Kepingan Jingga

Kepingan Jingga
ABANG MAU PUNYA BABY


__ADS_3

Sudah aga lama Ganis tak berkunjung ke rumah mama.


"Bang Nat, Ganis pengen maen ke rumah mama," pintanya, dengan terampil tangan lentik Ganis melipat selimut dan merapikan ranjang.


"Boleh, nanti aku anter..pulangnya ku jemput!" Wira bercermin seraya merapikan rambutnya, lelaki itu mengoleskan pomade di permukaan rambut hingga wangi maskulinnya menguar dari sana.


"Kamu siap-siap dulu atuh,"


"Iya, sarapannya udah aku siapin." Lelaki itu keluar dari kamar menuju ruang makan.


Ganis melongokkan kepala ke arah pintu, memastikan jika Wira sudah benar-benar pergi dari kamar. Cepat-cepat ia menutup pintu kamar, bukan lemari yang ia tuju melainkan lemari kecil meja belajar, lebih tepatnya ia berjongkok dan mengambil kotak beludru berwarna merah.


"Maafin Ganis bang, kalo ngga ijin dulu!"


******


"Neng, titip kue buat mama, papa sama Gem!" ujar ibu memberikan sebuah paper bag berisi sekotak kue bolu caramel.


"Iya bu, nanti Ganis kasiin, makasih!" Ganis menyambar paper bag, kemudian ia merapikan poni yang terasa geli di keningnya karena tertutup helm.


"Hati-hati!"


Ganis dan Wira mengangguk. "Bang Nat,"


"Ya?"


"Eh, engga jadi deh!"


Cengkraman tangan Ganis mengerat di jaket Wira, seolah sedang menyalurkan rasa gugup dan takut.


"Mau pulang jam berapa? Nanti telfon aja,"


"Oke,"


Rumah ini masih dan akan selalu sama, berdiri kokoh berderet dengan rumah lainnya yang sama-sama gedongan.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam." Seperti biasa, mama dan papa Ganis akan selalu ada, menyambut anak dan menantu. Di hari-hari tuanya yang sudah pensiun, apalagi jika bukan berdiam diri dan menghabiskan waktu bersama di rumah. Banteran kalo bukan olahraga ya berkebun dan ibadah bareng, hingga waktu siap memanggil mereka ke hadapan sang illahi.


"Masuk Neng!"


Ganis dan Wira masuk lalu menyalami kedua orangtuanya terlebih dahulu.


"Wah, gimana-gimana nih?! Lulus?" tanya papa, membenarkan posisi duduknya, kaki kanan yang sudah mulai pegal ia turunkan berganti menyilangkan kaki kirinya di bawah sana, Ganis mengangguk cepat.


"Lulus dong!" Ganis berseru, menarik kursi kayu.


"Jadi dong kuliah?!" tanya papa menyeruput kopi hitam favoritnya, sementara mama langsung menuju pantry membuatkan kopi untuk Wira.


"Mama biar Ganis aja, lagian bang Nata udah ngopi kok. Jangan kebanyakan lah nanti asam lambung! Teh aja," kini Ganis selalu dengan sigap membuatkan minuman untuk Wira.


"Jadi pa, Ganis udah mau ikutan utbk malah!" jeritnya dari pantry.


"Oh, Nata gimana?" Wira yang hanya menyimak sempat tersentak dan mendongak mendengar pertanyaan papa.


"Nata.."


"Abang masih milih-milih kampus swasta, pa!" jawab Ganis.


"Oke!" papa manggut-manggut mirip boneka yang sering ditaruh diatas dashboard mobil. Swasta pun banyak yang bagus tuh! Melahirkan orang-orang sukses! Papa yakin kamu sama Ganis pasti jadi sukses, kuliah itu bukan soal gengsi atau cuma selembar ijazah sarjana aja, Nat!" tepukan di pundaknya merupakan suatu dorongan untuk Wira.


Ganis mengulas senyuman dan menaruh secangkir teh manis panas di depan Wira, bahkan asapnya saja masih mengepul hingga menguarkan aroma teh melati dari sana, memenuhi penciuman Wira.


Papa bagai motivator untuk Wira, meski mungkin telinga Wira sudah lebar mendengarkan ucapan papa, hatinya sudah mendumel karena papa tak memberinya jeda untuk membalas. Ganis tertawa terkikik melihat ekspresi Wira dimana ia sudah mulai bosan.


"Pa! Menantu papa mau cari cuan dulu! Kalo papa ngomong terus Ganis ngga jajan besok!" kekeh Ganis duduk di lengan kursi Wira dengan kedua tangan yang ia tumbukan di pundak Wira.


Papa menepuk jidatnya, "ah! Iya, maaf--maaf papa kebanyakan ngomong ya Nat,"


"Tau nih papa, orang mau kerja malah diajakin ngobrol!" omel mama, Wira hanya mengembangkan senyum, "ngga apa-apa. Kalo gitu Nata pamit dulu pa, ma...mau ke Vulcan,"


"Oh iya, semoga lelahnya jadi berkah ya Ra!"

