
Ganis keluar dari ruangan SHA, ia tertawa cekikikan mengingat ulahnya sendiri yang menurutnya adalah suatu kebangaan yang patut disyukuri apa perlu ia nyembelih kambing buat syukuran atas ide briliantnya? Semoga saja tak ada orang disana, karena sekarang ia sedang tertawa kamvrett karena kejadian malam ini, mungkin setelah pulang dari sini ia mesti kepoin siapakah koordinator Fosha sambil ngucapin ngapunten (maaf) sambil cium punggung tangan, ia berjalan sambil menenteng paper bag dengan hati puas. Lusa di sekolah ia akan buka harga mulai dari 350 ribu persatu untuk kaos-kaos miliknya.
"Hi-hi-hi, Ganis emang pinter. Ck-ck-ck!" jumawanya memuji otak absurdnya.
Ia menempelkan ponsel di telinga, "bang Nat, Ganis udah keluar. Abang dimana?!" sudah berulang kali ia menguap, rasa kantuk benar-benar tak tertahan lagi. Fix, setibanya di rumah, ia akan langsung menjatuhkan dirinya di ranjang, dan tak akan bangun sebelum matanya bengkak. Ia berjalan pelan menyusuri lorong tadi hingga Wira mulai terlihat dari ujung lain menjemputnya.
Terlihat jelas raut wajah lelah Ganis, "udah ngantuk ya?"
Ganis mengangguk, "banget!"
"Mau nunggu di ruangan kru? Biar bisa selonjoran?" Ganis mengangguk. Ia sudah benar-benar tak connect setengah tepar, layaknya Reza dan Luki tadi.
Wira membawakan paper bag dan merangkul Ganis dari samping takut gadis itu menabrak sesuatu, membawanya melewati beberapa ruangan dan masuk ke dalam ruangan dengan tulisan bernada warning, just crew, do not entry!
"Bang, Ganis kan bukan crew. Ngga akan diusir gituh?" tanya nya.
"Engga," jawabnya singkat.
Disana sudah ada banyak teman-teman crew acara yang sama-sama sedang istirahat dan bercengkrama sambil ngopi.
Ceklek!
Mereka sontak menoleh dan melihat Wira sedang merangkul Ganis yang sudah hampir disebut apa gadis itu, teler, 5 watt, hampir tak sadar jika masih berpijak di bumi?
"Ra, Ganis kenapa, mabok? Atau teler?" tanya Rexi menatap khawatir, tak menyangka saja gadis manis, imut seperti Ganis sampai mabuk dan ngobat.
"Teler!" jawab Wira singkat tanpa mau melihat lawan bicara, yang ia pikirkan hanya satu, tempat nyaman untuk Ganis mengistirahatkan sejenak tubuh lelahnya.
"Ra!!! Bawa istri kau kesini, duduk--duduk sini!" ucap seorang perempuan bernada lantang menggetarkan gendang telinga Ganis.
"Ngga sangka!" decih Ivana, mencibir. Mungkin lebih tepatnya menghina dengan sorot mata yang merendahkan.
"Bang Nat, hoammmmm!" Ganis menutup mulutnya dengan sebelah tangan.
"Bobok disitu aja deh, di tas abang. Biar abang temenin sambil ngopi," tunjuk Wira ke arah kumpulan tas yang bersandar pada pojokan ruangan dan sudah di gelari karpet hijau.
"Nanti kalo bang Nat masih kerja gimana? Masa Ganis ditinggal?"
__ADS_1
"Disini banyak orang ay, ada ceweknya juga. Nanti abang titip sama ito!" katanya sambil mengarahkan Ganis pada perempuan paruh baya berambut pendek di cat merah cranberry, tangannya pun bertatto.
Ganis mengangguk, setidaknya disini ia aman dan nyaman, ngga geletakan kaya bang k4y tikus di luar bareng Luki dan Reza. Melihat perempuan paruh baya itu juga terlihat friendly meski ngomongnya keras macam orang ngajak gelut, Ganis oke--oke saja.
Ia melepas sepatunya begitu saja, hingga terlihatlah kaki mulus bak porselen Ganis yang menjejak di atas karpet.
"Sini!" ajak perempuan yang akrab dipanggil ito, mungkin semacam kakak perempuan untuk orang batak. Ia menepuk-nepuk tempat di sampingnya. Perempuan ini sedang memakan nasi bungkus miliknya, saking sibuknya ia baru bisa makan di jam segini. Bukan perkara mudah dan enak ternyata jadi kru acara begini.
