
Wajah imut itu terdampar diantara tas dan barang milik crew, kaya pengungsi korban gunung meletus. sebagian poni samping menutupi wajah, seakan tak mengijinkan pemiliknya mengekspos wajah terlalu vul gar untuk khalayak, meskipun percuma saja orang-orang yang melihat masih dapat menikmati wajah selembut salju itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 01.30 wib, dan konser sudah berakhir beberapa puluh menit yang lalu.
"Ra, itu kasian istri kamu tidurnya sambil nekuk gitu bareng Ito, sama yang lain." Ujar Nora, mungkin gadis ini baru kembali lagi dari ruangan crew, bukan hanya Ganis saja yang tidur disana, sepertinya rasa kantuk Ganis menular pada sebagian crew.
"Iya, tanggung. Ini udah mau selesai," balasnya mempercepat pekerjaannya.
Tepat di pukul 2 dini hari, pekerjaan Wira selesai.
"Ra! Besok siang abis lunch ke cafe Rockstar, Ayor mau evaluasi, nutup acara, sama bubarin crew!"
"Oke siap!" Wira menunjukkan ibu jarinya. Meski lelah mendera, kantuk menyerang begitu kuat, ia bisa tersenyum puas dari usahanya ia bisa menafkahi Ganis. Ia merogoh ponsel di saku sebentar ternyata banyak pesan yang belum ia baca, seraya melangkah ke ruangan crew untuk melihat Ganis-nya.
Ia menskip pesan dari teman-temannya. Satu nama yang ia buka, Ibro.
Ra, laporan vulcan udah dikirim ke email.
Wira kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku, fokusnya kini kembali ke Vulcan, penjualannya sedang menurun akhir-akhir ini. Namanya juga usaha iye kan? Ngga mungkin selamanya bakalan maju terus pantang mundur kaya semangat bung Tomo. Ada pasang surut-nya, ada waktu dimana kamu harus berjuang dan terjatuh. Semua itu sudah biasa bagi Wira bukan hanya sekali dua kali ia mengalaminya, mentalnya ditempa sebegitu sering. Bagi pemuda dengan latar belakang bukan dari keluarga ningrat, tak memiliki nama besar siapapun di akhir namanya baik di bumi pertiwi ataupun dunia bisnis Internasional sangat sulit untuk Wira mencapai sebuah kesuksesan, karena pada kenyataannya merintis usaha itu susahnya bukan main. Tidak akan tiba-tiba kaya raya bak kejatohan pohon duren isinya emas berbongkah-bongkah jika tidak dengan kegigihan, kerja keras, dan kuat modal tentunya. Tak ada waktu untuknya buat ongkang-ongkang kaki sambil bermain golf atau jalan-jalan keluar negri sambil borong produk bermerk, Ganis butuh penghidupan, ibu dan Indi butuh makan, dan Vulcan butuh presiden'nya. Meski tidak beratus-ratus atau bahkan beribu-ribu tapi ke-20 karyawan, sudah termasuk karyawan di dapur printing butuh makan.
Oke bro, ntar gua ke Vulcan.
Ia masuk ke dalam ruangan, tersenyum melihat Ganis masih dalam posisi yang sama, seakan tak terganggu dengan kegiatan teman crew ataupun suara dengkuran Mulder, kakinya melewati dengan hati-hati Acuy dan Riswan yang berjejer layaknya ikan sarden siap kemas,
__ADS_1
"Grauk--grauk--graukk!" suara dari mulut Acuy, secara tak sadar tangannya masuk ke dalam celana, meraih dan menggaruk sesuatu entah bagian mana, mungkin di mimpinya ia tengah ditempeli ulat bulu atau sedang berada dalam fantasi liarnya. Wira tak mengindahkannya, padahal jika Ganis yang melihat mungkin gadis itu sudah bergidik jijik, dan menyiram Acuy dengan seember air.
Wira duduk di samping Ganis, "maaf ay, aku cuma bisa kasih kehidupan yang sederhana buat kamu," elusnya di garis wajah Ganis. Menatap wajah Ganis adalah obat untuk jiwanya.
Ia mengistirahatkan dahulu badan yang lelah dengan merebahkan tubuhnya di karpet tipis sambil memainkan ponsel yang ia angkat ke udara, ia harus tetap terjaga agar dapat mengendarai motor dan membawa Ganis pulang.
Itu saat dimana Ivana masuk ke dalam bersama Desti. Tatapan Wira sempat jatuh pada mata Ivana, namun ia kembali memalingkan pandangan kembali pada ponsel.
"Van, bentar gua kebelet!" Desti tergesa berlari ke luar, hingga menyisakkan Wira dan Ivana yang terjaga diantara para ikan mackarel ini. Moment awkward terjadi antara keduanya. Jika Ivana terlihat salah tingkah. Sebaliknya, Wira terlihat acuh saja.
"Ekhem," ia berdehem mengusir rasa gatal di tenggorokan sambil merapikan barang-barang miliknya.
Wira sama sekali tak terganggu, tangannya kini malah beralih meraih tangan Ganis dan membawa ke rahang tegas Wira, sesekali mengecup-ngecup manja.
"Sorry buat masalah kemaren, bukan maksud gua ngungkit-ngungkit masa lalu alasan kita putus. Cuma gua ngga terima aja lu maen hantam Nugraha,"
"Ga usah dibahas," balas Wira datar.
