
Ay, aku udah di depan parkiran
Wira memasukkan kembali ponselnya, ia memilih duduk di atas motor tanpa melepas helm dari kepalanya. Netra hitam Nata menyapu ke sekeliling, pantas saja jika kampus ini menjadi kampus favorit dan kebangaan warga kota Bandung. Jangankan warganya, banyak anak-anak lulusan SMA dari luar Bandung pun memilih melanjutkan pendidikannya disini.
Kampus ini lebih tepat disebut taman hutan raya sebenarnya. Jajaran pohon kenari di sisi kanan dan kiri tumbuh subur sejak lama di sekitaran memasuki area pejalan kaki menuju gerbang masuk, mereka seakan menyambut dengan semilir angin yang menyejukan badan dan menguarkan aroma wangi khas-nya sebagai sambutan selamat datang. Memasuki area, parkiran matanya disuguhi dengan rumpunan pohon kolecer berwarna merah muda, bunga ini menjadi ikon kampus Ganesha yang mengerubungi gerbang masuk kampus. Apalagi dibulan Juli-September, bunga ini mekar begitu lebat sangat sesuai menjadi latar monumen perjuangan warga Ganesha berbentuk kubus tepat di depan gerbang utama.
Wira menengadah dengan alis yang berkerut menghalau sinar matahari, dari atas sana ia dapat melihat puncak pohon Tusam dan Cemara Laut yang melambai-lambai, diantara megahnya atap-atap kampus. Dan yang menjadi iconic lainnya adalah pilar-pilar besar berhiaskan batu-batu kali kecil milik kampus ini.
"Abang!" Ganis tampak berjalan cepat dari dalam sana menuju gawang gerbang. Istri manja nan cantiknya keluar melewati rumpunan pohon bunga yang mengerubungi kedua sisi gerbang, sudah seperti cerita di negri dongeng.
"Maaf tadi Ganis ketemu Niar dulu, ngejar-ngejar Niar si asdos buat setor tugas. Mana anak-anak pada bikin podcast buat hadiah ultah dosen matkul pengantar bisnis,"
"Ngga apa-apa, betah ya disini. Adem!" balas Wira.
"Harus dong bang, Ganis kan disini berkat uang bang Nat!"
"Yang pinter belajarnya, uang aku tuh ay," kelakarnya di tertawai Ganis.
"Iya, uang abang!" Ganis mengulangi ucapan Wira dengan sedikit tekanan.
"Sini tas tabungnya biar Ganis yang bawa, besok Ganis mesti ngejar kelas pagi bang, jam 7!" keluhnya memakai helm.
"Iya, bangunin aja."
"Nis, balik?!" sapa salah satu temannya.
"Iya, duluan Say..." jawabnya. Wira menoleh, "say?"
"Say..ang atau say..?"
"Say..ton!" jawab Ganis.
"Namanya Sayid!" lanjut Ganis, Wira berohria.
...----------------...
Sepasang suami istri yang teramat Ganis kagumi sosoknya ada di sini, dengan si suami yang tengah mengobrol santai bersama papa, dan om-om lainnya. Sementara si istri malah sibuk menggelar isian bagasi mobil di dapur bersama kaum emak-emak, bak kapal yang lagi bongkar muat. Kondisi dapur sudah penuh dengan barang bawaan terutama per-kue'an.
Sepasang suami istri lainnya sedang sibuk mengurus dan mengganti popok kedua bayi kembar nan gemoy di karpet ruang tengah, mereka masih heboh bertengkar karena sang istri absurdnya terlihat kewalahan mendiamkan kedua anak gemoy yang beranjak setahun.
"Assalamualaikum!" Ganis turun dari motor, sementara Wira memarkirkan motornya di samping bersama motor dan mobil. Para kaum adam yang sedang mengobrol di teras depan menolehkan pandangan demi melihat siapa yang datang.
Wira sebenarnya cukup gugup jika menghadapi keluarga Ganis, mereka bukanlah anak-anak metal, atau punkrock dengan frekuensi sama dan satu tanah jejakkan dengannya. Melainkan orang-orang sukses berpendidikan.
Tapi kali ini, ia cukup percaya diri, setidaknya ia sedang berusaha memantaskan diri untuk berada di samping Ganis, ada sesuatu yang patut ia banggakan.
"Nah!!!! Ini dia calon-calon penerus a Yudi! Si bungsu," suara berat dan dalam sedalam lautan tak berdasar para kaum adam menggema.
Wira mengulas senyum sopan dan menyalami satu persatu tetua di keluarga Ganis.
"Udah sampe mana nih pasangan muda kita?!" seloroh suami teh Nengsih yang seorang polisi.
"Udah sampe mana om, ya udah sampe sini lah!" jawab Ganis sewot sarat akan candaan.
__ADS_1
"Nat, sini-sini duduk bareng papa. Nah ini mantuku! Dia bibit-bibit unggul pengusaha juga nih, calon pengusaha keren, liat gayanya anak Seni rupa!" ujar papa memperkenalkan Wira pada anggota keluarga lain dengan bangganya, papa meminta Wira duduk bergabung, tentu saja Wira mengangguk meski hatinya menjerit minta tolong pada Ganis, dan Ganis terkekeh akan itu, "dikira hortikultura meren, bibit."
"Wah, jadi inget waktu ngampus dulu! Anak seni rupa emang paling unik gayanya!"
