
Hari yang membosankan kembali aku jalani, bosan dan lelah dengan peran yang aku mainkan, gadis cupu nan aneh. Masuk sekolah setelah izin duka, tidak nampak kesedihan padaku, tentu saja banyak yang menyangsikan kabar bahwa ibuku telah meninggal dunia.
"Nia, gosipnya alasan izinmu kemarin itu bohong," Keysha membuka obrolannya malam ini setelah satu minggu aku masuk sekolah.
"Bohong?" tanyaku bingung, duduk di tepian ranjang berhadapan dengannya.
"Iya, bahkan guru-guru juga mengira kalau ibumu meninggal itu hanya alasanmu saja untuk izin dalam waktu yang lama."
"Hah! Apa aku gila menjadikan kematian ibuku alasan izin untuk tidak masuk sekolah? Kenapa mereka bisa beranggapan begitu? Bukannya prihatin mengucapkan belasungkawa malah menuduhku memanipulasi alasan izin."
Hatiku sakit mendengarnya, jika saja mereka menuduhku berbohong tanpa menyangkut-pautkan Ibu, aku sama sekali tidak ambil pusing. Tapi, sungguh tega sekali mereka, selevel guru dan sekolah juga termakan gosip. Apa mereka tidak bisa mengeceknya?
"Karena kau tidak nampak sedih kehilangan orang yang kau sayangi."
"Hahahaha ....." Aku tertawa geli mendengarnya, "Apa semuanya menilai dari apa yang terlihat? Waaahhh ... Ini sih namanya membenarkan kemunafikan! Key, apa aku harus selalu menangis di depan mereka baru bisa dipercaya dan mendapat simpati? Cih."
"Hahahaha ... benar juga apa yang kau bilang. Aih, ternyata sebuah citra sangatlah penting di sekolah ini, seperti Serena yang uring-uringan karena dia tidak lagi menempati rumah mewahnya. Citranya sebagai keluarga pemilik rumah termewah di Kota A sudah digusur oleh Tuan Muda kaya raya dari Ibukota. Kabarnya dibeli dengan harga tiga kali lipat dari harga pasaran demi istrinya yang sedang hamil."
Alisku mengkerut, kenapa kalimat akhirnya terdengar tidak asing. Tiba-tiba Keysha mencondongkan kepalanya ke depan mukaku dan berbisik seakan takut ada yang mendengar padahal hanya kami berdua disini, "Dengar-dengar, istri Tuan Muda itu berasal dari kota ini dan adiknya bersekolah disini, satu angkatan dengan kita."
Kontan mataku terbuka lebar dan mematung, jantungku berdenyut lebih cepat dari biasanya. Asumsiku sudah berloncatan kesana-kemari bersamaan dengan kembalinya posisinya seperti semula.
"Ini yang membuat Serena makin uring-uringan karena tidak lagi menjadi nomor satu di sekolah ini, apalagi belum diketahui siapa adik ipar Tuan Muda itu, hahahahaha ...."
Tubuhku masih kaku tapi sudah bisa menormalkan denyut jantungku, "Kira-kira kalau dia tahu, apa yang akan dia lakukan pada adik ipar Tuan Muda itu?" tanyaku pelan.
Keysha mengangkat bahunya, "Bisa saja Serena akan berusaha menjadi temannya. tapi--"
"Tapi apa?"
"Setahuku Serena tidak sudi menjadi orang di posisi kedua. Meski nantinya dia berteman tapi itu tidak tulus."
"Sejak kapan anak itu tulus berteman? Dia hanya peduli dengan dirinya saja bahkan menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginannya."
"Ya, seharusnya dia mencontoh temanku yang tulus."
"Siapa?"
"Vania Kirana Larasati."
"Aih, Keysha Dellina, kau membuat kepalaku membesar karena pujianmu."
Teman sekamarku itu tergelak, lalu berbaring untuk bersiap tidur, "Bagaimana kabar kakakmu dengan meninggalnya ibumu? Bukankah kau sangat mengkhawatirkannya."
Aku tahu yang dimaksud kakakmu adalah Kak Litha, di sekolah ini tidak ada yang mengetahui kalau aku memiliki saudara perempuan satu lagi dengan kondisi memprihatinkan.
"Dia lebih merasa kehilangan daripada aku karena saat ini kakakku sedang hamil. Beruntung suaminya sangat menjaga dan memperhatikannya, jadi aku tidak perlu mengkhawatirkannya."
