Kepingan Jingga

Kepingan Jingga
USTADZAH ALA-ALA


__ADS_3

Kedatangan Ganis dan Wira disambut tatapan dari seluruh teman-teman sekolah, sepaket dengan bisik-bisik yang berhembus kencang bak dengungan lalat ijo kalo lagi ngerubungin makanan sisa. Kebersamaan mereka lantas jadi buah bibir satu sekolah, lebih hot dibanding royal weddingnya keluarga Buckingham.


Apalagi keduanya berjalan bersama menuju kelas yang searah mirip-mirip mbak ket sama mas wiliam kalo lagi kunjungan, warga berebut pengen gosipin. Tapi kebanyakan dari mereka hanya menganggap jika Ganis adalah gadis calon-calon seperti Suci cs, entah calon gamonnya Wira, calon nenek sihir, ngga tau calon piala bergilir yang hanya sebagai pelampiasan Wira dalam tanda kutip saja. Karena memang image buruk sudah kadung melekat di diri Wira beserta kawan-kawan.


"Orang lain yang nempel tuh tatto, piercing gitu. Ini reputasi buruk.." dumel Ganis berjalan sejajar dengan Wira, membalas tatapan mata-mata antara kasihan, memicing, entah syok melihat keduanya bergandengan kaya lagi nyebrang.


"Eh lupa deh, kalo piercing..abang kan pake barbel di lidah!" bibirnya dilengkungkan.


Balasan Wira hanya bergidik acuh, ia lebih memilih mengabaikan orang-orang sekitarnya, "yang penting kan aslinya abang ngga gitu sama kamu!" acaknya di rambut Ganis.


"Makanya jangan mau ketempelan cewek jejadian, dikira aksesoris gitu mau-maunya ditempelin terus?!" omelnya lagi, langkah Ganis sudah sampai di depan kelasnya.


"Ganis masuk, ntar pulangnya ke rumah mama papa dulu, soalnya buku pelajaran Ganis buat besok masih disana," Wira mengangguk setuju.


"Ya udah ntar pulangnya kalo kamu yang duluan keluar tunggu disini!" pintanya.


"Iya,"


Wira memang bukan pemuda baik-baik dan sholeh, calon imam impian yang bisa bawa Ganis ke surga dengan kemudahan. Tapi ia adalah laki-laki yang bertanggung jawab dan tulus yang lebih penting ia selalu berusaha lebih baik untuk Ganis.


Mata Suci mengilat melihat Ganis, dia yang mati-matian mendekati Wira sampai merendahkan dirinya sendiri, tapi malah Ganis yang dapat, hidup memang terkadang tak adil. Hati besarnya ingin sekali melenyapkan Ganis, tapi apa daya ia masih betah di bumi belum mau jadi penghuni kerak neraka terlalu cepat, apalagi setor amal-amalan ke malaikat. Jangan sampai ia masuk kandang para predator teman-teman komunitas Wira untuk kedua kalinya, karena ulahnya mengganggu Ganis.


"Nis, kayanya kelas IPS 3 udah keluar duluan?!" Rindu melongokkan kepala ke arah kelas itu seperti maling, dimana Raja dan Wira sudah tak ada di kelas.


Ganis berdecak, pasalnya ia malas jika harus ke warung slebor dahulu. Dimana lagi Wira jika bukan disana, "ck! Pasti di warung, tadi giliran Ganis yang balik duluan disuruh nunggunya di depan kelas. Giliran dia yang balik duluan malah ditinggal!"


"Lebih afdol nunggu di warung kali Nis, lagian disana kan ada jajanan!" jawab Rindu merangkul Ganis.


"Udah ngga usah ngomel-ngomel, samperin aja ke warung! Kan emang sarangnya disitu."


"Males lah, ada..."


"Suci? Yola?" tembak Rindu melihat wajah cemberut Ganis.