"Dan masalah dulu, gua bener-bener minta maaf sama lu. Gua nyesel udah curangin lu, bikin hubungan kita..."
"Thanks!" Wira memotong ucapan Ivana, yang mungkin ingin mengungkit dan mengorek luka lama yang bahkan ia sudah lupa, tak tau apa tujuannya, apa ia ingin mengenang masa lalu yang ngga indah-indah banget, yang engga unik-unik banget, dan ngga seru-seru banget?! Hanya Ivana dan Tuhan saja yang tau.
"Ya?!" Ivana awalnya menunduk tapi kemudian kini mendongak menatap Wira.
__ADS_1
"Thanks sudah memberikan luka, memberi kesempatan untuk Ganis hadir di hidup gua. Kalau malam itu lu ngga bareng Nugraha, mungkin saat ini Ganis lagi bareng orang lain, mungkin hidup gua akan selamanya hitam dan putih. Dan mungkin rasa menyesal itu sekarang sedang gua ratapi," ia beralih menatap Ganis, lalu mendaratkan kecupannya. Bau-bau deh tuh! Dari ujung tangan sampai ujung jidat tak ada sejengkal pun yang kelewat dicium.
Hati Ivana mencelos, beberapa jam yang lalu ia mengetahui kenyataan bahwa Nugraha ada main dengan perempuan lain. Membuatnya berfikir sangat keras bukan tidak mungkin apa yang terjadi pada rumah tangganya ini adalah buah dari karmanya dulu.
"Apa kalo seandainya kita masih bareng, lu bakal semanis sekarang sama gua, Ra? Secara dulu kita pernah ngelakuin.... Oh ya, apa Ganis tau kalo kita pernah.." belum ia menyelesaikan apa yang ingin disampaikan suara seseorang bagai cutter yang memutus tali jala.
"Tau, Ganis sangat tau! Ngga ada andai-andai'an!! Ngga usah berandai-andai nanti lu gila kalo ngga kesampean!" keduanya menoleh cepat, terkejut dengan suara parau khas orang bangun tidur yang kini ikut bersuara diantara keduanya. Rupanya si putri tidur terusik dengan posisinya yang bikin pan tat gatal, sendi kaku, punggungnya keropos, dan lengketnya badan karena keringat ditambah kecupan Wira yang membuatnya geli. Ia sudah terbangun sejak tadi, hanya saja Ganis sengaja tak membuka kelopak mata indahnya, saat mendengar Ivana masuk, ia cuma ingin menuntaskan rasa penasarannya, apa yang akan terjadi jika keduanya sedang bersama, apa ketakutannya dulu beralasan. Takut jika Wira akan kembali pada Ivana, takut jika perkataan Nugraha itu benar.
"Ay," Wira mengusap pipi Ganis. Bagian putih bola matanya merah, tanda jika Ganis memang tidur sangat lelap sebelumnya.
"Ganis tercipta buat abang, begitupun bang Nata, no debat! Mau itu bang Nat pernah pacaran sama kamu, sama ito Sarah sekalipun, jodohnya ya emang sama Ganis. Apapun yang kalian alami, mau itu jungkir balik di lobang buaya, koprol di sarang macan, atau rebahan di kandang beruang pun kami sekecamatan cuma mau bilang bo*do amat! Ganis ngga peduli! Ngga usah so penting, ga usah so cantik, ga usah so sempurna, ngga usah mikir kalo di bumi ini cuma kamu wanita seorang dan yang lain ban ci kaleng, jangan mentang-mentang dulu kamu pernah pacaran sama bang Nata tapi kamu bisa affair sama Nugraha terus kamu menobatkan diri jadi perempuan paling the best se-dunia akhirat, karena kenyataannya kamu itu lagi halu! Kamu sama Ganis beda, ngga usah pengen disama-samain! Ganis tuh turun dari rahim ibu sementara kamu turun dari kesalahan, salah karena udah menyia-nyiakan orang tulus, salah karena kamu udah menyia-nyiakan anak sepinter dan selucu Caca, salah karena kamu anggap Ganis ngga tau kalo kamu masih suka abang!"
Boom!! Ivana hanya bisa menganga, wajahnya memerah tak tau karena malu atau marah. Yang jelas jika memang Ivana ngajakin battle sih Ganis ngga akan nolak. Sepulang dari sini, sepertinya Ivana harus mengobati kupingnya paling tidak mengompres hati dan daun telinga, akibat dari panasnya omelan Ganis. Ganis sudah menyikat habis Ivana hingga tuntas sampai ke tulang.
Bukan hanya Ganis rupanya yang terusik dengan keadaan sekitar, rasa dingin menusuk kulit rupanya menyadarkan kembali ito Sarah, wanita ini sangat berusaha mengulum bibirnya mendengar ocehan Ganis tanpa jeda iklan dan omelan uniknya. Jika biasanya orang baru bangun tidur pastinya masih terkantuk-kantuk dan mengumpulkan kesadaran, lain halnya dengan Otak Ganis yang memang cepat tanggap, secepat formula 1 disaat hidungnya mencium bau-bau mengancam keharmonisan rumah tangga, mirip-mirip bau kucing kalo lagi bok3r maka saat itu juga otak absurd bin somplaknya bekerja. Seperti makian untuk Ivana itu sudah hafal di luar kepala.
Wira ikut menahan kedutan di bibir melihat Ivana melongo di marahi Ganis.
.
.
.
__ADS_1
.