Kepingan Jingga

Kepingan Jingga
BERTENGKAR


__ADS_3

Setiap hubungan tak akan semulus kulit Syahrini, begitupun hubungan Wira dan Ganis yang tak sehalus jalan tol. Pasti banyak penghambat entah itu kerikil, kelokan, kubangan, kotoran burung bahkan pedagang asongan dan pelebaran bahu jalan. Sudah 2 hari ini Wira tidak masuk sekolah ia lebih memilih pekerjaannya. Dan Ganislah satu-satunya orang yang tak setuju dengan ini, membuat keduanya bertengkar hari ini, cukup membuat kamar berantakan tentunya Ganislah yang paling meledak-ledak, hingga bikin Indi dan ibu seperti sedang berada di medan perang dan debat paslon.


"Teteh sama aa-mu kenapa?" tanya ibu mendengar teriakan Ganis bak lengkingan mon yet di musim kawin.


"Abang kan bisa kerjain itu pulang sekolah, atau minimal sekolah dulu-lah setengah hari, masa ngga ada toleransi banget sih, ini udah mendekati ujian loh?!" teriaknya macam tarzanwati untung saja macam-macam bahasa hutan tak ia semburkan, Ganis melempar buku dari dalam tasnya ke arah meja hingga membuat barang sekitarnya berjatuhan, lalu ia memasukkan kembali buku lainnya sesuai pelajaran hari ini, pompaan da rah ke jantungnya mendadak cepat karena emosi. Susah sekali si pangeran kegelapan ini diajak sukses sama-sama.


"Lusa hari H-nya, Nis. Abang bener-bener sibuk, kan dari awal abang udah ngomong sama Ganis. Konser kali ini bener-bener menentukan kinerja abang sama tim untuk ukuran konser band ternama, kalo ini sukses maka konser-konser kedepannya mereka bakalan tau harus hubungin kemana, setidaknya dari konser kali ini abang punya uang setara dengan biaya kuliah 1 semester di kampus yang kamu mau, jadi penghasilan Vulcan yang lagi ngga stabil bisa abang tabung buat kebutuhan lainnya nanti. Semua tiket sold out, sampe tiket tambahan dan festival juga buka area tribun baru, pencapaian yang spektakuler, ay." Wira meraih tangan Ganis dan menggenggamnya, memberikan pengertian kalau pekerjaan ini sangat penting untuk biaya hidup mereka, mengandalkan Vulcan yang terkadang tak stabil hanya bisa bikin otak berputar saja tanpa menemukan solusi.


"Ke depannya kita bakalan butuh lebih banyak uang, buat kamu kuliah, hidup kita, kalo nanti kamu hamil dan kita punya anak." Ucap Wira, tapi wajah Ganis masih terlihat tak bersahabat seakan penjelasan panjang kali lebar Wira tak masuk di otaknya. Pernikahan itu adalah menyatukan 2 orang--2 keluarga, 2 pemikiran, 2 pemahaman, 2 sifat, pribadi dan karakter yang berbeda. Disinilah terkadang mental dan usia keduanya kepayahan untuk men-sinkronkan itu. Antara pandangan Ganis dan Wira selalu beda, keduanya memang berhasil menyatukan perbedaan favorit namun untuk visi misi hidup jelas ini sangatlah sulit, usia muda membuat keduanya sama-sama egois.


"Taulah! Ya udah Ganis kerja aja, biar abang juga ngga keteteran sama biaya hidup. Ngga usah punya anak dulu gampang kan! Kalo emang bikin mumet!" jelasnya enteng, tentu saja otak Wira yang mumet dan sedang terbakar seakan mendapat siraman minyak tanah karena ucapan Ganis.


"Enteng banget kamu ngomong," Wira menumpahkan kekesalannya dengan tatapan sinis, tajam penuh rasa kecewa pada Ganis. Dimana harga dirinya sebagai suami saat Ganis berucap seolah tak menghargainya.


"Kok marah? Kan itu cuma usul aja!" alisnya bertaut. Karena luapan emosi, Ganis tak sengaja menjatuhkan sesuatu yang sengaja disembunyikannya dari Wira selama beberapa hari ini dari laci saat ia mengambil dompet.


Satu strip obat kb masih terbungkus rapi jatuh tepat di bawah kaki Wira, sontak saja matanya membola. Bagai tersengat patil lele, gadis itu terkejut bukan main. Detak jantung yang semula cepat kini terhenti sepersekian detik lalu kembali memompa lebih cepat dari sebelumnya, saat Wira memungutnya dan alisnya mengernyit.


Kilatan amarah terlihat dari pupil mata hitam Wira, urat-urat kemarahan muncul di sekitaran pelipis dan punggung tangan.


