
Aku tidak bisa kehilangannya!
Aku mengejar menyebrangi jalan dengan langkah lebih cepat darinya. Airmata sudah membludak di kantong mata.
Bibi ....
Bibi ... Jangan pergi lagi!
Batinku selalu memanggil nama Bibi sampai– tersadar kalau aku sudah kehilangannya. Badanku mematung meluruhkan airmata, menyesali kaki yang begitu lambat menuntun perintah otak. Aaarrrgghhh ... antara marah, sedih, kecewa melebur jadi satu mengoyak-ngoyak perasaanku.
Tiba-tiba refleks mataku membulat karena aliran nafas yang seketika tersendat.
"Hhmmppffhh ... hmmmpppffhhh ...."
Mulutku dibekap dan diseret ke sebuah gang sepi. Perasaanku tengah kacau sehingga membuatku lengah dan tidak sempat melawan.
"Diam! Ini Bibi!" desisnya membuat mataku yang sebelumnya sudah membulat makin melebarkan diameternya, kaget bercampur senang.
Aku berbalik, nampak wajahnya yang semakin tirus dan gelap, "Bibi!" pekikku memeluknya erat.
"Psst! Jangan terlalu keras bersuara," tegurnya berbisik.
"Bi– bi ...." suaraku bergetar saking rindunya.
Dia meregangkan pelukanku, lalu tangan tuanya mengusap airmata di pipi, "Bibi sangat rindu dengan kalian. Kabar kalian semua baik, kan?"
Aku mengangguk-angguk, "Sangat baik."
"Syukurlah," ucapnya lega, "Kenapa kau mengikuti Bibi? Padahal Bibi sudah berupaya sebaik mungkin menutupi diri agar tidak ada yang mengenali."
"Cara berjalan yang cepat dan kadang-kadang sedikit berjinjit hanya milik bibiku seorang," jawabku sok tahu.
"Lain kali tidak boleh begini, meskipun kau tahu itu Bibi, jangan lagi coba untuk mengejarnya." Suaranya di tekan memperingatiku serius.
"Kenapa?" tanyaku polos.
"Tidak boleh saja– pokoknya jangan!"
"Bibi takut identitas kami diketahui Kerajaan Sungai Bulan?"
Mata Bibi Rima terbelalak maksimal hingga nyaris bola matanya keluar.
"KAU!"
Suara Bibi tercekat di tenggorokan hingga menampakkan urat-urat di kulit leher tuanya.
"Aku tahu."
"Tuan Muda yang memberitahumu?"
Aku menggeleng dan menaikkan sudut bibir kiriku ke atas, "Lupa dengan keahlianku menguping?"
"Dasar anak ini! Kapan kau berubah! Anak nakal!"
Dia memukul bokongku berkali-kali. Sakit? Tentu saja karena dia memukuliku sekuat tenaga tapi entah kenapa aku sangat menikmatinya kali ini bahkan aku tidak ingin menghentikannya.
"Seberapa banyak yang kau tahu?" tanyanya pasrah setelah memijati tangannya sendiri yang pegal karena memukuliku.
"Semuanya, bahkan aku mencari tahu lebih banyak sendiri dan–"
Kalimatku terhenti melihat reaksi terkejut Bibi Rima yang tidak percaya padaku.
"Bibi, aku sudah besar– sudah bisa menyimpan rahasia dengan baik. Hanya aku dan Kakak Ipar yang tahu."
Wanita paruh baya itu terduduk lemas di lantai, bersandar pada tembok yang catnya sudah banyak terkelupas, matanya menerawang, "Beruntung kalian bisa berlindung di balik nama keluarga Tuan Muda, terutama kakakmu. Bagaimana keadaan Tisha?"
