
Rasa hangat matahari masih tersisa untuk hari ini, Ganis belum mau beranjak dari posisi duduknya di kursi teras rumah, seraya menggendong Alvaro yang belum genap seminggu. Ia masih mengakrabkan diri, menjalin ikatan batin dengan Alva. Dikecupnya berulang kali tangan mungil nan halus milik Alva diantara jumpsuit berwarna biru, my boy.
"Neng, udah sore atuh. Pamali di luar rumah. Bawa si dedek masuk," suruh mama, meskipun pada kenyataannya mama malah ikut duduk di samping anak dan cucu. Tangan seorang ibu memang sehangat itu, mama mendaratkan jemarinya mengusap lembut rambut Alva yang belum dicukur.
"Bersih gini euy incu mama. Meni ganteng kaya mpap nya," bisik mama.
Dan percayalah senyuman Ganis yang awalnya merekah kini berujung mengerucut, "dari pertama lahir, hampir semuanya yang liat Alva bilang dedek kaya bang Nat, terus Ganis gimana nasibnya? Cuma jadi mediator brosot doang?!" ia memelas pasrah karena kenyataannya putra tersayang lebih condong gen Wira.
"Putihnya mirip Ganislah, biar ngga ngerasa sirik!" tawa mama mencubit pipi ibu baru ini. Lalu pandangan keduanya kembali asik melihat Alva yang bahkan sejak tadi tertidur lelap dalam buaian ibunya dan angin senja yang melambai manja. Aroma tubuh bayi begitu membuat siapa saja selalu ingin mendusel-dusel hidungnya, begitupun Ganis. Ujung rambut pendek Ganis terkadang menggelitik usil kulit lembut sang anak saat ia mendaratkan penciuman.
"Ya Allah candu banget sih dek, wangi kamu!" ibu baru ini mendaratkan kembali hidung dan bibir di sekitaran wajah dan leher Alva.
"Di dalem udah beres ma?" tanya Ganis.
"Si ibu lagi bakar bolu, barusan mama goreng rengginang kiriman teh Yeni, itu tetangganya ibu Nata meni pinter bantuin bikin bugis sama lemper, mama mah ngga bisa. Tante Sha juga kirim kue kering 150 jar ukuran 200 gram dari Jakarta katanya nyumbang isian hampers, dia bilang maaf sama Ganis ngga bisa datang ke Bandung, lagi banyak kerjaan," jawabnya panjang lebar.
Ganis mengangguk, "Iya. tempo hari tante Sha ada bilang sama Ganis sama bang Nat. Waktu dedek lahir tante Sha sama Gale juga kirim uang, satu set gendongan bayi plus stroller buat Alva."
"Rejeki si kasep," mama tersenyum menyahut seraya mengusap kembali dengan lembut kepala Alva.
"Iya. Kata abang Nat, tadi kambingnya udah di sembelih di rumah Aqiqahnya langsung, besok kayanya dikirim dalam bentuk sate sama gule biar ngga repot urusnya.." jelas Ganis.
"Oh iya atuh, jadi besok aja dipackingnya," ujar mama. Bukan hanya mama yang ada disana untuk memberikan kontribusinya, bahkan Gemilang pun ikut sibuk. Sebuah notifikasi masuk ke dalam ponsel Ganis.
Njir banget, mobil papa penuh sama pisang, semangka, melon orang nyangkanya gue tukang sop buah! Abis ini minta Nata bawa ke snow wash, Nis! Mana becek! Sepatu gue bau cub luk.
Ganis tertawa mendengar omelan Gemilang, ia menyuruh abangnya itu untuk berbelanja buah-buahan ke pasar induk.
"Ma---kopi mana kopi ma, enak nih! Rengginang udah ada, bugis masih anget, mantap! Tinggal kopinya," papa muncul di ambang pintu rumah membawa sepiring kecil bugis yang masih hangat dan satu toples rengginang terasi.
"Ih, orang buat sukuran. Malah dimakan sekarang," namun tak urung mama masuk ke dalam untuk membuatkan request'an sang suami.
"Taster ma!" alibi papa duduk bergabung dengan Ganis dan Alva di beranda rumah.
"Eh ini kenapa, jagoan opa udah sore gini masih di luar?" papa ikut memperhatikan Alva yang tak terganggu dengan suara bising oma, opa-nya.
