Kepingan Jingga

Kepingan Jingga
IJININ GANIS SEKALI AJA


__ADS_3

"Gila, baru hari pertama ujian aja susahnya ampun-ampunan!"


"Sebenernya ini materinya udah jadi makanan setiap hari. Tapi ngga tau, pas liat komputer malah jadi blank. Ketimbang ngerjain soalnya malah lebih lama ngoperasiin komputernya!"


"Lu nya aja yang gaptek!"


"Nyesel gua suka tidur kalo pelajaran, padahal nih soal sering dijadiin pr!"


Begitulah keluhan receh teman-temannya, selalu mengkambing hitamkan sesuatu untuk sebuah kesulitan.


Ganis berjalan bersama Rindu karena Damar berbeda ruangan dengan mereka.


"Damar katanya udah di warung slebor Nis," Rindu melihat chat dari Damar.


"Oh, berarti sama bang Nata ya?!" Ganis menarik resleting tasnya yang masih terbuka sedikit. Ia keluar berbondong-bondong bersama siswa lainnya, seperti sebuah koloni lebah.


Kedua gadis ini tertawa-tawa membicarakan kejadian-kejadian absurd sepanjang ujian barusan. Sampai terdengar suara tawa dari dalam warung slebor menghentikan candaan mereka.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam," Damar mendongak saat sedang mengambil gorengan dari piring, dipojokan Raja duduk bersampingan dengan Reza meminum teh kemasan. Disampingnya Suci, Aneu, Malik, Tomi, dan Luki.


"Bang Nata kemana?" tanya Ganis melihat sosok si tinggi besar tak ada disana.


"Toilet, kan kebiasaan Nata mah beser kalo udah minum teh manis."


"Oh!" mulut Ganis membentuk o besar, benar saja tak lama Wira keluar sambil membetulkan gesper.


"Bang ih! Kalo benerin gesper tuh di dalem, kebiasaan! Ini bukan di rumah," omel Ganis.


"Sedekah!" jawabnya memancing tawa para kaum adam.


"Tuh kan Ndu, kurang aj ar kan cowok Ganis mah!"


"Gembok aja gespernya Nis," sahut Suci.


"Ntar Ganis beli gembok di tukang tahu!" balasnya mencomot cireng.


"Ha-ha-ha sejak kapan tukang tahu jualan gembok?!" tanya Rindu.


"Sejak si papa bilang gini, ma..gaji papa naik bulan ini, mama ga usah kerja lagi, terus si mamah bilang nge-teh dulu yuk! Sambil naik ke atas pucuk, dan bilang pucuk...pucuk...pucuk! Karena laper dia makan tahu, terus bilang apapun makanannya minumnya teh dian sastro!" jawab Ganis ngaler-ngidul, wetan-ngulon.


"Ha-ha-ha, saravvv njirr! Ujian bikin otak Ganis jungkir balik!"


"Anjimmmm gua kebelet lah!"


"Lu ngomong apa sih Nis?! Mau jadi duta teh kemasan?" tanya Damar, Wira bahkan sudah menutup mulutnya ia tertawa tanpa suara itu terlihat dari jakunnya yang naik turun.


"Bini lu korban iklan Ra! Kasian," tawa Raja.


"Saking kebanyakan nonton tv di rumah, ngga boleh keluar rumah jadi begini!" gerutu Ganis.


"Lagian Rindu pake nanya sejak kapan...ya mana ada tukang tahu jualan gembok, Ganis cuma ngajakin Suci becanda doang."


"Teh Imel!!!"


"Neng Ganisss!!!!" sahutnya balas berteriak.


"Jajan sok neng,"


"Ganis datang kesini mau sidak teh!"


"Sidak apa?!" tanya Damar dan Malik bersamaan.

__ADS_1


"Cie, kompak! Rindu punya rival!" tawa Luki.


"Kimvrittt!"


Ganis membuka resleting tasnya, mengeluarkan barang-barang dari rumahnya satu persatu. Ada pengharum ruangan, ada kaligrafi arab milik ibu, ada vas bunga kerajinan Indi, ada taplak meja.


"Buseetttt! Ini barang-barang di rumah dibawa kesini semua?!" ujar Reza.


"Lu mau ngapain Nis,"


"Ay, itu kan taplak meja ibu?" tanya Wira.


Ganis mengangguk, "iya, udah minta ijin kok ke ibu!" balasnya.


"Wahhh! Ngga bener Ra, pacar lu rampok rumah lu?" tembak Raja menuduh. Damar tertawa sampai memuntahkan bakwan yang sedang dimakannya.


"Sembarangan!"


"Teh Imel, ini Ganis beresin ya?!" ijinnya pada si pemilik warung.


Image warung slebor selalu negatif, maka sebelum ia lulus nama baik warung teh Imel harus bersih kembali dan rame oleh siswa yang jajan.


Ganis melihat satu persatu minuman yang ada di atas meja. Matanya tak menemukan minuman aneh-aneh.


"Ngga ada Nis, ngga ada arak! Mereka kapok kalo araknya diganti beras kencur!" bila ingat itu Reza mendumel sendiri.


"Bwahahahhaha!"


"Apa sih, emang ada apa sama arak dan beras kencur?" tanya Aneu.


"Kepo!" timpal Tomi, ia berdecak.


