Vania, Nia-ku? Sudah dianggap sebagai istriku? Wah, hebat sekali dia mengambil hati Ibu. Mana senyumnya padaku sebenarnya adalah sebuah ejekan. Awas kau! Aku akan membalasmu!
"Kalau sudah dianggap istri, Aku dan dia boleh melakukan hal-hal layaknya suami istri pada umumnya dong, Bu?"
"Maksudnya?" sambar Vania.
"Aku ingin menciummu, lebih dari itu juga tidak masalah, kan?," jawabku menyeringai.
"Sembarangan! Jangan macam-macam!" kata Ibu memperingatiku.
"Oh, ternyata kau masih terbayang-bayang saat mencuri ciuman pertamaku," katanya pongah.
"Bagaimana tidak terbayang-bayang karena ciuman itu juga ciuman pertamanya," timpal Ibu santai.
"Ibu!" desisku.
Astaga! Ibu ini membocorkan rahasiaku. Aaarrggghh ....
Vania sempat melongo dan menghentikan makannya, "Benarkah? Kalau itu ciuman pertamamu, aku cukup terkesan karena kau sepertinya sudah biasa melakukannya," katanya memandangku takjub.
"Mau melakukannya dengan siapa kalau dia saja tidak pernah punya teman dekat perempuan. Dengan tembok?"
Ya ampun, Ibu!
Ibuku sungguh tega menguliti anaknya sendiri di depan Vania. Aku makin tidak punya harga diri saat mereka kompak menertawaiku.
"Bu, aku sungguh membayangkan dirinya beciuman dengan tembok, hahaha ...."
"Tembok yang ada poster Marcella Darty."
Mataku terbelalak, Ibu sudah semakin ngawur mengatakan aku memasang gambar foto model dewasa di tembok lalu menciuminya.
"Hah, Marcella Darty? Gila kau, Asisten Yan! Diam-diam fetish-mu meresahkan," kata Vania memandangku jijik.
Ibu makin terbahak melihat pandangan jijik Vania padaku.
"Bu, sejak kapan aku melakukan hal aneh begitu? Jangan mengarangnya! Vania akan menganggapnya benar," protesku.
"Nia-ku, apa kau percaya yang Ibu katakan tentang tunanganmu?"
Vania melihatku sebentar lalu tertawa, "Ya ... Aku percaya. Laki-laki mana yang bisa mengabaikan foto model dewasa itu? Cukup dia bergaya begini membuat pikiran pria normal traveling."
Dia menirukan salah satu pose wajah Marcella Darty yang menghebohkan di Instagram miliknya karena dianggap dewi seksualitas. Tapi di mataku justru tiruan yang dilakukan tunanganku yang sangat meresahkan, terlebih bibir ranumnya yang ingin kugigit. Sh*it!
"Ah, terserahlah! Aku mau ke toilet dulu," sahutku berdiri dan segera berbalik, khawatir kedua wanita cerewet ini melihat ada sesuatu yang lebih menonjol dari balik celanaku– bisa hancur tak bersisa harga diriku nanti.
Kutinggalkan begitu saja ponsel di atas meja, ada yang lebih urgent yang harus aku urus– menidurkan kembali sesuatu yang tidak seharusnya bangun.
PoV Vania (Tokoh Utama)
__ADS_1
Aku dan Bibi Lidya sangat puas menggoda Asisten Yan karena ternyata ciumannya padaku adalah yang pertama juga baginya. Sampai tidak bisa ditahan lagi kekesalannya dan pergi ke toilet untuk menghindari kecerewetan kami yang seperti dengungan koloni tawon. Nguuuung ... nguuuung ....
"Bu, apa kita tadi tidak keterlaluan? Nanti kalau dia marah sungguhan padaku bagaimana?"
Bibi Lidya masih tertawa berkata, "Ya sudah mau marah kenapa? Kalau marah berarti benar dong temboknya ditempeli poster Marcella Darty, hahaha ...."
Ya ampun, calon ibu mertuaku ini sangat iseng menjahili anaknya sendiri, ckckck ....
"Bu, tapi aku penasaran yang ibu bilang tadi," ujarku mengubah topik pembicaraan. Aku kasihan Asisten Yan dibully sama Ibunya sendiri.
"Yang mana?"
"Yang Ibu dijodohkan Nyonya Besar."
"Oh, Nyonya Besar adalah orang yang sangat berarti bagi kami."
"Kami?"
"Lima sekawan yang diselamatkan nyawanya dari perdagangan organ tubuh manusia di pasar gelap. Mereka adalah Kepala Pelayan rumah utama, asisten Nyonya besar, penasehat hukum Keluarga Pradipta, calon ayah mertua Tuan Muda yang juga dalang penusukan Nyonya Muda dan terakhir Ibu sendiri. Andai saja Nyonya Besar dan Tuan Besar mengabaikan kami saat itu, bisa jadi tunanganmu itu tidak pernah ada di dunia."
Aku mencerna kata-kata Bibi, agak ruwet tapi bisa kutangkap sekilas maknanya. Mungkinkah ada sejarah besar sebelumnya?
"Meski akhirnya kami mengabdikan diri sepenuhnya pada Keluarga Pradipta dan berjanji setia untuk selalu menjaga kehormatan keluarga itu, Nyonya Besar menganggap kami seperti anaknya sendiri, tanpa ragu beliau menyekolahkan Ibu di sekolah keperawatan terbaik di negeri ini sampai dicarikannya calon suami untuk Ibu, tapi Ibu menolaknya."
"Nyonya Besar ternyata suka menjodohkan orang, termasuk Kak Litha," ucapku menyomot sepotong sashimi milik tunanganku.
