Kepingan Jingga

Kepingan Jingga
AKU KEMBALI


__ADS_3

Pagar pembatas jalanan dari besi pun tak dapat menahan beratnya bobot bus sepaket isi dan kecepatan tingginya.


Badan bus melaju tak terkendali hingga terjun dan berguling-guling.


"Allahuakbar!!" semua penumpang bus terbanting-banting dan terkocok isinya layaknya milkshake pisang.


Brakkk!


Awww! Ganis sudah tak mampu lagi bangun, badannya seperti sebuah dadu tak tau kapan akan berakhir berputar dan terbanting.


Pranggg!


Tubuh pak Ruli terlempar keluar bus yang pecah kacanya.


Grekkk! sesuatu yang patah tak tau tulang apa atau siapa, bau da rah segar, mesin terbakar, dan dedaunan yang terlindas menyatu di penciuman.


Beberapanya sudah tak bisa dipastikan masih bernyawa atau tidak, da rah segar mengalir dari setiap penumpang karena terluka, robekan, patah tulang tak terhitung jumlahnya. Badan bus sampai penyok karena berguling.


Tubuh Ganis terbanting menabrak deretan kursi, atap dan alas bus, tertusuk kaca juga besi dari badan bus,


"Abang Nat," gumamnya di sisa kesadarannya yang terakhir.


Mendadak semuanya gelap untuk Ganis, dan rasa sakit yang menjalari seluruh tubuh perlahan menguasai tanpa ampun.


...----------------...


Ganis sesenggukan mengingat itu semua, dimana ia kehilangan teman-temannya, gurunya, ingatan, bahkan pir...


"Olip," gumamnya.


"Pak Ruli..."


"Pir..."


"Kamu ngga ada disana, kamu udah pindah...Ganis ngga bisa jagain pir.." Ganis menoleh dengan pipi yang sudah basah pada Wira.


"Aku pindah sebulan sebelum kejadian itu, gara-gara hasil tes urine yang menyatakan kalau aku mengonsumsi alkohol. Salah satu diantara kita harus keluar."


"Iya, padahal rencananya kenaikan di bulan juli aku yang bakalan keluar dari sekolah buat vakum setahun..." Wira tersenyum, "kamu udah inget semuanya?"


Ganis mengangguk, "pir.." tangisnya kembali, Wira meraih Ganis dan memeluknya, "bukan maumu, tapi semua udah takdir, Nis.."


"Kalo aja aku ngga ngeyel buat ikut," suaranya bergetar.


"Hey, ini udah ketentuan yang maha kuasa, meskipun kamu ngga ikut tetep akan ada kejadian dimana kita bakal kehilangan pir," jelas Wira membujuk agar Ganis tak berlarut-larut dalam kesedihan.


"Setiap kejadian pasti ada hikmahnya, kalo ngga ada kejadian itu, mungkin Gem masih belum bisa terima aku," ucap Wira.

__ADS_1


"Gemilang ngga bisa liat kesungguhan aku yang sayang sama kamu," tangisan Ganis masih menganak sungai, ia duduk di kursi belajar Wira dan pemuda itu memilih berjongkok di depan Ganis mencoba menenangkan sang istri atas kehilangan calon buah hati dari keduanya.


"Kamu tau Nis, aku hancur liat kamu waktu itu! Kamu pergi dalam keadaan utuh, pagi-pagi. Tapi sorenya aku liat kamu dalam keadaan yang bikin semua pasokan udaraku mendadak habis! Mama nangis-nangis, Indi, ibu juga sama. Dan aku, Gemilang sama papa yang harus tegar, liat kamu kaya raga tak bernyawa, mindahin kamu dari Pangalengan ke Jakarta dengan kondisi kamu yang koma, semua alat dipasang di badan kamu, tanpa tau kamu akan kembali lagi sama kita atau engga. Kamu tau berapa lama aku terpuruk, sampai Gemilang bilang kamu bakalan dipindahkan tanpa perubahan? Aku hancur Ganis, liat kamu ngga ingat aku, kamu melihat aku seperti orang asing, bahkan benci aku?!"


Ganis dapat melihat itu semua di mata Wira, semua perasaan hancur, sedih, terpuruk di mata sayu pria di hadapannya.


"Di senja itu aku kehilangan kamu dan pir, dan di senja berikutnya aku bertekad untuk membuat kamu kembali sama aku..." Ganis menangkup rahang Wira.


"Dan senja ini aku kembali," balas Ganis mengusap jejak-jejak air matanya.


Wira menyatukan kening keduanya, "jangan pernah pergi lagi Rengganis."


Ganis menggeleng, "never!"


"Excuse me nih, punteun, nuwun sewu! Maaf ganggu momentnya, tapi di depan ada a Ibro, a..katanya mau ketemu a Nata..kaburrr!" Indi nyengir, ia yang baru saja pulang terpaksa mengganggu keduanya karena ada tamu, lalu kemudian ia kembali berlari ke arah belakang, takut kena amukan sepasang kekasih hati yang baru saja kembali dari perantauan.


