
Detakan jam yang nyaris tak terdengar, seperti bom waktu untuk Ganis. Suara pompaan jantungnya saja lebih nyaring dari biasanya. Dalam kesendirian yang hampir membunuh, Ganis hanya bisa berharap agar Wira tak seperti yang ditakutkan olehnya.
Angin siang membawa serta debu, juga rontokkan daun kering menyapa tanpa permisi. Ingin sekali Ganis melempar TNT satu kotak ke dalam ruang kepsek agar tembok itu hancur berkeping-keping demi mengetahui apa yang terjadi di dalam sana, atau ia berubah menjelma menjadi jam dinding agar tau semua obrolan di dalam sana.
Satu jam sejak ia berdiri disana terlewati, rasa lapar pun tak ia hiraukan.
Akhirnya pintu mulai terbuka, awalnya para guru keluar, disusul satu persatu polisi dan para siswa yang tadi dibawa serta.
"Nata!!" Ganis berlari, suara lantang itu membuat mereka semua menoleh ke arah suara.
"Ganis,"
"Rengganis? Kenapa belum pulang, sudah jam pulang sekolah kan?" pak Sandi melirik arloji silver di bawah manset kemeja batiknya.
"Pak, maaf bisa saya bicara sebentar sama Rengganis?" pak Sandi memandang polisi.
"Boleh, tapi jangan lama-lama, kita dikejar waktu!" demi apa? Ucapan tegas polisi itu bagai jam pasir yang baru saja dibalikkan. Wira mengangguk, ia menarik tangan Ganis dan membawanya ke sisi lain.
"Kamu kenapa belum pulang?" Ganis menggeleng sebagai jawabannya, namun ia sudah terisak dan sesenggukan, bola mata sebening kaca itu semakin tergenang air.
"Belum ngomong apa-apa udah nangis, bundanya pir cengeng.." ia menangkup wajah yang semakin hari tingkat kemiripannya dengan bapau hampir menyentuh angka 100 %, ibu jarinya mengusap sudut mata Ganis berikut pipi tembem-nya.
"Aku cuma mau kasih keterangan aja di kantor polisi sebagai saksi, dan jalani serangkaian tes, ngga akan terjadi apa-apa. Ngga usah khawatir."
"Kamu pulang aja, berani kan sendiri?" Ganis mengangguk.
"Jaga diri baik-baik, jangan kelamaan di kantor polisi," cicitnya bergetar dan tersedu seperti anak kecil tak mau ditinggal, padahal kemarin ia yang mengusir Wira dari rumah.
Wira meraih kedua pundak Ganis lalu mengarahkannya menghadap pada kumpulan polisi tadi, "Tuh! Bilang sama pak polisinya jangan bawa aku lama-lama," kekehnya mencoba menggoda Ganis.
"Ngga lucu!" pukulnya semakin menangis.
"Hati-hati di jalan. Aku pergi dulu!" Wira mengacak rambut Ganis dan kembali. Ditatapnya punggung lebar Wira yang semakin menjauh bersama beberapa polisi dan teman-teman sekolahnya itu.
Ganis berjalan pelan, kesunyian begitu berdengung mengisi lubang hati yang menganga. Di perjalanan pulang pun ia masih berurai air mata, sampai-sampai si mamang ojol garuk-garuk pelipis karena bingung sendiri, ia tak mau jika harus disalahkan atas dosa yang tidak ia perbuat.
"Aduh neng, kalo ada masalah mah padahal diselesain dulu. Kalo nangis gini takutnya nanti orang-orang pada liat, dikiranya saya apa-apain," ringisnya. Ganis tak menggubris ucapan mamang ojol, sudah beberapa kali ia mengusap pipi tapi air mata itu seakan tak bisa dikontrol untuk berhenti menangis, terus saja mengalirkan lelehan beningnya.
...----------------...
Dari petang hingga malam, yang Ganis lakukan hanya menunggui ponsel, menanti kabar Wira.
"Neng, udah malem. Belum tidur?" ibu menatap Ganis yang keluar bergabung dengan ibu dan Indi di ruang tengah.
"Eh, sini duduk teh. Kirain teh Ganis udah tidur, biasanya kan jam segini teteh udah bocan!" seloroh Indi menggeser duduknya.
"Belum. Bu, Nata ada kasih kabar ke ibu ngga hari ini?" tanya Ganis.
Ibu dan Indi saling melirik dan menautkan alisnya, "engga,"
Indi tersenyum menggoda, "kangen ya teh?" Ibu ikut terkekeh, "ditelfon aja kalo gitu, disuruh pulang. Emangnya tadi di sekolah ngga ketemu?"
Itu artinya ibu tak tau masalah ini, dan Wira tak memberitahunya. Ganis sempat ingin berbicara, tapi ia mengurungkan niatannya.
Jangan--jangan! Mendingan ibu ngga tau, nanti kepikiran.
