
Ganis terhanyut dalam lamunannya, hingga ia memasuki alam mimpi pun keinginan kuatnya untuk mengingat kembali ikut terbawa, memaksa kerja otaknya lebih keras lagi demi mengingat masa lalu.
Segaris senyuman dan berbagai ekspresi dalam tidur tercetak jelas di wajah Ganis layaknya anak bayi baru lahir yang suka tersenyum dan menangis dalam tidurnya.
~Flashback on~
Tak pernah terfikirkan oleh Rengganis Kamania jika pemuda sedingin Wira akan senekat ini menyukainya.
Jelas jika Ganis awalnya tak menerima Wira, ia pikir Wira hanya sedang mabuk saja menyukai Ganis.
Ganis menghentikkan langkah kaki, dan berbalik ke arah belakang. Sesosok pemuda yang ia kenali ada di belakangnya. Tak ingin berburuk sangka dan merasa kepedean ia tak mencoba menegur. Tapi lama kelamaan setelah menempuh perjalanan hampir setengah dari sekolah menuju rumah bahkan Ganis sudah sempat naik angkutan umum, kembali Ganis dikejutkan dengan kehadiran Wira di belakang Ganis, bukankah itu aneh? Apakah ia seorang stalker?!
Ganis berhenti dan berbalik, "kamu ngikutin Ganis?!" teriak Ganis di depan wajah Wira.
"Iya," jawabnya se-santai itu. Seperti apa yang ia lakukan ini adalah hal paling wajar di dunia.
Ganis mengepalkan tangannya kuat-kuat, "mau kamu tuh apa sih?!"
"Mau kamu,"
"Dasar gila!" dengus Ganis.
"Jangan ngikutin Ganis lagi! Pulang sana, kaya ngga punya kerjaan lain aja," omelnya berbalik dan menunjuk-nunjuk wajah Wira layaknya huruf alfabet saat ia mengeja sebuah kata.
"Aku cuma mau kamu pulang dengan aman," jawab Wira tanpa peduli jika gadis itu tak mendengarnya, karena Ganis sudah berjalan menjauhi Wira.
Ganis berlari seperti dikejar setan, nafasnya tersengal-sengal menyisakan oksigen yang ada di paru-parunya, dengan segera Ganis menutup pintu gerbang rumahnya rapat-rapat, bahkan Ganis mengunci gerbang depan kali aja kan Wira nekat dan melemparkan granat atau mendobrak paksa pintu rumah Ganis. Gadis itu segera masuk dengan masih memakai sepatu.
"Kenapa neng, meni kaya yang lagi diuber jurig (setan)?" sontak Ganis yang sedang mengintip di balik gorden ruang tamu terkejut dengan pertanyaan enin-nya (neneknya).
"Ah, engga nin..itu ada orang gila ngikutin Ganis," senyumnya nyengir lalu Ganis segera menghampiri sang nenek. Kalo orang gila-nya ganteng macam Wira, lalu yang waras seperti apa?
"Enin masak apa? Ganis laper," rangkulnya.
"Ada udang kesukaan Ganis, ganti baju dulu baru makan. Jangan lupa sisain buat si aa.." senyum hangat enin selalu membuat Ganis nyaman, seakan bisa menjadi obat kerinduan pada kedua orangtuanya di Jakarta. Enin dan Gem saja mungkin sudah cukup untuk Ganis.
"Ah abang mah sisain kepalanya aja nin," tawa Ganis.
Semenjak hari dimana Wira menyatakan perasaannya itu, tak jarang Ganis mendapatkan kiriman makanan dari Wira.
"Neng Ganis, biasa! Es teh manis sama mie ayam dari si aa ganteng!" seru teh Maya, si pemilik kantin tersenyum lebar. Sudah tak aneh lagi baginya mendapatkan pesanan si pujangga cinta yang terkesan cuek dan dingin namun menyimpan rasa manis di dalamnya.
