
Tidak dipungkiri, wajah Kak Litha jauh lebih sumringah saat ada Kakak Ipar di sisinya. Tetapi yang menjengkelkan aku tidak lagi dia perhatikan.
"Kak, kenapa Kakak tidak suruh Kakak Ipar tidur di hotel saja? Pasti dia tidak biasa tidur di sofa," sungutku begitu kesal.
"Aku tidak bisa melarangnya dia tidur disini. Kamu juga lebih baik tidur di rumah, beberapa hari ini kamu juga pasti tidak terlalu baik berisitirahat, kan?" jawab Kak Litha tenang, tidak terpancing dengan kekesalanku.
"Ayo, Nia. Biarkan kakakmu beristirahat, jangan mengganggunya biar lekas pulih. Kamu tidur di kamar almarhum ibumu, kamarmu dan Litha akan dipakai Ninda selama ia disini." Bibi Rima mengajakku pulang, tapi aku menolaknya.
"Ayo, Nia. Disini ada Tuan Muda yang menjaga kakakmu, kau tidak perlu khawatir." Paman Tino ikut membujukku.
"Justru itu yang aku khawatirkan, kalau ada apa-apa tidak ada yang lihat."
Aku sengaja mengeraskan suara untuk memprovokasi seseorang. Kulirik Kakak Ipar yang sedang duduk di sofa. Benar saja, orang itu terpancing, matanya yang sedari tadi sedang melihat beberapa pekerjaan kantornya di Tab, kini menikam tajam ke arahku.
"Ya ampun, kenapa aku jadi takut dilihati Kakak Ipar? Tatapan matanya menakutkan. Hiiii ...."
Aku bergidik ngeri, tapi Tuan Asisten membisiki sesuatu padanya hingga ia menghela nafas tanpa mengalihkan tatapan tajamnya dariku.
"Kau bisa saja menipu semua orang disini. Bahkan Bibi yang awalnya tidak menyukaimu sekarang malah mendukungmu. Haiisshhhh .... Tapi itu tidak berlaku untukku wahai Tuan Muda! Awas kau buat Kak Litha menangis lagi!" seruku dalam hati lantang.
"Mari saya antar, sekalian saya pamit Nyonya. Besok saya akan kembali lagi," sahut Pak Sas yang diangguki Kak Litha.
"Ayok, ah! Paman dan Bibi lelah, mau istirahat. Ayo kita segera pulang."
Bibi Rima menarik paksa tanganku lagi. Lama-kelamaan tanganku jadi panjang akibat terus-terusan ditarik hari ini.
"BIBI!" jeritku berusaha melepas tarikan di tanganku.
"Ayo, Nin." Paman mengajak Kak Ninda pulang.
Tidak ada yang mendukungku untuk tetap disini malam ini menemani Kak Litha, mau tidak mau aku mengikuti kemauan mereka.
"Kakak, telepon aku kalau ada apa-apa!" teriakku di ambang pintu, "Aku akan segera datang dengan kecepatan cahaya. Jadi, jangan berharap Kakak Ipar membuatmu menangis lagi!" teriakku lebih nyaring, aku yakin suaraku masih bisa di dengar Kak Litha dan suaminya
"Kau ini berisik sekali!" tegur Bibi marah, tapi aku tidak peduli.
...***...
Di rumah Bibi, aku sementara tidur di kamar Ibu. Banyak kenangan disini, suara Ibu yang sering memarahiku membahana memenuhi bathin, tapi lebih sering Ibu menimangku meski aku sudah sebesar ini.
Anak Ibu yang paling kuat, kuat, kuat .... Kalau kuat ingin mengalahkan siapa?
Aku tersenyum mengingatnya.
Kalau kuat ingin mengalahkan siapa? Ingin mengalahkan Fir'auuuun!
Hahahaha .... Apa kau Nabi Musa?
Maksudku orang-orang di jaman sekarang yang seperti Fir'aun, Ibu.
Tidak sampai seperti itu, Sayang ... Kau cukup mengalahkan rasa malas dan takutmu saja.
Tidak, tidak ... Aku akan mengalahkan semua kesedihan Ibu dan kedua kakakku.
Lalu Bibi dan Pamanmu?
Aihh ... Bibi dan Paman suka memarahiku.
