
"Jadi ngga?" Ganis menggeleng menjawabnya, beberapa kali ia menguap lebar layaknya emak kuda nil, meskipun tampang hello kitty tapi pasal kenikmatan dunia yang satu ini tak ada kata jaim-jaiman untuknya, mau dikata Indonesia kembali berperang terus di genosida sekalipun dia bakal nikmatin tiap detik moment menguapnya.
"Ngantuk! Besok aja lah sebelum abang bener-bener sibuk!" ujarnya sudah terkantuk-kantuk. Tunggu! Ini baru juga jam 8, masa malam mingguan juga belum sudah k.o.
Dengan berat hati Wira membelokkan motornya ke arah jalan pulang, tak tega juga melihat Ganis yang sudah setengah teler, resiko ngapelin anak ketek mama ya begini, dari dulu ngga bisa nikmatin malam berdua sampai larut kaya maling sowang yang berburu waktu sepertiga malam buat beraksi. Tapi bagusnya, Ganis tak mengetahui dunia malam yang kejam, lebih kejam dari penghianatan PKI bahkan matanya tak memiliki kantung hitam bergelayut manja seperti panda. Jerawat saja minder buat singgah karena wajah Ganis nyaris mulus akibat tak pernah bergadang dan tidur cukup. Kalaupun tidur siang juga gadis ini banteran kuat cuma nyampe jam 9 atau 10 malam saja, maka setelahnya ia akan terlelap. Tak peduli, mau burung hantu ikut ngopi, ngeronda atau maen ps di rumah bareng Wira.
"Ay, jangan tidur dulu! Nanti kamu jatoh gimana?" ia menepuk-nepuk punggung lengan Ganis sesekali mencubitnya demi menjaga agar gadis ini tetap terjaga.
Ada pergerakan darinya, "iya ah! Jangan dicubitin, sakit. Nyubitnya abang tuh kaya nyubit kulit badak, keras! Lagian kalo jatoh paling ke bawah, terus benjol," omelnya menggerutu.
Wira terkekeh sambil mengelus tangan Ganis dengan tangan kasarnya, meraba jemari yang terpasang cincin nikah mereka, "Iya maaf, kirain bobo. Ya iya jatoh ke bawah yang ke atas tuh terbang," angin malam saja iri dengan uwu moment diantara keduanya sampai-sampai dari tadi ia mencolek dan menerpa keduanya membuat hawa malam menjadi dingin.
"Mau beli sesuatu dulu engga?" tanya Wira.
"Engga, itu kan udah titipan Indi!" jawabnya dengan mata terpejam, Wira kembali fokus ke jalanan.
Motor sampai di depan pagar rumah, lampu temaram teras rumah menampakkan keadaan teras rumah tua ini, sorot cahaya lampu depan motor Wira memberikan penerangan tambahan.
Keduanya sama-sama terdiam saat menatap seseorang disana tengah duduk dengan wajah gusar dan mata sembab. Terlebih lagi Ganis, mata yang semula ngantuk mendadak segar dan penuh waspada.
"Ngapain dia ke rumah kamu?!" tanya Ganis dengan nada bicara galak, belum apa-apa pikiran negatif sudah hinggap di otaknya.
"Ngga tau," Wira ikut turun dari motor.
Ganis berjalan duluan masuk ke dalam menghampiri seorang gadis, dengan pakaian minim ia datang kesini. Matanya mengedar pada cangkir teh manis yang sudah tandas, itu artinya ia sudsh cukup lama disini.
"Baju lu ngga ada yang sopan gitu? Datang ke rumah orang pake beginian?!" sengaknya kaya ibu kost nagih uang sewa. Mungkin Ganis memang cocok memiliki usaha kontrakan, galaknya sudah ia kuasai, penjajah Jepang saja kalah galaknya.
"Gua lagi ngga pengen debat! Gua cuma mau ketemu Wira," jawabnya ketus, baru jadi pacar saja udah ngatur-ngatur hidup Wira pikirnya. Ganis melipat kedua tangannya di dada, "ngga bisa! Kalo mau ngomong sama Wira mesti sama gua, ngga liat ini udah malem, dilarang berduaan..disini banyak setan!" tunjuk Ganis ke sekeliling rumah, catat! SEKELILING RUMAH BUKAN DIRINYA sebagai orang ketiga.
"Ada apa?!" tanya Wira to the point padanya.
"Ra, bisa kita ngomong?" matanya melihat Ganis dengan maksud meminta Ganis meninggalkan keduanya, sontak Ganis melotot pada Wira. Ho-ho-ho tak bisa! Jika ibu negara sudah mode colek sambit begini maka ia tak mungkin membuat si manis ini berubah jadi kuyang.
"Ngomong aja, tapi Ganis tetep disini. Ngomong sekarang atau lu bisa balik," Wira duduk di kursi teras bersama Ganis yang ikut duduk. Jangan harap si dingin ini akan melakukan sambutan ramah seperti orang lain. Wira terkenal dingin bukan tanpa alasan. Fix, sangat cocok lakinya dingin dan kejam, bininya galak bin sadis.
