
"Duduk dulu, cuci muka dulu kek, atau mandi dulu! Tuh pulau putih masih berkerak gitu!" tawa Gemilang, di tengah keseriusan Ganis. Dalam hidupnya Ganis belum pernah bertanya se-serius ini, bahkan saat avatar turun ke bumi dan beralih profesi jadi tukang balon sekalipun, gadis ini tak pernah serius.
"Ck!" Ganis menghempaskan pan tatnya di sofa single sebrang Gemilang.
"Ganis ngga pernah bikin pulau kalo lagi tidur! Emangnya bang Gem, pulau reklamasi aja kalah cepet jadinya sama pulau buatan bang Gem!" jawabnya meraba-raba wajah memastikan, dipikir-pikir tak pede juga jika ia kecolongan ileran.
"Pake segala pulau reklamasi dibawa-bawa!" dumel Gemilang mematikan game onlinenya.
"Gini deh! Biar enak ngobrolnya, Ganis sekarang mandi, makan baru nanti dijawab pertanyaannya," jawab mama mencoba jadi pihak yang paling bijaksana layaknya hakim persidangan menengahi putra-putrinya, yang tiada hari tanpa berdebat.
"Yaaa, kelamaan! Keburu Indonesia dijajah lagi sama si meneer," omel Ganis menaruh buku hijau itu di meja depan mama, papa dan Gem sambil menggerutu naik ke lantai atas.
"Telfon Nata aja deh pa, biar Nata yang jelasin sama Ganis, gimanapun dia yang lebih berhak dan lebih tau selain dari Gem, biar Ganis juga ngga gagal paham kalo dari sudut pandang kita," ujar mama mengusulkan.
"Biar Gem yang telfon ma," Gemilang segera beranjak dari kursinya dan melakukan panggilan telfonnya pada Wira.
Ganis sudah duduk manis di kursi, ia sudah mandi, makan, dan siap mendengarkan cerita pengantar tidur.
"Buru onde, lama banget deh!" tendangnya di kaki Gemilang, tak tau apa adiknya ini sudah penasaran setengah mamposs.
"Penasaran ya? Wah bakalan ada yang jadi hantu gentayangan dong, matinya penasaran!" Gemilang menaik turunkan alisnya.
Tak!!
Sandal hotel mendarat mulus di pa ha Gemilang dengan suara nyaring.
"Ih, kasarrr! Kaya kulit kaki," aduh Gemilang.
"Kulit kaki abang kali, kulit kaki Ganis ngga kasar!"
"Yang mau nyerita bukan gue, tapi Nata!" jawab Gem meneruskan bermain game onlinenya.
"Sikat Co! Sikat!! Ahhh kan, bo*do banget!" serunya heboh meneriaki layar ponsel.
"Kelamaan lah, lagian dia juga ngga ada disini, Nata lagi sibuk ngurusin istri sama selirnya!" gerutu Ganis mendengus, menghempaskan punggungnya pasrah di sofa. Jika mengingat kejadian di sekolah tadi, ingin rasanya ia membeli satu truk tomcat dan menumpahkannya tepat di atas kepala Suci cs.
"Cie elah peniti bros bisa cemburu juga!" cibir Gem dengan tampang nyinyirnya.
"Ini orang minta diapain sih ma?!" ujar Ganis memelas, ia sudah hampir menangis digoda terus menerus oleh Gemilang, di sisi lain mama dan papanya malah tertawa-tawa melihat wajah cemberut Ganis, memang si anak manja ini begitu, jika sudah menyerah ya nangis senjatanya.
"Gem,"
"Iya, abang kasih cluenya ya. Kamu nikah bulan oktober, 4 bulan sebelum kamu kecelakaan," jawab Gemilang.
"Itu mah jawaban norak! Bukan clue!" tembak balik Ganis sengit.
Gemilang tertawa, "nah itu udah dibonusin tuh!"
"Assalamualaikum!" terdengar suara Wira baru saja tiba.
"Waalaikumsalam,"
"Nah tuh orangnya dah dateng," seru Gemilang.
