
"Ay," panggil Wira, tapi emang dasar jiwa usilnya sudah bergentayangan, suara pengingat Wira seakan berlalu seperti angin kentut.
Kini drama termehek-mehek terputar di depan matanya, pagi-pagi sudah disuguhi bahan gosipan yang hot dan sip. Jiwa emak-emaknya meronta-ronta kepengen tau.
"Ada apa sih?" bisik-bisik tetangga memang selalu berhawa panas.
"Udah--udah malu! Ntar ketauan Ci, di dalem aja!" lerai Raja dan Yola.
"Ngga mau tau lu harus tanggung jawab!" teriak Suci nangis-nangis sampe banjir, di dekatnya Reza sudah mencerca penuh hinaan pada Suci.
Sebenarnya tak banyak siswa yang menonton, mungkin karena takut oleh Raja cs, pasalnya mereka mengusir anak-anak untuk tak menjadikan hal ini sebagai tontonan.
"Ndu, kenapa ngga ngasih tau kalo ada syuting curahan hati istri disini?!" tanya Ganis berdiri di samping Rindu mengejutkan gadis ini.
"Ha-ha-ha, amsyong nih anak! Datang-datang ngelawak," ucap Rindu, Damar bahkan mendorong kepala Ganis yang isinya ide jahil dan kata-kata nyablak semua, "eh Jeng kelin, ini beneran! Bisa-bisanya nih anak ngga ada akhlak-nya di waktu yang tidak tepat!" tembak Damar.
"Ngga tau deh mesti ngomong apa, liat tuh laki lu jadi penengah dan pendamai orang yang berantem tapi bininya astaga!" timpal Rindu menunjuk Wira sudah berada diantara sepasang anak manusia yang sedang bersitegang Ganis tertawa atas pengakuan Rindu. Karena terlalu fokus menonton, Ganis tak lihat kapan Wira melewatinya.
"Makasih banyak ma atas pujiannya," jawab Ganis.
"Lu ngga tau Nis, Suci tekdung udah hampir 3 bulan loh...ngakunya anak si Reza, tapi Reza ngga mau ngakuin! Di celupin sama banyak jantan sih," mulut nyinyir Rindu mulai terpancing.
"Dicelup, lu kata si Suci Oreo, ngga emak ngga anak, ngga ada yang waras!!" Damar mengekori anak-anak slebor dimana mereka masih dalam situasi panas antara Suci cs yang tentu saja memihak Suci dan Reza serta Wira cs.
"Tau," jawab Ganis singkat, "gua kira masalah ini udah selesai kemarin," Damar dan Rindu menoleh tajam pada Ganis.
"Tau tapi ngga bilang-bilang?" tanya Rindu. Ganis mengangguk, "gua udah janji sama Suci pas datang ke rumah minta bantuan bang Nata buat nyari Reza dan bujuk doi biar bisa diajak ngomong baik-baik," jelas Ganis.
"Suci ke rumah?!" Rindu terjengkat, Ganis mengiyakan, "malem-malem,"
Ganis membuang nafasnya kasar, "ini kalo kaya gini ngga akan selesai urusannya!" gumam Ganis, tanpa Rindu dan Damar duga, gadis itu dengan santainya menghampiri kerumunan anak slebor yang sedang menahan Suci dan Reza agar tak saling gontok-gontokan.
"Ay, masuk duluan gih!" titah Wira.
"Ganis mau jajan dulu cireng di teh Imel!" tolak Ganis memaksa masuk ke dalam warung seperti seorang penagih hutang.
"Ya udah ambil, nanti abang bayar." Wira meminta Ganis untuk tak ikut campur masalah ini, tapi dasarnya Ganis yang bandel, gadis ini bukannya jadi anak manis, dan menurut tapi malah masuk ke dalam warung teh Imel.
"Teh, Ganis pengen cireng yang masih panas sepanas foto toples mantan!" pinta Ganis berseru.
"Ha-ha, ada-ada aja, emang udah liat foto bu giil mantan?!" tanya teh Imel.
"Jangankan mantan teh, Suga BTS aja buka baju di depan Ganis," tawa gadis ini.
"Ha-ha-ha! Sok--sok neng, tuh masih panas baru di angkat." Teh Imel sampai tak fokus menggoreng karena melihat kejadian di dalam warungnya.
"Ra, dibawa ke dalem aja, malu di luar mah diliatin. Nanti pihak sekolah tau!" teriak teh Imel. Ganis duduk di bangku kayu sambil nyomot cireng yang masih panas, enaknya tuh nonton sambil nyemil bukan? Rindu dan Damar ikut masuk, keduanya menepuk jidat menatap gadisnya Wira malah anteng nyemil cireng sementara di depannya lagi rusuh.