Terpaksa ia duduk juga, daripada tidak sama sekali. "Nis, lu bisa jaga rahasia kan?"
"Tergantung..." balas Ganis menyebalkan, lumayan kan dompet lagi cekak begini, sekali-kali jahat manfaatin orang no problemo alright? kalo kata si Diego sepupunya si Dora mah.
Baru saja tersenyum jahat, Wira menegurnya, "ay..."
Senyum jahat itu harus terhenti "maksudnya tergantung kalo dia nyebelin sama Ganis ya bocor-bocor dikit..." Wira menggeleng, Ganis luluh bagaimanapun Wira adalah suaminya.
"Iya ah! Canda juga! Ngomong buruan!" cebiknya.
Bang Nat, tau aja Ganis mau make kesempatan dalam kesempitan.
"Gua hamil Ra,"
"Hah?!!" seru Ganis terkejut, "kok bisa?! Telat ngangkat apa gimana?!" refleksnya, biasalah mulut emak-emak kan kalo denger kabar beginian bawaannya mulut suka ngga ke kontrol.
__ADS_1
"Eh, maaf--maaf! Refleks, terusin aja," Ganis menutup mulutnya saat kedua orang di dekatnya itu menatap kehebohan Ganis.
"Reza orangnya Ra, karena terakhir gua lakuin itu sama dia." Air matanya banjir kaya air sungai yang meluap. Drama si cabelita in the house dimulai, cobak kalo hamilnya sama Wira udah selametan pake acara wayang segala pastinya.
"Yakin?"
Ia mengangguk, "yakin! Gua ngga pernah lakuin itu belakangan ini, jalan bareng om Jaja pun cuma sekedar jalan," Ganis bergidik ngeri, mau-maunya dia di celap-celup sama beda spesies.
"Tolongin gua Ra, lu tau kan dia menghindar terus. Malah udah beberapa hari dia ngga sekolah,"
Wira menyandarkan punggungnya, "Dia ngga pake pengaman waktu itu." Suaranya bergetar sesenggukan.
Alis Ganis berkerut, lama-lama ikut terbawa suasana juga, wajahnya menampakkan gurat kegusaran dan iba. Setidaknya ia melihat tampang khawatir dan terpuruk dirinya dulu saat hamil oleh Wira.
Tangan Ganis saling meremas, Wira menoleh pada Ganis dan menggenggam tangannya.
"Mau masuk?" tanya Wira mengusap kepala Ganis, gadis itu menggeleng.
"Sorry kalo gua ganggu happy dating kalian," ucapnya.
"Udah berapa bulan? Terus mau lu gimana?"
"Kalo dari kejadian, mungkin udah 2 bulan. Gua cuma mau Reza tau ini ulah dia, terus minta duit buat gugurin!"
"Apa?! Udah gila lu?!" teriak Ganis, apa harus Ganis bedah kepala Suci dan mencuci otaknya biar waras dan bersih.
"Dia ngga tau apa-apa loh! Terus mau lu bunuh?! Jahat tau ngga!" sewot Ganis berdecak kesal.
"Tapi gua masih mau nikmatin hidup. Loe ga rasain apa yang gua rasain Rengganis, gimana malunya gua dengan kehamilan ini, gimana reaksi keluarga gue, temen-temen mungkin akan jauhin gue, dan bapaknya....lu bisa liat sendiri kan dia malah pergi ngga mau tanggung jawab, karena gua ngga cinta dia, dia ngga cinta gua!" balasnya tak kalah histeris.
"Saran gue, loe temuin bapaknya dan kalian pertanggung jawabkan apa yang kalian perbuat! Abang, ngobrolnya ngga usah lama-lama. Rumahnya mau Ganis kunci!" ucap Ganis sebelum benar-benar masuk.
"Senin balik sekolah temuin gua di warung. Udah malem, baiknya lu balik, Ci.." Wira ikut bangkit dari duduknya dan masuk mengekori Ganis seraya menutup pintu. Ia mengusap tulang pipinya yang basah karena air mata dan bangkit meninggalkan teras rumah Wira, sambil berjalan ia sejenak berfikir, "itu tadi si Ganis masuk ke rumahnya Wira..ini udah jam setengah sembilan malem kan? Apa katanya tadi, rumah dikunci?" keningnya berkerut berfikir, alisnya menukik pertanda ia sedang berfikir keras.
Ganis memejamkan matanya, "tarik nafas, buang!!!"
"Ndiii! Yuhuuu!"
"I'm here kakak ipar!" teriak Indi membalas melongokkan kepala dari dapur, ternyata Indi baru saja selesai makan dengan ibu.
"Ha-ha-ha, kalian berdua nih," ibu menggelengkan kepalanya.
"Ih, udah pada selesai makan ya?! Ganis ditinggalin," merengutnya duduk di kursi bergabung dengan Indi sambil menaruh kresek berisi pesanan Indi.