Hahahaha ... Meski begitu, merekalah keluarga yang paling peduli dengan kita. Sudah sepantasnya kita membalas budi.
Budi? Tidak. Itu tidak termasuk membalas budi. Aku akan melakukannya karena aku menyayangi mereka. Mereka Ibu dan Ayah keduaku ... walaupun aku sangat kesal kalau mereka mencerewetiku, hahahaha ....
Ah, Vania ... Kau anak Ibu yang berhati seperti kerang.
Kerang?
Ya, kerang. Berkulit tangguh dengan kelembutan di dalamnya, sampai-sampai ancaman pun diubahnya menjadi keindahan.
Untuk kesekian kalinya aku menangis ditinggal Ibu, tetapi aku berikrar kali ini adalah airmataku yang terakhir kalinya jatuh untuk Ibu. Seperti yang dikatakannya, aku adalah putrinya yang paling kuat dan aku akan membuktikannya.
Setelah puas aku menangis dan mengenang Ibu, tenggorokanku terasa sangat kering. Cairan ditubuhku terkuras hebat beberapa hari terakhir ini. Aku menuju ke dapur mengambil air sambil melihat jam dinding, ternyata sudah lewat tengah malam.
"Kak Ninda!" pekikku melihat sahabat kakakku itu terpaku tidak jauh berada di depan pintu kamar Bibi dan Paman ketika membuka pintu kamar.
Kak Ninda langsung meletakkan jari telunjuk di depan bibir mungilnya, tanda agar aku meniadakan suara. Mataku memicing dan menajamkan pendengaran, sayup terdengar suara tangis pilu dari kamar Bibi, seperti raungan yang tertahan.
"Aku tidak menyangka Bibi akan kehilangan Ibu seperti itu. Dia berlagak tegar di depan kami, padahal hatinya juga hancur," kataku setelah menghela nafas dan mengambil air dari dispenser.
"Kelihatannya hubungan Bibi Rima dan ibumu tidak sekedar hubungan kakak dan adik ipar," sahut Kak Ninda di belakangku menunggu aku selesai mengambil air.
"Ya. Bibi dan Ibu sahabat sejak kecil, tidak heran hubungan mereka sangat erat. Pasti rasa kehilangan Bibi tidak jauh berbeda dengan kami, anak-anak Ibu."
__ADS_1
"Makanya Paman Tino dan Bibi Rima menganggap kalian seperti putri mereka sendiri. Rasa sayang mereka hampir menyamai kedua orangtua kalian."
"Umm ... Kak Ninda, apa ada yang kau ketahui tentang rumah tangga Kak Litha?" tanyaku tiba-tiba yang membuat sahabat kakakku itu hampir tersedak.
"Aihh ... Aku juga tidak tahu persis, yang aku tahu bahwa kakakmu dua tiga bulan terakhir tidak dalam keadaan baik. Semoga saja tadi suaminya bersungguh-sungguh meminta maaf dan tidak akan menyakitinya lagi," jawab gadis muda itu sembari menepikan poninya ke samping.
"Ck. Diplomatis sekali jawabannya, tapi tidak dengan bahasa tubuhmu, Kak Ninda. Kau pasti menutupi sesuatu ... Aku yakin kau mengetahuinya," batinku sambil memperhatikan gerak-geriknya.
"Kenapa kau melihatku seperti itu? Aku-- aku benar tidak tahu apapun mengenai kakakmu dan suaminya. Ka-- kalau kau penasaran tanyakan sendiri saja pada orangnya," kata Kak Ninda gugup saat pandangan kami bertemu.
"Ah, sudahlah. Apapun itu semoga Tuan Muda itu benar-benar menyayangi kakakku," pungkasku tersenyum.
"Iya, Nia. Aku juga mendoakannya seperti itu. Litha bagiku tidak hanya sekedar sahabat, dia malaikat penjagaku. Andai saja dia tidak keburu dinikahi Tuan Muda Pradipta, ayah ibuku ingin menjadikan dia salah satu menantu perempuan di keluarga Kusuma. Tapi, kita tidak tahu takdir jodoh akan kemana. Anak dalam kandungan Litha merupakan perekat erat antara dia dan suaminya."
Aku mengernyitkan dahiku. Aku tahu kakakku punya kharisma luar biasa di mata lawan jenis tetapi tidak menyangka kalau orangtua pun juga tertarik dengannya untuk dijadikan menantu. Bagaimana diriku? Aih ... aku iri sekali dengannya.
