Kepingan Hati Vania

Kepingan Hati Vania
Brithday Party My Sister


__ADS_3

Seremonial wisuda telah selesai, Kak Litha dibawa pergi suaminya entah kemana. Setelah puas menikmati makan siang prasmanan yang disediakan Kakak Ipar –sambil memamerkan bahwa kakakku adalah Nyonya Muda Pradipta kepada siapa saja yang aku temui– kami bersiap untuk pulang dan melanjutkan rencana lainnya –mempersiapkan pesta kecil malam hari– di kebun dan kolam belakang dekat rumah pelayan, tempat favorit Kak Litha. Sementara itu, Kak Litha akan dibawa Kakak Ipar ke suatu tempat agar tidak curiga ada kejutan lain buatnya.


Mataku belingsatan penasaran melihat Kakak Ipar membawa mobilnya sendiri. Asisten Yan yang sebelumnya ikut di mobil Kakak Ipar sekarang duduk di samping Pak Sas yang mengemudikan mobil. Alhasil, aku duduk diantara Paman dan Bibi di barisan kursi kedua.


"Pak Sas, ayo kita ikuti kemana Kak Litha dan Kakak Ipar pergi," kataku menunjuk mobil Kakak Ipar yang mulai melaju.


"Hei! Kau ini mau tahu saja urusan orang dewasa." Bibi Rima lagi-lagi menganiaya keponakannya, menjitak kepalaku. Hari ini aku benar-benar menjadi korban kekerasan.


Refleks kumajukan diri hingga hampir sejajar dengan Pak Sas dan Asisten Yan untuk melihat jelas mobil Kakak Ipar, "Aku mau melihat hal keren apalagi yang akan Kakak Ipar lakukan, biar aku catat dalam kepalaku dan nanti kalau aku punya suami, aku akan bilang aku mau seperti yang Kakak Ipar lakukan pada istrinya."


"Dasar halu! Sekarang duduk dengan benar! Wajahmu sudah menempel di bahu Asisten Yan."


Bibi memukul pahaku lagi. Aku membeku sesaat setelah menyadarinya dan idak berani melihat ke arah lelaki yang kusandari barusan.


"Apa nyaman?" tanyanya melirikku.


" ... "


"Pertanyaan yang aneh. apa maksudnya coba?" gerutuku dalam hati.


"Eh, iya– maaf Asisten Yan, tidak sengaja, tadi terlalu fokus melihat mobil Kakak Ipar soalnya, hehehehe ... " ujarku canggung.


Aku langsung duduk kembali dengan menyadarkan punggung di sandaran kursi, sejajar dengan Paman dan Bibinya, aih ... malunya.


.


.


.


Waktu mulai beranjak malam kami semua yang akan meramaikan pesta Nyonya Pradipta telah berkumpul di halaman belakang dan mengenakan dresscode berwarna putih. Warna ini membuat syahdu di malam hari ditambah suara instrumen piano yang diputar lembut. Gemerlap lampu menghiasi taman yang biasanya hanya diterangi cahaya seadanya ketika malam hari. Tidak lupa diletakkan rangkaian tulisan selamat ulang tahun juga kelulusan Kak Litha dari LED strip berwarna warm white.


Pesta ini sepenuhnya diurus oleh Kepala Pelayan. Disini ada banyak makanan dan berbagai jenis minuman disajikan, bahkan dipersiapkan spot yang untuk Kakak Ipar membuat kambing guling. Tentu saja aku senang sekali, mulutku tidak berhenti mengunyah mencicipi semua yang bisa disantap.


Walaupun mulutku sibuk mengunyah namun perhatianku tidak lepas dari Sasha, wanita matang yang penampilannya sedikit– maskulin. Terus terang, sebenarnya aku meragukan dugaanku sendiri karena selama ini kukira selera Asisten Yan adalah wanita feminim. Selain itu caranya berbicara dengan wanita itu juga nampak biasa saja, meski mereka kerap berinteraksi tapi interaksi diantara mereka tidak bertebaran kelopak bunga dan kilau cahaya bintang, malahan wanita yang bekerja sebagai Sekretaris Presdir Pradipta Corp. itu senantiasa menunjukkan rasa hormat dan segan seperti bawahan dan atasan. Jadi– entah mengapa hatiku sedikit lega. Lega? Memangnya tadi aku merasa sesak?


"Nona pasti adik kesayangannya Nyonya Muda." Orang yang baru saja aku bicarakan dalam hati tiba-tiba muncul di sampingku dengan tersenyum ramah sembari menjulurkan sepiring kecil berisi potongan buah.


