
Ganis mengatupkan kedua tangannya di depan wajah seraya menghampiri teman-teman piketnya. Semoga saja hari ini ibu mereka kompakan masak labu siam dipakein daun sirsak plus jus mengkudu biar ngga darah tinggi dan ngamuk-ngamuk karena Ganis tak ikut melaksanakan piket.
"Sorry, Ganis kejebak macet di jalan, ngga tau ada apa sih di jalanan rame banget pagi ini kayanya hampir semua warga kota Bandung tumpah ke jalan deh," ujar Ganis, sontak teman-temannya mengernyit, tanda tanya muncul dari atas ubun-ubun kepala mereka seperti paku suketi karena kebingungan dengan pengakuan dan perumpamaan Ganis. Padahal jika ditelaah lebih teliti lagi, gadis ini sedang memainkan kata-kata menjebak, bukankah setiap hari di jalanan apalagi kalo jam masuk kantor memang ramai? Namanya juga jalan raya iya kan? Yang sepi mah goa. Hampir sebagian warganya pasti tumpah ke jalanan untuk mencapai sekolah, dan tempat kerja, ada juga yang hanya sekedar belanja atau memang cuma pengen menuh-menuhin jalanan kota.
"Masa sih? Kok tadi aku di jalan ngga ada apa-apa?!" tanya Tere bertanya. Seharusnya mereka lebih percaya Tuhan ketimbang gadis ini.
"Iya ah! Emang di Bandung lagi ada festival apa?" Ina sampai mencari berita terkini di sosmed dan mbah guugle, tapi hasil pencariannya tak menunjukkan ada kemacetan karena suatu hal yang seperti diucapkan Ganis, kecuali macet-macet biasa akibat jam masuk kantor.
"Iya beneran, kayanya ada demo atau apa gitu, atau mungkin presiden datang kunjungan!" kekehnya.
"Bisa jadi," jawab Haris ragu, lipatan di keningnya ikut bertambah.
"Udah lah ngga usah di pikirin. Ganis ada bawa permen jelly! Simpen buat pelajaran bu Indah biar ga suntuk!" ocehnya, rupanya ini biang keladi sampah permen numpuk di bawah meja. Ganis meraup, mengeluarkan permen jelly miliknya dari tas, seperti kebiasaannya dulu. Cocok sih gadis ini disepertikan bidadari, wong datang-datang maen sawer agung.
Wajah mereka sumringah, padahal cuma permen jelly, Ganis sukses membuat teman-temannya melupakan masalah piket.
...----------------...
Seminggu rasanya setahun, begitu kata para kang cilok bukan pujangga. Karena pujangga tak merasakan bagaimana uang yang normalnya seminggu harus diawet-awet untuk setahun.
Rindu itu menyakitkan, begitu kata Ganis bukan Dilan. Karena Dilan tak merasakan bagaimana pedihnya atm Ganis yang dibrojolkan isinya sampai luluhlantak tak bersisa saat tak bersama Wira.
"Haduhh, jajan dulu lah! Otak mulai oleng gara-gara kurang asupan," ujarnya menyimpan pulpen, semakin sini materi belajar dari Arbi semakin julid dan nyinyir buat otak Ganis seakan mengejek ketidakmampuannya mengerjakan, kangen bikin orang sepandai Ganis jadi mendadak bloon. Dari kemarin Wira tak pulang, meski ia selalu berkabar tapi beda sensasinya disaat orangnya ada di depan mata. Cinta memang mon yet! Ganis mengumpat sudah sejam ia stuck di soal nomor 3 yang menurutnya ber-approching jadi soal buat profesor.
Abang pulang! Pengen dipeluk! jeritnya dalam hati. Tapi tak ia utarakan dalam pesan, ia tau Wira bukan sedang plesiran tapi bekerja untuk dirinya, jadi yang bisa ia lakukan adalah menjadi wanita mandiri, dewasa, dan selalu jadi garda terdepan support systemnya. Meski dalam hati tengah goser-goser, nangis guling-guling apalagi liat orang pacaran lagi berantem sayang, pengennya culik tuh pasangan terus buang ke hutan biar hilang dari pengamatan, Ganis berasa jadi butiran debu padahal jika sedang bersama Wira ia merasa istimewa layaknya sebongkah berlian, dielusin, diusapin, disayang-sayang.
