Kepingan Jingga

Kepingan Jingga
GANIS MAHA BENAR


__ADS_3

Damar sampai mengeluarkan air mata geli melihat raut wajah Reza sejelek si itik buruk rupa gara-gara minuman favoritnya kini harus berubah. Anjlok sudah harga diri berandal sejati sejagat Bandung, lebih murah dari harga telor asin di pasar.


Jika bukan Ganis orangnya, mungkin ia sudah habis disikat anak-anak slebor, berhubung Ganis orangnya, mereka tak berani melawan hanya bisa menggerutu dalam hati sambil mengucap sumpah serapah.


"Berisik loe Mar!" bahkan Wira saja tak berani melawan Ganis, memang dahsyat kekuatan Ganis, mungkin kesiswaan di sekolah harusnya beralih kepemimpinan pada Ganis mulai saat ini, agar sekolah aman damai terkendali.


"Ngga sanggup lah gue, ini ketir banget! Gua ngga cacingan Ra, masa iya dikasih beras kencur!" ujar Reza.


Belum ada 5 menit gadis itu masuk, ia kembali keluar membawa secarik kertas ditambah selotip dan gunting.


"Ay, mau ngapain lagi? Nih bawa masuk aja, buat kamu, Indi sama ibu!" pinta Wira menyerahkan botol kunyit asam, minuman ini sih lebih cocoknya bagus untuk para gadis yang akan mengalami menstruasi.


Ganis menempelkan secarik kertas itu di depan pintu.


Aturan main disini !



Ngga boleh berisik


Ngga boleh minum minuman beralkohol


Ngga boleh bawa lawan jenis (kecuali Ganis)


Ngga boleh protes, Ganis Maha Benar!!!!!



Sekali lagi mereka melongo dibuatnya, sampai-sampai nyamuk, lalat dan kawan-kawan bisa masuk tanpa permisi jika mereka tak mengingat kalau anak slebor itu galak-galak aslinya.


"Anteng-anteng ya, Ganis mau bantuin Indi kerjain pr! Ibu tidur siang, jadi jangan berisik!" Ganis kembali masuk dengan tampang polos tak berdosanya, tampang-tampang anak tk yang baru saja mendapat pujian karena tindakan heroiknya, seakan apa yang ia lakukan adalah tindakan mulia. Wajah cantik bidadari tapi tertanam benih-benih malaikat pencabut nyawa di dalamnya.


Kalau sudah begini siapa yang tersiksa? Siapa yang merasa dizolimi?


Damar meraih bungkusan ciki dan membukanya, "udah, lebih aman mah nyemil aja!" ujar Damar.

__ADS_1


"Kalo kaya gini, rumah Wira udah ngga bisa dijadiin basecamp Ra."


"Lu ngga salah suka kan Ra?" tanya Reza. Pertanyaan Reza sukses mengundang decakan Wira, "sebelum gua kenal lu, gua udah lebih lama kenal Ganis!"


"Oh, oke sorry, sorry..." balasnya tak mau sampai Wira tersinggung. Ganis telah kembali ke stelan Ganis yang dulu, memang seperti itulah Ganis, awal-awal Wira pun sama seperti Reza dan yang lain, tapi lama-lama gadis itu ngangenin juga.


"Emang paling bener cari pasangan tuh yang mau kita berubah jadi lebih baik Za, mau selamanya lu kaya gini?!" bela Damar. Raja mengangguk-angguk setuju juga dengan ucapan Damar, suka tidak suka memang kata-kata si kamvrett ini ada benarnya. Kalo pasangan sama govloknya hancur sudah masa depan.


Akhirnya se-siang itu para anak slebor harus menelan pil pahit tanpa air gula jahe karena pada kenyataannya jamuan tak sesuai harapan. Dan jangan berharap ke depannya mereka akan lebih nikmat menjalani kehidupan, kecuali ada bintang jatuh dan membuat pengharapan biar Ganis kejedot lagi terus ilang ingatan kalo alkohol itu haram untuk diminum.


"Teh, itu temen-temennya a Nata ngga akan marah atau dendam gitu?" tanya Indi menikmati coklat di kursi tengah, takut saja jika besok-besok nemu boneka voodo dengan ditempeli foto Ganis oleh salah satu anak slebor karena udah ganti amer jadi beras kencur. Indi terpaksa menjeda pengerjaan tugas pengayaannya karena tak kuat menahan godaan coklat dari Ganis, seakan melambai-lambai minta diemoet dan dinikmati. Ganis merebahkan dirinya di sofa sambil menonton acara kartun siang.


"Bo*do amat lah! Kalo ngga ada yang berani negur atau nyadarin mereka, mereka bakalan terus-terusan ada di dunia kelam kaya gitu! Kapan insyafnya,"


Indi mengangguk-angguk seraya mengetuk-ngetuk pensil di dagunya, "iya juga sih teh! Jadi penasaran dulu teteh naklukin a Nata pake apa?!"


"Dicium pake sepatu!" balasnya ngasal, membuat Indi ikut tertawa.


