
"Bang, stop!" Ganis menepuk pundak Wira kaya tukang ojek.
"Udah beli disana aja," tunjuknya pada sebuah bangunan apotik yang cahaya lampunya terang.
...'APOTIK MENTARI'...
"Sambil beli minuman biar ngga sakit, ini perut Ganis sakit banget!" ujarnya.
"Oke, abang tunggu di luar!" jawab Wira membelokkan stang motornya menuju parkiran apotik, kan ngga lucu cowok sangar datang ke apotik cuma buat nemenin cewek beli pembalut, lalu apa kata kucing lewat sambil nyemilin tulang kalo liat Wira sang pengunjung sangar yang biasanya beli tra madol berganti jadi ki ranti, mungkin dia akan ketawa terbahak-bahak.
Lelaki itu duduk diatas motornya sambil menatap sekitar, sementara Ganis masuk ke dalam, terlihat jelas dari kaca apotik yang besar Ganis tengah berbincang dengan kasir tapi bukan bergosip.
"Mbak, pembalut malamnya 1 bungkus aja. Sama ki ranti 4 ya," pesannya, si mbak berkerudung hijau itu mengangguk.
Gadis itu mengedarkan netranya, menatap barang-barang di dalam apotik, ada timbangan di pojok kanan depan etalase obat-obatan, televisi berukuran 24 inch menggantung di atas pintu masuk, sebuah cctv, dan tanaman hias berpot di sudut kiri dekat kaca juga tempat duduk berbahan stainless, mungkin pikirnya.
Datang pengunjung lain, ia wanita berusia sekitar 30an, "mbak pil kb andalan, meng'ASIhi 1!"
Ganis mengerutkan dahinya, ia baru ingat kalau kemarin ia dan Wira melakukan hal yang panas, dan jika harus bablas lagi ia belum siap. Terbersit di otak Ganis untuk membeli juga apa yang dibeli wanita itu. Ia belum siap! Terlalu takut! Dalam hati gadis itu menenangkan hati yang dilanda gugup, tangannya saja sampai berkeringat karena saling meremas. Ia tengokkan kepalanya ke arah luar, dimana Wira sedang menunggunya diatas motor sambil melihat jalanan.
Kalo abang marah gimana?
Buat jaga-jaga Nis, yang penting beli aja dulu, bang Nat-nat jangan sampai tau dulu! Ganis mengangguk-angguk.
"Mbak kalo...." ucap Ganis.
Gadis itu membawa kresek barangnya keluar.
"Udah?" tanya Wira. Dengan perasaan berkecamuk Ganis mengangguk, "udah."
**********
Ganis sengaja membawa rok seragam cadangan miliknya ke sekolah, sudah hampir jam 7 tapi belum terlihat batang hidung Raja dan Damar.
Tak lama ponsel Ganis berbunyi, Nis..Raja sama Damar ngumpet di warung! Bahkan Rindu saja menelfon dan men-chat Damar, tak dihiraukannya. Pemuda itu tau jika Rindu akan lebih memilih Ganis ketimbang dirinya, emang pacar luknut si Rindu!
Bukan Wira yang memberikan bocoran itu melainkan Malik, Wira tak seember itu meskipun Ganis adalah istrinya.
Langit hari ini secerah suasana hati Ganis, moodnya memang sedang naik turun gara-gara hormon men struasi, tapi membayangkan taruhan Raja dan Damar jadi pengobat dan mood booster untuknya.
"Ndu, Damar di warung!" seru Ganis memasukkan ponsel dan mengeluarkan rok miliknya.
"Sudah kudugong! Yuk buru! Mereka gesit kaya belut, jangan sampai lolos!" ajak Rindu menarik tangan Ganis.
Bagai tersambar petir pas lagi makan nasi kuning, Damar dan Raja terkejut bukan main melihat malaikat pencabut harga dirinya, Rengganis Kamania.
