Kepingan Hati Vania

Kepingan Hati Vania
Di Luar Kendali


__ADS_3

Kali ini Asisten Kak Litha, Pak Sas yang menjemputku di sekolah meminta izin dua hari untuk menemani Nyonya Pradipta sebelum pulang ke Ibukota.


Hatiku nelangsa, sedikit tidak rela kakakku tersayang akan pergi meninggalkan Kota A, tapi mau bagaimana lagi dia adalah seorang istri yang memang seharusnya mendampingi suaminya dimanapun berada.


Sepanjang perjalanan ke rumah Keluarga Pradipta suasana sangat hening bagai di kuburan saat tengah malam. Kata Kak Litha, Asisten yang dulunya merupakan Asisten Nyonya Besar Pradipta adalah sosok yang baik, penyayang dan pelindung. Nyatanya tidak bagiku, Pak Sas hanyalah berupa patung yang diberi nyawa, tanpa suara, tanpa ekspresi.


"Pamaannn, Bibiii, Vaniaaaa .... " teriak Kak Litha di pintu masuk begitu kami masuk berbarengan. Setelah menjemputku, Pak Sas juga menjemput Paman dan Bibi.


"Jangan lari!" teriak Kakak Ipar memperingatkan yang membuat lari Kak Litha berhenti dan akhirnya berjalan cepat.


"Jalannya pelan saja! Mereka tidak akan kemana-mana," tukasnya lagi, gemas.


"Isshhh .... " Muka Kak Litha merengut sebal dan akhirnya berjalan seperti biasa.


Semua yang ada disitu tergelak, termasuk aku. Kalau begini Kak Litha memang sangat menggemaskan, aku bisa bayangkan kalau Kak Litha berduaan dengan Kakak Ipar di kamar, habis pipinya dicubit Kakak Ipar, hahahaha ....


"Hati-hati dengan langkahmu!" Kakak Ipar terus saja mengoceh memberi peringatan.


Langkah Kak Litha berhenti, ia berbalik ke suaminya yang berada di belakangnya, "Sekalian saja gendong aku kalau begitu!"


Kakak Ipar menghela nafasnya, lalu dia mengangkat istrinya dalam gendongannya ala bridal style ke sofa di ruang keluarga, tempat kami tertawa melihat mereka, berbeda dengan Asisten Yan yang terlihat jengah.


"Ada Paman, Bibi dan adikmu di sini. Aku dan Abyan di ruang kerja, kalau kau butuh sesuatu, bilang saja termasuk untuk menggendongmu ke kamar."


Pppffffttttt ...


Aku, Paman dan Bibi menahan tawa, Kak Litha mendengus sebal tapi pipinya memerah. Dia tahu suaminya menggodanya di depan kami. Namun Kakak Ipar tidak terpengaruh, dia justru mendaratkan kecupan di kening Kak Litha dan mengusap pipi kakakku dengan punggung tangannya. Aih ... terus terang aku sangat iri, aku ingin seperti Kak Litha yang mempunyai suami seperti Kakak Ipar.


"Kakak Ipar, bisakah Kakak mengenalkanku pada seseorang seperti Kakak Ipar yang romantis?" celetukku asal yang membuat Kak Litha melototiku.


"Ada, yang nanti berjalan mengikutiku termasuk salah satunya ... Yan."


Kakak Ipar memanggil Asisten Yan yang kemudian mengikutinya dari belakang menuju ruang kerja, Suami kakakku ini menggodaku dengan mengedipkan satu matanya.


"Apa ini?" Batinku bergejolak.

__ADS_1


"Aigooo ... ketua-an Kakak!" pekikku men-denial perasaan sendiri yang tersipu, untunglah tertutupi gelak tawa Kak Litha, Paman Tino dan Bibi Rima.


...***...


Hari kepulangan tiba. Aku beserta Paman dan Bibi mengantar kakakku, Kakak Ipar juga para Asisten. Kak Litha bergantian memeluk erat kami sebelum naik ke pesawat pribadi milik Keluarga Pradipta.


