Kepingan Jingga

Kepingan Jingga
ANGGAP AJA NGGA KENAL!


__ADS_3

"Ye, biasa aja atuh ngga usah nyolot!" desisnya bak ular derik.


Jelas saja Ganis nyolot karena yang sedang dibicarakan oleh Ivana adalah aib suaminya, ia memang bad jingan dan berandal lantas mau apa?! Ganis bukan dewa yang bisa memutar waktu, bahkan malaikat saja tak cukup sanggup untuk kembali ke masa lalu demi memperbaiki sebuah kesalahan, coba kita bongkar berapa banyak gadis di bumi ini yang mengaku gadis tapi sudah dol, berapa banyak juga perjaka palsu yang mengaku masih perjaka? Dan Wira mengakuinya, ia punya masa lalu yang buruk, tapi apakah ia tak pantas bahagia dengan orang yang ia sayang, hanya untuk sekali saja?! Apakah pengampunan hanya untuk orang-orang berpeci dan ber-uang saja dan ia pengecualian? Bukan tanpa perjuangan ia meminta maaf pada Ganis.


"Karena yang lu ubek-ubek itu aib suami Ganis. Mau bangga, kalo suami Ganis udah pernah sama kamu? Toh kamu pun sama kan, sebelum sama Wira sama yang lain? Apa yang mau kamu banggain, atau kamu juga mau bilang apa Ganis bekasan orang?!"


"Ay, cukup! Kita pulang, udah malem, kasian kamu-nya," Wira membereskan barang-barang miliknya dan Ganis, ia sudah cukup muak dengan perdebatan ini. Gadis ini menurut dan segera memakai sepatunya, meninggalkan semua barang miliknya dan Wira disana. Dengan hentakan kaki khas-nya gadis itu keluar dari ruangan.


"Udah cukup kan Va, udah puas? lu tau kan gimana reaksi Ganis? Apa lagi yang perlu lu tau biar tuntas, karena gua jamin ini terakhir kalinya gua terima job dimana ada lu di dalamnya. Ganis memang berbeda, disaat gua jatuh dan orang-orang memandang gua sebelah mata, dia menerima gua apa adanya, dia yang narik gua buat keluar dari lubang hitam. Gua harap Caca, lu dan Nugraha dalam keadaan baik-baik aja ke depannya. Gua udah berdamai dengan masa lalu, dan siap menatap masa depan sama Ganis, jangan pernah ganggu Ganis atau lu tau gimana gua kan Va," Berkali-kali Wira menghela nafas berat, berusaha untuk tak mengeluarkan taringnya, melihat hari sudah larut dan banyaknya orang disini. Amarah tak akan menyelesaikan masalah, setidaknya itu yang Ganis selalu katakan.


Tangannya sibuk memegang paper bag, dengan tas miliknya tersampir di pundak, hatinya berulang kali mencelos merasa bersalah pada Ganis. Masa lalu buruknya harus berimbas pada Ganis. Kenapa ia tak bertemu Ganis sebelum semua kelakuan buruknya. Atau memang Tuhan sudah menggariskan takdirnya seperti ini. Wira berjalan cepat terkadang setengah berlari mencari Ganis, rasanya ia tak lama beranjak setelah Ganis, tapi istrinya itu begitu cepat menghilang, apakah Ganis sejenis jin?


Matanya menyipit, melihat sosok tubuh kecil dengan jaket miliknya yang kebesaran di dekat pagar, ia berjongkok sambil menenggelamkan kepalanya ke dalam lipatan tangan di tengah kegelapan malam, hanya cahaya lampu stadion saja yang menerangi di kejauhan.


"Ay," Wira bernafas dengan tersengal, badannya benar-benar lelah, tapi rasa lelah itu kalah oleh rasa bersalah, menyesal pada istrinya ini. Mata yang mengantuk pun jadi segar kembali karena takut. Jujur! Ini kali ketiga ia merasa sangat takut, pertama saat kejadian ini terjadi dulu sebelum Ganis kecelakaan, Ganis sempat marah dan meminta cerai padanya saat mengetahui jika Ganis bukanlah yang pertama untuk Wira, seperti Wira adalah yang pertama untuknya,


Flashback on


Ganis awalnya duduk terdiam dengan hati gusar namun sedetik kemudian ia berdiri, "Bang Nat." Jika ia tarik kenyataan bahwa teman-teman Wira saja sudah pernah bahkan sering bercinta, lalu apakah seorang Wira masihlah perjaka, rasanya tidak...Dengan tampang rupawan, iman setipis kulit bawang, dan pergaulan yang amburadul tak mungkin Wira suci diantara noda.


"Hm," Ganis duduk di pangkuan Wira yang sedang mengerjakan desain barunya begitu saja, hingga Wira menghentikan sejenak pekerjaan dan beralih mengusap perut Ganis, dimana Pir sedang tidur di dalam sana.