Beberapa kali Indi bertanya pada Ganis tentang tugas, karena nyatanya Indi sedikit kesulitan mengerjakan tugasnya, jujur Indi tak suka dengan pelajaran matematika, selain karena pelajarannya yang bikin otak kaya lagi naik korsel, gurunya juga galak, pokonya paket komplit deh bencinya.


Terdengar dari arah luar suara knalpot motor satu persatu meninggalkan rumah Wira, itu tandanya anak-anak slebor sudah pulang. Padahal biasanya jika matahari belum kelihatan mentok di ufuk barat, mereka masih betah saja menempelkan pan tatnya di kursi depan tanpa mau berpindah barang seinci pun.


Membantu tugas Indi rupanya membuat kelopak mata Ganis seberat beban hidup rakyat jelata, berulang kali ia menguap dan memejam.


"Nis, pindah ke kamar aja kalo ngantuk!" Wira duduk dan mengusap kepala istrinya penuh sayang.


"Tapi bang Nat jangan macem-macem!" peringatnya, untuk saat ini Ganis tak ingin ada adegan di sosor Wira layaknya disosor sowang.


"Emang kenapa, mau macem-macem pun ngga akan jadi dosa?!" kedua alisnya terangkat menantang. Indi menggelengkan kepalanya sambil menggosok-gosok dagu dengan pensil menyaksikan perdebatan sepasang suami istri yang bukan ranahnya untuk ikut campur. Setidaknya rumah kembali ramai dengan hadirnya Ganis, tiada hari tanpa berdebat dengan Wira, seperti dulu. Kini akan ada suara berisik lagi yang mendebat dan menyuruh-nyuruh Wira.


Ganis berdecak dan mencebik, "jangan ganggu pokoknya, paling ngga enak lah kalo tidur diganggu!" Ganis masuk ke kamar Wira. Gadis itu merebahkan badannya yang mendadak berat, dan memeluk guling, tak butuh waktu lama untuk Ganis terlelap dalam buaian siang menuju sore itu.


"Iya," balasnya malas.


Wira mengambil laptop dan segera memulai pekerjaannya, seharusnya hari ini ia pergi ke Vulcan menyusul Ibro tadi, tapi ia batalkan. Hari ini Wira lebih memilih menemani Ganis meskipun pada kenyataannya yang ditemani malah meninggalkannya tidur siang.

__ADS_1


Seakan tak percaya apa yang terjadi sekarang benar-benar melampaui ekspektasi, Wira menggelengkan kepalanya. Ia tak menyangka jika ternyata hari itu adalah hari ini, dimana Ganis kembali ke pelukannya, setelah 7 bulan lamanya ia pergi.


"Dih, udah gila kayanya!" hardik Indi, rupanya sejak tadi Indi melihat ia yang tengah senyam-senyum sendiri kaya orang gila.


"Eh," Wira berdehem untuk menetralkan suasana hatinya.


"Tau lah, yang istrinya baru comeback! Berasa kaya dapet tog3l!" cibir Indi, tapi tak membuat Wira lantas marah, ia memang setuju dengan Indi jika dirinya sudah seperti orang kurang waras.


"Siapa yang dapet tog3l?" suara ibu membuat keduanya menoleh ke arah kamar ibu, dimana ibu muncul mungkin terganggu dengan suara-suara jin siang hari yang sedang saling meledek.


"Ini bu, a Nata! Dapet undian berhadiah, teh Ganis sholeha mau disuruh tinggal lagi disini!" kekeh Indi.


"Alhamdulillah kalo gitu, terus sekarang kemana Ganisnya?" tanya ibu tak melihat batang hidung menantunya.


"Boci, bobo ciang! Abisnya lakinya malah sibuk sama temen-temennya," jawab Indi lagi.


"Oh," ibu beroh singkat seraya berlalu ke arah belakang.


"Udah ah! Otak Indi udah tipis, ngebul, mau mandi aja!" Indi segera membereskan peralatan sekolahnya dan masuk ke dalam kamar.


Sudah cukup lama Ganis tertidur, tapi pintu kamar Wira belum menunjukkan tanda-tanda akan dibuka oleh penghuninya, Wira saja sudah selesai dengan pekerjaannya.


Wira menutup laptopnya lalu berjalan masuk ke dalam kamar, Indi sudah sejak tadi menghilang dari kursi sana.


Wira menunjukkan seringai tipis usilnya, jika Ganis sudah kembali maka sifat usil Wira ikut kembali, bagai dua sisi uang koin yang tak dapat dipisahkan.


Ia membuka pintu kamar yang memang tak dikunci, menyuguhkan seorang gadis manis yang tertidur lelap, meskipun gaya tidurnya tak seperti snow white tapi tetap saja wajah childish Ganis terlihat sangat menggemaskan di msta Wira, apalagi mulutnya menganga sedikit.


Wira terkekeh tanpa suara, akhirnya ia bisa kembali melihat pose itu, Wira menaruh laptop di meja dan merangkak ke atas ranjang bermaksud mengganggu si putri tidur ini.


"Siapa suruh ganti amer jadi kunyit asam, nakal!" bisiknya memeluk tubuh Ganis dengan posesif. Tubuh itu menggeliat tak liar dan kembali tertidur, menandakan si empunya tertidur sangat lelap.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2