
Kedua bola mata indah seperti kucing itu menatap wajah kurus Ivana, ia tak seperti Ganis yang wajahnya sedikit bulat. Badannya pun tak se-berisi Ganis, kulitnya APALAGI. Jangan bandingkan kulit susu vanilla Ganis dengan siapapun, terlebih dengan Ivana yang cenderung sawo kematengan--mungkin keseringan di jemur bareng opak rengginang dulunya. Ibarat kata mereka bagai kerak bumi dan lapisan langit ke 7.
Lama mata Ganis menatap lekat Ivana, "kaya hafal? Tapi dimana?" ujarnya mengingat-ingat, tapi kemudian ia menggidikkan bahu, lalu membalas uluran tangan Ivana, si tangan coklat dan susu akhirnya saling berjabat jadi susu rasa coklat. Lagipula Wira melengos begitu saja seperti tak kenal pada sang mantan, ia lebih memilih menyalami teman-teman lainnya, ketimbang memperhatikan reaksi Ganis dan Ivana saat dipertemukan, toh ia sudah tak memiliki perasaan apapun pada Ivana, jalan hidup mereka sudah masing-masing, dipertemukan hanya oleh sebuah event.
Ivana tersenyum tak menjawab, tapi celetukan salah satu rekan mereka membuat Ganis akhirnya tersadar, "Cie, tuh ada Wira, mantan terindah!" senggol rekannya.
Mulut Ganis berbentuk O besar, sebesar donat dunkin rasa coklat.
"Apa sih, ini ada pacarnya!" Ivana tersenyum simpul penuh makna terselubung, seakan puas karena Ganis dan dunia tau bahwa ia adalah mantan Wira. So, jika ia berfikir Ganis bakalannangis sampe kejer ia salah, Ganis memang menyimpan rasa cemburu teramat tapi jika harus mengalah dan menangis di depan orang lain, sorry-sorry jek...Ganis tak gentar sedikit pun, ia tak akan mundur barang setengah jengkal saja.
"Maaf ralat, Ganis istrinya bang Nat-nat," jawab gadis itu cuek tak memperdulikan ekspresi terkejut ataupun tak enak keduanya.
"Oh istri, bukannya Wira...maaf, masih SMA ya?" tanya Rexi, tangan Ivana menyikut lengan gadis berambut pendek itu hingga ia nyengir seperti keledai.
"Loh?! Emangnya kalo SMA ngga boleh nikah ya? Setau Ganis kalo udah punya ktp, bisa nafkahin perempuan kenapa ngga? Yang penting kan ngga rugiin orang lain, lagipula abang orangnya bertanggung jawab kok, ga pernah kasar juga, makasih loh! Udah lepas bang Nat buat Ganis, semesta juga tau, kalo abang jodohnya Ganis," jelasnya panjaanggggggg! Orang nanya 5 kata, jawaban Ganis sampe ngabisin jalan dari Anyer ke Jakarta.
Rexi meneliti penampilan Ganis yang lebih cocok disamain sama cherrybele ketimbang anak metal, sementara Wira ya ampun. Beda dengan Ivana yang satu aliran, mau itu dengan Wira ataupun suaminya yang sekarang.
"Gilak, cinta emang buta!" bisik Rexi.
"Oke guys! Bisa kita langsung aja ya buat mempersingkat waktu!" interupsi ketua promotor lantang dan keras, saking lantangnya Ganis sampai tergelonjak kaget, Rexi, Ivana, dan pengunjung lain saja yang duduknya paling pojok sampai menoleh terkejut, suaranya setara dengan sirine pemadam kebakaran.
"Ck, bikin kaget aja!" gumam Ganis.
"Kalo gitu kita duluan Ganis," pamit Ivana mendorong Rexi dari sana.
"Iya," balas Ganis, bersamaan dengan perginya kedua perempuan barusan Wira menghampiri Ganis, lelaki itu berpapasan dengan Ivana, keduanya sempat melempar tatapan singkat namun berbeda arti. Jika Wira menatap dengan tatapan kaku juga dingin, lain halnya dengan Ivana, ia tersenyum simpul kemudian saling berbisik dengan Rexi, Ganis dapat melihat itu.
"Minta diempanin hiu purba nih cewek," gregetnya.
Gadis itu memanyunkan bibir saat Wira datang seolah-olah sedang mengadu, "ay, aku ngumpul dulu sama yang lain. Kamu kalo mau pesen, pesen aja nanti kubayar!" ijin Wira.
__ADS_1
Matanya masih menyiratkan kecurigaan, "pantesan kerjaannya diterima, ada mantan!" tuduh Ganis menunjuk Ivana sekilas dengan dagunya yang tak runcing.
"Kok gitu ngomongnya?" alisnya saling bertaut menyiratkan kebingungan, bingung..perempuan kalau sedang mode jealous selalu nyebelin dan bikin bingung, apalagi Ganis-nya.
"Bilang aja iya, mantan terindah kan?" tak tau kenapa hatinya berasa disiram air yang langsung dari kawah gunung berapi. Ivana beda dengan Suci ataupun Yola. Ivana terkesan diam-diam menghanyutkan kaya sampah plastik, ditambah Wira juga pernah menjalin hubungan dengannya, itu artinya Ivana sempat bertahta di hati Wira.