"Ci, kalo si Reza berani-berani minum kaya begituan, kasih aja kunyit asam! Udah mau jadi bapak masih luknut, lu mau nanti anak lu yatim kecepetan?!"


"Njirr lah! Sakit perut gua kalo ada Ganis," Malik tertawa tak berhenti.


"Salut sama Wira, bisa tahan!" tambah Luki.


Ganis sibuk memasang pengharum ruangan yang bisa menyemprot otomatis, "sini--sini!" rebut Wira.


"Bilang atuh, jangan sendiri! Itu rok kamu pendek, disini banyak cowok!" omel Wira.


"Ekhem cemburu!" ledek Rindu. Malik dan Luki melahap lontong dan tahu isi besar-besar, "jomblo mah ngenes!"


"Makanya peka dikit, masa Ganis harus teriak-teriak minta tolong!"


"Ya udah turun!" Wira berdiri di belakang Ganis yang masih berdiri di atas bangku.


"Gendong!" manjanya merentangkan kedua tangannya, dan Wira menyambutnya.


Warung teh Imel jadi lebih rapi, bersih dan terang, juga wangi.


"Besok Ganis mau promosiin gorengan teteh ke temen-temen kelas biar pada jajan kesini!"


"Aduh, makasih atuh neng!"


...----------------...


"Ay, aku ke Vulcan!"


"Iya! Sore balik ya, jangan ngga balik. Soalnya Ganis lagi belajar ngancurin dapur ibu, abang harus coba!" Ganis menyembulkan kepalanya dari dapur sambil mengacung-acungkan spatula.


Sudah beberapa hari ini Wira jadi kelinci percobaan Ganis atas maha karyanya di dapur, meskipun awalnya rasa masakan Ganis amburadul, tapi Wira menghargai usaha istri manjanya ini, begitu banyak perubahan di diri Ganis, seiring berjalannya waktu ia lebih dewasa, lebih bisa mengerti keadaan, lebih jides, lebih galak, lebih sering mukul-mukul dan ngomel-ngomel tapi itu semua membuat Wira jadi lebih bersemangat dalam menjalani hidup.

__ADS_1


"Bu, rencananya Indi mau ke SMA mana?" tanya Ganis dengan tangan yang masih mengaduk-aduk masakan.


"Kepinginnya masuk SMA favorit neng, tapi liat nanti aja!"


"Ganis aminin bu!"


"Gimana hasil ujian?" tanya ibu.


"Ibu do'ain Ganis sama bang Nata aja ya,"


"Selalu."


Ganis kembali melihat masakannya.


Tuhan tak akan meninggalkan hambanya yang mau berjuang, berusaha dan berdo'a, begitupun Wira dan Ganis.


Ganis menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya gugup, "bismillah! Here we go!"


Ganis mengunjungi website online, mencari namanya dan Wira, tak lupa nama anak-anak slebor.


"Gimana ay?" Wira datang dengan segelas kopi susu dan duduk di samping Ganis.


Ganis menoleh pada Wira dengan mata berkaca-kaca tanpa berbicara sepatah katapun pada Wira, membuat lelaki ini bingung menjabarkan ekspresi Ganis.


Ia menangkup wajah Wira, "kita semua lulus! Abang akhirnya lulus tahun ini!"


"Ha?"


Ganis terjengkat dan sontak melepaskan tangannya dari wajah Wira, merasa pa hanya tersiram sesuatu yang panas, "aww, abang panas ih!"


"Eh, sorry--sorry!" Wira menaruh gelas kopinya di meja dan mengusap pa ha mulus yang memerah karenanya.


"Abang mah! Kaget sih kaget, terharu boleh tapi itu gelasnya tolong kondisikan, taro dulu! Kesiram nih, panas!" omelnya.


Wira tertawa kecil, "iya sayang iya maaf!"


"Ketawa lagi!" sarkasnya ketus.


"Ay," Wira celingukan melihat ada yang hilang dari Ganis.


"Kenapa?" sepasang alis yang terbentuk rapi di atas mata Ganis terangkat.


"Kalung kamu mana?" tanya Wira.


"Oh!! Kirain apa, ada di kamar kok. Ganis simpen takut ilang, tadi lepas waktu mandi!" jawabnya melengos pergi ke kamar untuk mengganti celana yang basah.


Maafin Ganis ngga ijin dulu sama bang Nat,


Ganis beringsut turun dari kasur dengan amat perlahan, menyalakan laptop milik Wira. Ia memang jagonya tidur dan tak bisa bergadang, namun jika bangun insyaallah lebih awal.


Pagi-pagi buta ia sibuk mengotak-atik mesin pencarian, mencari kampus swasta sesuai minat dan bakat Wira. Bola matanya memantulkan cahaya dari layar yang menyala.


"Bang, Ganis pinjem ktp sama data dirinya," bisik Ganis.


"Iya ay, sok aja ambil!" jawabnya kembali terkikik melihat si empunya masih terlelap di bawah selimut kuda pony milik Ganis. Mungkin perasaannya mengatakan bahwa ia tengah memeluk Ganis karena aroma tubuh Ganis memenuhi selimut itu.


"Bismillah!" ia kembali melirik Wira yang masih tertidur.


"Ijinin Ganis sekali ini aja buat jadi istri ngga tau diri, minta abang berjuang lagi...sekali aja!" gumamnya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2