"Baik-baik di sana ya, Nak. Semoga kamu dan bayimu sehat-sehat. Kalau ada yang melukaimu lagi, kau tidak perlu naik kereta ke sini, tapi kami yang akan ke sana langsung menjemputmu."


Suara Bibi Rima sengaja dikeraskan agar suaminya dapat mendengar dengan jelas. Pesan untuk Kak Litha dan peringatan untuk Tuan Muda Pradipta. Bibi memang tidak kenal takut dan aku menuruni sifatnya, padahal tidak ada pertalian darah antara kami. Semua menahan tawa dengan tersenyum termasuk Pak Sas, manusia yang ekspresinya selalu datar ... Hanya Paman Tino yang berwajah tegang dengan perkataan istrinya.


"Kalau Bibi sampai menjemputku nanti, itu artinya tidak ada kesempatan kedua. Aku akan di Kota A selamanya dengan anakku," sahut Kak Litha menanggapi kalimat Bibi, entah sengaja atau tidak tapi raut wajah Kakak Ipar sudah masuk dalam status Siaga Satu.


"Hei, kau hanya bisa pergi tanpa izinku. Kalau kau berani kabur, akan kukejar sampai dimanapun, tidak ada yang bisa menyelamatkanmu. Hidup dan matimu ada di tangan suamimu. Mengerti!" tandas Kakak Ipar lalu pergi begitu saja meninggalkan kami. Semua melongo melihat kemarahan Kakak Ipar yang tidak disangka, padahal aku yakin Bibi dan Kak Litha hanya bercanda.


"Paman, situasi tidak akan menjadi rumit, kan?" tanyaku berbisik pada Paman Tino yang tidak bisa menyembunyikan ketakutannya.


"Ti-- tidak tahu," sahutnya terbata pelan.


"Hei, Tuan Muda Suamiku! Katamu kalau aku kabur kau akan mengejarku sampai dimanapun, kenapa sekarang kau yang meninggalkanku!" teriak Kak Litha tiba-tiba.


"Jadi kau mau dikejar?" kata Kakak Ipar menatap tajam netra istrinya.


"Apa Kakak Ipar marah?" tanyaku berbisik lagi di telinga Paman Tino.


"Ti-- tidak ta-- tahu," sahut Paman takut-takut.


"Ma-- maaf Nak Rayyendra, Bibi tidak bermaksud menyindirmu, Bibi hanya-- "


Belum habis perkataan Bibi Rima, terjadilah pemandangan tabu bagi budaya timur. Tanpa diduga sama sekali Kakak Ipar mencium bibir istrinya, tentu saja ini mengagetkan dan membuat malu Kak Litha. Wanita hamil itu berusaha memberontak dengan mendorong badan suaminya yang sudah menempel erat bak prangko. Tapi bukan Tuan Muda Arogan jika tidak memaksa, ditekan punggung Kak Litha ke arah dadanya dengan satu tangan, sedangkan satu tangan lainnya meraih tengkuk dan menekannya dengan lembut hingga istrinya akhirnya terbuai dalam hasrat gelora yang memabukkan. Tidak lagi terbelalak, kini Kak Litha memejamkan matanya dan menikmati ciuman suaminya.


Bibi dan Paman salah tingkah menyaksikan salah satu adegan film romansa secara live di hadapannya. Tetapi yang sangat menyebalkan adalah tangan Asisten Yan yang sibuk menutup mataku agar tidak melihat keromantisan pasutri yang dimabuk asmara, padahal yang namanya ciuman seperti itu sekarang sudah lumrah di berbagai genre film. Tak ayal, dengan gemas aku membuka jemarinya yang menutupi indra penglihatanku hingga bercelah.


"Ini bukan untuk dilihat anak dibawah umur," sahutnya merapatkan kembali jari-jari tangannya.


"Sedikit saja, Asisten Yan. Betapa indahnya mereka berciuman, kalau di kartun pasti ada lope-lope yang bertebaran di sekeliling mereka," rengekku yang masih terus mencoba merenggangkan jemarinya di mataku.

__ADS_1


Deg. Deg. Deg.