"Ck, Indi! Ganggu aja ih!" Ganis dan Wira menoleh ke ambang pintu.


"Sebentar, Ibro mau kasih laporan distro. Nanti aku balik lagi," ijin Wira berdiri dari jongkoknya.


"Iya," Ganis pun masih rindu dengan kamar dan isinya, ia masih akan melihat-lihat semua barangnya, termasuk apakah baju-bajunya masih ada disini?


Ia mengusap dan memghapus sisa-sisa air mata lalu berdiri dari duduknya.


"Ihh, masih ada!" ia mengambil pensil bulu miliknya, lalu menyusuri rak lemari dimana semua perintilan aksesoris milik Ganis masih tersimpan rapi, kemudian Ganis terulur membuka lemari, dimana baju-baju miliknya masih tersimpan rapi bersama baju-baju Wira.


"Sekarang kamu udah inget lagi semuanya, keputusan ada di tangan kamu. Rumah ini selalu terbuka buat kamu," Ganis berbalik ke arah belakang dimana Wira sudah kembali.


"Lamar aku sekali lagi," pinta Ganis.


Wira mengambil sesuatu dari dalam laci meja belajarnya, sebuah kotak cincin beludru berwarna biru.


"Dengan cincin yang sama, Rengganis Kamania...tinggallah disini dan jadi ibunya pir-pir selanjutnya.." Wira memasangkan cincin milik Ganis, kembali pada pemiliknya setelah sempat ia copot dari jari manis Ganis demi pengobatannya, gadis itu tertawa.


"Apaan, masa lamarnya gitu!" gadis itu menepuk dada Wira, jarinya ia goyangkan melihat cincin itu kembali tersemat di jari Ganis.


"Gimana atuh, sok contoin!" Wira ikut terkekeh.


"Ya gimana kek gitu, yang romantis..will u marry me, gitu! Atau mau ngga nikah sama aku,"


"I will, mau atuh!" jawab Wira cengengesan.


"Ih! Kenapa jadi Ganis yang lamar kamu!" Ganis menyunggingkan bibirnya kesal.


"Ngga mau ulang ah! Kamu mah ih ngga romantis! Heran, kenapa Ganis bisa suka sama kamu," dumelnya.


"Karena aku ganteng, baik!"

__ADS_1


"Idihhh huwekkk, pedenya ya Allah!" Ganis mengipasi wajahnya yang mendadak panas.


"Mau tinggal disini ngga?" tanya Wira. Ganis melihat Wira menimang-nimang.


"Itu terserah kamu, aku terima apapun keputusan kamu. Takutnya kamu masih canggung," lanjutnya.


"Aku mau," jawab Ganis.


"Tapi kalo aku kangen sama mama,"


"Kamu bisa ke rumah mamah kapanpun kamu mau!" balas Wira tersenyum, hari ini Ganis-nya benar-benar sudah kembali.


"Kalo sekarang berduaan gini ngga akan dosa, udah halal!" tarik Wira di pinggang Ganis.


"Nata ih! Malu!"


"Kenapa harus malu, takut tiba-tiba Indi datang lagi ya?!" tawa Wira.


"Udah ah! Ganis mau liat Indi sama ibu," tolak Ganis melepas tangan Wira dari pinggangnya.


"Oh iya, satu lagi! Ganis ngga suka kamu sering-sering mojok di warung slebor! Apalagi deket-deket Suci cs,"


"Oke, di luar warung slebor!" jawab Wira.


"Masih punya janji peje buat anak-anak, rencananya mereka mau pada kesini bentar lagi," ujar Wira.


Ganis berdecak, "pada minta apa sih?! Jangan yang aneh-aneh lah! Kasih aja teh kotak beres!" omelnya seperti ibu-ibu arisan yang baru menang kocokan dan sayang kalo kasih jamuan banyak-banyak. Wira terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku ke warung jamu dulu sebentar," Wira meraih jaketnya.


"Mau ngapain?!" matanya mulai menyipit, jiwa emak-emak keponya mode on.


"Beli sesuatu," jawabnya datar.


"Ganis ikut!" serunya langsung.


"Ngga usah, cuma mau beli minum, Nis."


"Engga-engga! Ganis tetep ikut, kamu tuh ya ih! Malah makin jerumusin orang, udah saatnya kalian insyaf tau nggak!" karena minuman versi dirinya dan minuman versi anak-anak slebor pastilah berbeda, yang jelas minuman itu tak sehat.


"Suka ngga suka kalian ikutin aturan Ganis!" Ganis nyengir lebar, dan Wira tau akan itu, ada sesuatu yang devil dibalik senyum manis itu.


"Seppada!!! Ra, Wira!" beberapa orang terdengar memanggil dari luar.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2