__ADS_1


"Aamiin," Wira undur diri dari ruang makan.


Dengan diantar Ganis, ia keluar dari rumah, "ay, aku ke Vulcan dulu."


"Iya hati-hati..." Wira mengusap kepala Ganis dan menarik kepalanya untuk mengecup kening Ganis.


"Bang Nat,"


"Hm,"


"Ada yang mau Ganis obrolin, tapi nanti aja di rumah kalo udah pulang,"


Wira mengangkat alisnya sebelah, "kenapa ngga disini aja?"


"Kejutan dong!" balasnya, meskipun nantinya Ganis pun mungkin akan terkejut.


Ia melengkungkan bibirnya, "penasaran. Ya udah aku pergi dulu!" ia memasang helm-nya dan pergi.


Ganis menatap nyalang ke arah pagar rumah dimana Wira menghilang.


"Ma! Ayok anter Ganis!"


...----------------...


Ganis melirik jam di pergelangan tangan, jam berwarna ungu terong kesayangannya, hadiah dari Wira karena kelulusan Ganis.


Dari kejauhan motor trail dengan pengendara berpakaian hitam-hitam masuk ke dalam gerbang rumah.


Gemilang kini banyak berkegiatan di luar, sedikit demi sedikit ia sudah mulai memasuki dunia yang bersinggungan dengan ranah hukum, menjadi pengacara merupakan cita-cita abang Ganis satu-satunya ini.


"Bang Gem kalo pulang biasanya jam berapa sih, ma? Ko Ganis jadi kangen bang Gem, ya? Sepi ngga ada yang dinyinyirin!" ujarnya beberapa kali menolehkan pandangan ke arah lantai atas, dimana kamar para penghuni ada disana. Dulu biasanya ia akan selalu bertengkar dengan Gemilang meributkan segala hal, hingga hal se-sepele apapun tak jarang mereka perdebatkan, sampai suara keduanya terdengar hingga lantai bawah, terutama suara Ganis.


"Malem dia mah, sekarang sering ngumpul sama lawyer, diajakin juga masuk komunitas lawyer se-kota Bandung!"


"Hebat! Lumayan lah, kalo Ganis nanti ketauan nyolong detergent di swalayan ada yang belain, gratis!"


Mama mencebik, "meni ngga keren nyolong teh detergent! Nyolong tuh jangan tanggung-tanggung, tuh duit rakyat! Da mau besar mau kecil kasusnya tetep aja dihukum!"


"Si mama," papa menggelengkan kepalanya sementara Ganis tertawa.


"Suami baru pulang tuh kasih dulu air minum Nis, bukan langsung diajak pergi," Ganis nyengir selebar cengiran kuda.


"Iya lupa!"


"Bang Nat mau air putih atau mimi cucu?!" tanya nya genit lalu tertawa.


"Amit-amit ih anak si papah!" decih mama menggidikkan bahunya geli, lantas ditertawai papa.


"Anak papa tea!" jumawa papa. Memang gen papa mengalir deras pada Gemilang dan Ganis.


Ganis berlari kecil mengambil segelas air putih untuk Wira. Jika bukan di rumah mama mungkin Ganis sudah dilahap Wira saat ini.


*****


Ganis hanya mengganti pakaiannya saja, karena sudah mandi di rumah mama tadi.


Ia memperhatikan Wira yang masih sibuk berkutat dengan sosial media milik Vulcan. Memposting dan membalas satu persatu para konsumen, "makanya rekrut orang buat jadi admin sosmed Vulcan, bang! Biar ngga keteteran gitu!" semenjak kejadian konser dimana Ganis hadir, gadis dengan followers ribuan ini membantu Wira mempromosikan produk-produk Vulcan di sosial media miliknya, alhasil penjualan Vulcan kini mengalami peningkatan.


"Iya, emangnya nyari orang yang cocok gampang." balasnya tanpa melihat Ganis.


"Ya udah Ganis aja! Abang berani gaji Ganis berapa?"


"Boleh, nanti aku hitung-hitung dulu!" jawabnya.


Suasana malam hanya diisi oleh suara binatang malam, sepertinya waktu yang tepat untuk Ganis bicara dari hati ke hati.


"Bang, sini deh!" Ganis menepuk-nepuk ranjang di sampingnya, sementara ia sudah duduk bersila diatas sana. Wira menoleh sebentar, "sebentar, ini tanggung!"


Ganis sudah gemas sejak tadi dikacangin, giliran diajak ngobrol matanya tetap mengarah ke layar laptop, biasanya gadis ini akan cemberut dan marah-marah jika sudah begini. Tapi kali ini Ganis harus bersabar dan memaklumi. Ia hanya berusaha keras untuk belajar dewasa dan tak kekanakan.


Akhirnya 10 menit kemudian Wira menutup laptop dan menghampiri Ganis.