Sentuhannya membuat lemas karena jantungku berdetak sangat cepat melebih kecepatan cahaya. Kali ini kupasrahkan tangannya menutupi mataku tanpa perlawanan. Dengan memejamkan mata diantara hangatnya jemarinya, otakku menggila.


"Apa ini? Oh shi*t! Aku sudah tidak waras. Hentikaaan!" teriakku kencang dalam hati untuk menghentikan alur imajinasi yang semakin liar.


"Nona, dengan mata tertutup begini kenapa wajah Anda bisa memerah? Jangan katakan karena melihat Tuan dan Nyonya seperti tadi Nona jadi membayangkan hal yang sama dengan seseorang. Usia Anda belum pantas bahkan untuk sekedar membayangkannya," tuduhnya dengan suara pelan.


Aku tidak sadar jika tangannya sudah tidak menutup mataku lagi. Sialnya, lelaki itu tidak menyadari bahwa dengan suara beratnya yang makin merasuk dalam kepalaku membuat otak yang menggila semakin gila di luar kendali. Ah ... aku malu sekali kepergok seperti ini.


Beruntung Kak Litha dan Kakak Ipar sudah berada di tangga pesawat, melambaikan tangannya pada kami sebelum mereka benar-benar pergi. Aku tidak berani mengangkat muka, aku bisa merasakan rona merah masih ada di wajahku.


"Jaga diri Nona baik-baik. Jika ada sesuatu yang diperlukan, jangan segan menghubungi kami. Selamat tinggal, Nona Vania."


Derap langkah perlahan menjauh, aku terpaku, "Aduh ... kenapa muka ini tidak bisa diajak kompromi? Ayolah, setidaknya ucapkan sepatah dua patah kata perpisahan sebelum dia pergi atau meminta foto selfi dengannya sekali saja."


"Vania! Ada apa denganmu? Kenapa menunduk terus dan tidak membalas lambaian tangan kakakmu dan suaminya?" tanya Bibi Rima menepuk bahuku.


Ya, dia pasti heran denganku yang terus menundukkan kepala dari tadi. Tidak tahu terlambat apa tidak, kulambaikan tanganku sejenak tanpa mengangkat muka.


"Jangan khawatir, mereka akan mengabari kita setelah sampai disana," sahut Bibi Rima menepuk pundakku lagi, "Kenapa masih menunduk? Pintu pesawatnya baru saja ditutup."


Oh, tidak! Aku tidak bisa mengangkat mukaku di depan Bibi Rima. Bibi adalah wanita yang sangat peka dan berintuisi tajam. Jika dia melihat kondisiku saat ini, pasti banyak spekulasi dalam pikirannya dan akan terus mencecarku tanpa ampun sampai dia mendapat jawaban pasti. Aku harus menghindarinya kalau tidak ingin ada masalah.


Syiiinggg ...


Baling-baling pesawat sudah mulai berputar, saat aku ingin menjauhi Paman dan Bibi, kudengar sayup-sayup suara Paman, "Sudah Bu, bagi Vania tentu ini tidak mudah kalau dia berpisah lagi dengan Litha. Jadi beri dia ruang sendiri dan jangan mengusiknya sampai dia yang mencari kita."


Ah, Paman ... kalimatmu bagai penyejuk diantara kekalutanku. Sifat penyayang Paman sama dengan Ayah -kakak lelakinya- dan itu hanya diturunkan pada kedua kakakku. Lalu aku?


"Kali ini Paman benar, Bibi ... Terimakasih Paman atas pengertianmu, aku sangat menghargainya," kataku pelan.


Aku berbalik dan berjalan gontai, aku membiarkan pikiran Paman dan Bibi diletakkan pada kesedihan diriku yang berpisah dengan Kak Lita, padahal tidak demikian faktanya. Aku sudah yakin Kakak Ipar pasti akan membahagiakan kakakku, jadi tidak ada gunanya memikirkan hal itu. Aku butuh waktu dan ruang sendiri untuk lebih memahami kenapa jantung, hati dan otakku di luar kendali jika berdekatan dengan asisten kakak iparku.


- Bersambung -

__ADS_1


__ADS_2