"Nunggu mpap-nya pulang, opa" jawab Ganis.
"Oh, pantesan atuh udah cakep gini!"
Dan benar saja, motor Wira muncul dari sisi kiri rumah arah dari gerbang komplek, ia tetap setia dengan motornya meski mobil sudah ia miliki. Baginya semewah-mewahnya sebuah mobil tetap saja motor juaranya.
"Eh, mpap pulang!" Ganis berseru, seolah tau bila sang ayah telah kembali bayi Alva menggeliat kecil membuat wajah putihnya jadi kemerahan, sesekali mata yang masih belum sepenuhnya bisa melihat jelas dan mengerti itu mengerjap bersih.
"Ih, giliran mpap-nya pulang mah tau aja, dia melek!"
Inilah rumah, seketika jiwa sedingin malam itu menghangat saat menginjak halaman rumah, keluarga kecilnya memberikan perubahan dan arti besar untuk Wira.
__ADS_1
Ia bukan lagi seorang pemuda sekarang, tapi family man. Wira menghentikkan sepeda motor tepat di samping rumpun mawar lalu turun, seketika jiwa lelahnya luruh demi melihat belahan jiwa sedang menanti, nikmat mana lagi yang kau dustakan? Tiada pemandangan yang lebih indah selain dari Ganis dan Alva menyambutnya di kala pulang dan lelah mendera.
"Assalamu'alaikum," ucapnya.
"Waalaikumsalam," jawab papa dan Ganis.
"Nah, mpap pulang. Gimana---gimana nih, kambing udah dipotong?" tanya papa. Ia meraih terlebih dahulu punggung tangan mertuanya yang tadi sempat menaruh rengginang terlebih dahulu di atas tutup toples demi menyambut uluran tangan Wira.
"Alhamdulillah udah pa, tadi jam 2 Nata ke tempat jagal dulu buat nyaksiin..."
"Alhamdulillah, sok atuh ke dalem dulu, bersih-bersih dulu lah. Papa disini nyemil sore sambil nunggu tukang buah dadakan!" tawanya.
"Oh iya, dilanjut aja pa nyemilnya. Nata ke dalem dulu, bersih-bersih!" ia buka jaket yang menghalau debu dan angin jalanan seraya berjalan masuk ke dalam rumah, ruang tamu bahkan sudah digelari karpet dan disulap jadi tempat syukuran aqiqah Alva.
Ganis mengekori Wira ke dalam.
"Hay little kloning!" sapanya terkekeh pada sang putra tanpa menyentuh memelankan langkah agar menyamai posisi Ganis.
"Udah mandi?" tanya Wira.
"Ya udah atuh, ngga liat gitu anaknya siap ngapelin anak gadis orang?!" tawa Ganis renyah.
"Kerja dulu boy, baru boleh ngapel!" balas Wira.
"Sebel deh bang! Giliran bang Nat pulang dia melek. Giliran dari tadi aja, tidur terus!" dumel Ganis.
"Masa? Bagus dong! It's my boy!" jawabnya tertawa berjalan masuk menuju kamar.
"Sabar ya bro!" berkelakar ke arah Alva berlalu menyambar handuk.
Ganis menaruh Alva di atas kasur yang telah dilapisi alas pipis. Jika biasanya kasur Ganis dan Wira begitu rapi beralaskan sprei dan selimut club bola kesayangan, maka sekarang alas pipis, bantal, selimut dan guling kecil serta celana Alva sepaket dengan tissue basah dan bedak terhampar di atas kasur keduanya. Sang bayi mendominasi sekarang.
"Tunggu dulu disini ya, ibun mau siapin dulu baju buat mpap," Ganis menyarangkan kecupannya di pipi Alva yang tentu saja disambut dengan sambaran mulut mungil Alva, karena apapun yang menempel di wajahnya si kecil ini menganggap jika itu adalah sumber kehidupannya.
Suara pintu terbuka terdengar begitu jelas, Wira sudah selesai mandi dan kini ia masuk dengan hanya memakai handuk di pinggangnya, senyuman terkembang tatkala menemukan wanita-nya sedang memilih kaos untuknya, wanita yang sejak kemarin mengeluhkan jika ujung puncak buah dada'nya lecet oleh hisa pan Alva yang kuat.
Grepp!