"Wah, selamat Nia, sebentar lagi kau akan menjadi Bibi."
"Ya, aku sangat bahagia mengetahui akan segera menjadi Bibi. Hal inilah yang menghapus rasa sedihku kehilangan Ibu, sampai ada gosip kalau aku berbohong Ibuku meninggal."
"Jahat sekali orang yang membuat berita itu dan menyebarkannya kemana-mana. Hoaammm ...."
"Hehehe ... Dalam hidup ini tidak ada yang abadi. Mungkin dia belum merasakan apa itu kehilangan karena kematian seseorang, padahal itu sesuatu yang pasti di dunia ini." Aku membalikkan tubuhku menghadap Keysha. "Seberapapun siap kau menghadapinya, tetap saja kehilangan itu seperti belati yang memotong sebagian hatimu."
Zzzzzzzzzz
__ADS_1
"Key? Kau sudah tidur? Cepat sekali kau terlelap," kataku mengangkat kepala memastikan sahabatku sudah tidur atau belum, ternyata dia sudah terbuai di alam mimpi.
"Terimakasih, Key ... Kau sudah tulus menjadi temanku selama ini dan tidak pernah mengkhianatiku," ucapku tersenyum melihat dirinya yang tertidur.
Pikiranku menerawang, "Ah, ternyata rumah yang dibeli Kakak Ipar adalah rumahnya Serena. Bagaimana reaksinya kalau tahu aku adalah adik ipar Tuan Muda kaya raya dari Ibukota? Apa dia akan menjilatku untuk berteman atau malah menindasku karena tidak suka dengan faktanya?"
Banyak hal di dunia yang sulit ditebak. Jangankan nasib yang layaknya roda berputar, meskipun kita tahu roda kehidupan itu berputar tapi tetap saja tidak bisa menebak waktunya, berjalan cepat atau lambat. Begitu juga dengan si pelakunya, manusia. Hati manusia sulit ditebak, lebih misterius dari palung Mariana, tempat terdalam di bumi. Jadi, seperti salah satu petuah mendiang Ayah dulu kepada ketiga putrinya, karena masa depan adalah hal penuh dengan segala kemungkinan, maka tetaplah mawas diri,
...***...
"Nia, kau dipanggil Kepala Sekolah di ruangannya." Hana, Si Ketua Kelas memberitahuku.
Aku berjalan menyusuri koridor kelas satu menuju ruangan Kepala Sekolah dengan penuh tanya di kepala. Aku merasa tidak membuat kesalahan, jadi kenapa dia memanggilku?
Tok. Tok.
"Silakan masuk," sahut suara dari dalam.
Cekrek.
Aku membuka pintu dengan pandangan tertunduk, namun seketika dunia berhenti kala korneaku menangkap seseorang yang duduk di sofa. Mata yang menyipit dengan pandangan aneh mengulitiku dari bawah sampai atas tubuhku.
"Sial! Kenapa dia bisa ada di ruang Kepala Sekolah dan bertemu denganku yang berpenampilan seperti ini." umpatku kesal dalam hati.
"Vania, duduklah. Kau pasti sudah mengenal Asisten Tuan Muda Pradipta, asisten kakak iparmu," sapa Kepala Sekolah menekankan suaranya di kalimat terakhir, asisten kakak iparmu.
Dahi Asisten Yan mengernyit melihatku, aku baru menyadarinya bahwa penampilanku sekarang pasti membuat matanya sakit. "Nona Vania? Apa yang terjadi padamu? Kau memotong ram--"
"Tidak! Tidak ada apa-apa dengan diriku, semua normal! Ya ... semua normal," kataku cepat memotong kalimatnya karena ada Kepala Sekolah dan wali kelasku, jangan sampai peranku terbongkar di depan mereka.
Maniknya menatap tajam ke arahku seakan mencari kebenaran, kali ini aku tak takut, malah kutantang dengan menusuk balik tatapannya.
"Umm ... tapi aku baru saja izin dengan waktu yang lama kemarin, tidak tahu apakah diizinkan lagi," sahutku ragu-ragu menundukkan kepala. Disini dan saat ini posisiku paling lemah dan tidak punya kuasa berbicara.
"Masalah izin Nona tidak perlu cemas, berapa haripun Nona izin selama atas nama Keluarga Pradipta, Kepala Sekolah tidak akan mempermasalahkan. Benar begitu kan, Bu?" tegas Asisten Yan mengerlingkan matanya ke arah Kepala Sekolah.
