
Wira mencari dimana tangan Ganis berada, kemudian ia sampirkan agar melingkar di tengkuknya, memudahkan Wira mengeksplore setiap lekuk tubuh Ganis.
Ditariknya gadis itu sampai berdiri agar posisinya lebih enak. Kalau urusan begini Ganis bukan gadis polos lagi, ia sudah berguru pada Wira sampai kitab keempat, selain karena nalurinya yang menginginkan. Benar-benar partner yang sip bagi Wira, hebatnya ia... bisa membuat gadis manis sepolos Ganis jadi wanita dewasa di kamar.
"Abang si junior jangan bangun dulu," pintanya dengan suara parau setelah melepaskan tautan bibir keduanya.
"Kenapa?" bisik Wira sensu al. Siapa juga yang tak tergoda dengan gadis cantik di bawah lampu temaram dan suasana mendukung terlebih lagi mereka sudah terikat oleh pernikahan.
"Ganis..." belum Ganis menyelesaikan jawabannya, Wira yang sudah tak tahan langsung menyerangnya, per se tan dengan alasan Ganis, gejolaknya sudah mendobrak-dobrak dari dalam, hawa di dalam tubuhnya semakin panas, seluruh harum tubuh Ganis seakan menjadi racun yang sudah melumpuhkan seluruh indera penciuman Wira, dapat Wira lihat Ganis pun menginginkannya juga, gadis itu menelan salivanya sulit.
"Abang mau sekarang," bisiknya tepat di telinga Ganis membuat gadis ini meremang, pori-porinya semakin membesar saat tangan kasar Wira menyentuh setiap centi permukaan kulit Ganis yang lembut tanpa jeda. Sensasinya masih sama seperti dulu, bahkan ia sangat merindukan menyentuh Ganisnya.
Setelah sekian lama mereka absen memadu kasih, mungkin ini perdana mereka kembali melakukannya. Jujur ada hal yang mengganjal di hati Ganis saat ini, tapi ia tak dapat menolak permintaan Wira, seakan saraf dan ototnya sudah lumpuh, tak dipungkiri ia pun merindukan sentuhan ini dan menginginkan lebih, nafas Ganis sampai tersengal dibuatnya.
Wira berhasil melucuti pertahanan terakhir Ganis begitupun dirinya. Kini mereka melihat satu sama lain, saat keduanya sama-sama toples.
Gerakan jemari Ganis meremas rambut belakang Wira saat lelaki itu mulai memasuki miliknya, tak ada rasa perih ataupun sakit, itu artinya memang benar ia sudah tak virgin, hanya saja rasanya seperti canggung, baru pertama kali melakukan.
"Ahhh..." the'sahan panjang lolos dari mulut Ganis semakin membuyarkan kewarasan Wira, berikut remasan di rambut menjalar ke punggung kekarnya yang bertattokan sayap burung phoenix di sekitar tulang belikat.
"Bang Nata.." ucapnya mele nguh.
"Yeah, say my name," bisiknya semakin memompa cepat tak karuan, kadang maju mundur kadang memutar. Suara per-aduan otot dan selaput menjadi irama pengantar Wira dan Ganis menggapai sesuatu yang selama ini hanya bisa ditahan.
"Abhangg....eunghhh!" tubuh Ganis bergetar, dan dibawah sana berdenyut memijit.
Wira masih berjuang diatas sana, hingga yang Ganis rasakan kini area dewinya sesak oleh milik Wira, "abang jangan di dalem abang..." tepuknya di lengan Wira.
"Udah ngga sempet," benda berurat itu berdenyut dan menyemburkan cairan vanillanya di dalam.
Beberapa detik benda itu berdenyut di dalam sana, ada helaan nafas memburu penuh kelegaan dari keduanya, kedua pasang mata itu saling memandang penuh cinta.
Ganis yang sudah sadar penuh menyipitkan matanya dan memukul dada Wira.
"Awas ah! Abang kacaulah malah dimasukkin!" sewotnya.
"Mau minta tanggung jawab?" tanya Wira menggulingkan badannya ke samping sambil terkekeh.
__ADS_1
"Malah ketawa!" pukul Ganis dengan wajah judes bin galaknya, tapi lelaki itu malah semakin tertawa keras, membuat Ganis semakin bersemangat memukulnya.
"Ooohhh, tenaganya masih kuat, kalo gitu masih bisa dong ronde kedua?" Wira menarik Ganis ke dalam dekapannya. Jadinya kedua anak manusia ini malah bergulat bebas di dalam selimut dalam keadaan toples, malam minggu kali ini mereka isi dengan gulat dalam selimut sambil ketawa-ketiwi kaya setan.
Indi yang sedang menghafal, persiapannya untuk latihan harian lusa menghentikan hafalannya dan menajamkan pendengaran, ia berfikir ibu sudah tidur, setaunya tadi juga Ganis pamit tidur, abangnya? Ayolah, si mr. refrigerator tak mungkin ketawa sampai lepas begitu kaya buto.
