
Kaki-kaki jenjang Ganis mengintip keluar dari balik selimut, baru terlelap pukul 1 dini hari, udara pagi yang menusuk kulit, dan badan pegal-pegal karena aktivitas olahraga malamnya sukses membuat gadis ini menggulung selimut hanya untuk dirinya sendiri, kelopak mata indahnya tak ingin buru-buru terbuka demi melihat aktivitas manusia di bumi. Apapun yang terjadi, mau itu tukang bubur naik haji, atau tukang bandros naik delman ia berjanji tak akan membuka matanya, menuntaskan rasa lelah.
Tapi kali ini sebelah matanya benar-benar dipaksa terbuka karena Wira yang hectic mengganggu indera pendengaran Ganis dengan suara peraduan barang, lelaki itu sejak pukul 4 sudah bangun, untuk mandi dan segera bersiap-siap. Itu artinya ia hanya tidur 3 jam saja.
Terlihat dari sosoknya, lelaki itu sudah mandi dan rapi. Meskipun serapi-rapinya anak metal ya ngga jauh-jauh dari kaos, celana jeans dan rambut acaknya yang basah, ngga mungkin kan ngurusin konser band-band bawah tanah begitu pake dodot sama blangkon, atau kemeja dan dasi kupu-kupu.
"Ay, semalam name tag abang mana ya?" tanya nya mengubek-ngubek laci meja belajar dan meja rias tanpa melihat ke arah Ganis, ia tau dari ekor mata jika gadis-nya sudah bangun.
"Digantung di handle lemari," parau Ganis, gadis itu bangun dan terduduk dengan tangan yang menahan lilitan selimut di dada, walaupun selimut tebal nan lebar 10 gelombang kanan dan 10 gelombang kiri itu tak dapat menutupi corak merah keunguan di sekitaran area leher, juga tulang se langka Ganis. Mata kirinya masih mencoba untuk terbuka, sebelah tangannya menggosok-gosok mata dari sisa-sisa eyeliner dan maskara semalam, hasilnya mereka bersatu padu dengan belek, bahkan ia sampai lupa mencuci bekas make up semalam karena Wira langsung ngajak ngamar tak membiarkan Ganis turun dari ranjang, definisi love after war, yup! Setelah ijab ulang selesai Wira mengajaknya untuk pulang dengan dalih ingin segera istirahat karena esoknya hari H konser. Padahal ujung-ujungnya tetap saja bergadang juga, sementara ibu dan Indi diantar pulang oleh Gemilang menggunakan mobil papa.
"Ganis belum masak bang, badan Ganis pegel lah. Berasa diajakin lari muterin tegalega," adu-nya lebay. Paling masak juga ceplokin telor, atau sosis, banteran mewah roti gandum favoritnya yang selalu tersedia di meja makan setelah Ganis tinggal disini.
"Ngga apa-apa. Nanti abang nyarap di sekitaran GBLA," jawabnya. (melakukan sarapan)
Ganis menghela nafasnya, "maaf ya, harusnya Ganis bangun lebih awal dari bang Nat, biar abang ngga usah sarapan di luar," sesalnya. Wira sudah wangi dengan parfum khas miliknya, campuran Vanilla, lemon dan woddy, harum kesukaan Ganis langsung menyeruak di penciumannya yang baru saja tersadar.
"Hey, ngga apa-apa. Abang udah sarapan kamu semalem!" kekehnya duduk di tepian ranjang mengelus kedua pundak Ganis dimana bahunya terekspos sempurna, Wira juga menyisir rambut hitam Ganis yang terkesan acak-acakan seksi, karena tak seperti singa. Mana ada singa memiliki kulit mulus nan kenyal seperti Ganis, dimana-mana singa itu sangar, bukan manis nan menggemaskan. Tangannya terulur meraih name tag yang menggantung di leher Wira demi melihatnya sebentar.
"Tiketnya di meja, buat kamu sama Rindu. Damar, Raja, sama yang lain mereka udah punya sendiri. Jam berapa mereka mau nyamper?" (datang jemput)
"Ngga tau, sorean kayanya." Jawab Ganis malas, ia menahan mulutnya yang siap terbuka lebar layaknya kuda nil karena rasa kantuk masih bersarang. Sepertinya setelah Wira pergi ia akan kembali tidur sejenak.
