Kepingan Jingga

Kepingan Jingga
INSTING BERTAHAN HIDUP


__ADS_3

Kebiasaan yang mendarah daging memang tak bisa diubah, Wira keluar dari kamar setelah ngelonin Ganis, jangan berburuk sangka dulu ngeloninnya cuma ngelusin sayang sampai istri manjanya itu terlelap, kaya nanny ya kalo dipikir-pikir. Yahhh...pegang-pegang dan kecup dikit mah anggap aja itu sebagai upahnya. Katanya satu hari tak bertemu bagai seribu tahun tanpa bintang. Tapi baru saja bertemu bukannya di dekepin sampai lemes malah ditinggal tanpa belaian.


"Loh, teh Ganis mana?" tanya Indi saat kakaknya datang seorang diri tanpa sang belahan hati. Lelaki itu kemudian duduk di sofa samping Indi, mencomot potato chips yang biasa di cemil Ganis dan Indi, kata Ganis ini cemilan sehat. Seenak apa keripik kentang ini, hingga istrinya itu selalu menyetok cemilan satu ini di kamar, "tidur!" sebenarnya kesal juga, katanya kangen, katanya rindu, tapi giliran Wira pulang malah ditinggal tidur.


"Cepet banget?! Diapain?!" Indi memang tau kakak iparnya itu doyan tidur, ia anak rumahan yang jarang keluar rumah malam-malam, tapi tak menyangka saja secepat ini, baru juga jam 8 malam, luwak aja masih bedakan, kunti aja masih sisiran.


"Ibu mana?"


"Masih ngaji di kamar," jawab Indi, ia kembali tertawa menonton acara lawak yang menurut Wira kurang berfaedah. Wira hendak beranjak tapi Indi menahannya dan meminta kakaknya duduk kembali.


"A, duduk dulu!" pintanya, ia mengesampingkan toples plastik itu dan menutupnya, menjilati telunjuk dan jempol berselimut bumbu keripik.


Kepalanya celingukan terutama ke arah kamar Wira, "kenapa?"


"Tapi jangan bilang-bilang teteh," bisik Indi tegas.


"Apa?" tanya Wira mulai penasaran dengan apa yang akan dibicarakan adiknya.


"Tadi pas jajan seblak ketemu sama cowok! Aneh banget, maksa-maksa, pegang teh Ganis!" Oke saat ini wajahnya sudah berubah jadi sangar penuh ketajaman, apakah ini sudah masuk purnama? Sebentar lagi pasti sekujur tubuhnya akan penuh oleh bulu kasar.


"Siapa?!" galaknya. Nah kan, nada bicara Wira kini ikut berubah juga.


"Bentar jangan marah dulu!" tepuk Indi di lengan kakaknya. Lantas gadis itu mengadukan kejadian yang dialami Ganis saat jajan tadi sore pada Wira, sebenarnya niat Indi mulia, ia hanya ingin mewanti-wanti biar abangnya ini jangan sampai seperti apa yang disebutkan Nugraha. Alis Wira mulai menukik mendengar cerita Indi, kenapa Ganis ngga bilang apa-apa soal ini?


"Aa ngga gitu kan?" rupanya gadis ini pun ikut terhasut, padahal tadi sore ia lah yang meminta Ganis agar jangan percaya Nugraha.


Tangannya terkepal kuat, "rupanya peringatan gua ngga mempan!" gumam Wira.


"A?!" Indi mengulangi pertanyaannya memastikan jika Wira tidak seperti yang dituduhkan.


"Ya engga atuh!" sengaknya pada Indi langsung beranjak, tak menunggu lama ia masuk ke dalam kamar, Wira kembali sudah dengan stelan jaket dan celana jeans juga sepatu.


"A Nata mau kemana?" seru Indi.


"A, mau kemana lagi? Baru juga pulang?!" tanya ibu menutup kembali pintu kamarnya, wanita paruh baya dengan wajah teduh ini masih memakai mukenanya dan memegang tasbih.


"Keluar sebentar," jawabnya memakai helm.


"A Nata!" Indi menyusul keluar rumah, "a, jangan atuh! Nanti bisa runyam. Indi tadinya cuma ngasih tau, takutnya suami teh Iva ngadu yang engga-engga sama aa," tatapan Wira melunak pada sang adik, "ngga ngapa-ngapain, cuma ngajak ngobrol aja jangan ganggu Ganis," jawab Wira memundurkan motornya dan melajukan sampai pagar besi rumah.


Netra hitam Indi menatap penuh khawatir, saat mengikuti gelagat Wira membuka pagar dan keluar dari halaman rumah.


"Tutup pager!" pekik Wira pada Indi, gadis itu segera melaksanakannya.


"Aduh! Indi salah ngomong engga ya?!" guman Indi.