"Nyonya Pradipta pasti akan sedih sekali kalau acara yang dipersiapkan khusus oleh Tuan Muda nanti tidak dihadiri adik kesayangannya hanya karena tidak mendapat izin dari sekolah, bisa diperkirakan kira-kira seperti apa dampaknya," sambungnya lagi.
"Ya-- ya-- ji-- jika Keluarga Pradipta meminta izin untuk Va-- Vania, pa-- pasti ada alasannya," jawab Kepala Sekolah tergagap.
"Hei! Apa ini sejenis ancaman untuk Kepala Sekolah?" teriakku dalam hati, terlebih melihat piasnya wajah dari wanita yang diajak bicara Asisten Yan.
"Nona Vania sudah mendengarnya dengan jelas, bukan? Sekarang Nona bisa ikut denganku," titahnya tanpa ragu.
"Eng ... eng ... Aku siapkan dulu pakaian untuk dibawa," sahutku.
"Tidak perlu membawa apa-apa, semua keperluan Nona telah disediakan disana. Sebaiknya kita segera berangkat, Nyonya tidak sabar menunggu Nona pulang, jangan sampai beliau kesal dan diketahui Tuan Muda, sekali lagi tentu dampaknya akan tidak baik."
"Kak Litha bukan orang--"
"Vania, sebaiknya kamu berangkat sekarang, semua materi pelajaran yang tidak bisa kau ikuti akan diurus oleh Bu Burne, iya kan, Bu?" kata Kepala Sekolah membujukku, bukan ... bukan membujuk tapi menyuruh.
"I-- iya, saya akan mengirim materi pelajarannya melalui email dan saya yakin itu bisa dipelajari oleh Vania sendiri karena dia siswi yang sangat cerdas," sahut wali kelasku yang sedari tadi tidak bersuara.
Walaupun aku bingung setengah mati akan sikap Kepala Sekolah tetapi kuturuti saja apa kata mereka. Aku kembali ke kamar untuk mengambil ponsel dan dompet diikuti Asisten Yan, Kepala Sekolah dan Bu Burne. Mereka memperlakukanku seperti tahanan yang hendak kabur.
Ketika kami tengah berjalan di koridor asrama, aku berpapasan dengan teman gank Serena yang berambut ikal, salah satu orang yang membully-ku waktu di kelas satu. Meski aku tidak melihatnya karena kami saling membelakangi, aku tahu dia memperhatikanku dengan penuh tanda tanya dan aku rasa mulut embernya itu pasti menganga lebar di depan muka Serena menggosipkan aku.
__ADS_1
.
.
.
Rasa hatiku gugup tidak karuan, duduk di samping lelaki yang sejak awal bertemu membuatku berdesir sungguh tidak nyaman. Begitu gelisah sampai kuku ibu jari kananku nyaris habis kugigiti.
"Kenapa?" tanyaku sedikit terkejut saat Asisten Yan menepikan mobilnya di bahu jalan.
"Maaf Nona, saya hanya mengingatkan untuk merubah penampilan sebelum kita sampai di rumah," jawabnya tenang.
Ah ya ... saat ini aku lupa masih dengan mode gadis culun. Tanpa malu-malu kulepas wig dihadapannya.
Entah mengapa walaupun aku tidak memberitahu cerita dibalik penampilanku ini, aku merasa simpatinya tercurah padaku.
"Terimakasih sudah mengingatkan," ucapku canggung dan sedikit gugup dilihati sekilas olehnya.
"Ya Tuhan ... senyumnya sangat indah. Padahal tadi malam aku mimpi ketiban nangka bukan duren, tapi sekarang aku sangat beruntung bisa melihatnya dari jarak sedekat ini."
"Oh ya, kenapa Kepala Sekolah seperti kerbau dicucuk hidungnya mendengar dampak kekesalan Kakak Ipar?" tanyaku mengalihkan pembicaraan dan mengatasi rasa gugup yang menderaku tanpa henti.
Asisten Yan tergelak keras, "Tentu saja dia menjaga jangan sampai Tuan kesal apalagi marah. Ray dikenal Tuan Muda dingin dan tidak bisa dibuat kesal. Saat ini fokus Tuan ada di Nyonya yang sedang mengandung anaknya. Aku tadi hanya sedikit memberi bumbu agar watak angkuh Kepala Sekolah bisa kupatahkan. Keangkuhan seseorang hanya bisa dikalahkan oleh orang yang memiliki kelebihan darinya. Dia takut Tuan akan menghentikan donasi yang diberikan tiap bulan untuk sekolah."