Lama-lama matanya mengantuk juga, Ganis memutuskan masuk ke dalam kamar, merebahkan badan lelahnya di ranjang dan menutup mata memasuki dunia mimpi yang tak bertepi.
...----------------...
Ganis menghembuskan nafas lega melihat lelaki itu tengah berkumpul di depan kelasnya.
__ADS_1
Sepertinya ia tak perlu lagi mengkhawatirkan ayahnya pir, karena buktinya ia sedang anteng nongkrong bareng teman sekelas.
Ia memutar bola mata jengah.
Ngapain cape-cape mikirin, orangnya aja malah ngga peduli, sampe ngga kasih kabar! Minimal chat kek udah balik dari kantor polisi!
Ganis mendumel dalam hati, ngenes?! Iya!!!!!! Kakinya menghentak lantai, untung saja bumi tak langsung gempa, lantai tempat Ganis berpijak tak retak membentuk hole in the world.
Tuh laki ngga ada kapok-kapoknya! Apa mesti gitu Ganis tinggalin! dumelnya sepanjang jalan menuju kelas.
"Ini kenapa pagi-pagi udah cemberut gini?" colek Olip di dagu Ganis.
"Oh iya Nis, kalo diliat-liat kamu gendutan sekarang!" Ganis melirik Olip, "iya kali!" acuhnya, padahal jantungnya sudah copot dan guling-guling di lantai.
"Kenapa?" tanya Olip duduk di tepian atas meja.
"Heran deh sama lelaki! Apa mesti dicolok dulu matanya biar peka?!" omelnya berlanjut. Olip tertawa melihat wajah Ganis yang seperti donald bebek lagi ngedumel.
"Kenapa lagi?" kekeh Olip.
"Masih marahan juga, bukannya bujuk gitu, seenggaknya rayu kek nanya atau kabarin udah balik dari kantor polisi, kan orang tuh nungguin sampe mata suntuk kaya panda!"
"Ha-ha-ha! Panda bukannya suntuk Nis, tapi emang dari lahir matanya udah kaya gitu!" balas Olip.
Padahal jika diingat-ingat, bukankah Ganis yang meminta Nata untuk seolah-olah tak mengenal Ganis demi memberikannya waktu dan ruang, tapi kenapa sekarang gadis ini sendiri yang sewot.
"Udah lah, daripada ngomel-ngomel mendingan gabung sama anak-anak, mereka pada ngomongin acara ke Pangalengan bulan depan, ikut ngga?!" tanya Olip melompat turun dari meja dan mengalungkan sebelah tangannya ke pundak Ganis.
"Emhhh," Ganis berfikir, kapan lagi ia akan pergi dengan teman-temannya, toh setelah ujian kenaikan ia akan menjeda sekolahnya dan pindah. Hitung-hitung perpisahan Ganis dengan mereka.
"Emh, minta ijin dulu deh sama orang rumah." Jawab Ganis.
"Pasti boleh!" Olip membawa Ganis untuk bergabung bersama teman sekelas di luar.
Beberapa siswa, kebanyakan siswa lelaki berkerumun di dekat ruang guru.
"Itu ada apa?" tanya Ganis, Firli terlihat kebingungan.
"Nis, kamu ngga tau?" tanya nya heran, gadis itu menggeleng, "tau apa?"
"Anak-anak yang kemaren dipanggil ke ruang kepsek kan di drop out,"
Jederrrr!!
"Ko aneh, pacarnya di DO ngga tau?" bisik Risna pada Firli, dan Firli menggeleng acuh.
Ganis berjalan cepat setengah berlari menuju keramaian. ia berhenti dan berdiri mematung, membuang nafas dengan tersendat-sendat. Ia memperhatikan pemandangan di depan dengan sorot mata gamang.
Wira, Maulana, Bobi dan ketiga anak lainnya mencangklok tas di sebelah pundak sambil berpamitan dan bertos ria, berpelukan saling menguatkan. Dari pemandangan ini saja Ganis sudah tau jawaban atas pertanyaannya. Tatapan Ganis kembali buram, pandangannya kabur, dan matanya memanas.
Dada Ganis kembali merasakan sesak teramat dalam, seperti ia sedang kehabisan pasokan oksigen di kedalaman laut tak memiliki dasar.
"Ra, sutt!" sikut Bobi pandangan mereka berdua mengedar dan jatuh pada seorang gadis yang menatapnya nanar.
"Bruh, gampang lah kalo mau ketemu kontek-kontek aja. Main-main ke rumah!" Wira mengacungkan tangannya tanda perpisahan, ia berjalan menghampiri Ganis.
"Aku tadinya mau nyamperin kamu, tapi kamu keburu kesini,"
Mata Ganis melemparkan sorot tajam, "kamu tuh be*go apa bisu?!"