"Ya udah, buat hari ini udah dulu. Ga akan bener kalo dipaksain," pinta Arbi menengok Ganis dengan wajah frustasi ingin menangis, melihat jam yang melingkar di tangan pun memang sudah waktunya ia mengakhiri pelajaran hari ini.
"Bang, kenapa susah banget ih soalnya!" keluhnya menggerutu menutup bukunya.
"Bukan soalnya yang susah, kamunya yang ngga fokus, ini mah masih dibolak-balik dari soal yang tadi atuh Nis, yuk fokus atuh! Ada apa, biasanya juga Ganis mah pinter?" tanya Arbi.
"Ngga apa-apa," gelengnya.
"Katanya mau jajan? Mau nebeng ngga, sekalian bang Arbi balik?" tanya Arbi menawarkan diri, karena disini hanya ialah yang memiliki motor.
"Ngga usah deh bang, nanti aja sama Indi ke depan," bukan tanpa sebab Ganis menolak Arbi, ia tak mau karena tindakannya akan jadi sebab musabab di kemudian hari, mengetahui sifat pencemburu Wira yang begitu besar.
__ADS_1
"Oh oke, kalo gitu bang Arbi balik deh! Jangan lupa dikerjain, besok harus udah selesai plus bener!" tembak Arbi.
"Okehh!" balas Ganis,
"Oh iya bang, tunggu bentar!" Ganis beranjak dan masuk ke dalam kamar, mengambil beberapa lembar tiket.
"Kata bang Nat, buat bang Arbi sama couple-nya, ngga usah bayar. Kebetulan bang Nat punya jatah 5," ucap Ganis menyerahkan tiket itu pada Arbi.
Mata pria hitam manis ini berbinar, "woahhh! Thank you Nis, jadilah nonton Burgerkill!" serunya melihat tiket dengan warna hitam mendominasi.
"Sampein makasih bang Arbi buat Nata, Nis..."
"Oke, nanti Ganis sampein!"
Arbi naik ke atas motornya, memasangkan helm di kepalanya, iyalah! Masa kepala pak Rt sementara Ganis masih duduk di tempatnya tanpa bergeser sedikit pun menatap nyalang ke arah luar, berharap Wira segera pulang. Lelaki itu memang mengatakan jika waktunya sudah mendekati hari H konser jadi kegiatannya sudah pasti akan sangat sibuk.
"Ck! Udah kaya bininya bang toyib aja!" Decaknya mendengus kasar seperti ker bau. Indi menghampiri dengan segelas es jeruk di tangan.
"Udahan belajarnya teh?" tanya Indi cepat-cepat melongokkan kepala ke arah luar, menatap Arbi yang baru saja keluar dari halaman rumahnya. Ganis mengangguk, ia menjatuhkan punggung di sandaran kursi, sejenak menumpahkan rasa penatnya.
"Teh, bang Arbi ganteng ya! Pinter pula," Ganis menoleh dengan wajah kusut, dekil dan leceknya.
"Udah punya cewek belum teh?" tanya Indi tersenyum gila ke arah langit-langit ruang tamu, sambil menjilati bibir gelas dan sesekali menggigitinya gemas, mirip-mirip orang mabuk lem.
"Ngga tau, kayanya udah!" jawaban Ganis membuat senyum Indi pudar. Seketika badannya terasa di hempaskan dari atas kora-kora. Taman bunga di hati mendadak hancur dan layu. Baru juga mau ngerasain indahnya jatuh cinta udah kandas duluan, padahal Indi ingin merasakan... apa benar seperti kata orang-orang kalo jatuh cinta, makan nasi pake taburan garem aja berasa kaya lagi makan mewah di restoran. Apa benar rasanya jatuh cinta, nyium bau ketek tarzan aja berasa kaya nyium parfum polosport, ataukah benar jatuh cinta tuh bikin greget-greget kaya mau makan orang saking indahnya jatuh cinta.