"Cemburu ya, suka nempelin kakang mas?!" Rindu menggoda Ganis dengan mencolek dagunya.


Ganis menepisnya, "idih, aku? Cemburu sama mereka?!" matanya merotasi, please atuh kalo dibandingin sama Jenni blackpink baru Ganis minder! Masa dibandingin sama papan catur, yang mukanya putih tapi lehernya item.


"Mereka kan ngga berani macem-macem sekarang?" langkah mereka sudah berbelok meninggalkan kelas bersama Damar di samping Rindu.


"Matanya itu loh! Minta di colok," desisnya tak suka dengan tatapan mata Suci padanya.

__ADS_1


"Siram aja pake kuah seblak Nis, masa sama anak-anak slebor berani, sama mereka engga?!" ujar Damar.


Seperti biasa warung slebor akan ramai jika jam segini, jam-jamnya anak sekolah pulang. Hawanya saja sudah hawa-hawa kuali bubur, mungkin memang Ganis tak cocok berada disini, tak tau warung ini butuh sentuhan Ganis yang usil.


Ganis menghentikkan langkahnya sejenak, seketika otaknya memutar. Memikirkan apa yang harus ia lakukan sebagai langkah awal membuat anak-anak itu insyaf.


Ganis menyeringai "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" suara lembut Ganis kontras dengan musik yang bergema disana.


"Waalaikumsalam," jawab beberapanya refleks termasuk teh Imel si pemilik warung.


Mata Ganis memicing melihat Wira yang duduk manis di pojok, meskipun tak ditempeli lagi Suci tapi tetap saja ia tak suka jika Wira masih datang ke tempat ini. Tak ada yang salah dengan tempatnya, yang salah adalah kelakuan anak-anak yang datang. Sayang sekali warung secozy ini harus memiliki aura acak-acakan gara-gara Wira cs.


Ganis melangkahkan kakinya lebih dalam masuk ke warung.


"Mau jajan apa neng...?" tawar teh Imel, teh Imel ini baik sebetulnya, tapi sayangnya ia terlalu baik hingga warungnya dijadikan warung es 3k es 3k.


"Ganis, teh! Panggil aja Ganis," potong Ganis.


"Neng Ganis," ujar teh Imel.


"Iya teh, sambil nyamperin laki!" jawabnya, Ganis mengambil teh manis berkemasan dari dalam showcase kesukaannya dua botol.


"Sok, duduk sini atuh Nis!" Raja dan Malik menggeser duduknya dari samping Wira seakan mengerti jika nyonya meneer akan duduk berdampingan dengan paduka raja.


"Sebentar atuh mau minum dulu," ketus Ganis.


"Ngga usah Ja, Ganis mah di mana aja juga jadi. Ga usah nempel-nempel ke Wira juga," balasnya tersenyum seolah sedang menyindir Suci. Melihat botol minuman dan gelas kecil di depan Wira membuat alisnya menukik tajam setajam tikungan mantan.


Suci cs juga hanya berdiam diri tak nyaman dengan kehadiran Ganis, baru saja ia bisa sebebas merpati dengan pujaan hati, eh...pengacau datang.


Tangan Ganis terulur dan menggeser botol minuman tinggal setengah isinya, "bang Nat minum?"


"Dikit, cuma nyicip" jawabnya jujur, tak berniat untuk berbohong.


"Ganti--ganti ! Bang Nat minumnya ini aja," Ganis membukakan teh yang ia bawa tadi, ada bibir yang dikulum diantara mereka, bahkan Suci cs saja menganggap Ganis kuper sepertinya.


"Tau ngga kalo minum kaya gini matinya ngga diterima bumi?!" pertanyaan Ganis sontak membuat Luki tersedak ciu. Bukan cuma Luki, tapi Reza, dan yang lain menoleh ngeri pada Ganis.


"Kata siapa Nis?" tanya Rindu cengengesan duduk di samping Ganis.