"Ya udah, abang tunggu di sana. Kalo udah di parkiran kabarin. Biar abang jemput," pintanya hendak mengecup kening Ganis cinta, tapi gadis itu menahan terkesan menolak.
"Ganis bau lah bang, belum ke kamar mandi!" jawabnya, ia membekap mulutnya sendiri.
Seringai tipis tercipta, "wangi!"
Cup! Wira tetap kekeh mendaratkan bibirnya di kening Ganis.
"Pasti Ganis bakalan kangen, bang Nat, hati-hati di jalannya, semoga acaranya lancar, sukses." Ucap Ganis memejamkan sejenak kedua kelopak mata. Do'a Ganis cukup jadi bekalnya hari ini. Hati Ganis menghangat mendapat perlakuan manis itu dari si dark prince, hingga refleks tangannya melepaskan lilitan selimut yang ikut melorot melihat ke uwuan mereka dan dibentangkan, "Peluk dulu!"
Glekkk! pandangan Ganis dan Wira jatuh tepat di dada Ganis.
Bukan Wira tak terangsang, tapi ia tak memiliki banyak waktu untuk bermain-main lagi dengan Ganis di atas arena gulat.
__ADS_1
"Haaa?! Astaga, banyak banget! Udah mirip corak batik!" seru Ganis menarik kembali selimut, ia baru menyadari bukti kebuasan Wira semalam.
Matanya memicing tajam seperti suriken ninja, ia mengambil guling di sampingnya untuk ia pukulkan pada suami metalnya itu, Wira yang sadar akan bahaya segera bangkit dan meraih barang-barangnya dari meja, bergegas menyambar jaket.
"Bang Nat ih, kenapa badan Ganis jadi kaya brand ambasaddor Cheetos gini!" teriaknya, dalam benaknya tak pernah sekalipun Ganis terpikir untuk melamar jadi pengganti si kucing yang larinya cepat itu.
"Ngga suka abang lah! Sana pergi, ngga usah balik!" omelnya, di luar pintu kamar, Wira malah cengengesan mendengarkan melodi indahnya di pagi hari, telinganya seakan sudah terbiasa mendengar omelan Ganis. Rasanya bagai sayur tanpa nasi a.k.a ngga kenyang jika gadis ini tak terdengar berteriak.
...****************...
"Assalamualaikum!" gayanya sudah jos gandos buat ketemu si adek emesh, pake ngucap salam padahal biasanya teriak-teriak kaya mau nagih utang panci.
Rindu yang semula tak mau ikut akhirnya mau tak mau ikut menonton, padahal rencana semula Damar hanya akan menonton bersama anak-anak slebor yang kebetulan satu aliran dengan Wira, aliran musik cadas, konser bertajuk
...'BANDUNG DI'ROCKan'...
Itu menghadirkan band-band aliran musik cadas, seperti metal, heavy metal, punkrock, dan lainnya dengan guest star Seringai dan Burgerkill. Jelas saja kedua band bintang yang sudah wara-wiri sampai mancanegara ini memantik antusias penikmat musik dengan aliran keras ini, meskipun band-band lokal pembuka konser juga tak kalah populer. Tiket sudah di tangan, dengan berbeda tribun, antara Rindu-Ganis, dan Damar --anak slebor. Jika Ganis dan Rindu sudah dapat dipastikan akan berada di dalam jangkauan Wira beda halnya dengan res-resan gorengan macam Raja, dan Damar. Tiket mereka tribun festival, yang kalo nonton berdiri dengan jarak pandang lumayan membuat mata lelah. Tak jarang harus terasa perih juga karena pihak promotor dan panitia tak segan-segan menyemprotkan air dari selang pemadam bila situasi mulai tak kondusif.
Seragam hitam-hitam underground menjadi ciri khas konser musik ini, Bandung bagaikan lautan semut hitam nantinya. Ya iyalah masa mau pink kesemsem, mau dikata pasukan kerajaan candy crush saga.
