Kepingan Jingga

Kepingan Jingga
SEJAUH MANA KAMU PERGI AKAN KU KEJAR


__ADS_3

Tasnya merosot dari pundak Ganis, hingga jatuh tergeletak di kaki ranjang. Suara keras memekakkan telinga, Ganis biarkan begitu saja, meskipun tak suka dengan genre lagunya tapi ia coba dengarkan, gadis manis berzodiak virgo ini merebahkan badannya demi mengurai rasa lelah hari ini.


"Bank kee banget hari ini!" ia menghembuskan nafasnya kasar, mengingat kejadian Suci tadi dan kejadian dengan Wira.


Alisnya bertaut menatap neon yang padam tepat di atasnya, kepingan kejadian saat Wira menyatakan cintanya dulu memutar di otak Ganis, seakan langit-langit kamar menjadi layar putih tempatnya mengulang nostalgia.


Flashback on


Seminggu setelah kejadian Ganis mengganti rokok dengan permen di belakang sekolah, Ganis benar-benar menjadi orang lain untuk Wira.


"Stop! Ikut campur privasi gua, hidup masing-masing, di dunia masing-masing!"


Ganis berdiri bersama siswa lain, berbaris rapi dengan sikap sempurna dan seragam lengkap di depan bendera merah putih yang baru saja dikibarkan oleh tim pengibar dari paskibraka sekolahnya.


Pak Nuha, si guru kesiswaan menggiring siswa-siswa bermasalah untuk berbaris di depan seperti seorang pesakitan yang akan dihakimi.


Tatapan keduanya bertemu, tapi Ganis membuang muka. Itulah kali pertama Wira merasakan hatinya berdenyut sakit karena seorang gadis.


Beberapa kali mereka dipertemukan secara berpapasan, tapi Ganis seperti menganggap Wira tak ada untuknya, dan Wira tak suka itu. Sebelumnya ia pernah menjalin hubungan dengan seorang gadis tapi kenyataannya harus berakhir, anehnya itu tak sesakit saat Ganis tak menganggapnya.


Padahal jika dikatakan, Wira satu frekuensi dengan Ivana, baik dalam hal kesukaan maupun pemikiran. Wira gubluk Ivana ikut gubluk, saking keduanya satu hati. Saat keduanya memutuskan untuk mengakhiri hubungan, keduanya setuju-setuju saja. Bahkan selang beberapa bulan mereka berpisah, Ivana sudah menikah dan memiliki anak.


~Agustus 202X~


Ganis berjalan menyusuri selasar kelas menuju gerbang sekolah, angin siang setidaknya membawa sejuk, membawa serta rasa penat dan lelah para siswa.


"Nis, temenin aku jajan dulu es teh sebentar lah panas!" ajaknya menarik tangan Ganis tanpa aba-aba, pandangan Ganis menyapu area pedagang gerobak di depan sekolahnya. Dimana satu kumpulan anak yang tengah duduk diatas motor dan sebagian lainnya duduk jajan di gerobak es teh menjadi pemandangan lumrah jika pulang sekolah begini.


Ganis bukan tak melihat pemuda satu itu, pemuda yang paling mencolok diantara semua karena kesendirian dan kediamannya. Tapi gadis ini memang sengaja tak menyapanya bukan karena tak mengenal atau sombong, tapi Wira sendiri lah yang mengatakan terakhir saat mereka bicara untuk pergi. Ganis bukan gadis yang merendahkan harga diri dengan mengejar-ngejar Wira walau sudah ditolak. Ia memang secuek itu, entah karena memang bawaan sifat angkuhnya seperti itu atau memang sebuah pendirian, tak ada di kamus hidupnya mengejar-ngejar orang lain agar mau berteman dengannya, masih banyak orang lain yang mau menerima keberadaan Ganis, jadi untuk apa memasalahkan seorang yang tak ingin menerima kehadiran Ganis, tak rugi baginya. Begitulah prinsip Ganis.


Ganis tidak buta, ia melihat Wira disana.


"Nis, mau juga ngga? Aku jajanin!" senyum lebar Olip menawari sahabatnya itu, tapi Ganis menggeleng.


"Engga usah Lip, makasih. Ganis bekel minum kok! Kamu aja," jawab Ganis memalingkan pandangan. Terlihat jelas jika Ganis sedang menghindari Wira.


"Gua cabut lah! Kerjaan banyak," ucap Wira pada teman-temannya pamitan.


"Oke coy, jangan lupa ntar malem! Di rumah Andan," seru Bobi, mereka bertos ria sebagai tanda pamit.


"Nis, aku duluan kalo gitu! Yakin ngga mau ditemenin nunggu ojolnya?" tawar Olip yang dijemput ayahnya.


"Ah ngga usah, kasian ayah kamu. Masa suruh nungguin Ganis." Jawab Ganis tak enak hati dengan kerlingan mata pada Olip.


"Neng Ganis, ngga apa-apa atuh biar ditunggu aja kasian," timpal ayah Olip.

__ADS_1


"Ngga apa-apa pak! Saya pacar Ganis kok, maaf telat jemput ya," ketiganya menoleh cepat ke arah suara.


"Wira," Olip ikut mengerjap.


"Oh gitu, kalo gitu kita duluan ya neng Ganis," pamit ayah Olip, sementara Olip sendiri sudah menepuk-nepuk ayahnya namun tak digubris.


"Pak, Lip..."


Gleuk! Ganis menelan salivanya berat.