"Saking ngga maunya lu hamil anak gua Nis?" ia tak lagi menyebut dirinya abang ataupun aku. Ganis mematung di tempatnya tanpa berani bergerak sejengkal pun. Matanya memejam takut.


"Itu..." ucapnya tanpa berani menatap mata Wira.


Wira benar-benar sudah di ambang emosi.


Brakkkk!!!!


Ia menendang kursi belajar di samping Ganis, sampai gadis ini terhenyak dan tersentak, matanya kembali terpejam dengan kedua tangan saling meremas kuat.


"Ab..." belum sempat Ganis bicara Wira meninggalkannya sendiri di kamar, Wira bahkan menghempas kasar pil kb itu di meja sebelum pergi.


Matanya memanas, kali ini Ganis mengakui jika hal ini adalah kebo*dohannya. Seharusnya ia tak termakan hasutan se tan untuk membeli obat itu.


Terdengar dari arah luar suara motor yang digerungkan kencang keluar dari halaman rumah.


"Nis, ada apa? Wira ngga apa-apain Ganis kan?!" tanya ibu langsung saja menerobos masuk ke dalam kamar dan meneliti Ganis dari atas sampai bawah, takut jika putranya itu macam-macam, karena bagaimanapun kekerasan tidak pernah dibenarkan dalam rumah tangga.

__ADS_1


Ganis menggeleng memeluk ibu, "bang Nata marah bu, maafin Ganis!" suaranya tersedu-sedu teredam dada ibu.


Indi hanya memperhatikan keduanya dari ambang pintu kamar dengan tatapan nanar. Padahal 2 hari kemarin mereka masih baik-baik saja, bercanda pasal martabak, keduanya masih manja-manjaan gemesin.


Ibu mengusap dari rambut hingga punggung menantunya, "udah--udah, biarkan aja dulu. Biar pikiran sama hatinya sama-sama adem dulu. Ada masalah apa sebenernya?" Ganis mengurai pelukannya, ia mengusap mata, hidung dan pipinya. Menangis membuat wajahnya sembab dan memerah.


"Ga--nis beli ini, tapi belum Ganis minum. Awalnya c--uma buat jaga-jaga aja, karena Ga--nis pikir kita belum siap ka--lo untuk pu--nya pengganti pir. Ganis ju--ga marah sama bang Nata gara-gara abang lebih milih kerjaan ketimbang sekolah bu, Ganis cuma mau a--bang sama-sama lu--lus." Jawabnya terbata-bata karena bergelut dengan sesenggukan.


"Iya--iya ibu ngerti," balas ibu menepuk-nepuk sayang punggung Ganis.


"Maafin Nata yang memang ngga bisa kontrol emosi. Ibu ngga mihak siapapun disini, Ganis juga harus maklumi dan mengerti pikirannya laki-laki beristri sudah ter-mindset seperti itu. Gimana caranya biar besok istrinya masih bisa makan, gimana caranya besok dapur masih ngebul, atau istrinya masih bisa jajan dan beli bedak tanpa harus bersusah payah bekerja. Istri itu perhiasan suami, kesuksesan seorang suami itu bisa dilihat dari istrinya. Untuk masalah anak, ibu sangat paham kalian masih muda, butuh persiapan lahir batin dan juga materi yang cukup kuat, tapi mungkin pemikiran Nata, kalau memang rejeki ngga perlu ditolak, seiring berjalannya waktu dan pembiasaan mengurus anak maka mental sebagai orangtua juga akan terbentuk."


Ganis mengusap tulang pipinya yang hampir tak terlihat saking chubby.


"Mungkin itu maksudnya Nata, cuma dia ngga bisa jelasinnya sama Ganis, karena si neng cantik yang satu ini belum apa-apa udah nyemes (melakukan smash) duluan kaya Taufik Hidayat," colek ibu di hidung Ganis.


Ganis mengangguk, "jadi Ganis harus gimana sekarang bu?"


"Biarin aja, kalo kangen juga nanti balik lagi. Iya kan?" kekeh ibu, mungkin kekehan dan pernyataan ibu membawa hawa sejuk setelah panasnya peperangan barusan.


"Biarkan dia tenang dulu. Ganis ngga usah kemana-mana, justru nanti Nata tambah ngamuk kalo Ganis ngga ada di rumah, belum lagi keluarga di rumah bakalan nanya-nanya, ada apa? Baiknya, jika sudah rumah tangga itu kalo ada masalah disimpen aja di lemari...berdua. Sebisanya orang lain jangan sampai tau termasuk orangtua. Ibu yakin Nata juga bakalan mikir kok, ngga apa-apa. Udah, jangan nangis terus. Bukannya Ganis mau sekolah?" tanya ibu melihat tampilan Ganis yang sudah siap pergi ke sekolah.