"Bu, Ganis pergi ya!" Ganis keluar dari kamar. Rindu mengatupkan bibirnya yang menganga, begitupun Damar dan Raja juga lainnya.
"Teh, Indi ngga boleh ikut ya?" gadis itu merengut dan merajuk ingin ikut.
"Kata abang, Indi di rumah aja temenin ibu!" kekeh Ganis menepuk-nepuk puncak kepala Indi, kasihan sekali adik iparnya ini, Wira cukup overprotektif untuk ukuran kakak laki-laki bandel. Mungkin karena ia tau dunia luaran sana, jangankan Indi...Ganis saja dapet mohon-mohon sampe ngesot-ngesot mirip cerita ratapan anak tiri biar bisa dapet ijin keluar begini.
"Iya Ndi, mendingan di rumah aja...belajar masak, beres-beres, biar nanti siap kalo diajak nikah!" Raja senyam-senyum jijay.
"Apaan lu, jijik!" Reza mengusap wajah Raja kasar hingga Raja mencebik kesal.
"Ke laott sono!!!" Rindu pun tak kalah menoyor kepala temannya sejak kelas 1 SMA ini.
"Njisss, kasalll!" decaknya.
Diantara mereka Ganislah yang berbeda dan itu sangat mencolok. Kaos pink bertuliskan sweet cup dan celana jeans putihnya menjadi outfit Ganis sore ini.
__ADS_1
"Ini nih, kalo lu pengen tau kelanjutan episode si elsa kemana abis jadi forest spirit, ini jawabannya. Dia nyangkut di konsernya Seringai bantuin pihak promotor buat bekuin tribun biar ngga panas hawanya," aku Malik. Gelak tawa pecah disana, Ganis berdecak, "bo*do! Lagian ngga ada larangannya pake baju pink dilarang masuk kan?!"
"Kirain buat jadi pawang ujan?!" tawa Reza si calon penganten.
"Iya sih Nis, tapi yang bener aja Nis diantara lautan semut hitam masa iya nyangkut butiran permen strawberry?!"
"Liat aja ntar, lu pasti nyesel ngga ikutin Ganis!" Ganis memalingkan wajahnya ke samping hingga rambut kepangan elsanya ikut tersampir.
"Udah--udah, ngga usah pada debat! Ntar keburu penuh parkiran, yuk buruan pasti macet!" lerai Damar.
"Buuu!" teriak Ganis masuk ke dalam sedikit melompat-lompat.
"Ganis pergi dulu ya," dilihatnya di samping ibu, Indi tengah termenung dengan wajah suntuk, memelas, pokoknya wajah-wajah kasihan.
Ganis menarik senyumannya, "nanti Ganis beliin jajanan sama merchandise yang ada tanda tangannya deh!" bujuknya agar adik iparnya itu sedikit bersemangat.
"Tapi Indi ngga suka sama band begituan teh,"
"Buat pamer sama temen-temen di sekolah!" wajah Indi langsung cemerlang dan bersinar kaya bohlam.
"Bener juga ya, biar pada nyaho tuh kalo Indi tuh eksis dan sepenting itu bisa dapetin tanda tangan artis!" serunya, tapi kemudian ia kembali muram, melihat tampilan Ganis ia sangsi, "emang teteh bisa? A Nata mau tolong mintain?" tanya Indi, pasalnya Ganis juga tak menyukai band cadas, ditambah lihatlah warna baju kakaknya tinggal dikemas pake plastik udah kaya susu murni rasa strawberry.
Ganis menggeleng, "Ganis bisa kok minta sendiri, liat aja! Diantara sekian ribu orang cuma Ganis yang bisa dapetin tanda tangan, foto bahkan nyanyi bareng!" ujarnya.
"Ya udah hati-hati di jalan. Langsung ketemu aa, harus nurut soalnya konser begitu sering ricuh ah! Ibu mah melang!" (khawatir) wajah ibu mengerut khawatir.
"Iya bu, kalo gitu Ganis pergi." Salimnya.
.
.
.
.
__ADS_1