Kepingan Jingga

Kepingan Jingga
PULANG KE RUMAH MAMA


__ADS_3

Ganis tak ada niatan berbasa-basi apapun atau bercanda dengan siapapun hari ini, Damar dan Rindu menatapnya aneh.


"Kenapa?" gumam Damar bertanya tanpa suara pada Rindu, melihat wajah ditekuk gadis ini, sepi rasanya jika Ganis galau begini. Rindu menggidikkan bahunya, "ga tau."


"Nis, mau jajan cireng ngga? Aku jajanin?!" penawaran Damar menyeret kursi kayu di depan Ganis, mencoba membujuk si putri pelangi ini, agar hari ini cuaca tetap cerah tak turun hujan, jangan sampai tiba-tiba di Bandung terjadi hujan badai gara-gara putri pelanginya lagi mendung dan galau.


"Engga," jawabnya lesu.


"Nis, kenapa? Ada masalah sama Wira ya?" Ganis melirik Rindu.


"Keliatan ya?" Ganis menoleh malah balik bertanya.


"Banget!" tembak Rindu. Ganis menghembuskan nafasnya kasar lalu menaruh dagunya diatas meja.


"Namu ah! Ke kelas tetangga! Hay tetangga!" sapa Raja masuk ke dalam kelas Ganis, kini ia tau status si gadis pin pin pom ini, pantas saja temannya Wira bertekuk lutut pada Ganis karena gadis ini memanglah istrinya. Yang tak habis pikir adalah, kok bisa! Wira na v su sama temennya si susan.


"Ja, lu apain anak gua nih?! Sampe kaya ayam sakit gini?!" tanya Damar sewot.


"Meneketehe! Tanya salakina atuh!" jawab Raja seraya tertawa, tak ada tatapan aneh, itu artinya mereka hanya menganggap ucapan Raja selorohan semata. (Tanya suaminya)


"Cuy, diantos di bumi Suci minggu payun!"


(Cuy, ditunggu kehadirannya di rumah Suci minggu depan)


"Mereka nikah?" tanya Ganis, Raja mengangguk.


"Akhirnya," balas Rindu lega, dibalas tatapan heran Ganis, Raja dan Damar.


"Akhirnya apa?" tanya Damar.


"Ya nikah, setelah melewati drama kejar-kejaran, marah-marahan sampe diguyur Ganis," tawa Rindu.


"Katanya siri," jawab Raja melengkungkan bibirnya acuh seraya menggidikkan bahunya.


"Kok siri?" bisik Ganis bertanya.


"Nanti urang (aku) tanyain dulu!" Ganis, Rindu dan Damar manggut-manggut tapi mereka terkejut saat Raja bertanya dengan caranya yang tak manusiawi.


"Za!!!!" teriak Raja dari dalam kelas Ganis ke arah luar kelas, saat Reza melintas bersama anak lainnya.


"Ceuk si Ganis naha maneh kawin siri?!" tanya keras berteriak.Bukan saja Reza yang melotot dan terkejut, bahkan anak di bangku paling belakang saja sampai terdiam dan menoleh.

__ADS_1


(Kata si Ganis, kenapa kamu nikah siri?!)


"Suttt! Kamvrettt, mulut lu!" sarkas Ganis.


"Kamvrettt si Raja!" teriak Reza, tapi rupanya obrolan serius ini pun tak dianggap serius oleh penghuni sekolah, karena seringnya mereka bercanda. Melihat ekspresi biasa-biasa saja dari teman-temannya Ganis bisa tertawa sekarang. Tapi baru saja ia bisa tertawa, wajahnya kembali merengut, ponselnya bergetar pesan dari Gemilang.


Balik jam berapa, nanti abang jemput!


Keningnya berkerut, "bang Gem, tumben ada apa?"


*********


"Nis, baliknya Wira ngga bilang mau jemput?" tanya Damar diangguki Raja, pasalnya Wira hanya meminta tolong untuk menjemput saja.


"Dijemput abang Ganis," jawabnya, tak ada kabar dari Wira, Ganis pun gengsi untuk menghubunginya lebih dahulu, jarinya refleks menyentuh icon kontak Bang Nata ❤, tapi ia urungkan kembali melihat statusnya yang tak online, sepertinya benar lelaki itu tengah sibuk bekerja. Foto profilnya siluet bayangan Wira diantara langit jingga di atas bukit, Ganis menatapnya lama-lama lalu kembali ke beranda ponselnya lagi dengan helaan nafas berat.


"Raja! Kapan atuh jalan-jalan lagi?!" dengan tanpa aba-aba Aneu melingkarkan tangannya di lengan Raja. Pemuda itu kali ini berusaha melepaskan, "nanti deh! Gua lagi males!"


Entah kenapa kali ini Raja merasa tak enak bersikap begini, padahal biasanya ia akan dengan senang hati mendudukkan para gadis di pangkuannya sambil cengar-cengir amsyong.


"Bang Gem!" Ganis melambaikan tangannya saat melihat motor dengan si pengendara yang sangat ia hafal.


