Kepingan Jingga

Kepingan Jingga
BERUSAHA UNTUK PULIH


__ADS_3

"Cieee! Jadian nih?!"


"Anak papa udah main pacar-pacaran!" colek-colek sambalado Damar di lengan Ganis.


Ledekan Damar, hanya dibalas cebikan saja oleh Ganis, gadis itu meniup helaian rambut yang menjuntai menghalangi sampai ke sudut mata, apakah setelah ini masalah akan datang silih berganti untuknya?


"Bukan lagi pacaran Mar, mereka udah halal juga!" bisik Rindu sangat pelan, tak mau membangunkan gorilla yang lagi pms, ia duduk di bangkunya samping Ganis.


"So, kapan jadian?" senyum Rindu lebar, biasanya yang begini ada udang dibalik kulit dimsum. Mata Ganis memicing, tak ingin membahas hal itu, karena seingatnya ia tak menjawab apapun atas pertanyaan Wira semalam.


"Ga tau," Damar bukan lagi terkejut, ia jadi sanksi..sebenarnya Ganis tau apa tidak arti dari sebuah hubungan?


"Loh, kok bisa ngga tau, ini gimana ceritanya si?!" alis Rindu kaya lagi liatin mermaid jumpalitan di paud, bingung, heran, dan awkward lah pokoknya. Ia tak tau harus menjabarkannya seperti apa melihat hubungan ga jelas Ganis dan Wira, se-engga jelas gender virus covid, tau-tau sudah berkembang saja jadi banyak.


Baru saja dipikirkan, saat waktu istirahat tiba Rindu kembali dibuat bingung oleh tingkah kedua makhluk beda bumi berpijak ini. Wira mendatangi kelasnya, tanpa teman-teman lain yang biasanya ngikut kaya si snow white and seven dwarf.


"Udah jam istirahat, kenapa ngga ke kantin?" Wira bersidekap lalu melirik arloji di tangannya, "biasanya jam segini udah ngedar cari jajanan?" rupanya sejak tadi Wira menunggu Ganis ke luar dari kelas, tapi sudah hampir separuh waktu istirahat ia tak melihat batang hidung gadis ini keluar dari kelas. Ganis melepaskan headset yang dipakai dan mendongak saat merasakan aura aura dingin menusuk kalbu.


"Dipikir apa ngedar, nar koba gitu?!" ketusnya.


Ganis mendongak malas, "belum laper, lagi males, makanannya bosenin itu-itu aja, ga ada yang aneh!" alasannya. Macam-macam saja gadis ini, sifat manjanya lagi kambuh.


"Aku kasih waktu 5 menit buat berdiri, mau aku temenin atau bareng sama temen-temen kamu?" tapi gadis ini tak menggubris, sepertinya Ganis akan memasuki fase menstruasinya, ia merasa tak enak perut dan bawaannya emosi. Ganis malah kembali menyumpalkan headset di kupingnya.


"Kamu kalo mau makan, makan aja! Aku entar," jawab Ganis secara tak langsung mengusir Wira dari kelasnya.


"5 menit udah berlalu," ucap Wira menghitungnya, ia menggeser meja dengan gampangnya dan sekali hentakan saja, Ganis sudah berada ke atas pundaknya.


"Ehhh! Nata! Turunin ih malu-maluin !!" Wira membawanya keluar dari kelas tak peduli dengan tatapan dan seruan dari seluruh penjuru sekolah, seperti semua orang disini hanyalah daun-daun berguguran yang menyapa lalu menghilang.


"Ini, mereka beneran ada hubungan engga sih?! Ko gue pesimis sih?!" bukan cuma Rindu saja, tapi murid-murid yang ada di sekitar mereka pun terheran-heran melihat Ganis.


Sementara Damar sudah tertawa-tawa geli melihatnya, Rindu menyenggol siku Damar, "tolongin jangan?!"


"Ngga usah lah! Biarin aja, selama ngga maen bunuh-bunuhan nggak apa-apa!"


"Oyyy! Ihh Nata!!!" Ganis dipanggul layaknya galon isi ulang menuju kantin, tangannya memukul-mukul punggung Wira, mungkin sebagian murid hanya bisa mengelus dada, mengiba nasib Ganis yang menjadi bahan rujakan si begundal sekolah ini. Padahal tanpa mereka tau ini adalah bentuk sayang Wira untuk Ganis, yang tak mau makan saat istirahat.


Rambut panjang Ganis melambai-lambai ikut bergoyang, "Nata turunin ih!"


"Denger nggak?! Itu hape Ganis tadi jatoh di kelas!!!" teriak Ganis menjambak rambut Wira, kalau Wira berfikir Ganis akan diam saja dan menerima sikap bosynya maka Wira salah. Dia, Rengganis Kamania, si gadis yang tak takut oleh Wira sekalipun.