"Cieee! Dapet kiriman makan istirahat lagi nih dari aa !"kekeh Olip setengah mencibir.
__ADS_1
"Lagi teh?" Ganis terlihat mengernyitkan dahinya, sudah beberapa hari ini Wira selalu mengirimkan makanan di jam istirahat untuknya.
"Iya neng," jawab teh Maya menaruh semangkuk mie ayam lengkap dengan pangsitnya dan segelas es teh manis di meja Ganis.
"Meni so sweet euy lah! Keliatannya weh cuek anaknya, dingin-dingin kaku gitu, tapi aslinya mah meni romantis," gemas teh Maya membuat reaksi berbeda dari Olip dan Ganis, Olip tertawa-tawa greget, sementara Ganis menggidikkan bahunya geli.
"Bilangin dong teh, jangan kirim-kirim makanan terus! Ganis ga mau," bibir Ganis manyun di goda Olip dan teh Maya.
Sudah 10 menit Ganis hanya memandang saja makanan di depannya, "ga mau dimakan gitu Nis, masa dianggurin gitu. Mubadzir! Lalat aja udah siap-siap nyamber tuh!" ujar Olip ikut mengikuti apa yang dilakukan Ganis, lama-lama ia bersuara juga melihat mie ayam itu hanya jadi objek pengamatan saja bagi Ganis, seperti orbit bulan di angkasa hanya dilihat tanpa disentuh.
"Kalo ngga mau sini aku aja yang makan!" Olip sudah bersiap meraih sendok dan sumpit di mangkuk mie ayam, tapi belum sendok itu diraih Ganis menepis tangan Olip, "eh! Jangan, iya Ganis makan,"
"Hem, kan! Malu-malu tapi mau!" wajah Olip masam sekaligus meledek.
"Nyicip dong Nis, kayanya enak tuh!"
Ganis menggeser mangkuk mienya ke samping, "enak kok!"
"Ini ngga dikasih pelet kan Nis?" tanya Olip, sontak saja Ganis menghentikkan kunyahannya dan melotot, "oh iya! Kok Ganis ngga kepikiran, gimana kalo dikasih ajian dulu?! Gimana dong?" tapi gadis itu menelan sisa mie ayam dalam mulutnya lalu meminum es teh manis di mejanya.
Olip tertawa melihat tingkah konyol Ganis, "telat neng! Makanannya juga udah masuk perut! Mana pake acara ditelen plus minum es teh manisnya lagi,"
"Biarin lah, paling-paling Olip juga ikutan suka Wira. Ga apa-apa lah, Wira kan ganteng meskipun nakal!" Olip ikut memakan mie ayam milik Ganis.
Ingatan berputar membawanya kembali pada seminggu setelah kejadian itu.
"Bang Gem, Ganis lagi cari buku dulu di Grame dia!" ucapnya meminta ijin sang kaka dari sambungan telfon.
"Ya udah tapi jangan kelamaan, ini udah malem, hujan pula! Abang lagi di rumah temen," jawab kakanya.
Setelah berkeliling mencari buku yang dicari Ganis membayar dan langsung menuju pintu keluar sari pusat perbelanjaan.
Ternyata benar, rintik si hujan yang membawa serta kawan-kawan belum menunjukkan tanda ingin berhenti turun mengguyur bumi, malah semakin deras saja membawa serta kenangan indah malam ini.
"Duh, ni hujan awet banget! Kaya diformalinin, mana deras banget lagi, hujannya sih satu tapi bawa temen se-kampung kaya ngajakin tawuran," seharusnya Ganis bersyukur tuh hujan rame-rame ga bawa golok, coba kalo hujan datangnya bawa golok?! Kan ngeri.
Ganis mendekap buku yang di bungkus kresek putih di dada, satu tangan ia ulurkan untuk merasai sederas apa hujan yang mengguyur kota Bandung, ia berdiri bersama beberapa orang lainnya di depan pintu masuk mall di pusat kota Bandung.
