
"Ah masa teh?! Seumur-umur disini, Indi belum pernah kemalingan. Soalnya kan rajanya berandal tinggal disini?!" Indi ikut melongokkan kepalanya ke arah jendela dan mengintip.
"Tuh liat! Ada dua orang, masa pakeannya mencurigakan gitu kaya tukang beling !"(berkedok pemulung)
Mata hitam Indi meneliti dari atas ke bawah sambil berjongkok di balik pintu, "lebih mirip maling besi pager teh, yang lagi viral!" angguk Indi.
"Kan--kan apa Ganis bilang...nih pegang!" titah Ganis pada Indi menyerahkan sapu ijuk yang biasa mereka pakai untuk menyapukan lantai rumah. Ia lantas masuk ke belakang mengambil alat lain, tapi nyatanya ia tak menemukan sesuatu yang cocok.
Netranya menyipit karena tersenyum jahat sejahat joker, ia menemukan satu ember air bekas rendaman pewangi bekas tadi pagi, entah bekasnya atau Indi yang jelas cukuplah untuk menyiram 2 orang di depan rumah.
"Ndi!"
"Teh, buruan! Tuh orang kayanya lagi liatin keadaan rumah!!" seru Indi memekik tertahan sambil berjingkrak heboh, memang kedua orang berpakaian layaknya orang ngga waras ini mencurigakan, mulai dari celingukan melihat kondisi rumah ke arah teras samping, lalu menempelkan wajahnya ke arah kaca depan hingga membuat Indi dan Ganis bersembunyi di balik pintu.
"Teh, Indi aja yang nyiram. Teteh yang mukulin pake sapu, kayanya teteh lebih sadis!" kekeh Indi, membuat mata Ganis sontak mendelik, "ck! Oke--oke!"
"Nih!" mereka bertukar senjata, Indi mengambil ember berisi air rendaman pewangi dan Ganis menyambar sapu.
Kedua gadis ini saling pandang dengan tatapan yakin dan pasti, "siap?!" tanya Ganis.
Indi mengangguk, "mau main-main sama cewek-cewek di keluarga Adiwangsa!"
"Siap Ndi, begitu aku buka pintu kamu langsung siram mereka?!" pinta Ganis, Indi sampai naik ke atas kursi agar lebih nampol nyiramnya.
"Siap teh!"
Ganis memutar kunci dan membuka pintu, ia menyembunyikan sapu di belakang badannya.
Memang niatan buruk selalu menjadi petaka untuk tuannya, belum Ganis ataupun kedua orang itu bertanya, Wira datang dari arah belakang, mengejutkan Indi yang sontak menyiram tanpa aba-aba.
"Siapa ay?! Tamu ku bukan?" tanya nya dengan suara khas dingin Wira.
"Astagfirullah!" Indi tergelonjak.
"Byurrrr!"
"Haaa?!" matanya bukan lagi melotot, tapi hampir keluar dari tempatnya.
Baik Wira, Ganis, kedua orang di dekat gawang pintu ataupun Indi sendiri terkejut dibuatnya.
Ganis mengerjap dan mengusap wajahnya kasar sekasar kekerasan dalam rumah tangga, "Indiii !! Kenapa aku yang kamu siram?!"
"Aduhhh basah deh! Maaf teh, Indi salah perhitungan, a Nata ngagetin sih!"
Kedua orang di depan mengulum bibirnya melihat gadis yang menyambut mereka justru malah mandi basah di depan keduanya, pake air pewangi pakaian pula, kaya ngga ada air lagi.
__ADS_1
"Bang Nat-nat ihhhh!" seru Ganis. Akhirnya Ganis basah lagi, mandi untuk kedua kalinya dengan air pewangi.
Indi segera turun dengan membawa ember hitam, ia berlari ke arah belakang, "ngga sengaja teh! Kaborrrr!"
Kedua orang di depan tertawa sambil menahan mulutnya agar tak tergelak.
"Mau cari siapa?!" sengak Ganis galak, mirip-mirip bini kalo lagi tanggal tua.
"Maling ya?!" tuduhnya, sontak saja kedua orang itu menggeleng kuat, "eh, bukan! Kita mau ketemu Wira, Wira nya ada neng?" tanya salah seorang dengan rambut berwarna-warni seperti spanduk partai.
Bibirnya masih merengut sambil mendelik dan masuk, ia menghampiri Nata yang masih berte lanjang dada dengan handuk melilit di bagian bawah.
"Tuh tamu abang!" manyunnya.
"Kamu kalo mau mandi lagi bilang, tau gitu bareng barusan. Air masih banyak Nis, nggak perlu pake air mol to juga," kekeh Wira mengusap rambut basah Ganis, wangi mol to memguar meskipun sudah bercampur bau-bau aneh, mungkin karena rendaman airnya sudah lama.
Gadis itu manyun, tangannya menepis tangan Wira, "terus aja diledekin! Kan Ganis kira ada orang ngga bener, makanya bawa ginian!" tunjuk Ganis pada sapu yang masih dipegangnya.
"Jadi senjata nyemilin tuan ini teh ceritanya?" tawa Wira.
"Tau ah!" pukulnya di dada Wira keras, kemudian Ganis mengambil kembali handuk.