"Kalo gitu abang mau ngapel dulu!" Gemilang mematikan ponselnya lalu berdiri bertos ria dengan Wira.
__ADS_1
"Nih tuh bini lu, daritadi cerewet banget nanyain!"
"Apa?! Suka fitnah!" cebik Ganis.
"Nata lagi sibuk ngurusin istri sama selirnya!" tiru Gemilang dengan gaya ganjen nan judesnya.
"Idih, Ganis engga gitu ya!" Ganis tertawa, abangnya lebih mirip b4n ci kaleng. Wira duduk tepat di samping Ganis, ia mengulas senyuman melihat wajah ketus Ganis.
"Nat, mau minum apa?" tanya mama menawarkan.
"Biar Ganis aja yang bikin!" ujarnya berdiri, Ganis tergerak untuk membuat minuman ke dapur. Tak ingin hanya diam, Wira pergi menyusul Ganis.
Ia menaruh teh celup dan beberapa sendok teh gula ke dalam cangkir, lalu menuangkan air panas ke dalamnya.
Tangan kanannya sibuk mengaduk-aduk teh manis sementara pikirannya masih mencerna jawaban Gemilang tadi.
"Kamu udah liat isi buku nikah, itu artinya kamu udah percaya kalo kita memang udah nikah." Tangan Ganis sontak berhenti memutar.
Gadis itu menaruh sendok dan berbalik dengan membawa secangkir teh manis hangat di tangannya.
Ganis menatap Wira lama-lama, pemuda yang dalam bayangannya sudah berhasil mengambil kehormatannya.
"Apa kita nikah gara-gara aku hamil duluan?" tanya Ganis dengan ragu.
"Iya," terjawab sudah semua yang menjadi pertanyaan, kebingungan Ganis selama beberapa minggu ini melalui satu kata dari Wira.
"Itu artinya aku ngga lebih baik dari Suci, ataupun Yola," ucap Ganis menunduk, senyumnya menyiratkan kekecewaan.
Wira menggeleng, lalu menaruh cangkir teh manis di meja, menarik tangan Ganis untuk berbicara di halaman samping melewati pintu dapur.
Ia membawa Ganis untuk duduk di kursi yang biasa papa duduki jika sedang menikmati waktu sorenya dengan mama.
"Dengerin aku Ganis," ia mendongakkan dagu Ganis agar melihatnya lalu membawa rambut Ganis yang melambai-lambai ke belakang telinga gadis itu.
"Kamu ngga sama kaya Suci, Yola, ataupun yang lain. Kamu ya kamu, istriku yang paling the best, maksudku kamu satu-satunya istri terbaik yang kupunya!" mata Ganis sudah berkaca-kaca.
"Entah inget atau belum, kita lakuin itu atas dasar suka sama suka, saling sayang. Aku yang salah, harusnya aku lebih berusaha yakinin Gemilang kalau aku pantes buat kamu,"
Satu kursi taman panjang berwarna putih, menjadi saksi bisu ketika Wira kembali mengajak Ganis mengingat kejadian lalu, berteman langit malam yang lebih cerah dari biasanya, tak tau mungkin bulan ingin ikut menyaksikan keduanya berbicara dari hati ke hati.
************
Oktober 202X
"Hujan Nis, aku ngga bawa jas hujan." Wira memakaikan jaketnya di badan Ganis, padahal Ganis sudah memakai jaket miliknya meski tak cukup tebal.
Gadis itu merengut, "kamu ngapain makein lagi Ganis jaket. Ganis kan udah pake jaket Nata."
Wira gemas, ia menjiwir hidung Ganis, "biar jaket kamu tetep kering, soalnya punyaku kan kulit!"
"Kayanya nyeduh mie enak deh, pake telor sama kornet! Yuk!" ajak Ganis menaik turunkan alisnya. Tak pernah ada permintaan macam-macam, ataupun ajakan jajan yang bikin nguras dompet dari Ganis, ia gadis yang sederhana meskipun terbiasa hidup berkecukupan.
"Boleh, di rumahku?" tanya Wira.