"Anak teknik lah a! Lebih keren!" debat mereka, meributkan siapa yang lebih keren.
"Kuliah dimana?" tanya Arka datar menyesap teh melati hangatnya.
"Telkom om," angguk Wira sopan.
"Oh," angguknya.
"Telkom bagus tuh, lumayan lah chanel kerjaan sip!" ujar suami teh Yeni.
Ganis melirik meja dimana banyak gelas kopi dan teh yang sudah setengah kosong, ada beberapa piring kecil penganan bawaan mereka juga dan toples-toples cemilan sebagai sajen para orangtua ini.
"Si papa jangan kebanyakan minum kopi atuh, nanti kambuh lagi lambungnya!"
"Bang Nat aku masuk dulu,"
"Kosim!!!!" teriak seorang gadis dari dalam.
Ganis membulatkan matanya, "Hay kosimmmm!!!! micuuu!" gadis itu berlari heboh, keduanya berteriak berseru keras seperti tak akan ada hari lain lagi untuk hidup.
"Kosim apa kabar?!" tanya Gale, mahmud ini terlihat makin yahud saja di mata Ganis.
"Baik kosim, Ale...Ganis kangen ih!" keduanya berpelukan menumpahkan rasa rindu.
"Heuhhh, meni gandeng ai udah ketemu teh!" omel papa.
"Kosim kamu keterima di ITB? Njisss lah jadi anak kampus!"
"Iya, Ale juga di almamater kuning kan? Hebat lah calon dokter anak. Tapi Ganis ogah periksain anak ke Gale, bisa-bisa pas keluar rumah sakit anak Ganis malah jadi spaneng!"
"Kamvrett ih! Bi Reni, Ganis minta diapain nih?!"
"Minta di reuceuh sama bonteng!" jawab mama Reni berteriak dari dapur.
"Mama mah ihhh! Emang Ganis bahan rujakan," omelnya menjerit.
"Ini nih yang Gale kangen dari Ganis, manjanya si bungsu!"
"Tante Sha! Gale kok makin sini makin spaneng otaknya?"
"Emang da neng, udah punya anak 2 tapi kelakuan masih minus!" jawab Shania dari ruangan yang sama dengan mama Reni.
Ganis tertawa, "si momy ih!" omel Gale.
"Le, mana si kembar? Kayanya lucu deh!" tanya Ganis tak sabar ingin melihat kedua anak kembar Gale.
"Ada, lagi sama suami Gale. Udah liat suami Gale, belum? Yakin lah kamu bakal nganga liatnya, kaya liat pizaa pake mozarella, meleleeehhh..."
"Cih, Ganis juga punya lebih garang, ganteng-ganteng galak kaya kucing lagi ng'ASIhi anaknya rawrrrr!!!!" Gale dan Ganis tertawa bersama.
__ADS_1
"Suami Gale mah kalem, tapi kalo dah di ranjang...buas!"
"Saravvv njir ih!! Yakin ngga sih, yang kaya gini calon dokter?" Ganis berujar tak percaya.
"One hundred percent atuh! Masa ngga keliatan gitu, muka-muka cerdas calon dokter gini?" tanya Gale menunjukkan wajahnya.
"Maksudnya muka-muka stetoskop atau muka thermogun?" tawa Ganis.
"Cih, sue!"
"Abang oh abang! Ada yang mau kenalan, pasien yang dulu amnesia, bikin heboh satu Indonesia datang nih mau minta dodol betawi!" teriak Gale membawa Ganis masuk ke ruang tengah.
"Hello-hello twins!" sapa Ganis, kedua bocah itu langsung menoleh begitupun sosok pria tampan, kalem dan hangat yang tengah menjaga keduanya.
"Ahhh, cantik-cantik ih! Kaya papanya! Untung ngga kaya mamanya!"
"Si*@lan ih!" dumel Gale.
"Hay, ini bang Fat?!" Ganis salim takzim pada Fatur.
"Nis, sehat? Gimana progres terapi, udah jalan semua? Memorinya udah balik 100 persen?" tanya Fatur.
"Ngga tau, udah kayanya bang. Biarin lah kalo ngga inget, itung-itung ngga inget dosa!"
"Heh cimvrit, dosa mah pasti dicatet sama malaikat! Dikira malaikat tukang kredit ngasih diskon tunggakan!"
Ganis tertawa, "tante Sha! Mana dodol betawi pesenan Ganis ih!" teriak Ganis bangun dari duduknya hendak masuk ke dapur.
"Ada neng, sini! Tante pengen liat si bungsu gede hitut-na tante dulu yang udah jadi mahasiswi!"
Ganis merengut disaat yang lain menertawakannya karena gelar yang ia dapat dari Shania.
"Tante ih! Ganis ngga suka kentut, si Ale tuh yang kentutnya dimana aja!" bibirnya cemberut.
.
.
.
Note :
*Kosim : plesetan ala Gale dan Ganis untuk cousin yaitu sepupu.
* Sibungsu gede hitut : si bungsu jago kentut.
* Direuceuh : dicacah untuk disatukan dengan bumbu rujak.
* Bonteng : Ketimun.
* Hortikultura : Budidaya tanaman kebun.
* Asdos : Asisten dosen.
__ADS_1
* Matkul : Mata kuliah.
* Meren : mungkin.