Sementara yang ia tau diluaran sana, orang-orang cuma bilang enak bisa ketemu artis, nonton konser gratis, digaji pula, indahnya hidup....! Padahal di belakang layar ya beginilah pekerjaan mereka. Di tengah rasa kantuk mendera, dan kesadaran yang tinggal sebesar biji korek Ganis bertanya, "abang udah makan?" mungkin rasa sayang terhadap Wira memang besar hingga nalurinya berkata untuk selalu mengkhawatirkan suami metalnya ini.
"Udah, bekel yang dikasih kamu tadi." jawabnya lembut, Ganis mengangguk, ia sudah tak kuat lagi menahan kantuk, Ganis menyandarkan punggungnya di tembok dibantu Wira dengan lelaki itu disampingnya, tangan Ganis tak lepas melingkar di lengan Wira, tak mau sampai lelaki ini pergi.
"Bobok, abang temenin." Titahnya pada si kesayangan imutnya, ia menyenderkan kepala Ganis di bahu, mengelus pucuk kepala hingga garis wajah Ganis.
Sudah menjadi kebiasaannya menghirup aroma Wira sebelum tidur jika lelaki ini ada di sampingnya, katanya biar mimpiin Wira bukan mimpi bagus, "Hhhh!" sekali tarikan nafas dalam di dekat ketiak Wira, "abang bau asem tapi masih wangi," gumamnya antara sadar dan tidak, seperti terhipnotis gadis ini terlelap begitu saja. Siapapun bisa melihat interaksi manis itu, sampai-sampai ito Sarah, Mulder, Ayor, Rexi dan crew yang ada disana terkekeh melihatnya. Akhirnya si putri tidur, terlelap juga, bukan di hutan atau peti kaca dengan ditemani the 7 dwarf melainkan disini bersama suami metalnya selonjoran diantara tumpukan tas dan barang-barang ditemani para crew konser sepaket gaya khas anak punk-nya.
"Anjaayyyy, pengen banget gua punya yang kaya Wira! Gua dekepin Ra di rumah, betah gua di rumah!" ujar Ayor.
"Kalo lu betah di rumah, terus doi mau dikasih mamam apa!" tanya Rexi sewot. (makan)
"Umur piga ma inattamu?" tanya ito, lidahnya berasa gatal dari tadi ingin bertanya, melihat wajah unyu Ganis hatinya ikut gemas.
"18, ito.." Wira meraih gelas cup berisi kopi hitam miliknya yang masih menyisakan sepertiga gelas.
"Hm, seumur adekku yang bungsu itu! Tapi mukanya kaya anakku, umur 15," pendapatnya melihat wajah Ganis.
"Sadis ito, ngatain Wira pedo fil!" tawa Riswan bercanda. Di waktu malam dan tubuh yang sudah capek begini, bagusnya memang bercanda agar jiwa tak ikutan stress.
"Lu yang gov lok! Ito cuma bilang mukanya baby face!" sarkas wanita berdarah sebrang ini. Riswan tertawa terbahak disebut manusia gov lok, sudah tak aneh lagi bagi mereka dengan bahasa-bahasa makian macam ini, mungkin jika Ganis terjaga ito atau Riswan alamat kena ceramah 50 bab olehnya.
"Tenggen boido merusak kesuburan anak boru dohot ina-ina, hamu nadua nari poso. Alana tenggeni boido mambaen roa, unang lean inattamu sai jotjotan mangido baragas," pesan ito pada Wira. Wira menyimak, sedikit banyak ia mengerti dengan ucapan wanita ini, ia senior crew disini, pengalamannya beberapa kali menangani konser-konser band metal-punk beberapa kali pula Wira dipertemukan dengannya.
(Mabuk jelek buat kesuburan perempuan, kamu berdua masih muda, jangan sering-sering kamu kasih dia mabuk.)
Pemuda itu tersenyum dan terkekeh, "Ganis bukan mabok alkohol ito, tapi memang sudah lewat jam tidurnya. Ngga mungkin saya kasih ijin dia mabuk."
"Alamak!! Nahupikir tenggen borsi, hape namodom do!" serunya keras, tapi tak cukup membangunkan Ganis, maklumlah Ganis sudah benar-benar tenggelam jauh di kastil sana, jadi suara ito Sarah tak terserap masuk ke pendengarannya.