"Mama udah nunggu, katanya jadi?" tanya Gem.


"Kemaren kan Nata ke rumah siang-siang, buat bilang kalo malam ini lu berdua mau ijab ulang. Katanya abis isya balik kerja, sengaja loh dia hari ini ngga sekolah biar malemnya bisa free buat laksanain ijab! Best lah boga adek ipar!" Ganis tercekat, nafasnya mendadak terhenti hingga untuk menelan saliva saja ia sulit.


Matanya memanas, seketika air matanya meleleh begitu saja tanpa tertahan membasahi pipi, ia sesenggukan di tengah keramaian jam pulang sekolah.


"Eh---" mereka panik melihat gadis ini tiba-tiba menangis terisak.


"Nis, lu kenapa?!"


"Ah, pake mewek lagi! Lu berantem apa gimana sama Nata?!" bukannya menenangkan seperti Rindu dan Damar, Gemilang malah mengomel, sementara Raja...pemuda itu malah cengo tak mengerti, lebih baik jadi penonton saja menurutnya siapa tau butuh penilaian apakah drama ini layak tonton dan sudah lulus sensor.


Ia malah semakin kencang terisak membuat Rindu dan Damar serba salah menenangkannya.


"Nis, udah atuh! Malu diliatin, dikiranya diapa-apain sama kita," ujar Rindu mengusap-usap bahu Ganis.


"Udah ngga usah mewek! Gua beliin permen deh," Gemilang menarik ujung bawah kaosnya lalu menarik tengkuk adiknya ini dan menyeka wajah Ganis dengan itu.


"Sakit be*go! Leher Ganis ntar kecengklak!" aduh Ganis, Gemilang tertawa, "halah ganti aja pake leher jerapah!"

__ADS_1


"Panjang dong leher Ganis ntar!" manyunnya.


"Cocok! Nata kan jangkung, jadi kalo kamu mau nyosor bisa dari jauh! Kamu kan pendek," jawab Gemilang tanpa ampun, tawa Rundu meledak, penenangan macam apa ini.


"Si*alan!" ketus Ganis menghardik sambil memukul Gemilang.


Tapi kalo ngga jadi gimana? Gara-gara bang Nat masih marah? Ganis kembali melelehkan tangisnya.


"Yahhhh, nih anak! Kaos gua udah penuh air mata sama ingus, masih belum puas juga. Naik dulu deh, ntar terusin meweknya di rumah. Stok air mata kamu banyak banget Nis, pinjemin sama si bawang putih sana!" cerca Gemilang diiringi tawa ketiga temannya yang ikut pamit.


Kenapa bang Nat ngga ngomong sama Ganis kalo mau ijab ulang? Apa karena keburu marahan tadi pagi?


Pikiran Ganis melanglang buana disana bersamaan motor yang ditumpanginya bergerak cepat ke arah jalan rumah mama.


"Assalamualaikum!" tas gendong itu ikut bergerak seiring si pemakai yang berjalan cepat masuk ke dalam rumah, memberikan salim takzimnya pada kedua orangtua.


"Waalaikumsalam,"


"Ganis, meni sono (kangen banget) Kenapa jarang main kesini?!" terlihat betul jika kedua orangtuanya ini sangat merindukan putri bungsunya yang manja.


"Kan mau ujian ma, pa...jadi sibuk les. Emang bang Gem ngga bilang, bang Arbi sering ke rumah?" Ganis melepaskan tas miliknya sembarang di sofa bersamaan ia yang merebahkan punggungnya ke sofa, wajahnya begitu suntuk, menangis terus bikin mata perih dan mengantuk.


"Bilang, tapi meni segitunya sibuk. Sampe ngga inget pulang!" ketus mama merasa menjadi mama tiri, ia kini merasakan betapa tak enaknya di nomor sekian-kan oleh Ganis, ternyata begini rasanya Ganis dan Gem dulu.


"Pu--lang, kan sekarang rumah Ganis sama Nata, ma. Ya pulangnya juga ke rumah suaminya atuh," sela papa.


"Udah atuh--nanti lah Ganis sering-sering kesini kalo udah ngga sibuk!" jawab Ganis mengakhiri perdebatan tentang ia yang disamakan dengan bapaknya khong guan tak pernah nongol batang hidungnya.


"Oh iya, nih atuh mama masih simpen kebaya punya Ganis dulu, masih bagus soalnya baru dipake sekali. Cobain masih muat engga, siapa tau Ganis gemukan sekarang?!" Mama beranjak dari sofa ke arah kamarnya demi mengambil kebaya off white milik Ganis saat hari sakralnya dulu bersama Wira.


"Ah, meni asa garetek pake kebaya, toh yang hadir cuma keluarga inti doang sama penghulu dan saksi. Ganis pake kaos oblong aja lah!" jawabnya. (ah, berasa geli kalo pake kebaya)


"Dih!" decih mama.


Papa dan Gem terkekeh, "biar gampang toplesinnya ya Nis?" seloroh papa.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2