
Ganis berjalan dengan melingkarkan tangannya di lengan Wira, perutnya sudah teramat buncit.
"Indi jadi kesini apa engga?" tanya Ganis melangkah hati-hati diantara lantai dengan ubin kasar pinggiran kolam. Wira begitu memperhatikan langkah Ganis takut jika istrinya itu jatuh atau celaka.
"Jadi, nanti nyusul bareng Raja." Jawabnya kalem menyetop langkah Ganis, "bentar ay, ganti dulu sendal kamu pake sendal jepit!" pintanya. Tangan dengan beberapa urat yang menonjol keluar ini tak malu membungkuk di kaki sang istri demi melepaskan flatshoes dan menggantinya dengan sendal jepit pink milik Ganis.
Hari ini Ganis melakukan olahraga rutinnya, berenang. Jika umumnya ibu-ibu hamil lebih memilih melakukan olahraga ringan seperti senam pagi, yoga, atau sekedar jalan santai maka Ganis lebih memilih berenang. Selain karena keahliannya, tapi berenang juga bisa melatih pernafasannya.
Ganis mengganti pakaiannya dengan pakaian renang, begitu jelas ukuran perutnya sudah sedikit merosot ke bawah. Kolam renang ini begitu sepi hari ini, bukan karena tak laku atau tak ada pengunjung yang mau datang kesini, melainkan Wira menyewanya di setiap hari Rabu khusus untuk bumil cerewetnya ini. Ia tak mau tubuh mon tox Ganis jadi konsumsi banyak orang.
Layaknya seorang ayah yang membimbing anaknya, Wira membuka t shirt hitam yang dipakainya hingga menampakkan abs miliknya dan tatto sayap phoenix di punggungnya, memelorotkan celana selutut berganti boxer lalu ia turun duluan ke kolam agar dapat menyambut Ganis.
"Ay, turun yang bener! Kamu mau ngapain itu?!" ujarnya berseru saat melihat bumil satu ini membuat gerakan ancang-ancang seperti akan melompat masuk ke dalam kolam, yang benar saja! Kalau iya dasar ngga tau diri, bisa-bisa air kolam langsung surut saat ia melompat.
Ia terkekeh melihat reaksi sewot dan panik suaminya, "ha-ha-ha! Ya engga atuh bang Nat, Ganis juga punya perkiraan!" ia duduk di bibir kolam lalu menurunkan kakinya satu persatu, Wira menangkap kedua ketiak Ganis lalu menurunkannya posesif. Keduanya kini basah sebadan-badan dengan tangan yang tak lepas, kaki Ganis melompat-lompat kecil di dalam sana.
"Anak kamu kayanya seneng bang, adem! Dia diem," bisiknya.
"Hm," tangannya beralih ke arah pinggang Ganis dan melingkar manja disana.
"Kalo cowok bang Nat pengen kasih nama apa?" tanya Ganis.
"Belum tau ay," jawabannya membuat Ganis manyun.
"Kok belum tau?!" wajahnya mendadak keruh, sampai-sampai air kolam ikut berbau.
"Masih gamang," balasnya singkat.
"Bang Nat awas dulu, Ganis mau renang!" pintanya, Wira membiarkan bumilnya ini untuk berenang kesana kemari, hal yang paling ia sukai adalah saat perut buncit itu mengapung di permukaan layaknya balon.
Ganis mulai memasukkan kepalanya ke dalam air lalu ia berenang bak pesut kesana kemari, hingga terakhir membuat si balon biru mengapung dipermukaan.
"Waduhhh! Udah nyebur aja!" Ganis dan Wira menoleh saat kedua makhluk lain masuk, sepasang kekasih yang belum sepenuhnya Ganis restui karena si laki-laki minus akhlak.
"Ehhh!!! Medusa! Ngga usah dikaleng-kaleng gitu adek ipar Ganis, itu nanti mesti dicuci pake tanah!" Indi tertawa sementara Raja mengerucutkan bibirnya, nasibnya begini amat punya calon kakak ipar turunan cabe rawit, pedessss!