"Astaga, temen lu tuh!" cibir Damar, dan Rindu tertawa. Rindu setengah berlari menghampiri Ganis.
"Nis, lu ngapain?! Orang-orang ribut, nah kamu malah asik makan cireng?!" salak Rindu seperti memarahi anak kecil tak tau diri abis nyolong mangga, ia duduk di samping Ganis.
"Jajan lah, ngga liat?!" tunjuknya mengacungkan bulatan aci goreng dengan isian kacang.
"Duh, panas! Sepanas hubungan Ganis sama selingkuhan," keluhnya menaruh cireng yang sudah ia gigit diatas kertas bekas katalog produk Yukmart, sebagai alas gorengan. Dipikir-pikir Ganis makan cireng kaya enak tuh! Rindu meniru apa yang Ganis lakukan.
"Cimvrit," dengus Damar, ada saja ucapan Ganis yang memantik lawakan.
"Lu berdua masuk!!" sentak Wira menggelegar dan dingin, Ganis saja sampai terjengkat, ia mendengus isian cirengnya yang tengah ia makan jatuh gara-gara kaget. Mereka diam seketika setelah Wira bersuara.
"Ngga malu apa jadi tontonan orang?" ia mendorong Reza untuk duduk di sebelah kanan dan Suci sebelah kiri.
Mungkin diantara mereka semua hanya Ganis-lah yang akhlakless.
"Teh, punya speaker bluetooth ngga?" tanyanya santai. Nonton sambil nyemil itu berasa masih kurang kalo ngga denger lagu iye kan?! Komplit sudah deretan sifat akhlaklessnya.
"Ada neng, buat apa?" tanya teh Imel. Rindu kembali melotot tak percaya, "buat apa?!"
"Mau stel lagu, Ganis ngga suka liat orang ribut-ribut. Apalagi Ganis lagi makan, berasa ga nikmat gitu makannya!"
Badasssss! Bukannya ia yang malah nyempil-nyempil diantara keributan, ini kenapa jadi kebalik gini?! Rindu benar-benar tersedak cireng sekarang.
"Oh, ngga apa-apa gitu?" tanya teh Imel. Pasalnya ini situasi chaos dan tegang, bukan orang-orang yang lagi karokean yang butuh musik.
"Ganis mau nanya, teteh sebagai pemilik warung keganggu ngga sama mereka, kalo Ganis sih selaku pengunjung setia teteh yang suka sama cireng teteh ngerasa risih dan keganggu!" ucapnya mengutarakan isi hati.
__ADS_1
Teh Imel dan Rindu malah jatuhnya ingin ngakak melihat Ganis, diantara anak-anak yang ada di warung saat ini, hanya gadis inilah yang terlihat santuy terkesan melawak.
"Terserah neng Ganis aja lah," kekehnya.
"Asikk, boleh ya?!" Ganis berdiri, dan mengeluarkan ponsel miliknya yang bercasing ungu terong dengan gambar kartun boneka eggplant (terong ungu).
Ia menscroll lagu pilihannya, Rindu benar-benar geleng kepala dan tepuk tangan untuk sahabatnya ini, usil, dan ngga ngakhlaknya tak ada tanding.
"Klik!"
Sebuah lagu religi dari band Vagetoz terputar, berikut Ganis yang ikut bernyanyi seolah sedang di ruang karaoke. Seketika aura pengadilan dosa pahala terasa kental disini. Berasa lagi di bulan ramadhan,
"Ampunkan diriku jika selama ini hanyalah berbuat dosa, tak sanggup diriku bila di akhir hidupku, menanggung siksamu!!!!"
"Uhuukk, uhukkkk,"
"Pedesss! Ha-ha-ha!" Rindu tersedak, kepedasan tapi pun tertawa, matanya sampai berair dibuatnya.
Semua yang ada disana menoleh horor pada Ganis.
"Aku hambamu yang lemah, tak sempurna, menunduk sujud di hadapmu!!!! Oh Tuhan kuatkan aku, untuk lalui jalan hidup ini, yang kuinginkan selalu ada dalam ridomu!!!"
"Hayuk nyanyi teh!" ajak Ganis tanpa rasa bersalah. Wira sampai geleng-geleng kepala dengan sikap absurd Ganis.
"Ay!"
"Apa?!"
"Ya sok weh kalo mau ribut mah kalian terusin aja ributnya, Ganis mah disini selaku pembeli setia teh Imel mau makan cireng sambil dengerin musik!" jawabnya. Raja mengulum bibirnya ingin tertawa, hanya saja situasi saat ini tak kondusif untuknya tertawa, emang sue si Ganis, bikin gua nahan ketawa. Raja melihat wajah kaku dan mata tajam Wira, lantas ia berdehem dan benar-benar menekan saraf bibirnya.