"Aa, mau kemana Ndi?" di sela-sela kalimat dzikirnya ibu bertanya.


"Ngga tau bu, katanya keluar!" bohong Indi tak ingin ibu ikut khawatir.


Motor ia lajukan dengan kecepatan tinggi, hanya satu tujuannya, menuju rumah Ivana..bukan untuk ngapel atau silaturahmi dengan keluarganya. Tapi untuk memberikan Nugraha pelajaran amat berharga.


Ban motor dengan tapak kasar itu sampai di depan sebuah rumah tak terlalu besar bercat putih, lampu neon putih masih setia berpendar di teras ini meakipun kini sudah aga temaram, ia mengucap permisi ke dalam, sepi! Wira kembali mengucap salam kedua kalinya. Bukannya Ivana atau Nugraha yang menyambut Wira tapi ibu Ivana, ekor matanya berkerut dan matanya menyipit tanda jika ia sedang tersenyum melihat Wira. Jelas ia mengenal Wira, mantan kekasih putrinya.


"Ma, Iva sama Nugraha ada?" tanya Wira.

__ADS_1


"Eh Wira, belum pulang Ra. Ngga tau kemana dulu! Dari tadi anaknya nanyain sambil nangis-nangis sampe ketiduran, bunda sama ayahnya belum pada pulang. Kayanya mah abis jemput Iva kerja mereka pacaran dulu, ngga mau keganggu sama anak!" kekeh mama Ivana.


"Oh, kalo gitu makasih ma!" angguk Wira sopan tapi tak mengurangi hawa dinginnya, siapapun dapat merasakan itu.


"Oh iya, ngga mau masuk dulu atuh Ra, nunggu di dalem?" angguk wanita berciput ini memberikan penawaran.


"Ah engga ma, makasih. Mau langsung aja," pamitnya.


Wira berfikir sejenak, dimana tempat biasanya anak-anak metal sering nongkrong termasuk Ivana dan Nugraha, ia mengangguk pasti. Wira langsung tancap gas mencari keberadaan Nugraha, tak akan ia lepaskan sampai manapun lelaki yang sudah mengganggu Ganis-nya.


Dan benar saja, di sebuah warung kopi semi cafe mereka tengah cekikikan sambil merokok dan minum. Wira membuka helmnya kasar dan langsung menghantamkannya ke kepala Nugraha.


Bughhh!


Mereka yang dikejutkan dengan kedatangan Wira sambil ngamuk sontak bangkit.


"Ra!" Ivana menolong suami yang meraung kesakitan di sampingnya. Jelas saja helm Wira itu beratnya lebih dari 1 kg, dan dihantamkan sekencangnya oleh si pemilik.


"An*@$^!" dengus Nugraha, mengusap kepalanya yang mendadak berputar dan nyut-nyutan, atau mungkin juga berdarah. Beberapa pengunjung ikut menengok juga untuk melihat keributan ini.


"Ra, apa-apaan lu?! Lu mabok?!" beberapa teman menahan Wira termasuk ada Acuy disana mereka memegangi tangan dan badan Wira, sementara 2 orang lainnya membantu Ivana dan Nugraha.


"Sayang, ngga apa-apa?" tanya Ivana khawatir.


Wira mendengus, ia tertawa miring. "Iva, kasih tau suami lu, jangan pernah ganggu istri gua! Apa peringatan gua tempo hari dia anggap lelucon?!"


"Sabar Ra, duduk dulu! Ada apa?" tanya Acuy mengajaknya duduk.


"Maaf teh, aa, sok dilanjut aja ini cuma salah paham!" teriak Arif meminta maaf pada pengunjung lain.


"Sebelum lu ngomong gua udah kasih tau nih se tan baik-baik! Tapi kayanya bahasa gua ngga masuk buat otak do ngo dia!" tunjuk Wira sarkasme, tak ada baik-baik lagi sekarang untuk Nugraha.


"Maksud lu apa anyyinkkk?!" tanya Nugraha meringis, ia terkekeh mengejek, "apa lu ga bisa move on dari bini gua?! Makanya nuduh-nuduh?!" tuduhnya pada Wira.


"B4n ci!" cibir Wira, memalingkan wajahnya lalu hendak kembali menyerang Nugraha.


"Weyyy! Weyyy! Santai bro!" tahan Acuy dan kawan-kawan sigap.


"Nih cowok ngga beres, pake rok lu anyinnkkk!" tembak Wira menghardik.


"Wira!!! Cukup!" teriak Ivana.


