
Bukan hanya sekali dua kali Wira mencium Ganis, jika ada kesempatan berduaan, maka sudah dipastikan Wira akan selalu nyosor mirip bebek yang lapar, lapar akan tatih tayang. Rasanya Ganis seperti rokok, tidak wajib tapi bikin candu, rasanya ada yang kurang jika tidak menyentuhnya, bikin ketergantungan.
"Kenapa mukanya cemberut gitu?" tanya Wira.
Ganis menggeleng, "engga apa-apa." Sungkan buat Ganis untuk berkata jujur pada Wira, karena ia rasa Wira tak ada sangkut pautnya dengan masalah yang sedang dihadapi.
"Mau ke toilet dulu lah! Kebelet," Ganis setengah berlari menuju kamar mandi, ia sudah hafal dengan seluk beluk rumah Wira, bahkan untuk makan minum saja ia tak sungkan mengambil sendiri. Sampai ia saja tak bisa membedakan itu tak sungkan apa emang ngga tau malu Nis?
Ponsel Ganis bergetar di samping laptop Wira, kebetulan Wira sedang mengerjakan pekerjaannya. Meskipun Wira tak berniat membaca pesan, tapi dari notifikasinya saja sekilas pesan dari Gemilang terbaca olehnya. Pesan singkat itu jelas menumbuhkan rasa penasaran yang teramat dari Wira.
"Sabar dulu, mama sama papa kayanya telat kirim. Nanti abang transfer deh uang jajan abang buat Ganis."
Wira semakin penasaran dan membaca keseluruhan pesan kakak beradik itu.
"Bang Gem, kok mama sama papa belum kirim uang ke Ganis. Ini Ganis udah ga punya duit buat jajan. Udah tinggal sisa-sisa harga diri doang yang tertinggal, hiks!"
"Bang Gem, mama papa kapan kirim uang. Kok Ganis telfonin mereka malah sibuk terus!" di akhir kalimat ia bubuhi dengan emot marah yang sampe ngebul-ngebul.
Wira kembali menaruh ponsel Ganis.
"Nis,"
"Hm,"
"Kamu kalo ada butuh apa-apa bilang sama aku, jangan dipendem sendiri," Ganis menatap Wira dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kamu ngomong apa sih," Ganis mengehkeh kecil dan mencomot kembali snack yang biasa ia dan Wira beli dahulu di minimarket sebelum pulang ke rumah.
Wira tak tertarik untuk ikut tertawa, ia lebih memilih melihat Ganis yang berkali-kali seperti mengalihkan pembicaraan, jika sudah begini Wira tau ada yang disembunyikan oleh Ganis.
"Eh, ini desain baru Vulcan? Kamu yang bikin kan? Bagus!"
"Kamu ngga pinter boong baby," Ganis memelankan kunyahannya dan menunduk.
"Aku bisa handle kok tenang aja, bukan masalah gede!" ia menampilkan senyum selebar dunia meskipun terlihat klise.
"Eh iya, temen kamu ada yang punya resto gitu atau cafe yang nerima kerja paruh waktu? Bukan buat aku sih, buat temen!" tanya Ganis terlihat bingung, tapi kembali Wira tak ingin menyahuti pertanyaan Ganis, ia menatap Ganis tanpa rasa jenuh, menunggu gadisnya jujur.
"Bang Nat,"
"Temen mana? Temen kamu apa kamu?" tanya nya dengan wajah super dinginnya.
__ADS_1
"Te..men, temen aku, ekhem!" jawabnya sangat sulit ternyata berbohong tenggorokannya sampai tercekat berkali-kali, apalagi berbohongnya di depan titisan pangeran kegelapan begini, ketauan auto diceburin ke lembah kematian. Padahal jika dikatakan, Ganis sudah seringkali berbohong, malah ia luwes kalo urusan bohong membohongi apalagi jika mengenai uang.
"Uang jajan kamu seminggu berapa?" tanya Wira menyalakan sebatang rokok di tangan.
"Ya?!" Ganis melongo kaya beo sawan.
"Mau ngapain nanya-nanya uang jajan Ganis, mau ngasih?!" kekeh Ganis tertawa seraya minum teh kemasan.
"Iya,"
"Uhukk--uhukk!" Ganis menepuk-nepuk dadanya yang mendadak perih dan sesak karena teh itu langsung meluncur tanpa permisi membuatnya tersedak.
"Pelan-pelan Nis," Wira membantu Ganis dengan menepuk-nepuk punggung Ganis.
"Ganis cuma becanda bang Nat, jangan diseriusin! Lagian ga ada hak Ganis minta-minta sama bang Nat,"
"Kamu pacarku Ganis," satu lagi keistimewaan Ganis yang dilihat Wira, Ganis memang anak manja, tapi ia tak sampai berani meminta-minta pada Wira sekalipun, yang notabenenya adalah pacar Ganis, mungkin didikan Gemilang dan kedua orangtuanya yang pantang bagi Ganis mengemis-ngemis menurunkan harga diri perempuan demi uang.