"Ya Allah, ini kenapa basah-basahan?" tanya ibu datang dari arah belakang bersama Indi yang membawa alat pel.
"Takut nanti licin, tisorodot!" (kepeleset) ujar Indi lewat dengan hati-hati.
"Indi," rengek Ganis seolah sedang menyalahkan, Indi menunjukkan ekspresi meringis, "maaf teh, nggak sengaja!" lalu Indi tertawa bersama ibu dan Wira.
"Mana itu air bekas rendeman air pewangi cang coet kemaren," lanjut ibu. Wira semakin tertawa melupakan tamunya yang sudah menunggu di depan.
"Hah?! Serius bu?" tanya Ganis terkejut.
Ibu mengangguk dan berlalu kembali ke ruang tengah.
"Tenang ay, masih wangi kok! Sana mandi lagi gih," Wira membaui Ganis, ia melewati Ganis untuk menemui tamunya.
"Cuy, bentar! Gua pake baju dulu!" ijin Wira pada keduanya untuk menunggu lalu kembali masuk menuju kamar, sementara Ganis masuk kamar mandi untuk kedua kalinya.
Wira sudah keluar dari dalam kamar, menemui keduanya di kursi teras depan.
"Apa kabar bro?!" ketiganya bersalaman ala-ala anak jantan (kek mana thor, pokonya gitu lah ngga mungkin kan anak punk cipika-cipiki kaya ibu-ibu di hajatan).
"Baik, alhamdulillah!" jika ditanya begini saja ingat Allah, tapi kalo ada konser aja berasa ka fir.
"Minum apa?! Jangan jawab arak," tawa Wira berseloroh.
__ADS_1
"Boleh Ra, ha-ha-ha. Apa aja lah!" Jawab Mulder nama panggung Mulyana.
"Es teteh manis yang tadi juga boleh Ra," kelakar Acuy.
"Oh jangan atuh, itu mah bini!" jawab Wira, "kedap! Biar ngobrolnya sip, harus ada kopi!" (sebentar)
Wira masuk ke dalam rumah, "ay, udah mandinya?" tanya Wira melihat Ganis melintas, gadis itu mengangguk.
"Tolong bikinin kopi, yang sachet aja sama cemilan buat di depan." Titahnya.
"Oke, kopinya ada di dapur kan?" tanya Ganis.
"Ada,"
Ganis melangkahkan kakinya ke arah dapur, mengambil gelas belimbing bening tiga dan mencari kopi sachetan di dalam lemari bufet.
Senyumnya merekah saat menemukan satu renceng kopi sachet hitam di atas lemari dapur. Kalo begini doang mah Ganis mahir, kayanya ia berbakat punya warung kopi apalagi wajahnya mumpuni buat jadi penglaris.
"Done!"
3 gelas kopi hitam siap sruput, kaya sesaji buat memedi, ditambah biskuit kelapa biar kaya di iklan dan stick balado ia bawa ke depan dengan hati-hati.
"Bang," gumamnya, mata Ganis masih fokus pada nampan yang ia bawa agar tak terjatuh, kan ngga lucu udah bikin capek-capek tapi malah tumpah.
Wira membantunya, "sok di minum. Seadanya aja ya," basa-basi Wira.
"Eh, meni repotin si neng atuh!" goda Acuy sambil senyam-senyum bikin mual pada Ganis, Ganis menampakkan wajah meringis setengah ilfeelnya karena ternyata gigi Acuy ompong 2 di depan. Hampir saja ia meledakkan tawanya karena itu.
Kedua teman Wira ini yakin pasti pikirannya sudah kelewat kacau, entah karena obat-obatan atau minuman lucknut, karena tak sedetik pun mereka sia-siakan untuk menatap wajah manis gadis di depannya, meskipun tau itu istri Wira. Definisi wajahmu mengalihkan duniaku ke sisi terang terjadi pada keduanya, hingga akhirnya deheman Wira memaksa mereka tersadar.
Wira meminta Ganis masuk kembali setelah melihat gelagat kawan-kawannya menatap lekat Ganis, seperti ancaman bom panci.
"Masuk ay, abang mau ngobrol soal kerjaan!" pintanya.
"Eh, iya." Ganis pun tak kalah terkejutnya, ia baru tersadar dari meneliti kedua makhluk aneh di depannya ini, terang saja gadis ini sampai menganga dibuatnya selain karena gigi ompongnya, rambut Acuy yang menjulang seperti patung liberty kecebur hairspray.
Tatapan Acuy dan Mulder terputus dari makhluk manis yang jarang mereka temui, sekali lirik saja mereka dapat menyimpulkan jika Ganis cocok disebut bidadari dunia fana versi kekinian, kulitnya bening, bersih dan putih kaya sering mandi di larutan susu uht ngga kaya mereka yang mandi pake oli bekas. Rajin merawat diri dan bolak-balik perawatan di salon, biar kata cuma kelilipan debu aja harus ditangani dokter spesialis tak seperti mereka yang belum bonyok dan muntah da rah ya di diemin ae. Wira pasti menjaganya dengan baik, biar kata cuma ke senggol doang, kulitnya diusapin takut ada yang lecet.
.
.
.
.
__ADS_1