"Paman, apa Bibi baik-baik saja?" Kak Ninda bertanya ketika Paman menutup pintu kamar.
Paman mengangguk, wajahnya terlihat sedikit terkejut karena tengah malam begini kami masih terjaga dan berkumpul di dapur.
"Bini kenapa, Paman?" tanyaku.
Paman hanya diam, mengambil gelas di rak piring dan berjalan ke arah dispenser untuk mengisinya, ",Bibi kenapa?" tanyaku mengulang kembali.
Dihelanya nafas panjang, "Ya ... mungkin ini waktu tersulit yang harus dilewati bibi kalian, kehilangan belahan jiwanya."
"Uhuk. Belahan jiwa? Belahan jiwa Bibi adalah Paman, bukan Ibu," sanggahku.
"Hehehehe ... belahan jiwa tidak selalu pasangan lawan jenis. Belahan jiwa itu sebenarnya ungkapan untuk orang-orang yang bernilai dalam hidupnya yang jika tiada maka dia akan kehilangan dan tidak ada yang bisa menggantikan," kata Paman meletakkan segelas air putih di atas meja makan.
"Wow! Paman mengartikan belahan jiwa berbeda dari orang kebanyakan. Apa Paman tidak keberatan kalau belahan jiwa Bibi adalah Ibu, lalu Paman?"
"Dasar Bocah! Bagi Paman terlalu sempit kalau mengartikan belahan jiwa kita di dunia ini hanya satu orang dan itu pasangan kita. Sejak mengenal bibimu Paman sadar, tidak ada yang bisa melebihi sayang dan pedulinya dia pada ibumu bahkan dari dirinya sendiri. Sebelum Paman menikahi bibimu, dia mengajukan syarat pernikahan kalau seandainya ada kondisi yang mengharuskan dia memilih antara Paman dan ibumu, Paman harus siap menerima bibimu untuk memilih ibumu. Tetapi Paman tahu pasti tidak ada lelaki yang mengisi di hatinya selain Paman, itu sudah lebih dari cukup."
Aku terperangah mendengarnya, bagaimana bisa posisi seorang kakak ipar sekaligus sahabat lebih tinggi prioritasnya dari suami?
"Apa Ibu juga seperti itu?"
Paman tergelak, "Tidaklah. Belahan jiwa dan cinta sejatinya ibumu hanya ayahmu seorang, begitu juga sebaliknya. Perjuangan cinta mereka hingga menghasilkan ketiga putri cantik adalah hal yang mustahil di dunia ini. Hanya kegigihan dan pengorbanan luar biasa dari keduanya lah yang akhirnya menyatukan mereka."
Mataku terbeliak, selama ini Ayah maupun Ibu, Paman juga Bibi tidak pernah menyinggung masa lalu mereka. Sekarang Paman tanpa sengaja mengatakan hal yang baru aku dengar selama 18 tahun aku bernafas.
"Paman--"
Paman lalu mengambil gelas yang tadi dia letakkan di atas meja dan membawanya masuk ke dalam kamar, mungkin untuk Bibi. Aku merasa ini janggal dan aneh, benar kata Kak Ninda, hubungan antara Ibu dan Bibi Rima tidak sesederhana yang kupikir selama ini.
...***...
Keesokan hari, aku dan Kak Ninda ke rumah sakit menjenguk Kak Litha. Bibi dan Paman tidak ikut, kata Paman, Bibi masih bersedih dan butuh waktu untuk merelakan kepergian Ibu karena selama ini Bibi menahan segala perasaan hancurnya demi kakakku.
"Hhhhhh ... hari belum siang sudah ada tawon," ujar kakak iparku begitu membuka pintu kamar, entah tadi dia dimana saat kami datang.
"Tawon? Di kamar VIP ini ada tawon?" tanya Kak Ninda bingung.
"Itu aku yang dimaksud, Kak Ninda," jawabku dalam hati.
"Adalah hal yang wajar jika ada tawon menjaga bunga yang memiliki nektar terbaik. Jangan sampai dipetik dengan serampangan oleh manusia berhati congkak."
"Nia!" sentak Kak Litha, mencoba menghentikan sindiranku untuk suaminya.