"Ganis mau nanya serius, apa Ganis yang pertama buat kamu?" tanya Ganis, Wira sejenak terkejut dengan pertanyaan Ganis yang mendadak.


"Maksudnya?" alis Wira bertaut, berharap pertanyaan Ganis bukan seperti yang ia pikirkan.


"Apa sebelum Ganis bang Nat pernah ngelakuin something wrong yang enak-enak sama cewek lain?" tanya Ganis, mata bening yang tampak lebih bening malam ini seakan berharap jawabannya tidak, tapi Wira tau berbohong hanya akan membuat masalah baru untuk mereka, ia tau dibohongi itu rasanya tak enak.


"Pernah," jawabnya nyalang. Dada Ganis terasa sesak, ia mengangkat dirinya dari pangkuan Wira berjalan menuju ranjang.


"Denger dulu ay, aku minta maaf...please! Oke aku salah..."

__ADS_1


"Ganis mau pulang ke rumah mama. Bang Gem tuh bener! Kamu memang bad jinkan, kamu emang seburuk yang bang Gem bilang!" matanya memanas, melelehkan cairan bening di pipi chubby si bumil ini.


"Ay, jangan gini...please. Itu memang salah satu masa lalu buruk aku, tertarik buat rasain kaya orang-orang, toh Ivana pun sudah ngga virgin sama orang lain," penjelasan Wira sungguh tak lagi masuk ke dalam otaknya. Seakan telinga Ganis sudah tersumbat sesuatu yang begitu besar, sebuah kenyataan pahit. Ganis meraih tas selempangnya, tak seperti di banyak adegan sinetron yang kalo kabur sempet beresin baju seabrek-abrek sampe satu lemari dimasukkin ke koper. Karena pada kenyataannya, untuk berlama-lama dengan Wira saja rasanya muak.


"Ay, ini udah malem!"


"Rengganis! Bisa dengerin aku dulu engga?!" nada bicara Wira mulai meninggi, tapi Ganis tak mau dengar. Ibu menghela nafasnya melihat untuk pertama kalinya anak dan menantunya bertengkar.


"Ibu, Ganis pamit pulang ke rumah," ujarnya berusaha sekuat mungkin menghapus air mata.


"Ganis mau kemana nak?"


"Mau pulang ke rumah mama, kangen sama orang rumah!" jawabnya, sungguh siapapun dapat melihat jika Ganis sedang berbohong.


"Teteh!" sahut Indi menatap nanar.


"Ndi, jangan maen terus. Temenin ibu di rumah," Ganis semakin sesak ia segera salim takzim dan meraih handle pintu.


"Buka!!" pinta Ganis tajam di sela-sela isakannya.


"Engga ada yang boleh keluar dari sini dalam keadaan nangis, masalahnya harus selesai dulu!" jawab Wira penuh ketegasan.


"Aku bilang buka pintunya Wiraa!!!" jika sedang marah Ganis memang memanggil Nata Prawira dengan nama Wira.


"Kalaupun kamu mau tinggalin rumah, setelah obrolan kita selesai. Bukan maen pergi gitu aja," ia meraih pergelangan tangan Ganis dan membawanya kembali ke kamar.


"Ganis minta cerai!" teriaknya, inilah Ganis yang meledak-ledak, selalu memberikan keputusan tanpa berfikir.


"Ndi masuk kamar sana, solat dulu!" pinta ibu meminta Indi untuk tak mendengarkan keduanya bertengkar.


"Ganis jijik sama kamu!"

__ADS_1


"Ganis ngga mau sama bekas orang!"


"Ganis ngga suka kamu!"


"Kenapa Ganis harus sayang sama kamu!" Ia memukul-mukul Wira sambil menangis sejadi-jadinya.


"Pukul aku sampai kamu puas, aku emang pantes Nis. Tapi jangan minta aku buat tinggalin kamu sama pir, i'm sorry!"


"Kalo kamu butuh waktu buat sendiri, aku paham. Tapi jangan kamu yang pergi dari sini, kamu lagi hamil. Biar aku yang nginep sementara di Vulcan,"


Wira tak menyangka jika ucapannya benar-benar dilakukan Ganis. Gadis ini menghapus air matanya dan meraih tas gendong milik Wira, memasukkan buku-buku pelajaran, dan seragam.


Tapi tunggu!


Bukan miliknya, melainkan milik Wira, "Nih! Pergi!!!"


Ganis mendorong Wira dari kamar, membukakan pintu rumah dan mendorong keras punggung tegap itu keluar rumah.


"Pergi !!!" ia mengusir Wira dari rumahnya sendiri.


"Ngga usah ngajak ngobrol Ganis kalau ketemu dimanapun, entah itu di sekolah atau di jalan! Anggap aja ngga kenal!"


Blughhhh!


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2