
"Ganis mau ikut!"
"Jangan baby, ini cuma ajang reuni aja. Udah lama ngga nontonin konser bareng, sekalian promoin catalog juga,"
"Kalo cuma, kenapa Ganis ngga boleh ikut?" kekehnya. Ada kalanya laki-laki butuh waktu dihabiskan dengan dunianya sendiri tanpa kehadiran wanita, dan mungkin saat ini Wira butuh itu untuk melepas rasa penatnya.
"Nanti pasti kamu disana ngobat sama minum-minum! Ganis ngga suka, kamu udah janji!" rengeknya.
"Engga, suer!" janjinya, padahal Wira sendiri tak tau apakah ia bisa menepati janjinya untuk yang satu itu, hanya ia berjanji jika sampai itu terjadi ini akan jadi yang terakhir kalinya.
Ada wajah cemberut tak terima dari Ganis, "mau aku anter pulang atau masih mau disini?" tanya Wira mengusap lembut rambut Ganis. Keduanya memang sering menghabiskan waktu sepulang sekolah di rumah Wira, berhubung ada Indi dan ibu, setidaknya suasana hangat tak seperti di rumahnya yang sepi macam rumah berhantu di Pondok Indah.
"Pulang aja, Ganis mau nemenin enin udah jamnya bi Asih pulang," Ganis segera meraih tasnya dan memasang sepatu.
"Loh! Teh Ganis mau kemana kok buru-buru amat?" tanya Indi baru saja kembali mengambil potongan buah mangga yang baru saja dikupas.
"Mau pulang dulu Ndi, bang Nata nya mau pergi juga!" Ganis memang tak melarang Wira untuk tak berkumpul dengan teman-teman satu komunitasnya karena ia tau dikekang itu sangat tak enak, tapi ada rasa tak terima jika Wira masih bergaul dengan mereka.
"Ini buahnya baru dikupasin Indi teh," seru Indi cemberut.
"Indi makan aja ya, nih deh..nih! Aku makan sebelum pulang!" Ganis menusuk potongan-potongan buah mangga dan melahapnya cepat, membuat pipinya menggelembung berisi buah mangga.
"Ha-ha-ha, teh Ganis ih! kecil-kecil nyuapnya gede!" ujar Indi yang tadinya cemberut jadi tertawa.
"Uh, dia mah jagonya makan Ndi! Makanya gembil gini," cubit Wira di pipi Ganis.
"Mana ibu, Ganis mau pamit!"
"Bu! Teh Ganis mau pulang nih!"
Ibu keluar dari dalam kamarnya setelah salat ashar masih dengan mukenanya, "loh kok udah mau pulang aja? Biasanya juga betah lama disini, walaupun Nata ngga ada,"
"Iya bu, bang Nat mau pergi, Ganis juga mau nemenin enin kasian takut bi Asih mau pulang," salimnya di punggung tangan ibu.
"Oh ya udah kalo gitu, mau bawa mangganya engga?" Ganis menggeleng, "ga usah bu, besok juga Ganis kesini lagi!" kekehnya dibalas senyuman ibu.
"Ya udah, hati-hati di jalan!"
"Iya bu, Ganis pamit ya assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam,"
Wira sudah lengkap dengan stelan hitam-hitamnya, Ganis menatap penuh meneliti mirip saat pertama kali bertemu di malam-malam saat ia melemparnya demgan sepatu.
"Kenapa sih harus item-item. Kok kesannya kaya Bandung gelap gitu!" cibirnya.
"Terus maunya apa? Masa mau pink?!"
"Iya apa kek gitu, biru-biru gitu seger kaya ponari sweat! Atau kuning-kuning biar kaya minion, atau putih-putih biar seragaman sama po cong!"
__ADS_1
Wira menggelengkan kepalanya, aneh saja pacarnya ini, mungkin kepalanya udah kebentur kali, yang benar saja masa anak metal disamakan sama minion.
"Kayanya kamu ngantuk sayang, makanya ngelantur!" jawab Wira, sontak saja dihadiahi cubitan dari Ganis di pinggangnya.
"Jangan minum! Jangan ngobat!" pelototnya mewanti-wanti.
"Mati atuh ngga minum mah, kalo haus gimana terus dehidrasi?" tanya nya terkekeh.
"Ck, bukan minum itu, kalo haus minumnya air putih aja, biar kamu ngga oleng!"
"Iya,"
"Hati-hati di rumah, jangan bukain pintu buat siapa-siapa kecuali kakak kamu,"
"Iya," jawab Gania bergantian.
"Aku pergi dulu, gembul!" usapnya di pipi Ganis.
"Iya,"
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan tak suka dibalik tirai.
"Itu tadi siapa?" tanya nya, tanpa aba-aba langsung bertanya sengit pada adiknya.
"Astagfirullah bang Gem Ih!" bikin kaget tau nggak, tumben abang udah nyampe rumah?" bukannya menjawab Ganis malah balik bertanya.
"Abang ngga suka kamu deket-deket sama cowok kaya gitu Ganis! Abang tau modelan cowok kaya gitu tuh cuma cowok brenk sek!"
Tak ada angin tak ada hujan, Gemilang memarahi Ganis dan mengatakan ketidaksukaannya pada Wira.
"Abang apaan sih, santey bro! Abang lagi pms ya? Atau lagi ada masalah sama teh Ulan?" Ganis mendengus sambil berjalan menuju kamar.
"Ganis! Denger abang nggak?" raih Gemilang di tangan Ganis.