Ganis menggeleng, "masih pacar, kamu belum punya tanggung jawab apapun. Jadi simpen aja uang kamu buat Indi atau ibu, Ganis bisa minta ke bang Gem!" tolaknya halus, baru kali ini seorang gadis menolak mentah-mentah uangnya, uang halal, bahkan Ivana saja dengan terang-terangan sering meminta uang pada Wira saat mereka masih bersama untuk sekedar uang bedaklah, uang jajan, atau uang pulsa. Ternyata tidak semua di dunia ini bisa dibeli oleh uang, semua bukan pasal uang dan Ganis tunjukkan itu semua pada Wira, jika rasa sayangnya tak terukur oleh uang.
"Tapi kalo kamu laper di sekolah, atau mau apapun bilang sama aku. Jangan ditahan-tahan!" pinta Wira, Ganis mengangguk paham.
"Lah, itu kamu kerja! Kok Ganis ngga boleh?"
"Kamu ngga tau rasanya kerja sambil sekolah, dan itu capek Nis!"
"Biar Ganis mandiri," jawaban Ganis memang membanggakan, tapi kenapa ada rasa perih di hati Wira saat Ganis mengucapkannya, ia terbiasa hidup berdampingan dengan kerasnya dunia, tapi Ganis? Rasanya tak rela saja. Kalau boleh memilih, ia akan lebih senang jika Ganis menikah dengannya dan ia yang mencari uang. Yap! Itu ide yang sangat bagus!
Ponsel Wira bergetar, "dimana lu?!"
Ia menghela nafasnya, "otewe."
"Nis, aku anter pulang ya sekarang, maaf dadakan tapi aku ada kerjaan yang ngga bisa ditinggal," ucapnya.
"Oh, ya udah ngga apa-apa. Lagian udah jam segini, takut bang Gem keburu pulang juga!"
Tak pernah sekalipun Ganis menaruh kecurigaan pada Wira, arau bertanya hal macam-macam dan menuduh yang tidak-tidak, sepenuhnya ia percaya Wira.
"Makasih sayang, aku anter pulang ya!" Wira menyambar jaketnya tak lupa membantu Ganis memasangkan sepatunya, perlakuan manis ini yang membuat Ganis merasa diistimewakan, hal receh? Memang tapi coba hitung ada berapa laki-laki yang mau membantu gadisnya memasang tali sepatu di setiap mereka akan pergi.
"Mau beli dulu makanan engga, buat di rumah?" tanya Wira, Ganis menggeleng, "engga usah! Udah kenyang," bukan apa-apa, ia tak mau Gemilang curiga atau merasa tak dihargai jika Ganis menerima pemberian Wira.
__ADS_1
"Ya udah,"
...----------------...
Tok--tok--tok!
"Nis! Buka!"
Seketika kelopak mata indah itu terbuka mendengar suara ketukan pintu kamarnya keras.
"Apa sih?! Ganis lagi tidur ih!" emang minta di tendang sampe Jupiter abangnya ini, biar ngga bisa ganggu lagi.
"Buka dulu, abang mau ngomong,"
"Buka aja, ngga dikunci!" teriak Ganis hanya berpindah posisi tidurnya jadi miring ke kiri membelakangi pintu masuk.
Terdengar bunyi suara pintu terbuka, "kalo tidur tuh pintu dikunci," omel Gem dengan suara khas omelan emak-emak.
"Iya, lupa. Lagian di rumah cuma ada enin paling-paling emak-emak nyinyir satu ini," kekehnya dengan mata terpejam.
"Abang serius Ganis, mau dengerin abang ngga?" Gemilang berdiri di depan ranjang Ganis, dimana Ganis masih meringkuk seperti ulat.
"Iya, ini juga di dengerin. Ngomong aja belum kok," dumelnya.
"Putusin Wira!"
Ganis langsung membuka matanya, menyesuaikan cahaya dan mengumpulkan serpihan nyawanya yang sempat terbang bebas.
"Denger ngga?" tanya Gemilang sekali lagi.
"Denger sii," Ganis beranjak bangun, "tapi apa alasannya bang Gem nyuruh Ganis mutusin Wira?"
"Kaya orang gila ngga sih, tiba-tiba datang bangunin orang kaya ngga ada kerjaan terus nyuruh mutusin pacarnya?" Ganis mulai terpancing emosi meski wajahnya masih suntuk.
"Kamu ngga tau dia itu siapa di luaran. Dia tuh berandal, laki-laki ngga bener, suka ngobat, suka minum-minuman, ikut-ikutan komunitas ngga bener!" ucapnya berapi-api.
"Sejak kapan bang Gem menjudge orang tanpa tau dalem-dalemnya? Bukannya abang yang ajarin Ganis jangan menilai orang dari luar, terus ini apa?"
"Abang ngga mau kamu dapetin cowok kaya gitu, Ganis! Berenti mendebat, dan putusin Wira!" jawabnya tak ada lagi perdebatan, Gemilang pergi dari kamar Ganis.
"Aneh!"
__ADS_1