"Kak Tisha sudah sembuh. Kakak Ipar memberi kompensasi besar pada RS Dharma Yasa agar identitas dan riwayat pengobatan Kak Tisha dimusnahkan. Satu-satunya file yang tersisa disimpan di tempat penyimpanan pribadi Keluarga Pradipta, tidak akan ada yang tahu. Jejaknya dikaburkan dan sekarang dia berada di Irvine menjalani kehidupan yang diinginkannya dengan tetap dalam penjagaan anak buah Kakak Ipar yang tersembunyi disana."
Bibi Rima menutup kelopak matanya, menghela nafas dengan meremas kedua tangannya yang saling bertaut, "Syukurlah, setidaknya dia tidak terlacak. Tinggal kau, Nia. Jangan bepergian seorang diri, meski saat ini kau bukan target utama tapi tidak berarti kau terbebas dari pantauan mereka," ucapnya getir.
__ADS_1
"Kakak Ipar sengaja mengangkatku sebagai adiknya dan menyematkan nama Pradipta agar publik tidak tahu kalau aku sebenarnya adik dari istrinya," sanggahku.
Bibi Rima menggeleng, "Kau kira mereka tidak mencari tahu bagaimana kehidupan ibumu selama ini?"
Aku terdiam, membenarkan apa yang dikatakan bibiku. Pikiranku terbang kemana-mana, untuk sesaat kami tidak berbicara satu sama lain. Entah apa yang dipikirkan Bibi tapi firasatku mengatakan hal tersebut pasti memiliki benang merah dengan kejadian Kak Litha diikuti orang tidak dikenal beberapa waktu lalu dan mereka aku yakini adalah orang suruhan dari Kerajaan Sungai Bulan.
Hening.
"Bibi kemana saja selama ini? Kenapa tidak pernah menghubungi kami? Paman dimana? Ah, banyak sekali yang ingin aku tanyakan ke Bibi," tanyaku mengalihkan topik pembicaraan untuk memecah kesunyian diantara kami.
"Bibi ingin sekali melihat cucu Bibi, dari berita yang Bibi dengar dia laki-laki. Pasti tampan dan lucu."
Airmataku tiba-tiba jatuh, cepat-cepat aku menghapusnya, "Ponselku ketinggalan di mobil. Padahal setiap momen perkembangan Zean aku rekam. Fotonya pun lebih banyak daripada foto selfiku."
Ah, aku sangat menyesal tidak bisa memperlihatkan betapa menggemaskan putra Kak Litha pada sosok pengganti ibuku ini.
Bibi Rima tersenyum, "Namanya Zean? Di berita hanya disebutkan Tuan Muda Pradipta memiliki putra."
"Ya, Zeandra Putra Pradipta namanya, Bi. Semua di rumah utama menyayanginya. Beberapa hari lagi dia akan berulangtahun yang kedua."
"Tidak terasa dua tahun Bibi tidak pernah melihat kalian semua." Dia tersenyum hambar, melucuti kungkungan perasaannya sendiri.
"Bibi tidak ingin ke rumah dan melihatnya?"
Bibi menggeleng cepat, "Selagi dia aman dan sehat itu sudah sangat cukup buat Bibi."
"Bibi ...."
"Ya."
"Aku sudah bertunangan."
Dia berdiri dengan mata yang sangat terbuka lebar, "Dengan siapa?"
"Asisten Yan."
"Asisten Yan?" tanyanya lebih terkejut dari mendengarku telah bertunangan, "Asisten Tuan Muda?" tanyanya lagi meyakinkan.
"Tapi– kenapa?"
Raut wajahnya yang sedih langsung berubah kaget dan penuh pertanyaan.
"Aku menyukainya."
"HAH!"
Bibi langsung menutup mulutnya sendiri karena tidak sadar meninggikan volume suaranya, "Sejak kapan kau menyukainya? Bukannya kau selalu bilang kalau dia itu tua?"
"Tidak tahu. Aku merasa nyaman dan aman saja kalau berada di dekatnya, sama seperti aku berada di dekat Ayah atau Kakak Ipar. Terlepas sikapnya yang kadang sangat menjengkelkan, dia sabar dan penyayang– seperti Ayah."