"Kata aku barusan! Inget ngga Ndu, tempo hari Ganis cerita temen smp Ganis matinya gara-gara minuman begini, lambung bocor, busuk, udah jelas ngga ngga diterima di surga! Langsung aja dicemplungin bareng jin ivrit!" cerocosnya, sementara Rindu menggaruk kepalanya tak gatal, kapan gadis itu bilang.

__ADS_1


"Ah masa!" ujar Reza gerah juga dengan ancaman dan gertakan Ganis, anggap saja Ganis mamah dedeh versi kekinian kalaupun salah mohon dimaklum. Wira menggelengkan kepalanya melihat tingkah Ganis, ia tau betul jika istri nakalnya ini tengah mengusili teman-temannya.


"Kalo gitu Wira juga termasuk dong Nis?!" tanya Raja terkikik.


"Gampang lah, Ganis tinggal cari cowok lagi!" tepisnya di udara dengan santai, membuat Wira menyeringai, "aku seret kamu ke kuburan, biar tetep bisa diterima bumi. Kan cinta sehidup semati," balas Wira datar. Ganis melotot mendengarnya, begitupun anak-anak disana, kapan lagi melihat Wira kerasukan arwah pujangga cinta.


"Idih, masa mati ngajak-ngajak bang. Nih, apalagi ini sumpek gini! Bikin oksigen kesendat!" Ganis menunjuk-nunjuk ventilasi yang minim dan asap rokok mengepul.


"Pasti ntar matinya ngga lama lagi nih! Penyakitan, masa mudanya diabisin buat berobat! Orang lain punya anak, dia malah duduk di kursi roda sambil nyemilin obat!" kembali ujar Ganis menakut-nakuti. Sebenarnya tanpa diberitahu pun mereka sudah paham, bahkan di setiap bungkusan rokok pun ada gambarnya, tapi disebutin Ganis kok jatuhnya malah makin mengerikan, mungkin Ganis punya kharisma malaikat pencabut nyawa. Sejenak Malik sampai melirik bungkus rokok miliknya.


"Astagfirullah, Nis ih. Ngeri amat omongannya, tua juga belum udah ngomongin mati!" sergah Damar ikut berkomentar.


"Cih, so tau!" bisik Yola dan Aneu mendelik, tapi tak berani bicara keras.


Pokoknya kehadiran Ganis bikin suasana warung slebor berasa kaya lagi di pengajian dan ruang eksekusi, bikin ngga nyaman.


"Pulang yuk!" ajak Wira tau ekspresi teman-temannya risih.


"Sampe warung ini bersih, Ganis ngga akan nyerah!" tegasnya pada Wira yang beranjak.


"Iya," cubit Wira di pipi Ganis.


"Ngga usah lah, ngapain sih perhatian sama orang lain. Pedulinya kamu cukup sama abang aja," ujar Wira.


"Buktinya bang Nat susah insyaf, soalnya temen-temen abang kaya gini semua?!" gerutu Ganis.


"Abang ngga boleh ikut-ikutan lagi!" matanya mengilat seperti kilatan mata pisau.


"Nih, ganti minuman itu sama ini aja!" Ganis menyerahkan sebotol teh kemasan dingin pada Wira.


"Jangan lupa bayar!" pintanya meneguk kembali teh miliknya. Teh Imel terkekeh tanpa suara melihat anak-anak itu hanya bisa diam mendapat siraman rohani singkat dari Ganis, yang bisa dikatakan pelajaran hidup absurd bin nyeleneh.


"Teteh suka nih kayanya sama ceweknya Wira, lucu ngomongnya!" ujarnya.


"Dih, lucu darimana teh! Yang ada pikasebelen!" (menyebalkan)


"Ay, tunggu dulu di luar. Aku bayar dulu jajanan barusan." Titah Wira pada Ganis.


"Iya," Ganis keluar dari warung dan menunggu di motor Wira.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2