"Yuk! Biar barengan sama Indi!" so pasti Ganis bersemangat jika mendengar kata rumah Wira karena ada ibu dan Indi.
__ADS_1
Keduanya menembus udara dingin dan hujan deras sambil tertawa-tawa.
Ganis segera turun, dan membuka pagar rumah Wira.
"Cepetan masuk! Pager biar aku yang tutup!" titah Wira di tengah derasnya hujan, diangguki Ganis. Gadis itu berlari kecil menuju teras dan segera membuka jaket milik Wira.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam, ya Allah teh Ganis! Ujan-ujanan?" Indi yang membukakan pintu langsung mengambil handuk ke dalam rumah memberikannya pada Ganis.
"Teh, ini," Indi menyerahkan handuk milik Wira. Ingat betul Ganis dengan handuk ini, handuk yang sering ia pakai untuk mandi disini jika setelah....sejak pertama kali melakukan hubungan itu dengan Wira, Ganis dan Wira tak segan mencoba untuk yang kedua dan ketiga kalinya tentu saja saat tak ada orang di rumah.
"Makasih Ndi," jawab Ganis. Wira memasukkan motornya ke teras samping rumah lalu melompat langsung ke teras depan dimana Ganis dan Indi berada.
Ganis langsung menggosokkan handuk di rambut Wira, "nunduk atuh bang Nat, kamu teh tinggi!" Ganis menekan-nekan kepala Wira ke bawah membuat Indi tertawa, bukannya menyamakan tinggi, Wira malah menggendong Ganis agar tangan Ganis bisa leluasa menggosok rambutnya.
"Nih Ndi, makanya aa suka nyuruh Indi buat olahraga tuh biar ngga kaya bocil gini, masa udah SMA masih digendong-gendong!" ucap Wira, sambil mendusel-dusel wajahnya di perut Ganis.
"Bukan Ganis yang kependekan, kamu yang ketinggian. Ibu ngasih dia cemilan apa sih Ndi? Curiga dikasih bambu deh!" decih Ganis.
"Dikasih cemilan tangga teh," kekeh Indi.
Mereka masuk ke dalam,
"Teh Ganis, Indi buatin minuman anget ya?!"
"Boleh Ndi, eh Ndi...nyeduh mie pake telor yuk! Sambil nonton film horor baru!" ajak Ganis menunjukkan ponsel miliknya, sementara Wira langsung masuk ke dalam kamar.
"Hayuk teh!" Indi mengangguk cepat. Ibu keluar dari kamarnya, "eh ada Ganis, ya Allah ini roknya basah! Ganti dulu neng pake baju Indi nanti masuk angin!"
"Eh iya bu, ngga apa-apa." Ganis meraih punggung tangan ibu dan menyalaminya.
"Ndi, pinjemin Ganis celana. Kalo baju biar punya aa aja!" Wira keluar dari kamarnya dengan sudah berganti pakaian.
"Oke, bentar Indi ambilin dulu!" gadis itu segera mengambil celana pendek miliknya dari kamar.
Disinilah mereka pada akhirnya, sofa panjang ruang tengah dengan semangkuk mie instan di tangan plus telur, rawit, dan kornet sepaket film horor yang terputar. Kedua gadis itu tampak menonton dengan wajah serius.
Indi berada di paling pojok dekat tembok, sementara Ganis berada di tengah dan Wira disampingnya dengan tangan memeluk Ganis posesif sambil menaruh kepalanya di pundak kecil gadis itu.
Disaat kedua gadis itu menutup wajah Wira malah menggunakan kesempatan itu untuk mengecup pipi Ganis.
"Cup!"
"Ck, ada Indi!" bisik Ganis memelototi Wira yang nakal, tapi pemuda itu malah cekikikan.
"Berisik! Orang-orang pada takut ini malah cekikikan!" omel Indi.
"Iya nih berisik! Ga tau apa orang lagi serius nonton!" tukas Ganis menekankan kata berisik sambil kembali melotot memperingati Wira yang kembali nakal.
.
.
.
__ADS_1
.