Bibi Rima memaksakan senyumnya, "Kau kehilangan ayahmu saat kau masih membutuhkan sosoknya. Tidak disangka lukamu karena kehilangan ayah bisa ditutupi oleh Asisten Yan. Tapi kenapa Tuan Muda meminta kalian bertunangan? Kau mengadu padanya ya? atau jangan-jangan kau yang memintanya sendiri pada kakak iparmu? Dasar genit! Apa kau sudah kebelet pengen kawin, hah!"
Ditepuknya bahuku dengan keras, "Duh, Bibi sembarangan! Bukan aku yang minta! Kakak Ipar khawatir kalau sahabatnya terkena kutukan wanita Suku Ragnaya dan entah darimana dia juga tahu kalau aku menyukainya."
"Khawatir dengan kutukan wanita Suku Ragnaya?"
"Dia mencuri ciuman pertamaku, Bibi! Sama halnya dengan Kakak Ipar yang mencuri ciuman pertamanya Kak Litha."
"Oh Tuhan!"
Bibi Rima syok dan tersandar pada tembok di belakangnya, "Kalian gila!"
"Bibi!"
"Lihat! Wajahmu memerah," tunjuknya membuatku malu, "Kau senang dia menciummu, kan?"
"Tidak!" sahutku tegas.
"Kenapa? Bukankah kau menyukainya?"
__ADS_1
"Ya, aku menyukainya tapi aku juga tidak bisa memungkiri bahwa aku bukan seorang wanita dalam hatinya. Baginya aku hanyalah seorang adik perempuan."
Bibi Rima memijit-mijit kepalanya yang mendadak pening, "Lalu kenapa dia menciummu, Nia? Hhhh ... Bibi sudah tidak bisa berkata-kata lagi."
"Bibi!" rajukku manja.
Shinayang ibuku ini menghela nafas, "Andaikan Bibi bisa selalu berada di sampingmu, Nak ... Tentu Bibi akan menentang pertunangan kalian saat itu."
"Kenapa?"
"Karena kau sendiri tidak tahu dengan keadaanmu!" jawab Bibi sedikit emosi.
"Maksudnya?"
"Kau memang tumbuh lebih cepat dewasa dari teman-teman sebayamu, tapi tumbuh lebih cepat bukan berarti kau juga bisa cepat mengambil keputusan. Kau kehilangan ayahmu lalu menemukan sosoknya pada Asisten Yan. Kemudian kau sendiri yang mengatakan bahwa dia hanya menganggapmu adik, bukan seorang wanita dalam hatinya. Lalu kenapa dia bisa menciummu hingga kakak iparmu khawatir dia akan terkena kutukan. Apa kau bisa menjelaskan semua ini?"
Aku diam, berusaha mengurai semua kalimat Bibi yang menyudutkanku.
"Ini semua membingungkan, Nia. Bahkan kau sendiri juga masih bingung dengan apa yang terjadi dengan dirimu. Jangan mengambil keputusan sebelum kau yakin dengan dirimu dan dirinya karena–"
Bibi mengelus kedua bahuku, "Karena nantinya kau yang akan terluka jika ternyata keputusanmu keliru. Lindungi hatimu, Nak. Jadilah kuat dengan upayamu sendiri."
"Bibi kenapa berkata seperti itu?" Kedua tangannya terlepas dari bahuku setelah mendengar protes dariku. "Pada akhirnya Kakak Ipar dan Kak Litha bisa saling mencintai padahal hubungan mereka diawali dengan kejadian yang sama denganku?"
"Kita tidak bisa menyamakan akhir cerita kita dengan cerita orang lain meski diawali dengan paragraf yang sama. Setiap kisah memiliki takdirnya masing-masing, Nia."