"Kamvrettt! Dikira gue dogy!" Raja memutar pad topinya ke belakang lalu melepaskan rangkulan tangannya dari pundak Indi.
"Teh Ganis sama a Nata dari jam berapa?" tanya Indi.
"Udah aga lama," jawab Ganis.
"Ay, ke atas dulu yuk! Makan dulu lah, udah dzuhur." Ajak Wira menarik Ganis beranjak.
"Iya," Ganis mengangguk singkat.
Wira mengangkat tubuh Ganis ke atas yang langsung dibantu Indi dan Raja, "aduhhh, ampun gusti! Udah kaya ngangkat singa laut!"
Plokkk!
Ganis menggaplok lengan Raja.
"Kurang sadis njirrr!" omelnya sengit membuat Raja terkekeh nyengir.
"Ra, cewek kalo udah hamil sama lahiran gini ntar melarr, udah mendingan cari lagi aja!" ucapnya usil menggoda Ganis. Tak tau kenapa, udah tau Ganis galak tapi Raja justru senang menggodanya.
"Sok sana cari! Pulang-pulang nanti Ganis ngga di rumah sama semua surat-surat penting, surat tanah, surat kepemilikan Vulcan, bpkb motor, bpkb mobil, buku rekening tabungan," jawab Ganis.
"Pinter!!!" Raja memberi jempol pada Ganis.
"Cewek emang paling pinter kalo masalah gasak duit!" lanjutnya, sementara Indi dari tadi tertawa mendengar perdebatan kekasihnya Raja dan Ganis yang tak pernah usai, kaya Korut sama Korsel.
"Ngga usah pada ribut, adzan tuh! Pada ke mushola dulu," sela Wira. Suara adzan berkumandang, mereka beristirahat sejenak. Baru saja duduk wanita berambut pendek sebahu itu meringis kesakitan. Ganis sengaja memangkas rambutnya jadi sebahu bergaya bob mirip para polwan, tapi justru membuatnya semakin menggemaskan bagi Wira.
Tangannya memegang perut dengan raut wajah tak dapat ditebak, Wira yang baru saja kembali kemudian meraih botol mineral dan meneguk air minum, ia mengangkat kedua alisnya, "kenapa ay?"
"Perut Ganis sakit bang,"
"Kebanyakan makan kali, makanya kalo makan bungkusnya tuh dibuang! Jangan ikut dicemil," kelakar Raja.
"Ini beneran kupretttt!" Wira menempelkan tangannya di perut Ganis.
"Sakitnya gimana?" tanya Wira, mungkin wajah boleh sangar plus dingin, tapi jangan salah! Wira termasuk suami siaga, ia malah lebih peka dan tau bagaimana ciri-ciri wanita yang akan melahirkan, tentunya informasi dari dokter.
"Sebenernya dari tadi pas sebelum mau pergi bang, tapi masih ilang timbul. Terus barusan Ganis berenang ngga begitu kerasa. Ganis kira cuma kontraksi palsu, tapi ini Ganis keluar dari air malah kerasa makin sakit!" wanita itu kini bangkit dari duduknya untuk sekedar berdiri dan menumpukkan sikutnya di meja.
__ADS_1
"Pinggang Ganis panas bang," keluhnya, Indi mengusap-usap bagian yang menurut Ganis terasa panas.
"Yang ini teh?" Ganis mengangguk.
"Ikut abang sebentar, cek dulu ke belakang udah ada len dir merahnya apa belum?!" ajak Wira yang merasa jika Ganis sudah akan memasuki proses persalinan. Ganis menggeleng, mendadak rasa takut menyerangnya, bagaimana jika melahirkan akan membuatnya meninggal, ia pernah merasakan kesakitan yang luar biasa, berada di ujung titik antara hidup dan mati dan rasanya itu begitu sunyi.
