
Wira menyentuh, menjamah dan mengoyak Ganis. Tapi Ganis terbuai akan itu, tak ada adegan tangis menangisi sebuah kesalahan layaknya menangisi orang sekarat.
Bahkan tak ada pengaman apapun yang digunakan Wira dan Ganis disini, semuanya terjadi atas dasar suka sama suka dan tanpa direncanakan, Wira menyingkabkan ujung dress Ganis yang sudah tak berdaya karena sejak tadi dibuai oleh sentuhan Wira, mulai dari ujung kening, kini bibir Wira merosot turun ke bibir dan leher Ganis, sementara tangan Wira bermain di titik-titik nikmat gadis itu, hingga berkali-kali pori-porinya meremang.
Satu persatu lembaran kain berjatuhan layaknya puing-puing badan pesawat yang dipreteli. Bukan cara disobek atau ditarik paksa dan kasar, tapi murni kelembutan yang diberikan Wira untuk kekasihnya. Hingga keindahan itu tersuguh di depan mata, Wira sampai menggeleng melihat betapa cantiknya Ganis, matanya semakin mengelam tak terkendali.
"Bang Nat," cicit Ganis saat Wira membuka keseluruhan pakaiannya dan menyajikan pria dengan pahatan atletis, jangan lupakan tombak sakti yang nantinya akan Wira tancapkan ke dalam dirinya.
"Ini salah abang," bisik Ganis, tapi suara lembut itu justru membuat Wira semakin menggebu dan kelimpungan untuk segera menuntaskan haz ratnya.
Kaki putih Ganis dilebarkan olehnya, suara gemerincing gelang kaki yang dipakai Ganis menjadi suara pengalun yang indah saat Wira mulai menundukkan wajahnya di depan surga Ganis.
"Hhhh!" Ganis sampai melengkungkan punggungnya kala sesuatu yang basah dan hangat mulai mengobrak-abrik dewi-nya bersamaan dengan deru nafas Wira di sekitaran area bulu halus, decapan bersemangat Wira dibawah sana bertolak belakang dengan kepayahan Ganis menahan sesuatu yang menggelitik di perut dan hatinya di saat bersamaan.
Inikah yang dinamakan dosa? Kenapa se nik mat ini?! Ganis menthesah saat sesuatu lonjakan itu akan keluar dari dalam dirinya.
"Aahhh," tangan Ganis sibuk mencari pegangan hingga ia menjambak rambut Wira.
Nafasnya tersengal, cukup terkuras juga tenaganya padahal Ganis tak melakukan apa-apa. Mata sayunya hanya bisa pasrah dibawah sana. Kakinya terkulai lemas tak berdaya. Hingga kembali Wira melebarkannya untuk bersiap menyambut miliknya.
"Tunggu...tung----euhhhh! Sakit,"
Jleb!
Ada suara lain di dalam sana, entah apa yang robek karena yang jelas setelah itu Ganis merasakan seperti berdenyut perih bersamaan dengan glenyer aneh menguasai pikiran dan tubuh Ganis.
Wira memulai semuanya, awalnya ia menghentak pelan hingga semuanya terasa semakin terpacu dan tak terkendali sampai-sampai Ganis ikut berguncang karenanya, ia mengayun membawa Ganis ke tempat indah yang belum pernah mereka pijaki sebelumnya, Rengganis adalah suatu keindahan dan kenikmatan yang tiada tara bagi Wira. Suaranya dan Ganis sengaja di tutupi Wira oleh lagu metal favoritnya yang diputar agar suara syahdu itu tak bocor sampai keluar kamar mengingat hari ini hari minggu beberapa tetangga menghabiskan waktunya di rumah. Wira terus saja memompa Ganis dibawah sana, hingga sampai di titik dimana ia ingin menyemburkan sesuatu, dengan segera Wira mencabutnya dan menaruh miliknya diatas perut Ganis, dapat Ganis rasakan perutnya teraliri cairan hangat dan lengket begitu banyak.
Wira beranjak dan mengambil kotak tissue mengusap dan membersihkan cairan cintanya yang meleleh diperut Ganis.
"Capek ngga? Tidur aja dulu, nanti mandi!" ujar Wira menyugar rambutnya lalu mengecup kening Ganis.
Ganis terlelap dibawah selimut menampilkan bahu sehalus sutra dan sebagian wajah tertutup anak rambut memberikan kesan acak-acakan namun seksi.
Wira telah merenggut sesuatu yang Ganis jaga selama ini. Pemuda ini menyalakan sebatang rokok dan mengambil kresek jajanannya ke dalam kamar, membuka sedikit jendela kamar agar asap rokok bisa bebas keluar.