Bibi menggenggam kedua tanganku dengan kedua tangannya sembari menatap manikku, "Bibi menentang pertunangan kalian hanya karena ingin kau lebih memikirkannya lagi. Pikirkan sebelum memutuskan sesuatu. Selama tidak ada keraguan di dalamnya, Bibi akan selalu mendukungmu."
Syuuuhhhh ....
Serasa ada angin yang bertiup hangat memenuhi rongga dadaku. Walaupun tidak melegakan namun angin itu dapat membuka cakrawala berpikirku untuk melihat dan menimbang kembali semua kegalauan yang menghinggapi akhir-akhir ini.
"Aku yakin kalau aku menyukainya."
"Bagaimana dengannya?"
Ck. Aku berdecak sebal.
"Nia, jangan mengemis cinta pada orang yang tidak mencintaimu apalagi memanfaatkan kutukan wanita Suku Ragnaya. Ingat! Kutukan itu ada untuk melindungi bukan memenuhi hasrat pribadi."
"Ishh ... Dia yang menciumku dengan paksa, kok."
Bibi Rima menghela nafasnya untuk kesekian kali, "Mendekatlah ke Litha karena dia pengganti ayah ibumu yang telah pergi– jangan menemukan figur mereka pada orang lain. Kau boleh menyukainya tetapi sebagai dirinya bukan seperti melihat sosok ayahmu padanya."
"..."
"Urusan ciuman, jangan terlalu dipikirkan. Benar adanya atau tidak hanya Tuhan yang tahu sebab kita hidup ratusan tahun setelah leluhur yang menciptakan mitos tersebut. Manusia sejatinya hanya membenarkan apa yang diyakininya."
Nasehat Bibi menamparku, meski dia dibesarkan dengan tradisi asli Suku Ragnaya dia masih bisa berpikir dengan rasional, tidak semata-mata percaya 100% akan sebuah kepercayaan turun-temurun yang bisa benar bisa juga tidak. Selain itu seharusnya aku menggenggam erat kakak kandungku di saat aku merindukan orangtua yang telah tiada, bukannya malah mencari figurnya di sosok orang lain apalagi sampai ingin mengikatnya.
"Bibi tidak bisa lama-lama. Kembalilah ... Jaga diri baik-baik dan dukung setiap langkah Tuan Muda untuk melindungi kakakmu. Hanya dia yang bisa kita harapkan," ucap Bibi ingin mengakhiri pertemuan singkat kami dengan sedikit tergesa.
"Bi, Paman?" tanyaku tersadar jika keberadaan Paman Tino tidak disinggung sama sekali dari tadi.
"Engg ... Dia pasti bahagia melihatmu, Litha dan Tisha dalam keadaan baik. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya."
"Tapi–"
Kalimatku menggantung seiring mendengar derap langkah menuju ke arah kami.
"Nia, kita harus berpisah sekarang dan kembalilah segera ke tempatmu ... Bibi menyayangi kalian semua, jaga dirimu dan tetaplah hidup."
Bibi Rima memelukku lalu membalikkan tubuhnya menjauh dariku. Semua terjadi secepat kilat tanpa sempat aku mengucap salam perpisahan bahkan sekedar membalas pelukannya– pelukan yang akan selalu aku rindukan.
Aku mematung, menangisi kepergian bibiku tersayang di depan mata sendiri hingga bayangannya lenyap di antara sempitnya tembok-tembok tinggi yang lembab.
Jaga dirimu dan tetaplah hidup.
Aku terkesiap mengingat pesan terakhir Bibi Rima, menyadari ada orang yang mengarah dan semakin dekat denganku. Aku langsung bersembunyi di balik celah dinding yang bisa memuat badanku lalu bersiaga menyerang siapapun yang muncul nantinya.
__ADS_1
Ya, aku harus tetap hidup. Apapun yang terjadi aku akan menjaga diriku dan tetap hidup untuk memastikan keluargaku dalam kondisi baik.
- Bersambung -