"Ganis!" langkah Wira terhenti demi merasakan rambutnya tertarik oleh cengkraman tangan Ganis.


"Ya makanya turunin!!!"


"Itu salah kamu sendiri, tadi udah ku kasih kesempatan tapi kamu malah kaya nantangin!"


"Iya--iya turunin dulu, ga usah dipanggul-panggul gini, kaya kardus mie sumbangan bencana aja!" omelnya.


Ganis akhirnya mau, tapi rasanya seperti makan di bilik penjara, diawasin segala. Tak seperti kemarin saat di rumah Wira.


"Ini acara kompetisi mukbang bukan sih? Ko rasanya kaya lagi dinilai gituh!" keluhnya mengomel-ngomel.


"Sok dimakan," Wira ikut makan semangkuk mie ayam di depan Ganis. Sementara Ganis mengedarkan pandangannya ke sekeliling kantin, dimana siswa yang lain senyam-senyum kamvrett melihat keduanya.


"Aneh, jangan disini ah! Ko hawanya ga enak gini diliatin orang-orang," Ganis sudah akan beranjak dari duduknya, tapi Wira menahan tangannya.

__ADS_1


"Duduk, ga usah kebanyakan alesan. Ujung-ujungnya itu mie kebuang," Wira tau kebiasaan Ganis seperti apa setiap harinya.


Bibirnya mengerucut seperti topi ultah, Ganis kembali duduk ia ingin cepat-cepat mengakhiri acara makan ini. Tapi jika dipikir-pikir ia lapar juga, jangan sebut ia Rengganis jika menghabiskan mie satu mangkuk di bawah tekanan bendera penjajah ia tak bisa.


"Oke!" Ganis menghela nafas dan mengusap kedua telapak tangannya.


"Anggap Ganis lagi makan di bawah tekanan Jepang!"


Ganis meraih sendok dan sumpit, lalu dengan tenaga kuda ia menyeruput mie dan mengunyahnya.


Pipi gembilnya semakin menggemaskan ketika tiap helaian mie masuk ke dalam mulut dan ia mengunyahnya.


"Mau nambah?"


Ganis menggeleng, "Ganis lagi ga enak perut, Nat.."


"Kenapa, salah makan?"


"Enggak, kayanya udah waktunya dateng bulan!"


"Akhiww! Makan nggak ajak-ajak ih!" rupanya teman-teman Wira menyusul ke kantin, Suci cs juga baru masuk ke lain meja, menatap sinis pada Ganis.


"Cewek kamu datang! Ganis ke kelas dulu," Ganis bangkit dari duduknya.


"Kemana atuh Nis, meni cepet balik. Nggak pengen berantem lagi sama aa?" goda Reza.


"Buru Ci!" melihat Ganis keluar dari kantin tanpa Wira, Suci cs segera mengejarnya.


"Eh pelakor!" teriak Yola.


Ganis diam saja tak menggubris, lagian manggil pelakor, ya jelas Ganis tak merasa.


Ganis berbalik, ia cukup tenang untuk ukuran gadis yang akan dikeroyok.


"Saya?" Ganis menunjuk dirinya.


Aneu mendengus, "saya.." cibirnya.


"Ga usah so Indo, beneran kamu teh jadian sama Wira?" tanya sengak seperti aroma cabe kering.


"Kata siapa?"


"Tadi kata Wira be*go! Jangan belaga so polos lah, kita tau modelan cewek kaya lu mah polos-polos bahaya nyingg!" Ganis terlihat dipojokan, jadi ini yang namanya tindakan bullying. Tindakan begini yang harus dihapus di negri ini, sikap yang ga pantes di contoh oleh junior.


Ganis menghitung sudah berapa kali mereka mengumpatinya dengan sumpah serapah.


Dia mendengus tertawa sebal, "apa cuma ini yang bisa kalian lakuin buat dikenal orang? Seolah-olah kalian lah yang paling kuat, biar apa? Ngerendahin harga diri seorang perempuan dikasih secara cuma-cuma biar dapet koneksi sama anak-anak nakal dan dapet backingan? Biar apa?! Biar dikata keren, berpengalaman atau biar dideketin sama cowok-cowok?!"


"Kalian bilang Ganis be*go? Lebih be*go mana sama nempel-nempelin aset badan ke cowok yang belum tentu respect dan hargain martabat kita? Kasih badan sana sini cuma buat dapet kata makasih dan julukan cewek murah?! Menyedihkan!"


Kepalan tangan Suci, Yola, Aneu, dan Titi sampai bergetar, karena pada kenyataannya apa yang dikatakan Ganis memang fakta, dan mungkin mereka malu akan itu, sebuah aib yang jika dijabarkan di depan muka sendiri. Suci hendak menjambak Ganis, tapi Ganis menepis tangan Suci kasar dan memelototinya.


"Dan sekali lagi, liat wajah Ganis! Apa menurut kalian ini manusia atau hewan yang suka menggonggong?!" tegasnya mendongakkan wajah.