"Punteun! (permisi) Ganis!!!" terdengar suara berat dari luar pintu rumah setelah sebelumnya suara mesin motor.


Ketiganya memutar kepala ke arah ruang depan.


"Eh, siapa?" gumam Indi.


"Ndi, coba liat itu siapa?" pinta ibu. Indi mengangguk dan melangkah menuju pintu. Pintu terbuka menyajikan wajah pemuda berseragam putih abu dengan cengiran lebarnya yang bisa bikin cewek klepek-klepek kaya lele mau digo rok.


"Indi ya?" tebaknya mudah, karena di rumah ini hanya ada 4 penghuni, tak mungkin kan ibunya Wira memakai seragam putih biru.


"Iya,"


"Ganisnya ada? Tadi Wira suruh aku jemput Ganis, bilang aja sama Ganis ada Raja.." jelasnya. Indi cukup termangu melihatnya, wajah rupawan Raja sukses bikin Indi mengerjap lucu, padahal ia sudah sering datang kesini, tapi Wira tak pernah memberi ijin Indi bertemu dengan teman-temannya, ataupun keluar dari dalam rumah jika teman-temannya berkunjung.


"Teh Ganis ada pangeran....eh Raja!" Indi terkikik akibat tak fokus salah nyebut nanya dan keceplosan. Raja ikut tertawa, ia tau tipe-tipe gadis macam ini, sudah pasti kena aura-aura peletnya. Maklum lah kalau cassanova mah gelagat cewek modelan apa juga, pasti tau.

__ADS_1


"Sok atu masuk dulu a," pinta Indi.


Jeb---ajeb---ajeb!!!! Begitulah suara jantung Raja, pagi-pagi udah diskoan, pantas saja semalam ia mimpi dikejar se tan...loh kok?! Iya dikejar se tan, tapi abis itu se tannya ngasih nomer to gel 4 angka. Belum pernah ia merasa senang begini dipanggil aa oleh adek emesh, dan itu adiknya Wira.


"Tunggu bentar ya, a?! Teh Ganis-nya lagi siap-siap dulu. Mau minum apa?" Indi tersenyum manis.


"Susu--manis! Eh..." refleks Raja, Indi tertawa renyah.


"Alahhh dipanggil aa, meni bergetar jiwa dan raga! Berasa di bawa terbang ke awan! gumamnya setelah Indi masuk ke arah dapur.


"Mata lu minta ditikam terus dicongkel bang Nat!" entah darimana dan sejak kapan Ganis sudah ada disana.


"Lu kaya jerawat Nis, tau-tau nongol aja bikin sakit!" dengus Raja.


"Hati-hati tuh jangan baper! Indi adek ipar gua Ja, jangan berani macem-macem kalo masih pengen idup!" Ganis membawa sepatu miliknya ke ruang tamu dan memakainya.


"Lu abis nangis, Nis?" tanya Raja melihat hidung merah dan mata sembab Ganis, meskipun Ganis sudah menutupinya dengan bedak tapi tetap saja kulit putih Ganis kontras dengan hal itu.


"Engga," jawabnya singkat dan dingin, Raja mengangguk, oke itu privasi. Tapi semua orang pun tau Ganis bad liar.


"A, ini susu manisnya," Indi muncul dari gawang pintu. Kening Ganis mengernyit, "sejak kapan suka susu?" apakah kini susu lebih enak daripada tuak?


"Ah Ganis nih, kan gua mah cowok baek! Suka-nya susu!" jawab Raja menyeruput susu putih dengan menatap Indi.


Ganis menyambar gelas susu Raja yang sedang ia minum isinya penuh penghayatan," cowok baik mah sukanya air putih! Buru! Telat!" sampai Raja tersedak dan susunya tumpah-tumpah.


"Ndi, temen kamu udah jemput tuh! Buruan berangkat juga, nanti telat!" titah Ganis menunjuk seorang gadis berpakaian seragam smp lainnya di depan pagar dengan dagunya dan menarik seragam Raja agar segera hengkang dari dalam rumahnya.


"Iya teh,"


"Ganis duluan," Indi kembali mengangguk dengan menahan tawanya melihat wajah prihatin Raja.


"Susu--susu...Susu versi lu tuh beda ya Ja!" cebik Ganis sementara Raja tertawa.


"Susu versi lu mah kepunyaannya wewe gom bel!" tembak Ganis kesal.


"Ha-ha-ha, saravvv!" tawa Raja memakai helm.

__ADS_1


__ADS_2