"Manusia itu bisa dengan mudah menepuk tawon sampai mati, seharusnya tawon jangan terlalu berisik dan mengganggu manusia," balas Tuan Muda angkuh itu.
Jelas dia memancing emosiku, dan dia berhasil, "Belum tahu saja, Si Tawon akan menyengatnya terlebih dulu," sengitku mengepalkan tangan.
"Heh, sengatan tawon tidak mampu mematikan manusia, tapi nyawa tawon itu sudah dipertaruhkan jika menyengat."
"Mas, hentikan! Dia adik iparmu ... Kau juga Nia! Hormati kakak iparmu. Kalian berdua seperti bocah." Kak Litha memperingati kami berdua.
Pandangan Kak Ninda takjub melihatku karena berani menyinggung keangkuhan kakak Tuan Muda.
"Sayang, kenapa adikmu tidak semanis dirimu, sih?"
Lembut sekali Kakak Ipar berkata pada Kak Litha, jauh berbeda ketika dia mendebatku. Tapi tunggu ... Sepertinya aku mendengar mereka sudah menyebut satu sama lain dengan panggilan khusus.
"Kak Litha memanggil Kakak Ipar, Mas? Itu kan seperti Ibu memanggil Ayah," protesku tidak terima melihat kakakku dan suaminya terlihat mesra.
"Kan, memang kakak iparmu suami Kakak, Nia."
Jawaban Kak Litha membuat Tuan Muda itu jumawa dengan mimik mengejekku. Aarrrgghh ... Aku kesal sekali, Kak Litha lebih memilih membela suami yang jelas-jelas kemarin sudah menyakiti dirinya sampai nyaris kehilangan anaknya. Sekarang apa? Entah bagaimana Kakak Ipar membujuk Kak Litha hingga hatinya luluh.
"Haisshh ... " sungutku.
__ADS_1
Lelaki itu kemudian duduk di sofa, nampak sangat puas ketika dibela istrinya sehingga dia sudah tidak peduli denganku lagi dan sekarang perhatiannya teralihkan pada ponsel yang digenggamnya.
"Bibi kok tumben gak ikut, Nia?" tanya Kak Litha.
Aku diam, Kak Ninda yang menjawab, "Tha, Bibi semalaman menangis hebat, terdengar sangat sedih sekali. Kami bingung Bibi kenapa, begitu melihat Paman keluar mengambilkan Bibi air minum di dapur, kami bertanya pada Paman. Awalnya Paman diam saja, tapi karena kami memaksa, Paman bilang Bibi sangat kehilangan ibumu."
Kak Litha terdiam, aku yakin pikirannya pasti sama dengan apa yang kupikirkan tadi malam hingga membuatku tidak bisa tidur selepas kembali dari dapur.
"Ada yang kamu ketahui?" Kak Litha bertanya padaku tapi aku hanya menggelengkan kepala.
"Ibu dan Bibi sama misteriusnya. Kita tidak pernah tahu keluarga Ibu dan Bibi, hanya keluarga besar Ayah dan Paman saja yang mulutnya juga besar," selorohku.
"Hushhh ... Bagaimanapun hanya mereka yang kita kenal sebagai keluarga," sahut Kak Litha.
"Kalau aku, mending gak punya keluarga daripada diomongin di belakang, mana pedes-pedes lagi. Coba saat pemakaman Kakak Ipar datang, mereka tidak mungkin bergunjing begitu, yang ada mereka akan cari muka di depan Kakak Ipar sama seperti waktu Kak Litha menikah."
"Nia ... gak usah diungkit-ungkit lagi yang kemaren. Mereka punya mulut untuk bicara dan kita gak bisa menutup mulut mereka, yang bisa kita lakukan menutup telinga kita sendiri." Kak Litha menasehatiku.
Aku tahu dia pasti tidak enak pada suaminya karena aku terus-terusan menyindir. Tapi yang kulakukan bertujuan supaya mata suaminya terbuka akan apa yang dialami kami kemarin.
"Pinter ngomong kamu, Tha, buktinya kamu juga sakit hati sama rumormu di kampus, kan?" timpal Kak Ninda.
"Hahahaha ... Kak, sahabatmu juga gemas melihatmu selalu membela Kakak Ipar. Lanjutkan Kak Ninda! Kita satukan kekuatan untuk menghancurkan kesombongan Tuan Muda hingga dia bertekuk lutut menyadari kesalahannya."