"He– eh."


"Dari tadi aku melihat Nona memakan kue-kue yang manis. Sebaiknya dicicipi juga potongan buah ini," tawarnya.


Aku tersenyum lalu mengambil piring yang ada di tangannya, "Terimakasih. Apa aku terlihat ra– kus?" tanyaku malu dengan suara pelan.


"Mungkin bagi orang lain, ya. Tapi aku justru melihatnya itu hanya suatu kegiatan untuk mengalihkan apa yang sebenarnya sedang dilakukan."


Glek.


"Apa aku ketahuan kalau aku dari tadi mengamatinya?" bathinku gugup seperti maling yang tertangkap basah.


Dia terkekeh, "Seorang Ibu yang mempunyai dua anak remaja tentu tidak sulit membaca situasi demikian."


"Ibu dua anak? Hah!"


"Hahahahah ... Apa saya terlihat muda? Padahal saya sudah di akhir kepala tiga, berarti treatment botox dan tarik benang itu sangat efektif ya, hahaha ...."


"Maaf. A–"


"Tidak perlu minta maaf Nona. Bisa dimaklumi kalau pesona Asisten Yan tidak kalah dari Tuan Muda."


Mataku terbelalak kaget, "Bu– bukan– bukan maksudnya–"

__ADS_1


"Tidak apa-apa, rahasia Nona aman bersamaku. Itulah salah satu alasan Nyonya Besar tetap menginginkan saya menjadi sekretaris Tuan Muda saat beliau menjadi Presdir."


"Tapi– "


Astaga ... aku sungguh tidak bisa berkata-kata di depan wanita ini. Di luar dugaan, ternyata dia memiliki kemampuan mengamati sekitar dengan sangat baik, pantas saja dia dipercaya menjadi sekretaris Presdir Pradipta Corp.


Lagi-lagi dia tertawa, mungkin wajahku jelas terlihat suatu perubahan. Belum sempat menyambung kalimatnya, terdengar teriakan.


"Jangan lari!" teriak Kakak Ipar panik melihat istrinya berlari ke arahnya,


Dalam larinya begitu nampak kebahagiaan di pancaran wajah Kak Litha, justru kami yang tegang mendengar teriakan kekhawatiran Tuan Muda. Kemudian, tidak tahu apa yang diperbincangkan antara Kak Litha dan Kakak Ipar hingga membuat kakakku terharu lalu memukul-mukul bahu suaminya dengan kesal.


"Cieeee ... Kak Litha malu-malu senang yaaa ... Ingat lho disini masih ada kita meski cuman ngontrak, hahahaha ...." selorohku diikuti tawa yang lainnya.


"Selamat ulang tahun, Litha. Kami menahan diri tidak mengucapkannya dari pagi karena Suamimu yang meminta," ucap Bibi Rima sembari memeluk Kak Litha.


"Ray sangat egois, ia hanya ingin sendirian menikmati hari ulang tahunmu. Kami hanya diberi kesempatan sekarang, di malam hari saat hari kelahiranmu akan berganti," kata seorang pria yang tidak kalah menawannya dari Kakak Ipar dan Asisten Yan.


Kalian tahu siapa dia? Untuk pertama kali kujumpai langsung sosok Firza Nathan Pradipta, anak angkat Keluarga Pradipta. Pembawaannya jauh berbeda dengan Kakak Ipar, dia lebih dewasa dan cara bicaranya tenang juga lebih terkontrol. Jika Kakak Ipar diibaratkan seperti api yang suka mengobar sesuai suasana hatinya sedangkan Tuan Firza seperti air yang menyejukkan. Aku bertaruh siapapun wanita akan mudah jatuh hati padanya, tapi– apa Kak Litha tidak pernah tertarik padanya?


Suasana malam ini begitu hangat, terutama atmosfir di sekitar Kak Litha. Dia terlihat sangat bahagia, tentu saja aku juga ikut bahagia. Setelah sekian lama dia selalu menahan diri demi orang-orang yang disayanginya, kini kebahagian tengah menyelimuti kehidupannya.


Selain suasananya hangat, langitpun cerah bertabur bintang. Dulu aku sangat tertarik dengan permainan menebak rasi bintang bersama seluruh anggota keluargaku termasuk Paman dan Bibi. Anehnya hanya Ibu dan Bibi saling berebut untuk menjawab bahkan kadang berdiskusi tanpa menghiraukan yang lainnya. Mereka seperti asyik dalam dunia sendiri, seakan memiliki kenangan lama akan hal itu. Ya, sekarang aku mengerti ... Ternyata mereka mengenang masa kecil saat masih menjadi anggota kerajaan Sungai Bulan.