Makin malam, satu persatu orang meninggalkan tempat setelah dijemput taksi online, tapi tidak dengan Ganis. Ia kebablasan berbelanja, uang yang ada di dompet hanya tinggal beberapa puluh ribu sementara isi atm masih harus menunggu 2 hari lagi baru diisi mama dan papa. Jadi uangnya hanya cukup untuk naik angkot atau ojek online saja.
Dari kejauhan, dilihatnya satu motor yang tak asing bagi Ganis. Dan benar saja, motor itu berhenti tepat di depan Ganis.
"Naik!" pintanya, suara Wira beradu dengan derasnya air hujan.
__ADS_1
"Cepet!" tariknya di tangan Ganis, karena gadis itu malah diam saja.
"Ah iya!" Ganis masih bingung dengan apa yang terjadi tapi tak urung ia naik jua di jok belakang. Wira sempat menghentikkan laju motor dan memasangkan jaket hitam miliknya pada Ganis, "ujannya deres, pake ini!" ucapnya. Lalu dengan cepat Wira kembali mengemudikan motornya lagi menuju rumah Ganis.
Dengan perasaan campur aduk Ganis memegang pinggir kaos Wira untuk berpegangan dengan sebelah tangan lainnya mendekap buku.
"Kamu ngapain jemput Ganis?" teriak Ganis, suaranya beradu dengan angin dan hujan.
"Ga sengaja liat kamu barusan! Abis dari Dago," jawabnya.
"Oh!" oh-nya singkat, oke kali ini kamu kepedean Ganis, untung ujan kalo engga keliatan wajahnya merah.
Sampai di rumah, Ganis segera membuka pagar rumahnya, mempersilahkan Wira untuk sekedar menunggu hujan agar tak terlalu deras, mengingat kini bajunya juga sudah basah kuyup.
"Masuk dulu deh, biar Ganis bikinin teh anget!" pinta Ganis.
"Iya," Wira duduk di kursi teras rumah Ganis, sementara gadis itu masuk ke dalam dan berganti pakaian. tak berapa lama Ganis datang dengan pakaian yang sudah berganti dan secangkir teh manis.
"Nih, diminum dulu!"
"Thanks," Wira mengelapi jaketnya.
"2 kali kamu nolongin Ganis, 2 2 nya waktu hujan, makasih ya."
"Cuma makasih doang?" tanya Wira duduk dan menyeruput teh manis hangat buatan Ganis, tak terlalu manis hanya manis jagung.
"Terus?! Udah bagus Ganis bilang makasih, pake dibuatin teh manis anget lagi!" sewotnya kembali judes ke stelan awal karena ternyata Wira pun berubah menyebalkan baginya.
"Ga niat nerima aku gitu?!" ternyata menaklukkan hati seseorang tak semudah menolak mereka yang terlanjur menyukai, seperti apa yang sering Wira lakukan pada gadis-gadis yang menyukainya.
"Kasih Ganis alasan, kenapa Ganis harus terima kamu jadi pacar Ganis?" tantang gadis itu.
"Karena aku punya 2 mata, punya satu hidung dengan 2 lubang, punya 2 telinga yang masih bisa denger, dan punya otak yang masih bekerja dengan normal..." jawab Wira.
Ganis tertawa, "kalo kaya gitu mah kang es teh manis depan sekolah juga punya!"
"Karena aku sayang kamu Ganis," saat kamu menemukan seseorang yang selalu marah jika kamu salah dan ingin kamu berubah jadi pribadi yang baik maka perjuangkanlah dia, saat kamu bertemu dengan seseorang yang ingin kamu maju di berbagai aspek kehidupanmu maka pertahankanlah dia, dan saat kamu menemukan seseorang yang selalu mendebat disaat kamu berfikir jika hitam adalah jalanmu maka milikilah dia, maka kali ini Wira menemukannya, dia adalah Rengganis.
.
.
Maaf ya guys sering telat update, ga tau kenapa update an sering nyangkut di review bahkan sampe mondok.
__ADS_1