"Takut," cicitnya mulai menitikkan air mata.
"Hey, ngga apa-apa ay, masa takut. Terus si dedek mau dilahirin gimana? Ada aku disini, kamu ngga sendirian," Wira menangkup wajah Ganis dan membawanya ke dalam pelukan. Wajah yang menempel di dada Wira itu semakin mencerukan hidungnya disana seolah mencari dan menyesal wangi tubuh Wira, "Ganis takut bang,"
"Sekarang ada aku ay, kita berjuang sama-sama." ujarnya meyakinkan, sedikit demi sedikit Ganis mulai luluh meski telah berurai air mata.
"Teteh jangan nangis atuh, nanti tenaganya keburu abis," usapan Indi menguatkan sang kakak ipar, Ganis mengangguk sekali lalu mengikuti Wira ke arah kamar mandi. Wira tak lagi sungkan membuka celana Ganis dan memeriksanya, alisnya mengendur saat ia yakin jika itu tandanya, sementara Ganis sendiri tak mau melihat.
"Gimana?" tanya nya diantara sesenggukan dan rasa mules yang kian mendera.
"Kita ke rumah sakit sekarang ya, ganti dulu baju kamu. Basah," Ganis menghela nafas dan terisak, segera Wira mendekapnya, "eh--masa calon *mbu* nangis, kamu kan kuat. Udah pernah berjuang yang lebih berat dari ini, kasih positif thinking buat diri kamu, anak kita biar semuanya lancar! Sekarang sampai nanti aku ngga akan kemana-mana, cuma ada buat kamu, buat anak kita, ada di samping kamu!" ucapnya mencoba membujuk Ganis agar berhenti menangis.
Keduanya keluar dari kamar mandi, "gimana A?" tanya Indi, Wira mengangguk.
"Ja, bawa mobil! Ndi tolong masukin barang-barang ini ke bagasi," titahnya.
"Oke Ra!" Raja mengambil kunci mobil.
"Iya a, oh iya--perlengkapan lahiran di rumah, A?" tanya Indi.
"Udah prepare di mobil dari minggu kemaren, biar kalo kerasa tinggal berangkat!"
"Tau sakitnya kaya gini, ngga mau hamil lagi!" ia memilih mondar-mandir berjalan sambil ngomel-ngomel demi mengalihkan rasa sakit di perutnya. Peluh sebesar-besar jagung pipil keluar dari pori-pori kulitnya.
"Bang Nat buru ih! Gosokin pinggang aku!! Sakit banget ya Allah, lahiran tuh sakit ternyata!" omel nyeroscosnya lagi mengeluh sampai air matanya menganak sungai. Lelaki satu itu bergegas melakukan apa yang diminta istrinya, meski ia pun serba salah. Apapun yang ia lakukan salah di mata Ganis, nafas pun salah. Nis mendingan berantem aja yokk! Ia hanya bisa mengelus dada pasrah, mengingat Ganis sedang merasakan kontraksi. Wira lebih memilih berhadapan dengan 3 atau 4 orang sekaligus ketimbang menghadapi ibu yang sedang kontraksi.
Raja mengulum bibirnya menahan tawa melihat Wira yang serba salah, padahal ia tau Wira pasti sudah jengkel dibuat Ganis.
Sudah 5 jam sejak pertama Ganis dibawa ke rumah sakit, wanita ini komat-kamit melafalkan seruan takbir, istighfar demi menahan rasa sakit. Mama, papa, ibu, Gemilang sudah berdatangan.
"Sabar neng, *geulis* (cantik). Yang namanya lahiran tuh perjuangan seorang ibu *bageur* (baik)," mama mengusap-usap kepala Ganis yang sudah banjir peluh.
"Meni sakhhiitt ma," keluh Ganis yang sudah pucat.
"Ay, *mam* (makan) dulu yah--beberapa suap aja?!" bujuk Wira, tapi Ganis menggeleng, jangankan makan bernafas saja rasanya sulit.