__ADS_1
Sesekali ia melirik Ganis yang tertidur lelap. Ada rasa penyesalan darinya telah merusak Ganis, mengaminkan ucapan Gemilang kemarin jika ia memang pemuda breng sek yang mencoba menjerumuskan Ganis. Bahkan lukanya saja belum mereda akibat pukulan Gemilang tempo hari, apalagi jika Gem tau kalau ia sudah memerawani Ganis, bisa dibakar hidup-hidup ia oleh Gemilang.
Ia membuka laptop miliknya, tetiba saja ia mengetik sesuatu yang bahkan tak terbersit dalam rencananya beberapa bulan ke depan.
Beberapa toko benda berkilau alias jewelry berjejer di layar laptopnya, beserta rating, ulasan dan alamat toko.
Suara pergerakan ranjang terdengar di belakang Wira, terlihat Ganis yang mengucek matanya.
"Jam berapa ini?" paraunya.
"Jam 1 siang, mandi gih!" suruh Wira.
"Abis itu ikut ke Vulcan yuk! Sambil nyari makan," ajak Wira.
"Tapi ketemu Indi?" tanya Ganis.
"Nanti sebelum pulang balik dulu kesini, ketemu Indi sama ibu," jawabnya mematikan laptopnya.
"Bang Nat, curang udah mandi!" Ganis memposisikan dirinya untuk duduk di ranjang, ada sesuatu yang mengganjal dan ngilu di bawah sana, tapi biasa saja ngga sampe bikin jerit-jerit atau aduh-aduhan lebay apalagi harus digotong atau ditandu ke kamar mandi.
"Ganis mau request ah, pengen digendong sampe rumah boleh engga?!"
"Boleh, boleh banget! Tapi ada ongkosnya ya!" kekeh Wira memberikan handuk bersih dari lemari dan sabun miliknya.
"Ini kan sabun cowok bang," keningnya berkerut.
"Ngga akan bikin kamu jadi cowok kan?" Ganis terkikik, "kayanya sih!"
Ganis masuk ke dalam kamar mandi sepaket dengan rasa lengket di sekujur badannya. Membasuh badannya dengan air bersih dari bak mandi dengan gayung, menggunakan sabun persis dengan yang dipakai Wira. Aroma maskulin Wira menempel di badan Ganis.
Flashback off
Ganis terbangun, badannya terasa lengket dan gerah. Rupanya keringat mengucur deras di sekujur badannya.
Dengan segera Ganis beringsut turun dari kasur menatap pantulan dirinya di cermin. Seragam yang belum sempat ia tanggalkan ikut kusut. Ganis meneliti setiap jengkal tubuhnya, satu yang ia tau, ia tak lebih baik dari Suci, ataupun Yola.
__ADS_1
Harga diri yang dijunjungnya tinggi pada kenyataannya sudah ia berikan pada Wira. Ia teringat sesuatu, diraihnya handle laci meja dan menarik itu.
Tangannya mengambil buku hijau dan mulai membukanya.
...REPUBLIK INDONESIA...
...KUTIPAN AKTA NIKAH...
...KANTOR URUSAN AGAMA...
...Telah dilangsungkan akad nikah seorang laki-laki bernama NATA PRAWIRA ADIWANGSA dengan seorang perempuan bernama RENGGANIS KAMANIA....
Lirikan mata Ganis terfokus pada 2 buah foto berukiran 2×3 yang tertempel berdampingan. Itu fotonya dan Wira.
"Mama!" Ganis keluar dari kamarnya, lalu segera turun ke lantai bawah dimana mama dan papanya tengah menghabiskan waktu sorenya bersama.
"Ma!"
"Nih, anak gadis jam segini baru bangun! Tadinya kalo 10 menit lagi belum bangun, mau mama siram pake air!"
"Aduhh! Eta seragam meni sampe ka galing kitu dipake tidur!" omel mama-nya. (itu seragan, sampe kisut gitu dipake tidur)
"Tampol aja ma, tampol!" kompor Gem.
"Ma, pa," Ganis langsung menunjukkan buku hijau itu pada keluarganya, seketika mereka terdiam. Rupanya Wira sudah sampai ke tahap itu mengingatkan Ganis.
"Iya Nis, kamu sudah menikah! Dan saat ini kamu masih istri sah-nya Nata!" jawab Papa membuka suara.
"Kapan Ganis nikah? Kenapa Ganis bisa nikah sama Nata?"
.
.
.
__ADS_1