Terdengar bunyi dering panggilan dari ponsel Asisten Yan yang tergeletak di atas meja. Posisinya dekat dengan piranti makan Bibi Lidya.
"Dokter Vivian?" sahut Bibi Lidya membaca nama pemanggilnya.
Aku refleks berhenti mengunyah. Ada apa lagi?
"Ya, halo."
Bibi tanpa basa-basi langsung mengangkatnya.
"Aku ibunya. Abyan sedang di toilet. Ada apa, Dokter?"
.
"Nama kontak Anda tertulis begitu di ponselnya."
.
"Titipkan pesan saja padaku, Dokter. Aku akan menyampaikannya begitu dia kembali."
.
"Baiklah. Ya, sama-sama Dokter."
Sambungan ditutup dengan ramah oleh Bibi Lidya. Dia tidak tahu kalau dokter yang menelepon tadi adalah penyebab putranya meninggalkan aku sendirian tadi malam di restoran.
"Kenapa Dokter Vivian menelepon Asisten Yan?" tanyaku penasaran.
Bibi Lidya mengedikkan bahu, "Tidak tahu. Dia nanti akan telepon Abyan lagi katanya. Bukan kah urusan Nona Tisha sudah selesai?"
Giliranku mengedikkan bahu. Suasana tidak seceria sebelumnya, mood-ku berubah. Aku tahu Bibi Lidya memperhatikanku sampai putranya kembali dari toilet.
"Yan, tadi Dokter Vivian meneleponmu. Ibu mengangkatnya, takut ada hal penting yang mendesak tapi ternyata dia bilang akan meneleponmu lagi. Ada urusan apa? Urusan Nona Tisha sudah selesai, kan? Oh iya, Nyonya pernah memberitahu Ibu kalau dia sedang hamil."
Entah kenapa Bibi Lidya langsung mencecar Asisten Yan perihal Vivian, ada sinis dalam nada suaranya. Lirikan tunanganku seakan menuduhku telah mengadu sesuatu pada ibunya.
"Nia-ku tidak mengatakan apa-apa. Makanya Ibu bertanya padamu, kalau aku mendapatkan jawaban dari Nia-ku tidak mungkin aku memberitahumu kalau tadi Dokter Vivian menelepon."
"..."
Bunyi dering ponsel pria bermata teduh itu berdering lagi, pemanggilnya masih orang yang sama.
"Angkatlah," perintah Bibi Lidya, "Disini saja. Tidak ada yang kau rahasiakan dari kami, kan?" sambungnya melihat gelagat Asisten Yan yang akan beranjak pergi menjauh untuk menerima telepon.
"Ya," jawab putranya.
"Halo."
.
"Maaf Vivian, aku tidak bisa menemanimu. Aku harus menemani ibuku."
.
"Aku tidak bisa menjanjikan apapun."
.
"Ya, tidak masalah. Jagalah dirimu dengan baik."
Sambungan telepon diakhiri namun disambut dengan muka penuh curiga dari sang ibu.
"Abyan, tidak baik terlalu intens dengan wanita yang bersuami sedangkan dari caramu berbicara dengannya sepertinya hubungan kalian sangat baik."
"..."
Dia tidak bisa berkata apapun saat dikonfrontir Bibi Lidya sampai akhirnya aku memecah kesunyian, "Bu, ayo pulang. Kita sudah cukup bersenang-senang hari ini."
Ibu dan anak di depanku bergeming, tidak ada suara apalagi gerakan– hanya saling melihat satu sama lain, yang satu menatap tajam sedangkan satunya lagi pandangan bingung untuk berucap.
"Baik. Mari kita pulang, Nia-ku," kata Bibi Lidya merapikan tasnya.
Setelah semua hasil perburuan kami di mall sudah masuk dalam mobil dan sebelum Asisten Yan membuka pintu mobil bagian pengemudi, Bibi Lidya dengan santainya berkata, "Kami akan pulang sendiri. Terserah kau mau kemana."
"Bu!"
"Mana ponsel dan dompetmu? Berikan pada Ibu."
"Bagaimana nanti aku pulang?"
"Kenapa tanya Ibu?"
"Setidaknya jangan bawa ponselku biar aku bisa memesan taxi online," tawarnya sambil menyerahkan barang yang diminta sang ibu.
"Lalu kalau dokter itu meneleponmu lagi, jangan-jangan taxi online langsung menuju tempatnya."
Kenapa Bibi Lidya cemburu? Harusnya kan, aku yang cemburu, tapi biarlah hihihi ....
"Makanya jangan suka menaruh perhatian sama istri orang, yang bersangkutan salah paham kan repot," timpalku memperkeruh suasana.
"Nia, kau jangan menambah-nambahi!"
"Ibu! Aku dimarahinya," tunjukku ke batang hidung Asisten Yan. Bibi Lidya melotot ke arah putranya dengan garang.
"Weekk!" ledekku menjulurkan lidah.
Tunanganku terlihat menahan amarahnya, aku tak peduli sama sekali. Memang cara paling ampuh mengadu pada ibunya, hahaha ....
"Berani kau memarahi Nia-ku, jangan harap Ibu mau bertemu muka denganmu."
"Ibu, ke–"
"Ayo Nak, kita jalan sekarang," ajak Bibi Lidya padaku.
"Iya, Bu. Kita ke apotik bentar ya, beli testpack dan bujuk Kak Litha pakai," kataku yang dijawab dengan anggukan.
"Nyonya hamil?" tanya Asisten Yan.
Aku tidak menjawab, masuk begitu saja ke dalam mobil bersama ibunya. Dari spion depan kulihat Asisten Yan memukul-mukul udara saking kesalnya, hahaha ....
_Flashback Off_
- Bersambung -
__ADS_1