"Hay!" senyuman semanis itu bagai senyuman maut dimata kedua pemuda itu, Malik dan Luki bahkan sudah tergelak, sementara yang lain terbengong-bengong layaknya kucing kecemplung di empang. Ganis acuh meski disana ada Yola cs, termasuk Suci yang kini tak lagi berwajah judes pada Ganis.
"Uhukkk!"
Mata Ganis menyipit pada Wira, "bang Nat lebih mihak mereka ketimbang Ganis, kenapa ngga kabarin kalo nih 2 manusia dah datang?!" desisnya kesal.
__ADS_1
"Abang ngga ikutan Nis," posisi Wira serba salah berada di tengah-tengah.
"Lu pacar luknut Ndu, ketawa-tiwi diatas penderitaan pacar sendiri!" ujar Damar memelas.
"Udah tau dari dulu gini, yok sayang...ucapan kamu harus dipertanggung jawabkan loh!" bukannya ikut merayu Ganis, Rindu malah mengojok-ojok dan membujuk Damar.
"Nih! Rok Ganis, bersih, wangi kok!" Ganis membentangkan rok seragamnya di depan mereka.
"Hah, apaan nih?!" tanya Tomi, Yola yang sedang berdandan pun ikut menolehkan kepalanya dan menghentikkan aktivitasnya.
"Buru!" pelotot Ganis, "atau mau Ganis tembak pake pistol beneran?! Teteh sepupu Ganis polisi, gampanglah cari pistol, tinggal bilang mau di kepala atau di jantung sekalian!" ancamnya lebih kejam daripada ancaman Isr_ael.
"Pasrah lah, Mar! Pasrah!" ujar Raja menyambar kasar rok Ganis.
"Tak nak kawan Ganis lagi," Damar merajuk.
"Cuma sampai jam istirahat!" Damar menunjukkan telunjuknya di depan wajah Ganis.
"Oke, papa!" tawanya bersama Rindu, lalu Ganis duduk di samping Wira.
"Mau jajan dulu engga?" Ganis menggeleng.
"Eh ada neng Ganis," sapa teh Imel.
"Teh! Itu kenapa alisnya cuma sepotong gitu?!" hampir saja mereka meledakkan tawanya.
"Iya, kesela dulu goreng bala-bala!" jawabnya.
"Emang neng Ganis bisa?" tanya teh Imel, jelas saja mereka tak percaya karena Ganis terlihat tak pernah berdandan ke sekolah, hanya make up tipis saja tak seperti Suci cs yang ketebalan bedak saja seperti lapisan adukan acian bangunan rumah.
"Iya Nis, emang bisa?" tanya Rindu sangsi. Ganis tak menyalahkan mereka jika mereka pikir Ganis hanya so bisa. Menurut Ganis berdandan ke sekolah itu tak diperlukan.
"Awas teh nanti alisnya jadi kaya angry bird!" timpal Damar yang masuk ke dalam warung untuk berganti celana.
"Enak aja! Kalo jelek tinggal hapus, gitu aja repot!" manyun Ganis. Senyum mengejek dari Yola cs terukir jelas tengah mencibir Ganis.
"Maaf ya teh," Ganis meraih pensil alis milik teh Imel, lalu memegang garis wajah si teteh pemilik warung ini.
"Menurut Ganis, teteh udah cantik. Ngga usah pake make up tebel-tebel!" ia mulai melukis diatas alis tipis terkesan botak teh Imel.
"Bentuk wajah teteh itu oval, jadi cocoknya....done!" Ganis tersenyum manis.
Yola cs sampai membelalak tak percaya, mereka yang ikut tersugesti mulai bercermin melihat bentukan wajah masing-masing takut kalau-kalau ukiran mereka yang seharusnya lebih senior dari Ganis tak boleh kalah oleh anak baru mekar.
