Kepingan Jingga

Kepingan Jingga
SESUATU YANG SALAH


__ADS_3

Kalau sudah cinta apa mau dikata, anak muda definisi jiwa baru yang menggelora, masih berapi-api, labil dan pencarian jati diri, selalu ingin dimengerti, begitupun Ganis dan Wira.


"Mau kemana?" tanya Gemilang, dilihatnya adik perempuan satu-satunya ini sudah dalam keadaan rapi, layaknya orang mau ngapel.


"Mau pergi," jawab Ganis singkat, tanpa mau mendebat seperti biasanya.


"Ketemu Wira?" Gemilang menghentikkan kunyahannya.


Ganis yang masih duduk di kursi depan Gemilang tak menggubris, karena percuma juga ia menjawab sudah dapat dipastikan ujungnya akan bertengkar.


"Berapa kali sih abang bilang, jauhin dia Rengganis!"


"Ganis mau ketemu Olip," jawabnya bergetar, menahan emosi yang sudah meluap dari dalam hatinya.


"Kalo mama sama papa lebih milih kerjaan, bang Gem lebih milih kuliah sama pacar abang, terus Ganis? Apa Ganis hanya sebagai anak terbuang gitu? Kenapa ngga matiin aja sekalian! Deket sama ini ngga boleh, deket sama itu ngga boleh, sedangkan di rumah ditinggal sama orang sakit!"


"Ganis!"


"Apa yang salah sama berandal, sama tukang mabok, tukang ngobat tapi mereka punya perasaan, bikin Ganis nyaman?!"


Ada tamparan kuat disana untuk Gemilang, tapi sebagai kakak laki-laki ia tak akan membiarkan adik satu-satunya ini jatuh ke tangan pemuda seperti Wira. Sungguh ia tak akan ikhlas.


"Oke abang minta maaf, abang salah. Jangan pulang kesorean," sejujurnya Gemilang malu dengan perkataan Ganis barusan.


"Ganis pergi dulu!"


"Ga makan dulu?"


"Ga usah, nanti aja bareng Olip!" Ganis pergi tanpa melakukan salim takzim terlebih dahulu pada Gem.


Tertekan? Sudah pasti. Ia terlanjur sayang pada Wira. ganis mempercepat langkahnya.


"Ganis,"


Gemilang memang benar, Ganis berbohong. Sebenarnya ia akan bertemu Wira hari ini, mereka sudah janjian di dekat komplek rumah Ganis. Ganis segera menyeka sudut matanya dan memasang tampang ceria.


"Hay," Ganis langsung memeluk Wira yang masih diatas motor.

__ADS_1


"Hey, kenapa? Siapa yang bikin kamu nangis?" Wira mengerutkan dahinya, Ganis menggeleng kuat.


"Jangan tinggalin aku," cicitnya. Wira membalas pelukan Ganis dan mengusap punggung pacarnya.


"Engga, aku ngga akan ninggalin kamu! Siapa yang bilang aku bakalan ninggalin kamu?"


"Semua orang pergi, mereka sibuk. Please don't leave me alone," Wira mengerti apa yang terjadi. Ganis mengurai pelukannya melihat wajah Wira, ia mengernyit melihat sesuatu yang kemarin belum ada.


"Ini kenapa?" usapnya di tulang pipi Wira.


"Engga, itu ngga sengaja nabrak pintu!" bohongnya.


Cup!


Ganis berjinjit dan mengecup luka lebam itu, "cepet sembuh! Lain kali kalo pintu jangan dicium, cukup Ganis aja yang kamu cium!" senyuman Ganis memberikan kesan hangat bagi keduanya, bagai energi tambahan untuk Wira, hanya sereceh itu tapi bisa membuat semangat Wira berkali-kali lipat.


"Kangen Indi,"


"Tapi Indi sama ibu lagi nganter tetangga kawinan,"


"Ngga apa-apa Ganis tungguin!"


Keduanya sampai di parkiran salah satu minimarket dekat rumah Wira, seperti biasa Ganis memilih cemilan favoritnya termasuk coklat dan permen jelly, sementara Wira langsung menyerbu showcase mengambil minuman bergambar bintang dan kawan-kawan.


Pacaran dengan Ganis sukses membuat kulit Wira putih, tak membuat kantong jebol, yang jelas something happened pada diri Wira dan itu tentunya perubahan yang positif. Ia sudah tak pernah menyentuh lagi obat-obatan yang bikin orang fly, ia sudah jarang meneguk yang namanya minuman keras, lebih sering makan gummy jelly dan jus, banteran minum ya minuman berbintang.