Kusunggingkan senyum pahit di sudut bibir, meski Ibu dan Bibi Rima telah berkomitmen memilih kebahagiaan mereka sendiri, tidak bisa dipungkiri ada rasa rindu akan keluarga dan kampung halaman yang kadang muncul secara alami. Bagaimanapun juga, dalam tubuh mereka mengalir darah keturunan asli Suku Ragnaya.


"Mas!"


"Aku tidak akan meminumnya jika kau tidak memberiku ijin, Sayang."


"Tenanglah Nyonya Pradipta, ia tahu batas minumnya, dimana batas ambang kesadarannya, Suamimu ini tidak akan berbuat sesuatu diluar kendalinya."


"Hah! Tidak, yang aku tahu dia minum dan kehilangan kendali atas dirinya sampai memper–"


"Kenapa semua orang jadi tegang begini? Memangnya apa yang sudah kulewatkan?" tanyaku dalam hati, barusan aku memang teralihkan dengan keadaan langit malam ini hingga tidak memperhatikan keadaan sekitar.


"Apa itu masih menghantuimu, Lith? Meski aku sudah berusaha keras mengubahnya menjadi penyesalan terdalamku?" Kali ini suara Kakak Ipar yang bergema di telingaku, tatapannya datar menghujam ke arah Kak Litha.


"Apa mereka bertengkar? Bukanya tadi lagi bahagia-bahagianya?"


Aku mencebik dalam hati, bisa jadi ini termasuk drama pasutri masa kini. Kuambil sate buah dari nampan di meja yang berada di sampingku, menggigit dan memasukkan potongan melon ke dalam mulut.


"I– itu tetap akan menjadi kenangan pahit selama aku mengingatnya, Mas. Tapi aku tidak pernah menyesalinya walaupun kau menceraikan aku saat itu. Itu sudah takdirku dan aku sudah menerima sepenuhnya bahwa itu adalah bagian dari kisah hidup seorang Litha."


Apa ini!


Kakak Ipar memejamkan matanya mencerna kata-kata Kak Litha. terlihat ada sesuatu yang berusaha ditekannya kuat-kuat dalam hati. Apakah ini pertengkaran serius antara suami istri?


Suasana pesta yang semula hangat dan diliputi kebahagiaan telah berganti suram, padahal langit masih cerah bertaburan banyak bintang. Aku tidak tahu apa yang mereka bahas hingga saling menarik urat leher, yang jelas hal tersebut sangat menyinggung dasar pernikahan mereka hinga terucap kata yang tersusun dari lima huruf, C-E-R-A-I. Aku tidak suka mendengarnya, sangat tidak suka!


"Bon, kalau mau minum ya minum saja sendiri. Aku tidak tahu apa masalahmu hingga kau ingin minum tapi hormati keputusan Nyonya yang tidak ingin suaminya minum," sahut Asisten Yan menengahi.


Lelaki itu dengan senyum bijaknya menepuk pundak teman Kakak Ipar yang tadi ikut terlibat adu mulut dengan Kak Litha -Bona Santoso, salah satu sahabat Kakak Ipar yang membuatnya berinvestasi pada klub malam terbesar di Ibukota- lalu dia menghadap Kak Litha berkata, "Nyonya, selama aku mengenal Ray, dia tahu dimana batas minumnya agar tidak kehilangan kesadaran. Jika ada satu waktu ia kehilangan kendali atas dirinya mungkin saja ada sesuatu didalamnya."


"Maksudnya?" Suami Istri Pradipta kompak bertanya bersamaan.


"Sesuatu yang menjadi penyebab atas takdir kalian hari ini ... Ray, kau tidak akan menyadari perasaanmu ke istrimu kalau kau tidak melewati takdir itu dan Nyonya juga tidak akan memiliki alasan untuk menerima cintamu karena Nyonya saat itu tidak yakin kalau kau memang jatuh cinta pada istrimu sendiri."


Asisten Yan mengambil jeda nafasnya menatap mereka, "Ayolah jangan membuat rumit cinta kalian yang sederhana. Cerita buruk masa lalu biar saja menjadi cerita lalu, itu tidak akan pernah terhapus. Nyonya sudah menerimanya bahwa itu bagian dari hidupnya. Itu sudah menjadi bukti kalau ia menerimamu seutuhnya, Ray." Dihela nafasnya lagi sejenak lalu berseru, "Malam ini adalah malam yang bahagia, dan saatnya Kambing Guling Pradipta!"