"Biar ada tenaga neng," bujuk ibu.
"Kalo makan malah pengen muntah bu," jawabnya.
"Makan roti atuh Nis, atau kue?" usul papa ikut bersuara.
__ADS_1
"Boleh," angguknya, Wira dengan sigap mengambil kue yang ada di meja dan menyuapi Ganis. Kaki Ganis bergetar, begitupun tangannya, "awww abang, sshhhh!"
Cratttt!
"Astagfirullah!"
"Panggil dokternya Nat," pinta mama dan Ibu.
"Iya!" Wira segera keluar sementara Ganis dipegangi ibu dan mama.
"Nat! Kemana?" tanya Gemilang yang berada di luar ruangan bersama Indi dan Raja.
"Ketubannya udah pecah bang," ketiganya langsung betebut masuk untuk melihat penampakan air ketuban.
"Pushhh!"
"Hhhhhh----" nafas Ganis tersengal di percobaan yang kedua ia masih gagal, tenaganya bahkan sudah terkuras habis. Wira berada di sampingnya, dokter dan seorang suster menemani persalinan saat ini.
"Ayo ay, kamu kuat!"
Ganis menggeleng, cengkraman tangannya mengendur di tangan Wira dan bantal.
"Ayo bunda, dibantu dorong lagi dedeknya," pinta dokter.
Tapi Ganis justru melemah, "dok!" Wira terlihat panik saat mata Ganis semakin sayu dan menyipit.
"Bu, bu Rengganis---" dokter mencolek-colek pipi Ganis.
"Sus, coba kasih selang oksigen!" titah dokter dan disegerakan oleh suster.
"Ay, jangan kaya gini ay---please stay with me, aku ngga akan biarin kamu tinggalin aku lagi!" bisik Wira di telinga Ganis.
"Iya betul pak--coba bunda-nya diajak bicara biar tetap tersadar,"
Lelehan cairan merah sedikit terlihat mengucur dari bawah sana, membuat Wira semakin panik.
Dokter segera menyuntikkan sesuatu untuk menghentikkan lelehan merah itu, berikut suster yang sudah memasang selang oksigen di hidung Ganis.
"Ay, kalo kamu ninggalin aku--aku mau ikut kamu! Ajak aku sama kamu!" beberapa kali Wira mengecupi pipi dan kening Ganis.
Ganis tersenyum tipis, ia masih sadar meski kesadarannya mulai hilang. Tapi semua bayangan tentang Wira seolah datang menjadi penyemangat untuknya, bayangan kebahagiaan mereka atas kehadiran calon buah hati keduanya.
"Bunda, yok kuat yok! Kasian dedeknya udah pengen liat dunia nih," dokter mencoba meremas kaki, tangan dan menyentil-nyentil pipi Ganis.
"Please baby, jangan bobo," bisikn Wira.
Ganis berusaha kuat untuk tetap tersadar, "ya Allah jika setelah ini memang umur Ganis ngga panjang kasih kesempatan Ganis buat berjuang dulu!" benaknya.
"Bismillah," bibirnya bergumam sulit. Tekad kuatnya memberi energi booster untuk Ganis, "bang Nat," cicitnya.
"Dok---" panggilnya.
"Siap? Push!"
"Hhhhh----"
Seketika semua beban lepas saat dokter dan Wira berucap lirih, "alhamdulillah!"
Ganis tersenyum sekaligus menangis haru.
"Alvaro Karunasankara Ganendra," ucap lirih Wira.
"Nis---ay---" Wira mengguncang-guncang badan Ganis panik, melihat Ganis memejamkan matanya.
"Ay! Bangun Nis--"
Ganis membuka matanya malas nan sengit, "ck! Ganis ngantuk bisa diem ngga ih! Capek tau ngeden!" omelnya pada Wira.
.
.
__ADS_1
.
Mimin lagi kangen sama Ganis, jadinya bikin extra part 😋