"Suara ketawa siapa sih?" ia melirik jam di dinding.
"Jam setengah sebelas," gadis itu langsung menutup buku dan melompat ke atas ranjang, menenggelamkan tubuhnya di dalam selimut.
"Ini malem apa sih? Masa malam minggu ada setan keliaran! Apa setan juga malmingan ya? Ngenes banget, gue jomblo!" gumam Indi.
...----------------...
"Duh, berat! Ish," kelopak mata itu masih menutup melindungi jendela hati dari terangnya lampu yang berpendar. Tangannya menyingkirkan kaki berbulu Wira dari kakinya, bulu-bulu kasarnya menggelitik kulit halus Ganis.
Ia berbalik, ditatapnya wajah lelap Wira yang tertutupi surai hitam nan lebat, disugarnya rambut Wira ke arah belakang.
"Bang Nat," panggilnya, tapi tak ada pergerakan atau respon dari lelaki ini.
"Bang Nat," panggilnya lagi sambil mencolek pipi Wira.
Kesal, Ganis akhirnya turun dari ranjang dan menyambar handuk lalu mandi.
Ganis mandi hampir setengah jam, tapi lelaki ini masih belum juga menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Jangan berasumsi jika tampang lembut nan imut adalah jaminan sikap yang lembut pula. Penjahat sadis juga tampangnya sopan dan menggemaskan.
Matanya menatap killer ke arah suami metalnya ini, yang masih asik selingkuh dengan bantal dan guling. Ganis yang baru beberapa langkah masuk ke dalam kamar, kembali lagi ke luar kamar.
Indi dan ibu yang sedang berada di dapur tak ia hiraukan, hanya satu tujuannya. Handuk kecil masih setia melilit rambutnya, tapi otaknya sudah sadis saja, bahkan matahari saja baru mengintip dari ufuk timur, dan bumi masih diselimuti dinginnya sisa hawa malam, tapi istri durhaka ini memang minta di kutuk jadi mawar berduri.
"Teteh nyari apa?" tanya Indi, matanya sampai mengedar beberapa kali melihat Ganis yang sibuk.
"Bu, ada kaleng bekas kue ngga?" tanya Ganis bangkit dari jongkoknya, semula ia mencari-cari barang di kolong meja.
"Kaleng? Buat apa?" alis ibu saling bergandengan pertanda ia bingung.
"Buat ngajakin orang ribut," jawabnya.
__ADS_1
"Ah, teteh...masa subuh-subuh ngajakin orang ribut. Aya-aya wae?!" sahut Indi menyunggingkan senyum. (ada-ada aja)
"Ngga percaya?" tanya Ganis, "ntar aja liat pasti ada yang ngamuk pagi-pagi!" tawanya.
"Ini, tapi masih ada bubuk rengginangnya," ibu menyerahkan kaleng kue bekas lebaran tahun kemarin masih dengan sisa bubuk-bubuk rengginang di dalamnya.
Senyum Ganis mengembang seperti bunga di musim semi, begini nih yang usilnya ngga nanggung-nanggung.
"Siapa sih teh? Tetangga?" tanya Indi, "kenapa emangnya mau diajak ribut, nyebelin apa gimana?" tanya Indi penasaran termasuk ibu. Setau mereka Ganis tak pernah memiliki masalah apapun apalagi berani mengganggu orang lain disini, masa iya mantu semanis Ganis mau ribut sama tetangga.
"Bapaknya singa! Ih ngeri pokoknya kalo ngamuk," gidik Ganis terkekeh geli.
Ganis meraih kaleng kotak berwarna merah itu, yang gambarnya cuma ada 3 orang karena bapaknya bang toyib, dan mengambil centong sayur ibu di tempat sendok.
"Siapa sih bu?" tanya Indi berbisik, ibu bergidik.
"Pak Herman, yang punya an jing herder di depan kompleks bukan? Pensiunan tentara?" tanya Indi, Ganis menggeleng, lagipula ia tak mengenal siapa pak Herman.
"Coba diliat," pintanya pada anak bungsunya ketika Ganis sudah berlalu, khawatir jika menantunya ini membuat onar pagi-pagi.
Tapi langkah Indi terhenti saat Ganis masuk kamar, akhirnya ia mengerti siapa bapaknya singa yang ingin diajak ribut. Seketika tawanya meledak.
Benar saja, tak selang lama terdengar dari dalam kamar Wira.
Prankkkk!
Grombyanggg!!!
Tekotrek---kotrek!!!
"SAHUR!!! ABANG NATA SAHUR!!!"
"GANISSSS!" geramnya. Ganis keluar dari kamar sambil berlari dan tertawa, disusul Wira yang masih telan jang dada hanya memakai boxer dan muka bantalnya.
"Bini ngga ada akhlak," tawa Indi.
.
__ADS_1
.
.