"Apa?"

__ADS_1


"Ada yang mau Ganis omongin. Tapi janji dulu bang Nat ngga akan marah, ngga akan emosi dulu?!" ia mengacungkan kelingkingnya di depan wajah Wira.


"Ngga aneh-aneh kan?" tanya nya.


"Enggak ih! Kapan Ganis ngelakuin hal aneh?" tanya nya begitu pede.


Oke! Sepertinya Wira harus membawanya kembali ke dokter saraf, amnesia Ganis belum sepenuhnya sembuh rupanya.


"Ga sadar," gumaman Wira.


"Bang," Ganis berdehem. "Boleh Ganis pinjem laptopnya?" lanjut Ganis.


"Buat?"


"Buat dibanting ke kepala bang Nat," jawab Ganis datar meniru ekspresi Wira.


Gadis itu mengambil laptop dari atas meja, lalu menyalakan kembali dan mengetik sesuatu.


Senyumnya terukir, lalu ia membalikkan benda itu sehingga menghadap ke arah Wira, awalnya lelaki itu tak mengerti maksud Ganis, tapi kemudian alisnya semakin mengkerut saat kata per katanya ia baca dengan seksama.


"Ini..."


"Please! Bang Nat jangan marah! Ganis ngga pernah minta apapun sama abang, cuma kali ini Ganis minta abang buat berjuang sekali lagi, kalaupun bang Nat kekeh ngga butuh kuliah, minimal lakukan ini demi Ganis! Please!" Ganis sudah memohon-mohon, padahal Wira saja belum mengatakan sepatah katapun.


Ganis bahkan menarik sebuah amplop coklat dari bawah bantalnya, "ini..."


"Ganis tau kuliah 2 orang sekaligus bakalan butuh banyak biaya," Wira bukan lelaki bo doh, ia tau ini apa dan pembicaraan ini akan mengalir kemana.


Ia menarik nafasnya dalam-dalam, Ganis melakukan semua ini tanpa persetujuan ataupun ijinnya.


Melihat Wira mengeraskan rahang, Ganis segera menahannya, "Ganis bukan bermaksud merendahkan marwah bang Nat sebagai suami, suer! Ijinin Ganis sekaliiiii.... aja! Berkorban buat abang. Selama ini bang Nat terlalu banyak berkorban..." obrolan sensitif ini memantik saraf-saraf air mata Ganis bereaksi.


"Buat ibu, Indi, keluarga Ganis, terutama Ganis....sampe-sampe bang Nat ngga mikirin diri sendiri," Ganis mengipasi matanya yang mulai memanas.


Ia bahkan sudah membuang nafas kasar, "hofff...hoff !!"seperti orang kepedasan atau wanita mau melahirkan.


"Ini uang dari mana?" tanya Wira. Ganis tak menjawab lebih memilih menunduk dan memainkan jari-jarinya, tapi Wira ingat dengan keanehannya tadi pagi.


"Kamu jual kalung?" tanya nya sesikit berseru, Ganis tetap diam.


"Apa lagi milik kamu yang kamu jual? Jawab ay!" tanya Wira mulai menyengat.


"Ngga ada, itu cuma uang tabungan Ganis selam ini aja."


"Mahar?" tanya Wira, yang benar saja jika sampai mahar Ganis jual juga, maka ia akan benar-benar mengurung Ganis di dalam kamar untuk selamanya seperti rapunzel.


Ganis menggeleng, "sempet kepikiran, tapi engga jadi," cicit Ganis hati-hati.


"Itu uang cukup buat biaya sampai daftar ulang dan bayar beberapa sks, kalo emang bang Nat ngga punya uang buat tambahan bayar satu semester dulu, Ganis ikhlas jual mahar."


"Enggak!" tolaknya keras.


"Abang boleh minta apapun dari Ganis! Selama ini Ganis ngga pernah kan nawarin kaya gini, mumpung Ganis lagi soleha?!" tawarnya membujuk Wira. Tatapan Wira benar-benar tak dapat diartikan, membuat jantung Ganis berdegup tak karuan kaya lagi ajojing.


"Gimana?" tanya Ganis lembut nan manis, mirip-mirip orang yang mau pinjem duit.


"Oke,"


Ganis sampai melongo tak percaya dengan jawaban Wira, apakah ilham sudah turun gunung, apakah hidayah sedang menyambangi rumahnya sekarang? Karena menurut Ganis ini adalah suatu keajaiban Wira menyetujui permintaannya.


"Tapi abang butuh reward dan balasan dari kamu. Kuliah itu butuh tenaga, materi, dan waktu yang ekstra. Maka dari itu abang pasti bakalan butuh mood ekstra buat menjalani semua itu,"


"Terus? To the point aja deh bang, jangan muter-muter nanti Ganis mual!"


"Justru itu, nanti kamu pasti mual!" Alis Ganis saling menyentuh.


"Maksudnya?"


"Abang mau punya baby,"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2