"Orang bisu aja masih punya jari buat kabarin lewat hape!" galaknya berapi-api sambil melemparkan ponsel yang sejak tadi berada di tangannya ke arah dada Wira, untung saja Wira sigap menangkap ponsel seharga uang saku Ganis satu bulan itu, kalau tidak sudah pasti nanti saat sadar gadis ini meminta Wira menggantinya, padahal ia sendiri yang melempar.
__ADS_1
"Buat apa ada hape sih, kalo kamu anggap kita hidup di jamannya Flinstone!"
"Kamu anggap Ganis apa sih?!"
"Kamu kira Ganis tuh malaikat yang tau kejadian sebelum orang-orang, atau kamu anggap Ganis tuh peramal yang bisa prediksi kejadian sebelum terjadi?!"
"Apa bagi kamu Ganis cuma orang ngga penting, makanya tau paling terakhir kalo kamu di drop out?!"
Semakin lama nada bicara Ganis kembali seperti angry bird yang dilempar oleh sebuah ketapel besar, begitu meledak-ledak sepaket dengan lelehan cairan bening dari matanya.
Wira hanya membiarkan Ganis mengeluarkan semua uneg-uneg yang mengganjal di dalam hati.
"Ngomong atuh, da kamu teh bukan patung Wira!!!" ia memukul-mukul dan menunduk, bahunya bergetar, disinilah Wira meraih kedua bahu Ganis.
(Ngomong dong, karena kamu bukan patung, Wira!!)
"Kalo mau ngamuk-ngamuk sambil nangis jangan disini neng geulis, malu diliatin semua orang! Tuh liat mang Jajang aja liatin," bisik Wira.
"Aku lagi ngga mood bercanda Wira si*@lan!"
"Aku semalem pulang jam setengah sebelas, mau hubungin kamu kasian pasti udah tidur. Tadi pagi mau hubungin kamu tapi batre hape aku lowbath, terus kupikir masalah se-serius ini ngga bisa ku omongin cuma lewat hape. Mau pulang ke rumah takut dilempar panci sama kamu," Wira membubuhkan candaan agar Ganis tak terlalu kepikiran dengan masalahnya. Tapi sia-sia gadis itu sama sekali tak menampakkan raut wajah ingin tertawa.
"Oke, kali ini aku serius!" tatapan dan nada bicara Wira, mulai berat.
"Kemarin aku menjalani serangkaian tes di kepolisian, hasilnya untuk obat-obatan aku negatif, tapi untuk alkohol...maafin aku," pandangannya menyendu seolah mengisyaratkan penyesalan.
"Pihak kepolisian ngasih semua hasil tes itu sama sekolah. Dengan alasan karena seringnya aku bermasalah, aku kena DO." Tambahnya terasa berat diucapkan.
"Kamu tega ninggalin aku Nata, aku lagi hamil!" suaranya bergetar. Tak percaya jika permintaannya kemarin dikabulkan Tuhan begitu cepat,
Ganis ngga butuh kamu,
Jangan pernah muncul lagi di depan Ganis!
Ganis menangis tergugu sambil mencengkram seragam Wira.
"Aku ada disini, ngga kemana-mana," Wira mendongakkan wajah Ganis yang sudah banjir air mata.
"Tapi kamu pergi! Terus Ganis gimana?!" tega sekali lelaki ini membuat bumil menangis, bisa ngga sih ia kutuk saja lelaki di depannya?!
"Aku bakal ngawasin kamu dari jauh, masih ada temen-temen aku disini." Bujuk Wira, berusaha menenangkan istri manja-nya, ia akan selalu memantau keadaan Ganis disini.
"Aku mau kamu yang disini !!!" tangisannya semakin menjadi, tak peduli entah itu mang Jajang, bi Isah atau penjaga kantin sekalipun Ganis benar-benar tak peduli.
"Hey, jangan nangis atuh. Aku masih sama kamu." Wira meraih Ganis ke dalam pelukannya, ia cukup was-was, takut-takut kalau tindakan mereka dipergoki pihak sekolah, malah akan jadi masalah untuk Ganis.
"Kamu nanti sekolah dimana? Ganis mau ikut!"
"Ada, tenang aja. Berkasku udah di pindah ke sekolah lain. Nanti kamu ikut, setelah ujian...terus kamu rehat dulu buat lahiran, aku bakal pindahin sekolah kamu bareng sama aku,"
Melihat Ganis menangis begini, Wira jadi menyesal.
"Please jangan nangis Nis, baru kali ini aku nyesel sering bermasalah di sekolah, ternyata bisa misahin aku dari kamu!" ucapnya mengusap punggung istri manja-nya yang bergetar karena isakannya.
"Euleuh-euleuh ini teh lagi pada ngapain?!" ucap seseorang membuat Wira dan Ganis terkejut.
Flashback off
.
.
__ADS_1
Noted :
Euleuh-euleuh : kalimat spontan sejenis, ck--ck--ck, alamak, astaga.