Dia melajukan kembali mobilnya ke jalan raya. Sesekali aku mencuri pandang padanya, aku suka sekali gayanya mengemudikan mobil, sangat manly.
"Donasi? Kakak Ipar berdonasi untuk sekolahku? Berapa banyak?" cerocosku tidak percaya mendengar penuturan Asisten Yan. Gugup yang kurasakan hilang seketika berganti dengan rasa kaget ditambah penasaran.
"Ya. Tuan sangat memahami alur yayasan yang memiliki sekolah dan badan sosial. Mereka sangat bergantung pada donasi dan khususnya sekolah sudah menjadi rahasia umum kalau siswa pemilik donasi terbesar akan lebih diperhatikan. Masalah besarannya berapa, Nona bisa tanyakan langsung pada Tuan ... yang jelas dua kali lipat dari pendonor utama sekarang."
"HAH!"
Mataku melotot lebih tidak percaya, "Tapi kenapa?" cecarku meminta jawaban yang lebih rinci.
"Karena Nyonya pernah sekali mengatakan pada Tuan kalau keberadaan Nona di sekolah masih menjadi buah pikirannya. Tuan tidak ingin ada hal yang membebani pikiran istri kesayangannya, jadi Tuan melakukan ini semua dan itu berhasil membuat Nyonya tidak lagi mengkhawatirkan Nona. Melalui telepon, Kepala Sekolah berjanji akan lebih memperhatikan dan melindungi Nona."
"Wow! Sesayang itu Kakak Ipar pada kakakku? Sampai tidak lagi menghitung uang yang dikeluarkan untuknya." Aku merasa takjub akan kesungguhan seorang lelaki yang berusaha membuktikan cintanya kepada wanita yang dicintai namun pernah disakiti.
"Nyonya adalah wanita satu-satunya yang bisa mempengaruhi suasana hati Tuan Muda Pradipta yang disegani dan terkenal dominan."
"Wah, memang pantas kakakku mendapatkan cinta Kakak Ipar. Syukurlah ... artinya sosok mantan kekasih Kakak Ipar tidak perlu lagi dirisaukan."
Si Pengemudi spontan melihat ke arahku. Pandangan kami bertemu karena untuk kesekian kali aku mencuri pandang padanya, tak ayal rasa gugup yang menghilang kembali hadir menelusup ke dalam hati.
"Oh ya, apa rumah yang dibeli Kakak Ipar sebelumnya adalah milik Keluarga Wijaya?" tanyaku mengalihkan pembicaraan sekaligus pandangan ke arah depan. Bisa dipastikan wajahku memerah terutama pipi.
"Ya. Tahu dari mana kalau rumah itu milik Keluarga Wijaya?"
"Hmmppffhh .. untung bisa kualihkan," batinku lega.
"Hahahaha ... putri kesayangan mereka sangat kesal tidak bisa lagi menempati rumah termewah di kota ini. Ibaratnya sudah jatuh pamor citranya di sekolah," jawabku seraya menyampirkan seluruh rambut panjangku ke sisi kanan, sengaja ... untuk memberi sekat agar wajahku tidak terlihat langsung oleh Si Pengemudi.
"Rambut Nona indah ... Kalau boleh aku memberi saran, sekembalinya ke sekolah nanti tunjukkan siapa diri Nona. Tidak perlu mengkhawatirkan apapun, kasta tertinggi untuk seorang siswi sekarang berada pada Nona."
Nyess.
Aku terpaku menatap jalan yang terus bergulir di depan. Airmataku hampir saja luruh mendengar seuntai kalimat yang terdengar biasa tetapi bagiku itu adalah empati luar biasa tanpa aku minta, tanpa aku cerita.
__ADS_1
Aku tersenyum pahit, tetapi tidak ada salahnya aku mempertimbangkan saran itu. Aku sudah cukup lelah bermain peran dan begitu sangat lelah berpura-pura tidak berdaya saat ditindas. Sekarang aku memiliki kekuatan, meski kekuatan itu dari orang lain, sudah cukup membuatku sanggup melepas wig dan baju manset kemudian menunjukkan siapa diriku, gadis berkulit putih dan berambut panjang hitam legam dengan otak yang bisa diandalkan.
- Bersambung -