"Bang Gem! Abang apa-apaan sih, Ganis baru pulang, belum sempet duduk atau minum main marah-marah aja,"
"Abang lagi ngga becanda Ganis, kalau kamu ada hubungan sama dia, putusin! Kalo belum sempet, segera jauhi dia dan jangan mau terlibat apapun sama dia!" tatap Gemilang tajam sarat akan ancaman.
Sontak saja Ganis tak terima dengan permintaan kakaknya ini, ia tak tau menau dengan kehidupannya, bahkan ia belum mengenal Wira sepenuhnya tapi sudah berani menjudge.
"Abang capek kayanya, istirahat deh! Biar nanti ngomong sama Ganis pikirannya udah tenang!" pintu kamar tertutup kasar oleh si empunya.
"Ganis!"
Ganis bisa melihat ketidaksukaan Gemilang pada Wira, bukan hanya hari itu saja, begitupun hari-hari berikutnya. Apa mungkin Gemilang tau seperti apa Wira di luar sana.
Ganis merasa tertekan di rumah, terlebih saat Gemilang semakin mengatur kehidupannya, baginya Gemilang sudah seperti diktator bukan lagi sosok kakak yang mengayomi dan mendengar keluh kesahnya. Lalu kemana ia harus berlari selain pada Wira.
"Mau ke rumah? Indi nanyain kamu terus. Udah seminggu lebih katanya ngga ketemu kamu, kangen!" jelas Wira. Sungguh bukan hanya Indi saja yang merasakan rindu tapi pun Ganis.
__ADS_1
Ganis masih berfikir, bagaimana caranya berbohong pada Gemilang.
"Tapi takut bang Gem marah,"
"Biar aku yang ngomong," jawab Wira.
Ganis menggeleng kuat, yang ada itu bunuh diri namanya. "Engga, itu mah nyerahin diri buat dipancung sama bang Gem!"
Wira mengerti kenapa Gemilang melarang adiknya untuk dekat dengannya apalagi sampai pacaran. Kini ia menyesal sebegitu buruknya stigma negatif dan reputasinya diluar sana.
"Aku heran aja, kenapa bang Gem tuh sampai ga suka gitu sama kamu. Padahal kamu baik orangnya! Indi, ibu, bukan penjahat mereka orang-orang baik, banget malahan!"
"Ngga apa-apa, nanti coba aku bicara buat luluhin Gem, ini biar jadi urusan aku sama Gemilang." Mungkin ini akan jadi tugas terberatnya dalam memperjuangkan Ganis, Gemilang adalah kakak sekaligus orang yang mengawasi Ganis sejak Ganis kecil, jadi wajar saja jika Gemilang overprotektif pada adiknya ini. Yang namanya kakak, orangtua sudah pasti ingin adik atau anaknya mendapatkan seseorang yang baik dengan latar belakang yang baik pula, tidak sepertinya.
Senyum Ganis merekah layaknya bunga yang baru saja mekar, begitu indah dan mewangi.
"Loh! Kok sepi, ibu sama Indi kemana?" disaat keduanya sudah sampai di rumah tapi tak menemukan Ibu dan Indi.
"Ibu lagi di pengajian, Indi kayanya belum pulang sekolah, sebentar lagi!" Wira melirik jam di dinding. Ia terlupa jika hari ini sepertinya Indi mengikuti kegiatan ekskul di sekolahnya.
Wira mengambil teh kemasan di kulkas dan menaruhnya di meja ruang tengah, dimana Ganis sedang duduk.
Wira ikut duduk merebahkan badannya yang lelah, lalu meneguk teh kemasan.
"Kamu mau ngomong apa sama bang Gem," tanya Ganis ikut menyenderkan kepalanya di kepala sofa.
"Mau ngajak ngobrol aja, sambil ngopi bareng. Obrolan antara lelaki,"
"Bang Gem itu orangnya emosian kalo sama yang ga disuka, aku takut belum apa-apa kamu udah dihantam duluan," ujar Ganis mengelusi rahang tegas Wira.
Wira menaikkan alisnya sebelah, hey ladiest! lupakah kamu siapa orang yang ada di depanmu?
"Aku ngga takut, yang aku takut kalo kamu pergi dari aku," kecupnya di tangan Ganis membuat Ganis tersipu malu.
Wira menatap Ganis lama, hingga tatapan itu akhirnya mengandung hawa-hawa bikin gerah, Wira memajukan wajahnya dan mengecup kening Ganis, gadis itu tak mengelak ataupun marah.
Lama kelamaan, kecupan itu turun dan mendarat di bibir manis Ganis.
Ganis yang belum pernah merasakan hal ini sebelumnya hanya bisa diam menerima semua perlakuan Wira padanya.
Awalnya ia mengecup berkali-kali bibir manis itu, lalu menyesap layaknya menyeruput jelly, selanjutnya meng- ulum lama seperti sebuah lolipop dan kemudian menekan tengkuk Ganis agar ia bisa mengeksplore isi mulut Ganis lebih leluasa. Jangan tanya bagaimana Wira bisa melakukan itu, ia ahlinya dalam hal begini, membuat Ganis yang baru pertama kalinya merasakan itu ikut terhanyut dan terbuai ke dalam keindahan. Jika bukan karena Ganis yang menepuk-nepuk dadanya mungkin Wira tak akan berhenti. Menyusuri kenik matan yang dimiliki Ganis, ia lebih manis dari siapapun.
.
.
.
.
__ADS_1