"Kalo masalah pertanyaan pertama, kenapa ngga tanya sama orangnya aja, kan Wira yang bilang bukan Ganis."


"Bank sadh!" Ganis tak sekalipun terjengkat dengan teriakan mereka, mungkin karena dulu ia pernah merasakan hal semacam ini, dibentak orang lain.

__ADS_1


Ganis berseru menampilkan wajah so polosnya, " oh! Ganis tau, kamu takut sama Wira? Sini Ganis temenin!" Ganis mencengkram pergelangan tangan Suci dan berniat mengajaknya ke kantin. Sontak saja mereka takut.


"Eh, Lepasin Ganis!" Aneu, Yola dan Titi membantu melepaskan tangan Ganis dari Suci, tapi percuma karena tenaga Ganis cukup besar juga.


"Ndu!!! Damar!!! Bantuin Ganis!" teriak Ganis melihat kedua temannya.


"Eh!"


Rindu dan Damar langsung menghampiri, "kenapa ini?"


"Ndu, Mar..ini si Ganis gaje pake narik-narik gua!" ujar Suci diangguki ketiganya.


"Hih, ngomong doang yang kasar pake guguk dan teman-temannya. Giliran suruh nanya sendiri takut, Wira juga manusia, makan nasi ngapain harus takut!" Ganis terlihat kepayahan menarik Suci, karena sejak tadi gadis ini berontak. Rindu mengerti apa yang terjadi, langsung membantu Ganis sementara Damar malah diam tak tau harus bagaimana, "aduhhh, ini kenapa jadi main tarik tambang begini?!"


"Ini ada apa?"


Wira keluar bersama yang lain, mendapati kerumunan rusuh ini lagi asyik tarik tangan.


"Nah! Kebetulan orangnya ada!" Seru Ganis terlihat paling senang diantara mereka semua, sementara Suci dan cs sudah menelan saliva berat sejak tadi.


"Nih, ada yang mau nanya tapi kayanya takut sama kamu! Makanya kalo makan, jangan makan beling, orang-orang kan jadi pada takut, Nata ck--ck.." ucapnya menggelengkan kepala.


Wira menghembuskan nafas lelah disamakan dengan kuda lumping oleh Ganis, "tanya apa?" Ganis memang pawang Wira yang sebenarnya.


"Tuh, ditanya. Giliran ditanya sama Wira-nya aja kamu diem, tadi pake acara nyolot, Ganis aja yang be*go berani. Yang katanya Ganis anyinggg kan, tapi ngga takut sama modelan Nata. Lah kamu yang manusia sempurna malah kaya batu!"


Rindu sampai melongo, rupanya itu yang terjadi.


"Dia sebut kamu anyyinggg? Sebut kamu be*go?" tanya Wira.


"Ga perlu lagi dijelasin kan? Kamu yang bilang kita pacaran. Sekarang kamu juga yang jelasin sama istri kamu, plus selir kamu ini," tekan Ganis pada kata istri menunjuk Yola dan Suci.


"Antek-antek kamu ini, kalo Ganis ga pernah coba rebut siapapun dari siapapun, atau apa tadi bahasanya kalian panggil Ganis?" tatapan Ganis menyiratkan ia mulai tersinggung dan terusik dengan perlakuan orang sekitar Wira.


"Pelakor ya kalo ngga salah atau bank sadh yah tadi, bank sadh tuh maling kan?!" tatapnya datar.


"Ndu, hape aku diamanin ngga tadi?" Ganis bertanya pada Rindu, sikapnya memang tenang tapi nyatanya mereka tau Ganis tersinggung. Gadis manja ini amat tersinggung dan terusik.


Rindu menyerahkan hape milik Ganis, "Nis,"


"Gue ngga apa-apa, hofffttt inhale...exhale!" gadis ini menarik dan membuang nafas, lalu menyumpali telinga dengan headset, dan menunjukkan layar ponselnya pada Wira.


"Lagu ini, kata dokter Burhan apapun yang mengingatkan sama masa lalu Ganis, wajib Ganis denger biar ingetan Ganis bisa pulih, meskipun Ganis ngga suka!"


Yap! Ganis menunjukkan judul lagu yang sedang ia dengar, beberapa antrean judul lagu beraliran cadas favorit Wira.


"Tolong jangan usik Ganis!" tatapnya pada Suci, Yola, Aneu, dan Titi lalu terakhir pada Wira dan kawan-kawannya. Ganis berbalik dan pergi dari sana.


"Nis!" teriak Rindu, gadis ini berbalik dan menunjuk keempat gadis lainnya, "lu semua yang bank sadh!" lalu Rindu berlari mengejar Ganis.


Rahangnya mengeras, matanya menatap tak suka pada gadis-gadis menyebalkan di depannya.


"Wira, aku minta maaf!" ujarnya ketakutan.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2