Bibirnya tertib maju ke depan, kedua gadis ini suntuk, yang satu patah sebelum berkembang, dan yang satu ditinggal kekasih yang tak kunjung pulang, daripada nantinya sofa ibu habis mereka cemilin Ganis memilih mengajak Indi jalan-jalan sore sambil jajan "Ndi, jajan yuk!"
"Kemana teh?" ia duduk di samping kakak iparnya.
"Ke depan aja lah yang deket, udah sore juga kan. Anak perawan ngga boleh keluyuran malem," jawab Ganis bangkit.
"Hayu!" Indi meng-ayokan.
Kedua gadis ini berjalan bersampingan menikmati udara sore hari berpayung langit biru kejinggaan yang cerah meskipun hati mereka sedikit berawan dan mungkin saja sudah gerimis. Meski berawan tapi tak urung keduanya saling melemparkan candaan yang sesekali membuat keduanya ketawa-ketiwi amsyong membuat orang sekeliling mereka melirik keheranan pada kedua gadis ini.
Indi mengedarkan pandangannya, di sebuah minimarket dengan deretan gerobak dan stand jajanan umkm beberapa makanan.
__ADS_1
Ternyata hati galau tak membuat mereka kehilangan selera makan, hanya dengan melihat sederet jajanan saja galau dan bimbang terbang menghilang ke awang-awang bersama Nawang.
"Teh mau jajan apa?" tanya Indi.
"Emh, apa ya? Mau semuanya!!!" rengek Ganis, ia kemudian merogoh uang dari sakunya, satu bundel anak dollar yang sudah terlipat-lipat, lecek, dan kusut hasil Ganis mengeruk habis harta miliknya. Emang kamvret betul! Disaat hanya tersisa lembaran-lembaran bergolok dan berwajah galak, lidahnya malah meronta-ronta minta dimanjahhh.
Sabarlah sampai bang toyib balik, ucapnya pada diri sendiri.
"Ada seblak mantan, ada lumpia basah pelakor, ada cilok goreng janda atau mau thai tea kenangan manis?" tanya Indi, Ganis menelan salivanya berat, ini nama gerai dibuat waktu mereka gamon apa gimana. Apa ngga ada gitu niatan bikin gerai produknya selingkuh itu indah. Fix, sore ini ia akan berbaring di tengah jalan biar kepalanya kelindes truk sekalian.
"Indi pengen seblak aja lah teh!" tunjuk Indi, lalu menoleh pada Ganis, "teteh mau beli apa?"
Setelah pikirannya melanglang buana, mendaki gunung lewati lembah kaya lagu ninja hatori, akhirnya Ganis memutuskan membeli seblak dan thai tea saja.
"Seblak aja samain, sama thai tea." Jawabnya. Kedua gadis itu akhirnya duduk di bangku plastik hijau yang disediakan tukang seblak setelah memesan.
Mata Ganis menelisik setiap sudut minimarket berwarna merah, putih dan kuning ini. Ada beberapa pengunjung minimarket duduk di kursi yang sudah disediakan pihak minimarket untuk sekedar ngopi-ngopi cantik.
Tapi tunggu!
Mata Ganis menyipit mendapati sosok yang ia kenal.
"Kaya kenal," gumamnya hingga akhirnya matanya membelalak.
"Bang Nugraha?!" gumamnya tanpa suara, lantas kenapa ia harus terkejut bak melihat penduduk Bunian, jawabannya karena ia tengah sayang-sayangan bersama seorang perempuan dan itu bukan istrinya. Sambil cekikikan kaya kunti, perempuan itu bermanja mesra pada laki-laki beristri yang tak tau diri ini. Dalam bayangannya Ganis sudah menyiram kuah cabe dalam toples si akang seblak di sampingnya pada kedua manusia durjana di depannya. Tapi sayangnya itu bukan urusan Ganis.
Si*al! Mata Nugraha jatuh menatap Ganis yang langsung membalikkan badannya, "tetott!"
"Ganis?" senyumnya merekah.
"Sayang, aku lupa beli rokok tadi di dalem. Bisa minta tolong beliin?" pintanya pada si perempuan.
"Oh oke," jawabnya menurut. Ganis sudah duduk tak nyaman, lelaki itu bangkit dengan senyuman jahatnya, "i got u."
.
.
__ADS_1
Noted :
* Approching : mendekati, jelang.