Diam-diam aku mengagumi kemampuannya meredam gejolak dengan bijak, meski nampak aneh karena hanya dia yang bersorak dan bertepuk tangan. Aku mengagumi caranya bertindak untuk mencegah peperangan emosi dan pendapat yang akan berujung pada ego masing-masing.

__ADS_1


"Pak Is, siapkan kambing gulingnya sekarang!"


"Siaapp, Asisten Yan."


"Nyonya, apa Nyonya tahu mengenai Kambing Guling Pradipta?" tanya Asisten Yan ke Kak Litha, berusaha mengalihkan semua emosi yang menggunung barusan.


Kak Litha menggeleng, aku jadi makin penasaran.


"Dinamakan Kambing Guling Pradipta karena Tuan Muda Pradipta sendiri yang membuatnya. Biasanya Kambing Guling Pradipta ini diadakan jika terjadi sesuatu yang membahagiakan dan hanya orang-orang terdekatnya yang dia undang untuk menikmati kambing gulingnya."


"Mas Rayyendra yang membuatnya sendiri? Bagaimana bisa?"


"Itulah kelebihannya dalam bidang kuliner, kambing gulingnya sangat enak. Nyonya tidak akan berhenti makan sampai kekenyangan."


"Benarkah? Mas, aku tidak sabar mau mencobanya," rengek Kak Litha pada suaminya.


Kakak Ipar tersenyum dan memandang asistennya penuh arti, mungkin ingin berterimakasih sudah mengembalikan mood Kak Litha. Akhirnya, suasana kembali hangat seperti sebelumnya, kecuali– Kak Ninda dan Tuan Bona nampak tidak akur di salah satu sudut yang remang.


.


.


.


"Mas, enak sekali! Kalau aku sering-sering minta, Mas buatin ya?" pinta Kak Litha sambil mengunyah daging kambing.


Aku setuju, kambing guling buatan Kakak Ipar sangat enak. Entah apa yang diracik sebagai bumbunya, dari obrolan yang kudengar saat Kakak Ipar mengolahnya, dia belajar dari chef asal timur tengah saat berkuliah di Amerika.


"Jangan berlebihan memakannya, Tha. Ingat, kamu sedang hamil," ujar Paman Tino mengingatkan.


"Tidak masalah, yang penting kau juga sering-sering membuatku enak," sahut Kakak Ipar asal menanggapi permintaan istrinya


"Mau sering bagaimana lagi, hari ini saja sudah dua kali, pagi setelah bangun tidur dan sore tadi di mobil. Apa Mas tidak tahu susah payah aku menggoyangkan pinggulku karena perutku sudah besar dan ruang mobil yang sempit, lagi--"


Uhuk.


Hampir saja aku tersedak air minum yang baru masuk ke tenggorokan. Sambil menahan tawa kulihat wajah Kakak Ipar sudah memerah karena malu dan menutup mulut Kak Litha dengan tangannya.


"Oh Tuhan, Ray ... kau kejam sekali memintanya melakukan di mobil," seru Tuan Firza kaget, juga menahan tawa geli.


Astaga ... Benar-benar pasutri ini sangat menggemaskan, sampai aku tidak bisa menahan untuk menggoda mereka, "Aku– aku tidak dengar Kakak Ipar ... Aku tidak dengar kalau dimobil Kak Litha kesusahan menggo–"


Teplak.


Paman Tino memukul lenganku dengan mata melotot. Jangan tanya Bibi Rima, tatapannya persis seperti pembunuh bayaran yang siap mengeksekusi targetnya. Hiii ....


Sayangnya, Kak Litha baru menyadari perkataannya setelah kugoda dan dengan cepat dia membalikkan badan lalu menjauhi kami semua tanpa suara, mukanya sudah melebihi warna kepiting rebus.


"Lith, Litha!" panggil Kakak Ipar di belakang mengejarnya.


.


.


.


Aku tersenyum, dari kejauhan kemesraan melingkupi Kak Litha dan Kakak Ipar, sangat jelas terlihat cinta diantara mereka begitu besar, penuh kasih satu sama lain. Untunglah, ujian saat awal kehamilan Kak Litha dapat mereka lalui dengan bijak dan merendahkan hati. Tetapi senyumku tidak bertahan lama, airmuka Kakak Ipar tiba-tiba berubah ketika Asisten Yan menghampiri dan mengatakan sesuatu padanya.


Ada apa?


- Bersambung -

__ADS_1


NB : Maafkan Author kalau baru up lagi ya Kak 🙏 Author belakangan ini lagi sibuk ngurus sekolah si sulung. Salam sehat buat semuanya ....


__ADS_2