"Kamu cemburu?"
"Ga!" cebiknya sambil menghentakkan kaki di lantai, ia menarik kursi di sampingnya untuk duduk, dihempaskannya pan tat semox itu, "mas!" panggilnya tegas melambaikan tangan pada pelayan. Hatinya sedikit membaik saat si pelayan dengan cepat meresponnya, Wira masih belum angkat kaki dari tempatnya di samping Ganis, ia masih sibuk memperhatikan gelagat kemarahan si istri manjanya.
"Aku mau pesen ini--ini--ini--ini juga, sekalian sama ini, catet!" telunjuk lentik itu menunjuk-nunjuk daftar menu yang disodorkan mas-mas pelayan cafe lalu tepat ke arah hidung pesek si mas-masnya. Pria seumuran Gem itu segera mencatat pesanan si manis jembatan Ancol (cantik, manis tapi nyeremin) di hadapannya, tak mau ikut menjadi pelampiasan kemarahan Ganis seperti pria di samping Gadis ini.
"Ngga takut gendut?" tanya Wira malah duduk di samping Ganis, pertanyaan itu sontak membuat Ganis menoleh tajam layaknya pisau daging.
"Ngga, kamu ngapain masih disini? Tuh disuruh kumpul! Sana--sana pergi," ketusnya mengusir Wira dengan kecepatan bicara seperti angin puyuh, wusssh! Pelayan lelaki yang merasa seperti kambing conge itu segera pamit setelah mencatat pesanan Ganis. Memang memiliki hubungan itu memusingkan pikirnya, apalagi kalau si wanita sudah bikin pusing 7 keliling macam ini, gadis manis saja bisa berubah menjadi serigala buas.
"Baik mbak ditunggu pesanannya ya?!" ia langsung tancap gas ngibrit darisana, membiarkan Ganis meluapkan amarahnya pada Wira.
"Ya udah sana, Ganis mau makan! Kalo kamu ngga kesana, kamu yang Ganis makan!" jawabnya galak menunjuk wajah Wira dengan sumpit di tempat sendok yang disediakan di setiap meja.
"Nis," Wira meraih tangan Ganis, si gadis manja, cemburuan, dan keras kepala ini. Menaruh sumpit kembali ke tempatnya, jangan sampai nanti keluar berita viral seorang suami dibunuh istri sendiri dengan sumpit.
"Antara aku sama Ivana udah ngga ada apa-apa, kalo aku niat balikan ngga mungkin aku ajak kamu kesini. Lagian Ivana udah punya suami dan anak, aku bukan pria gila yang mau-maunya rebut istri orang. Kalaupun bukan kamu yang jadi istriku, di dunia ini perempuan bukan hanya dia, aku lebih baik nyari kamu. Sampai belahan bumi manapun bakalan kucari," jelasnya panjang, sangat padat, begitu berisi, romantis, bucin, mecin, bahkan lidahnya sampai gatal saking tak percaya kalau dirinya bisa sepuitis ini demi Ganis.
Boro-boro tersanjung, gadis ini malah manyun kaya bebek peking,"Tapi itu dia senyum-senyum gitu sama bang Nat, kaya orang keabisan obat! Ganis tau bang, senyuman dia tuh artinya apa!" cerocosnya.
Wira hanya bisa menghela nafasnya, memang istrinya ini kepala batu, yang kerasnya mengalahkan ujian kehidupan, ditambah tak pernah mau kalah jika bicara, padahal jawabannya tadi sudah dikategorikan bucin level kritis, tapi tetap saja emosi Ganis belum turun, apa harus Wira membelikan ibu profen agar Ganis tak lagi kepanasan.
"Gini deh, gimana caranya biar Ganis percaya? Coba kasih tau," tanya Wira.
"Tau ah! Ya udah sana, Ganis percaya untuk saat ini. Catat! Untuk saat ini," omelnya, Ganis bingung sendiri dengan emosinya yang labil dan tak jelas.
__ADS_1
Mata Ganis melemparkan pandangan permusuhan pada kumpulan di depannya, lebih tepatnya melihat Ivana.
Ia melahap setiap sendok sajian di hadapannya sambil mendumel, "udah punya laki sama anak masih aja jelalatan!"
Hap!
Suapan besar mendarat di dalam mulutnya sampai penuh, "gue colok juga sama sumpit!"
Hap!
Bahkan Ganis tak mengunyahnya hingga lembut sesuai anjuran, ia menelannya bulat membayangkan jika sosok Ivana yang sedang ia telan.
"Emak-emak kegatelan! Bukannya insyaf, liat mantan makin yahud malah kaya cacing dikasih air garem!" gerutunya hingga seorang anak kecil menertawakannya dari meja samping Ganis.
"Hi--hi--hi, kakak lucu!" ujar bocah perempuan yang sedang bersama ayahnya.
Bibirnya yang penuh hanya bisa mengunyah dengan cepat, apa kata dunia jika tau ia sedang ditertawakan seorang anak kecil sekarang karena cemburu.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1