Cuma dikasih sekresek jajanan aja Ganis udah kelewat seneng, apalagi kalo dibawain mahar sama seserahan. Ganis memang bukan cewek matre, karena dia memang terlahir bukan dari orang serba kekurangan, dia pernah memiliki segalanya, sudah bukan hal aneh lagi dengan segala macam berbau mewah.


Keduanya sampai di rumah Wira, Ganis langsung saja nyelonong masuk setelah Wira membuka kunci pintu rumahnya.


Seperti biasa ruangan tengah dan depan selalu rapi, ibu pasti yang membereskannya sebelum pergi.


"Kamu pagi-pagi gini udah mandi, kamarnya diberesin ngga?!" tatapnya penuh selidik, Ganis ini seperti inspektur kesehatan saja, melakukan sidak di hari minggu pagi. Pemuda seperti Wira jangan ditanya lagi, sudah pasti kamarnya masih bau apek, berantakan mirip kapal pecah dan gelap kaya gua.


Tak ada rasa canggung lagi untuk Ganis, ia membuka handle pintu kamar Wira sementara Wira sendiri cuek saja dengan apa yang dilakukan pacarnya ini, karena memang hal ini sudah biasa dilakukan Ganis, tipe perempuan rapi, bersih, dan cerewet, cocok untuk dijadikan istri.


"Tuh kan!!! Ini mah bukan kamar Bang Nat-nat! Ini mah sarang ular kobra tau ngga!" teriak Ganis dari dalam mengomel, si pelaku malah santai saja menyalakan televisi dan membuka penutup kaleng minumannya.

__ADS_1


"Udah biarin aja, nanti lagi! Kamu kesini bukan buat jadi house keeping baby! Kamu tuh pacar aku, entar aku beresin!" jawabnya.


"Ngga bisa! Harus sekarang, jangan dinanti-nanti! Kamu tuh jangan males deh bang Nat, kecoa tuh pada suka nyempil di tempat ginian, kamu tuh orang bukan sih, apa jangan-jangan bapaknya kecoa ya!" Ganis membuka jendela kamar Wira yang terdapat dua lapis, yang satu dari kayu dan satu lagi kaca, membiarkan hawa sejuk masuk ke dalam kamar.


"Astagfirullah!!!! Ini apa, bo xer diatas ranjang, ihh jorok banget kamu!" pekik Ganis menyingkabkan selimut bed cover bernuansa club bola kesayangan Wira. Tangannya tergerak memasukkan baju kotor ke dalam keranjang di pojokan kamar Wira.


Ganis melipat selimut, bantal dan guling lalu merapikan sprei yang terlihat keluar dari lipatan ranjang.


"Nisss," panggil Wira.


"Kamu jangan jorok dong bang, ih!" omelnya, Wira bangkit dari posisi enaknya dan memperhatikan Ganis di ambang pintu seraya meneguk minumannya lalu tersenyum-senyum sendiri, pikiran jahat terputar sangat jelas di otaknya.


"Tuh kan, kalo kaya gini tuh enak. Siapa coba yang ngerasain nyamannya?" Ganis menghembuskan nafas kasar dan berkacak pinggang sambil memegang sapu.


Ganis menaruh sapu, lalu menatap Wira dengan mata berkaca-kaca.


"Nanti kalo ngga ada aku, kamu harus bisa bersiin kamar sendiri tanpa harus aku ingetin ya! Dimanapun kamu, sama siapapun kamu, kamu harus jadi pribadi yang lebih baik lagi!" ucapan Ganis itu sukses membuat Wira terdiam dan kedua alisnya bertaut.


"Aduhh jadi melow," Ganis terkekeh mengipasi matanya yang memanas dan mengalihkan pandangannya dari Wira dengan berpura-pura sibuk memindahkan sapu.


Wira menahan tangan Ganis, "kamu ngga akan pergi kemana-mana Ganis, kamu harus tetep ada di samping aku,"


Blugh!


Dengan sekali dorongan kaki pintu kamar tertutup. Wira mendorong badan Ganis merapat ke tembok samping lemari, dan menghimpitnya memberikan kecupan-kecupan sayang hingga mendarat di bibir manis Ganis. Lama keduanya terbuai dengan suasana yang diciptakan, hingga tak sadar tangan Wira sudah menjelajah jauh menembus dress pink milik Ganis, meraba kulit halus nan putih Ganis dibawah sana.


Hingga Wira dan Ganis tersadar suara jelas dari luar membuyarkan keduanya, mengingatkan jika jendela kamar barusan dibukakan Ganis.


Wira segera berjalan, menutup dan mengunci jendela kamarnya juga pintu kamar.


Ini memang salah! Ganis tau itu, tapi anehnya badannya tak menolak saat Wira menuntun Ganis untuk berbaring di ranjang.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2