__ADS_1
(Alamak!! Kupikir mabok alkohol/ngobat, ternyata mo lorrr.)
"Ha-ha-ha!" Ayor menertawakan ito Sarah yang gagal paham.
Wira melirik Ganis yang sudah bobo cantik di lengannya dan mengusap lembut menumpahkan sorotan mata penuh sayang, "dia sesuatu yang harus saya jaga," gumamnya lirih.
"Baguslah itu!" angguk ito meremas kertas nasi yang sudah habis isinya menjadi bulatan kecil, dan meneguk air mineral.
"Asik! Biar dikata lakinya ancur lebur, kacau balau bini-nya mah jangan ya Ra?!" Ayor ikut bersuara.
"Ya jangan atuh Yor!"
"Biar abang saja yang menderita dan terluka, neng mah duduk manis di rumah sambil luluran!" tawa Rexi, mereka bertiga mengadukan kepalan tangannya. Ivana menatap gamang Wira dan Ganis secara bergantian dan memilih keluar dari ruangan untuk kembali menyelesaikan pekerjaannya. Sesaat pikirannya mengudara mengingat Caca, pastilah putri kecilnya itu sudsh terlelap juga sekarang, ia ingat pula Nugraha suaminya yang tak ada disini. Betapa Ganis memang menyayangi Wira, sampai-sampai rela ketiduran disini demi menemani Wira. Begitupun Wira, terlihat jelas rasa cinta dari matanya untuk Ganis, penyesalan berteriak begitu keras di dalam hati, jika dulu ia tetap memilih Wira, meskipun sikapnya dingin, membosankan, terkesan emosian dan tak melakukan hal luknut itu bersama Nugraha mungkin saat ini ia sedang diperlakukan spesial macam itu oleh Wira.
"Ra! Mas Iwong manggil, di ruang SD, (show director)" salah satu crew datang dari arah pintu masuk ruangan.
"Siap, otewe kesana!" di okei Wira.
"Ito, bisa titip bentar Ganis?" tanya Wira padanya.
"Oh okelah, semangat--semangat kerja Ra, biar istri bisa jajan!" balasnya, Wira ikut tersenyum tipis. Ia menyenderkan kepala Ganis di tumpukan tas dan melepas lilitan lengan Ganis. Ditatapnya wajah Ganis sebentar sambil tersenyum tipis.
"Dahlah jangan kau pandangi terus nanti tak kerja-kerja kau!" usir ito Sarah ditertawai yang lain, jarang-jarang bahkan tak pernah ia melihat pemuda dingin ini begitu sayang pada seseorang sampai sebegitunya. Termasuk pada Ivana dulu, itu artinya Ganis memang istimewa se-istimewa Yogyakarta.
"Si Wira bucin!" decih Rexi.
"Emhh, hati-hati Rex kalo ngomong! Bucin itu budak cinta dan hanya dialami satu pihak aja, saking cintanya pikiran dan mata udah kaya orang ngga waras, di be*goin pasangannya mau-mau aja, dijajah terima-terima aja, bahkan disuruh lompat ke jurang aja mau, itu udah menjurus ke zona toxic!" jelas Nora.
"Justru kalo Wira sama Ganis, gua liatnya dia tuh sayang tulus, cinta, melindungi, ngga banyak ini itu, kayanya juga kalo Ganis nya ada kepengen atau larang-larang, gua sangsi deh dia bakal gubris, selama hal yang dia lakuin itu ngga macem-macem...sweet deh! Menurut gue, Ganis juga bukan tipe cewek neko-neko, bener ngga sih Ra? Buktinya dia jarang ngintilin Wira kemana-mana," Nora memuji dengan mulut yang mengeluarkan thesahan kepedasan.
"So tau!" tembak Rexi.
"Coba tanya aja, pernah ngga liat Wira ngelakuin hal konyol atas permintaan Ganis?! Atau bawa-bawa Ganis waktu kita kerja, kaya pacar lu?! Kemana-mana ngikut aja," mahasiswi calon psikolog yang love death sama metal ini menggidikkan bahunya sambil terus nyemilin keripik basreng.
Wira hanya menggelengkan kepala menjadi bahan perdebatan teman-temannya, ia beranjak meninggalkan Ganis dari ruangan kru setelah sebelumnya menyelimuti Ganis dengan jaket miliknya. Perasaan sayangnya pada Ganis, atau Ganis terhadapnya cukup ia, Ganis dan Tuhan yang tau.
.
__ADS_1
.
.