"Lu tuh apa-apaan sih?! Kalo ada masalah ngga kaya gini, dari dulu lu tuh kaya gini, kasar! Apa-apa main fisik!" cerca Ivana. Urat-urat di kepala Wira seketika muncul bersamaan emosi yang meluap-luap, jika saja Tuhan tak menghadirkan bayangan Ganis di otak Wira, mungkin saat ini ia benar-benar mencekik Nugraha dan menghardik Ivana. Ia mengucap syukur pada Tuhan, telah menghadirkan Ganis untuknya, disaat Ivana hanya bisa merutuki sifatnya Ganislah orang yang menghadapinya penuh ketulusan, meluluhkannya hingga ia bertekuk lutut.


Wira tak mengindahkan Ivana yang sejak tadi mungkin memandangnya semakin buruk, tak jadi masalah untuk Wira, karena kini Ivana bukan siapa-siapa dan tak akan menjadi siapa-siapanya lagi, urusannya hanya dengan laki-laki br3ng sek itu, "Jangan pernah sentuh sedikit pun istri gua! Dia haram buat lu sentuh," ancam Wira pada Nugraha.


"Sekali lagi lu temuin, deketin, atau bahkan sentuh Ganis. Lu abis di tangan gua!" Wira menepis, melepaskan cengkraman teman-temannya.


Ia memakai kembali helmnya, baru saja membalikkan badan, langkahnya harus terhenti.


"Jadi permasalahan ini ada hubungannya sama Ganis, lu jangan salahin laki gua Ra, laki-laki ngga akan ganggu atau deketin, kalo perempuannya ngga mulai!" ucap Ivana.


Wira berbalik, ia tersenyum miring. "Memang, tapi Ganis ngga kaya lu!" jawabnya kemudian pergi setelah membuat keributan di cafe orang.


Ivana memandang nyalang suaminya, ia lepaskan pegangannya dari bahu kokoh Nugraha, "Wira ngga akan semarah itu kalo masalahnya sepele. Ada apa? Kamu udah bikin kesalahan apa?" tanya Ivana menginterogasi dengan tatapan penuh kecewa.

__ADS_1


"Halah! Bilang aja lu masih suka sama mantan lu itu makanya ngebelain." Jawab Nugraha duduk kembali, menuangkan anggur merah ke dalam gelas sloki.


"Gua ngga bela siapapun. Tapi gua tau Wira sejak lama, dia bukan tipe orang yang bakalan ngamuk tanpa alasan."


"Aahhhh!" tepis Nugraha di udara kemudian ia menyulut rokoknya.


"Balik aja lah!"


...----------------...


Wira pulang dengan membawa dua kotak martabak telor dan manis keju.


"Asikkk!" seru Indi bersorak, malam ini ia akan sangat kenyang.


"Bu, mumpung masih anget!" Wira membuka kotak martabak dan menggesernya di tengah-tengah meja membiarkan ibu mengambilnya terlebih dulu, menguarkan harum khas-nya yang menggugah selera. Ia dan Indi duduk bersampingan langsung saja mencomot martabak telor, favorit kakak beradik ini setelah ibu mengambil potongan pertama.


"Beli yang dimana ini, a?" tanya ibu.


"Yang di D.U," (Dipatiukur)


"Ini telor bebek kan, a?" Wira mengangguk, ibu tersenyum terharu, jika sedang begini keduanya mengingatkan ibu dengan kenangan sepuluh tahun silam, saat sang suami membawakan martabak telor bebek favorit mereka maka keduanya akan berebut seperti anak ayam berebut bekatul, Wira malah sampai memakannya dengan nasi hangat.


"Semoga tenang disana kang, al-fatihah!" gumamnya dalam hati. Mereka mendongak dengan wajah terkejut saat pintu kamar terbuka, menyuguhkan pemandangan wajah bantal Ganis, ia berlari tergesa menuju kamar mandi.


Dughhh!


"Awww!" aduhnya.


"Bang Nat! Lain kali kalo bikin rumah ngga usah dipakein tembok lah! Blong, aja kaya lapang bola!" omelnya.


"Itu teteh kejedot?" tanya Indi terkikik hampir menyemburkan martabak dari dalam mulutnya.


Blughhh! terdengar suara pintu kamar mandi ditutup kasar.


"Ay," sapa Wira saat Ganis kembali dari kamar mandi sambil mengusap jidatnya.


"Jajan martabak ngga bilang-bilang ih!" ketusnya manyun. "Pinter banget milihnya pas Ganis udah tidur, biar ngga diminta," gadis itu mendelik, tanpa rasa berdosa menggeser Wira dan Indi, ia duduk ditengah-tengah antara keduanya.


Dengan santainya mencomot martabak, ibu sampai tertawa dibuatnya, "neng ngalindur?" tanya nya. (neng, ngigo?)


Ganis menggeleng, "engga," jawabnya di sela-sela kunyahan.


"Emang dahsyat wanginya ya, yang bobo aja sampe bangun!" cibir Wira tertawa.


"Insting Ganis kuat!"


"Insting apa?" tanya Indi setengah meledek.


"Insting bertahan hidup!" balasnya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2