Tatapan mendelik, Ganis lemparkan pada Wira yang sedang duduk manis di atas motornya.


"Bisa bicara sebentar,"


"Ngga ada waktu, lagi nunggu ojol!" jawabnya ketus dan singkat. Dasar plin-plan, bukannya dia sendiri yang nyuruh Ganis pergi, sekarang dia yang datang lagi.


Ganis berulang kali mengecek layar ponselnya, ini si bapak jemput Ganis sambil ngesot apa gimana bawa motornya, Ganis kesal bukan main, tertera disana 10 menit lagi, tapi sudah hampir 15 menit si bapak tak nongol juga mon congnya.


Sementara Wira masih setia disana, di depan Ganis menatap Ganis yang jadi salah tingkah.


"Bisa geser ngga?" semprot Ganis.


Wira merebut ponsel Ganis dan malah meng-cancel ojol pesanannya.


"Eh!"


"Janji nggak lama, ongkosnya biat kuganti," Wira menyerahkan ponsel milik Ganis.


"10 detik," jawab Ganis.


"Yang bener aja---"


"10, 9, 8, 7,...." potong Ganis mulai berhitung.


Wira menyumpal bibir pink Ganis dengan telapak tangannya.


"Oke, Rengganis Kamania...aku suka kamu...aku mau kamu jadi pacarku,"


Grekkkk!


"Aww!" Wira melepaskan tangannya dari mulut Ganis dan mengibas-ngibaskannya, yup! Ganis menggigit tangan Wira layaknya steak, tinggal dipakein saus barbeque mantap tuh!


"Rasain lu!" umpatnya kesal, ia tersenyum penuh kemenangan saat raut wajah Wira meringis.


"Makanya jangan kebanyakan mabok, jadinya otak lu sableng! Ya jelas gua enggak mau lah!" tolak Ganis mentah-mentah, sementah jeruk bali..pahit, kecut dan masam. Sakit, sudah pasti. Baru kali ini ia menerima penolakan dari seorang gadis, biasanya para gadis lah yang mengejar-ngejarnya, bukan karena memiliki hutang atau diuber gara-gara nyuri selem vak.

__ADS_1


Ganis segera berjalan menyusuri tepian jalan meninggalkan Wira yang masih melihat bekas gigitan di tangannya, gadis itu berniat mencari angkutan umum, semoga saja masih ada angkot yang melintas. Wira tak menyerah sampai disitu, ia menemani Ganis dengan melajukan motornya pelan menyamai langkah cepat Ganis.


"Aku bakal ganggu kamu sampai kamu mau!" paksanya.


"Pemaksaan!" sarkas Ganis mempercepat langkahnya.


"Terserah apapun kamu nyebutnya," Wira masih mengikuti, tak peduli jika Ganis tak suka.


Sebuah lampu pijar muncul ke atas dari kepala Ganis, ia dapat ide briliant agar lelaki ini jera, Ganis mengambil ancang-ancang suara,"tolong!! tolong!!! jambret!!!" pekiknya, sontak Wira panik meskipun tak merasa melakukan kejahatan, siapa juga yang tak panik jika diteriaki begini, teriakan Ganis memancing perhatian warga sekitar.


Di tengah lamunannya, Ganis tertawa mengingat itu. Hampir saja Wira digebukin karena ulahnya.


Segera Wira turun dari motornya dan menarik Ganis ke dalam dekapannya lalu membekap Ganis.


"Mana jambret?!" beberapa orang menghampiri keduanya dengan membawa perkakas seadanya, sudah siap menghantam wajah si penjambret jadi teman nasi, tapi sejurus kemudian wajah mereka masam.


"Beuhhhh! Kalo mau mesum jangan disini atuh! Heran, masih sekolah udah bikin dosa!"


"Huuu!!!" sorak mereka marah dan kecewa. Anak muda jaman sekarang kelakuannya memang meresahkan.


Wira malah tertawa, dibandingkan ia, Ganis lebih malu karena tak memakai helm, wajahnya tersorot jelas. Segera Wira membawa kepala Ganis ke dada, "punteun, bapak-bapak! Si neng-na nuju pundung,"


(Maaf, bapak-bapak! Si neng-nya lagi ngambek,)


"Ohhh," mereka berohria. Untung saja Wira gercep berfikir, jika tidak mereka mungkin sudah di arak ke KUA.


"Si*@lan ih!" semprot Ganis mendongak memasang wajah keruh kaya air comb eran, dapat ia rasakan detakan jantung Wira saat itu. Wajah mereka sedekat antara jantung dan paru-paru. Wira menatap Ganis dengan cengirannya,


"Ga ada yang lucu! Ga usah nyengir, lu jelek kaya ogre!!"


"Nis, aku suka kamu..." Wira kembali mengulangi perkataannya.


"Maaf atas kejadian yang lalu, aku ngerasa kehilangan kamu, Nis. Aku ga suka kalo kamu ketawa sama cowok lain, larang aku Nis, tegur aku, dan sapa aku!"


"Lu egois," cerca Ganis.


"Orang egois ini suka kamu Nis," mohon Wira.


"Lu cowok ga punya perasaan!" pukul Ganis di lengan Wira, pemuda itu meraih tangan Ganis dan membawanya ke dalam genggaman.


"Aku butuh kamu, aku anter kamu pulang ya?!"


Ganis diam di tempatnya, tak ada jawaban pasti dari mulutnya. Karena percuma, sejauh mana pun ia berlari Wira akan mengejarnya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2