Rindu dan Wira mengulas senyum, berbeda dengan Wira yang memang sudah kagum sejak lama pada Ganis, Rindu mulai menyadari jika Wira bukan tanpa alasan menyayangi dan mengejar Ganis sampai sebegitunya, karena memang Ganis adalah gadis istimewa, ia bukan hanya cantik di luar tapi pun di dalam, tak pernah menunjukkan sisi kelebihan lebih menampilkan sisi manja dan pemarahnya pada orang lain.
Dari balik sifat nyablak dan usilnya ia terlihat peduli pada orang lain.
"Iya neng, meni bagus ngga terlalu ngajeblag! Kaya hileud bulu yang kemaren mah!" Ganis tertawa renyah.
(besar dan terpampang jelas! kaya ulet bulu)
__ADS_1
"Ajarin teteh atuh!" pintanya merayu.
"Boleh, khusus buat teteh kursusnya ngga mahal!" seloroh Ganis.
"Ah si neng bisa aja, belajar darimana?" tanya teh Imel.
"Kebetulan teh Yeni, tetehnya Ganis punya salon. Sering diajarin dandan ala kadarnya sama sepupu yang lain, katanya biar ngga malu-maluin kalo mau datang ke kondangan, bisa dandan sendiri. Masa sodaranya yang punya salon, datang ke kondangan kaya doger mon yet! Eleh ku ben cong!" tiru Ganis dengan nada ngegas ala emak-emak.
(Masa sodaranya yang punya salon datang ke kondangan kaya topeng mon yet! Kalah sama ban ci! )
Bukan hanya teh Imel yang tawanya meledak, tapi pun Rindu dan Tomi, Wira tertawa mendengus, memang benar jika Ganis sudah menyatu dengan keluarganya maka hancur sudah dunia gelapnya.
Di tengah tawa mereka yang menggelegar, keluarlah dua siswa eh siswi? dari dalam.
"Astagfirullah!"
"Allahuakbar!" jerit teh Imel, "kalian berdua apa-apaan ini?!"
"Bwahahahahahaha!"
"Kerjaan si Ganis nih, kamvrettt pacar Wira!"
"Ya allah!" Ganis dan Rindu mengatupkan mulutnya yang menganga, dan menahan perutnya, terang saja rok Ganis sangat pas di pinggang keduanya, malah lebih press dan mini karena perbedaan postur badan, mata mereka tertumbuk pada bagian pusaka yang sedikit membuat benjolan allahuakbar!!!!! Tobat! Belum lagi kaki berbulu mereka yang seperti siluman kera.
"Kimvrittt lu pada ketawa! Gua sikat lu!" Raja memukul Tomi, Malik dan Luki yang tertawa terbahak sampai tersedak, begitupun Wira dan Yola cs.
"Anjayyyy Ja, ilfeell gua!" gidik Aneu dan Yola.
"Ayank ih!" gidik Rindu melihat Damar.
"Witwiwww! Neng, ikut aa dangdutan yuk!" goda Luki.
Damar dan Raja tersenyum smirk, keduanya mendekati Wira yang masih ikut tertawa, "aa...sentuh neng dong a!" Damar dan Raja membalas Ganis dengan menggoda Wira, lalu duduk menyilangkan kaki sehingga kaki berbulu mereka tertumpu menempel pada Wira.
"Anj-immm!" Wira tertawa bergidik.
"Ih, abang jangan mau jijik ah!!!" seru Ganis.
"Abang ketempelan siluman kera ih!" lanjutnya sewot.
Malik, Luki, dan Tomi benar-benar dibuat sakit perut oleh ulah mereka.
"Pait!! Paittt! Hushhh!" Ganis mencoba mengusir dan menarik Damar, begitupun Wira yang menghindar tapi masih tertawa.
Tapi kedua pemuda ini malah dengan sengaja ingin mengecup Wira, sehingga Ganis menjambak ban chi kaleng ala-ala ini.
.
.
.
__ADS_1
.