"Asikkk! Es durian," seru Indi mencuci tangan di wastafel.
"Thanks sistah!" ucap Indi.
"Berterimakasihlah pada aa mu wahai anak muda, karena beliaulah kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau, wahahahaha!"
"Ha-ha-ha, baiklah kalau begitu ibu suri!" balas Indi tertawa. Dari drama cabelita di depan beralih pada drama kolosal.
__ADS_1
"Udah makan?" tanya ibu.
"Tadi sore bu, masih kenyang!" Ganis melepas penat sesorean ini, bertemu dengan orang-orang toxic dan aneh bikin kepalanya puyeng.
******
"Cowok tuh kaya gitu! Udah enak terus dibuang!"
"Emang minta dibuntungin an unya yang kaya begitu!"
"Udah begitu kan malah ditinggal, ngga mau tanggung jawab! Kalo gue jadi Suci udah gue bom rumah si Reza! Biar luluh lantah sekalian bareng yang punya rumah."
"Eh engga--engga... keenakan matinya cepet! Yang bagus tuh geret si Reza terus panggang hidup-hidup!" Ganis menggeleng cepat.
Omelan Ganis di sela-sela menggosok gigi dengan mulut penuh busa pasta gigi menjadi pemandangan menarik bagi Wira, dumelan dan sewotnya Ganis bagai nyanyian indah di telinga Wira, sudah gila kiranya ia.
Tetaplah jadi Ganis yang suka ngomel-ngomel biar aku tau kalo kamu masih berpijak di bumi, di sampingku dan dalam keadaan yang baik-baik saja.
"Sadisnya," ujar Wira mengganti kaosnya dengan kaos lain lalu melemparkannya sembarang, tapi rupanya lemparan itu malah mendarat tepat di wajah Ganis.
Langkah Ganis terhenti, matanya refleks memejam, "abang ih!!!" geramnya membawa kaos Wira ke dalam keranjang rotan di sudut dapur dekat dengan kamar mandi. Wira yang sudah duluan masuk ke dalam kamar hanya terkekeh sambil menarik kaos lainnya dari lemari.
Ganis masih saja mengomel seraya mengoleskan pelembab malam di wajahnya.
"Lagian badan kok di promoin sana sinikaya sabun cuci, jadinya kan si jantan bisa beralibi kalo itu bukan anak dia, ntar judulnya anakku bukan anakku!" tangannya membuat gerakan melingkar di pipi seraya menatap pantulan wajahnya di cermin, Wira memperhatikan itu semua.
"Udah ngga usah ngomel-ngomel terus. Ngga jadi tidurnya?" pemuda itu menghampiri Ganis di meja rias, ia membungkuk dan memposisikan wajahnya di samping wajah Ganis.
"Engga, jadi ngga ngantuk!" manyunnya. Wira menyunggingkan senyumnya, keduanya bertatapan dari pantulan cermin.
"Kalo gitu mau diterusin apelnya?" tanya Wira memberi penawaran.
"Ngga mood! Ganis jadi sebel liat cowok! Abang jauh-jauh deh, gara-gara temen bang Nat tuh," Wira mengernyit, "ko jadi abang yang kena, ay? Ngga bisa gitu dong!"
Ganis menatap dalam Wira yang juga menatapnya, lama-lama matanya melunak dan menoleh kedua tangan Ganis menangkup wajah Wira melihatnya secara langsung. Matanya menyelami kedalaman hati Wira, jika hati adalah rumah, kalau begitu Ganis adalah maling yang masuk lewat jendela dan mengambil sesuatu berharga di hati Wira.
Mata itu menrmukan sebuah ketulusan dan kasih sayang di pupil hitam Wira, "makasih, abang udah jadi laki-laki bertanggung jawab. Padahal kalo mau, abang bisa pergi dan ninggalin Ganis, tapi abang kekeh mau tanggung jawab meskipun udah bonyok sama bang Gem, Allah juga udah kasih abang kesempatan kedua buat pergi waktu Ganis amnesia kemarin, tapi abang tetep pertahanin Ganis, padahal banyak cewek di luar sana yang ngantri sama abang, tapi abang malah kejar Ganis,"
"Sama-sama ay, kalo dulu aku cinta kamu karena navsuu, beda dengan sekarang, setelah apa yang aku lewati, ternyata aku benar-benar takut kehilangan kamu," Wira mengecup kening Ganis tapi di luar dugaan Ganis malah menyarangkan bibirnya di bibir Wira.
Pemuda itu tak menyia-nyiakannya. Ia membalas kecupan dengan pag utan, seakan tak ingin melepaskan bibir manis itu.
Lidah yang masih memakai barbel masuk mendobrak pertahanan rapi deretan gigi Ganis, melilit lidah tak bertulang membuat Ganis terbuai dan tak terasa ikut memainkan bulatan barbel yang terpasang di lidah Wira.
.
.
.
.
__ADS_1
Noted :
Genosida : salah satu bentuk kejahatan dengan memusnahkan kelompok masyarakat tertentu secara sistematis dan disengaja.