Rasa dingin dan aroma citrus vanilla menyergap Ganis, "masih sakit ngga? Mau abang olesin lagi minyak zaitun?" hidungnya tak bisa diam, ia menghirup rakus aroma tubuh Ganis sebelum nantinya ia akan anteng bersama jagoan kecilnya. Tak ada lagi minuman beralkohol sekarang. Tak ada pekerjaan atau tiket konser, termasuk urusan teman-teman tongkrongannya, setelah ia pulang ke rumah maka sepenuhnya ia milik Ganis dan Alva.
"Ngga usah, nanti ujung-ujungnya Ganis disuruh ngocok!" tawa Ganis geli, diikuti suara tawa Wira. Untung saja Alva tak akan mengerti dengan obrolan kedua orangtuanya, kasihan sekali.
"Bang Nat kalo Alva ng'ASI suka pengen ikut nimbrung, malu abang... masa pas ngasih ASI di depan ibu sama mama ada noda membandelnya di atas," Ganis menyerahkan kaos milik Wira.
"Biarin atuh, biar beda dari busui lainnya---" jawab Wira.
"Malu tau!" sarkas Ganis.
__ADS_1
"Besok temen slebor ke rumah aga sorean, biar ngga bikin chaos acara," imbuh Wira.
"Iya," jawab Ganis singkat.
"Bilangin Raja, kalo bawa Indi jangan kelamaan ih! Suka khawatir Ganis tuh, kalo Indi dibawa Raja," ujarnya mengeluh pada Wira yang kini sudah beralih duduk dan mencolek-colek gemas anaknya, ia bahkan membaringkan diri di samping Alva dan menempelkan hidungnya dari samping wajah anaknya itu, moment ini yang selalu membuat Wira merasa damai.
"Abang ih di denger ngga?!" sewot Ganis.
"Iya ay, lagian Raja ngga akan berani macem-macemin Indy," jawab Wira santai. Siapa juga yang tak takut dengannya. Meskipun Ganis sendiri tau kalau Raja tak mungkin berani macam-macam pada Indi, karena pada dasarnya Raja adalah lelaki baik.
"Ya kan kita ngga tau di belakang dia ngapain?!"
"Ganis keluar dulu ah! Pengen nyicip bugis sama bolu, lapar ih pengen nyemil terus!" wanita itu beranjak keluar dari kamar meninggalkan ayah dan anak itu.
Baru saja dibicarakan menjelang magrib suara mesin motor bersama mobil terdengar mendekat.
Yang satu sepasang sejoli yang tengah dimabuk kasmaran dan yang satu lagi abang uwa yang lagi ngomel-ngomel gara-gara disuruh belanja buah ke pasar buat acara sukuran aqiqah.
"Gini amat nasib gue! Mana pas milih gue ngga tau gimana semangka yang bagus yang gimana!" ia menjatuhkan badannya di atas kursi teras samping papa, menumpahkan semua rasa lelah dan penat.
Papa terkekeh, "gimana, dapet semua?"
"Harusnya abang belah dulu, bagus engga...merah engga," Ganis ikut duduk, tapi matanya menyipit dan mendelik pada Indy bersama Raja yang berjalan mendekat.
"Mana boleh, gue buka gitu satu-satu. Punteun bapak, tiasa dibuka hiji-hiji? Hoyong nu bereum burahay?!" ujar Gemilang mendengus memperagakan saran Ganis membuat Ganis dan papa tertawa.
(Permisi bapak, bisa dibelah satu-satu? Kepengen yang merahnya nyala?!)
"Auto ditendang terus dilempar piso! Dipikir tukang buah eceran,"
"Assalamualaikum, teh...abang...bapak." Indi dan Raja menyalami ketiganya.
"Darimana?!" sembur Ganis sengit.
"Dari BIP dulu teh, main.." jawab Indi masuk ke dalam dengan masih memakai seragam abunya.
"Galaknya kakak ipar!" kekeh Raja.
"Ganis galak cuma sama kamu, i watch you!" ia menunjuk matanya bergantian ke arah mata Raja.
"Awas busui galak, Ja. Kayanya sajen dari Nata belum turun, makanya mode senggol tikam!" tandas Gemilang.
"Kayanya sih bang, laparrrr---" balas Raja duduk bergabung.
.
.
__ADS_1
.
.