"Aissshhh ... itu kan beda, Nin. Ah, sudahlah, tidak usah membahas mereka semua. Nia kapan kamu kembali ke asrama? Kamu juga Nin, kapan balik ke ibukota?" Kak Litha mengalihkan topik pembicaraan.
"Setelah Kakak sehat dan keluar dari rumah sakit." jawabku sedikit sebal, lagi-lagi Kak Litha membela suaminya.
"Sama," sahut Ninda.
"Aih ... gagal sudah misi penghancuran kesombongan Tuan Muda karena ada Dewi Athena yang penuh belas kasih mengampuni dosa-dosanya. Kasihan sekali kamu, Ponakan ... ditakdirkan harus memiliki seorang ayah yang angkuh. Tapi tenang ... ada bibimu yang tulus menyayangimu tanpa syarat," rutukku dalam hati.
Tok. Tok. Tok.
Pintu kamar dibuka, muncullah seseorang yang pernah membuatku berdesir tanpa sebab. Laki-laki yang akrab disapa dengan sebutan Asisten Yan memberi hormat. Kemudian Kakak Ipar bangkit dan menghampiri pembaringan istrinya.
"Aku pergi dulu, ada yang harus ku urus. Istirahatlah dan makan yang banyak. Kalau tawon itu masih berisik dan mengganggu panggil saja Pak Sas yang berjaga di depan kamar untuk mengusirnya."
"Mas, jangan begitu," protes Kak Litha tapi sambil tersenyum, sedikit manja
"Hikss ... Kakakku telah melupakanku setelah dibujuk rayu lelaki! Dia tidak tulus membelaku seperti membela suaminya tadi. Dasar Kakak Ipar sialan! Awas kau, tunggu pembalasanku!"
"Jangan mengumpatku dalam hati! Biasanya kau cukup berani mengatakannya langsung di depanku," ujar Kakak Ipar berlalu, tidak peduli reaksiku yang sudah sangat geregetan.
"Kak Litha ...." aduku merengek meminta dukungan.
"Lain kali kau jangan berkata dalam hati di dekatnya. Kuberi tahu satu rahasia ... Suami Kakak itu Alien. Kakak saja tidak berani mengumpatnya dalam hati." kekeh Kak Litha.
"Alien? Oh Tuhan ... cepat sekali, Kak, hatimu berubah dari yang tersakiti menjadi seorang budak cinta."
Pppffftttt ....
Kak Ninda dan Asisten Yan menahan tawa sedangkan Kakak Ipar hanya tersenyum mendengarnya sebelum ia keluar.
Tidak menunggu lama aku juga pamit keluar, "Kak aku keluar sebentar."
.
.
.
"Kakak Ipar, tunggu!" teriakku berlari menyusulnya di koridor rumah sakit.
Langkahnya berhenti juga asistennya. "Kenapa?" tanya acuh tak acuh.
"Aku sangat marah dan kesal padamu!" tudingku to the point begitu berhadapan dengan jarak sekitar satu meter.
"Hah! Apa!"
"Ya, karena Kakak Ipar, kakakku jadi begini. Aku tidak tahu apa yang terjadi diantara kalian, yang jelas Kakak Ipar sebagai suami sudah menelantarkan kakakku dan itu melanggar janji pernikahan kalian."
"KAU! Kuharap kau tahu apa yang kau bicarakan, hah!" geramnya dengan amarah yang ditahan.
Sebenarnya nyaliku ciut, auranya tidak bisa dianggap remeh apalagi dalam keadaan marah, tentu saja menakutkan. Tapi mau bagaimana lagi aku harus membela kakakku. Suami kakakku harus tahu, meski istrinya tidak berayah juga tidak lagi beribu, tapi masih beradik yang cukup kuat melindunginya. Sekuat tenaga aku menahan tubuh yang gemetaran agar tidak nampak takut di depan musuh.
"Ray, dia adik iparmu."
Jleb.
Suara Asisten Yan yang tenang berusaha mendinginkan panasnya ego Kakak Ipar membuatku kembali berdesir seperti dua tahun lalu. Kutundukkan wajah ini ... bersembunyi agar kemerahan yang muncul di terangnya kulit tidak terlihat olehnya.
__ADS_1
- Bersambung -