"Ngga malu apa kalian tuh diliatin orang-orang. Image warung teh Imel jadi jelek gara-gara kalian! Harusnya nih warung teh Imel tuh laku banget. Dulu tuh Ganis yang cuma remahan opak ketan sampe mikir, teh Imel dikasih apa sih sama kalian sampe mau-maunya warungnya dipake buat tempat ngga bener?! Anak-anak tuh sebenernya kepengen jajan kesini. Tapi mereka tuh takut sama kalian, udah kaya genderuwo ditakutin!" Kali ini Ganis benar-benar mengeluarkan taringnya, seperti Ganis dulu, yang baru mengenal Wira. Meskipun ia harus mendongak menatap suaminya sendiri, untuk kali ini maafin Ganis bang kalo Ganis jadi istri kurang dihajar.
Ganis meraih air dingin dari showcase, "ini nih kalo pengaruh air haram tuh kaya gini! Bawaannya panas," Ganis membuat semuanya terkejut dengan menyiramkan air dingin di atas kepala Reza juga Suci.
Reza dan Suci terjengkat, dan refleks ingin memukul Ganis, tapi Wira segera menarik Ganis ke belakang badannya.
"Nis, govlok!" hardik keduanya.
"Kenapa?!" Ganis memang tak pernah takut siapapun sejak dulu pada siapapun. Ia melepaskan tangan Wira.
"Lu berdua udah dingin belum? Apa perlu Ganis siram lagi pake es batu sekalian?!"
"Dan lu, lu juga sama! Pengennya cekek aja nih cowok go blok, terus gugurin tuh perut kamvrett! Ngga perlu lah sampe teriak-teriak sumpah serapah, biar apa? Biar dunia tau kalo lu hamil di luar nikah gitu? Dan cowoknya ngga mau tanggung jawab?!" tatap Ganis tajam menusuk pada Suci, wajah menggemaskan Ganis tak ada sama sekali saat ini, lebih mirip kaya harimau lagi natap musuh yang masuk daerah teritorial.
"Ay," Wira menarik tangan Ganis.
"Ganis kira kemarin tuh udah selesai. Tapi masih lanjut disini,"
"Bisa kan kalian berdua duduk?!" tanya Ganis. Reza menghempaskan pan tatnya di kursi lusuh, karena sudah lama jadi sofanya sudah tak empuk, malah sobek di beberapa bagian, begitupun Suci.
Ganis masih berdiri dengan bersidekap dada, "Za, apa kamu sama Suci pernah ngelakuin hubungan?" tanya Ganis. Kini yang lain malah jadi penonton bayaran menyoraki kedua terpidana judi online.
"Ngaku lu Za!" sarkas Yola dan Aneu.
"Ck, diem!" bentak Ganis sang hakim.
Reza menatap malas ke seluruh penghuni disini, "iya!"
"Nah kan!" seru mereka.
"Pake...." tangan Ganis memetakan memutar tak jelas sehingga semua mengerutkan dahinya seolah bermain tebak kata, karena jujur ia malu menyebutkannya.
"Pake saos?" goda Raja.
"Pake sambel, pake baju, pake celana?!" tambah Damar.
"Shhh, ck!" desis Ganis lalu berdecak.
"Jangan ambigu atuh Nis," goda Damar dan Raja.
"Si*@lan!" gumam Ganis mengomel mereka tertawa puas.
"Pake itu...apa," Ganis menggaruk kepala tak gatal.
"Pengaman, jas hujan, karet, balon Nis..istilahnya!" ujar Aneu berpengalaman.
__ADS_1
"Nah itu!" tunjuk Ganis.
"Enggak!" tukas Suci.
"Tapi bukan berarti anak gua Nis, Ra, dia kan hubungan sama siapa aja!" alibi Reza.
"Tapi udah lama gua engga sama yang lain, terakhir sama lu ya Za. Ngga usah ngelak lagi!" sewot Suci ikut terpancing emosi.
"Byurrrr!" Ganis kembali menyiram mereka dengan air dingin.
"Ganis!" bentak keduanya mengibas-ngibaskan baju dan cipratan air. Kayanya pulang-pulang mereka mesti ngeringin baju dulu di warung karena disiram Ganis terus-terusan.
"Kalo kaya gini caranya, Ganis mesti ambil ember dari kamar mandi. Kalian mau berantem terus apa gimana?! Ganis mah seneng--seneng aja kalo disuruh nyiram seharian?!" galaknya.
"Ngerasa dimasukkin di dalem ngga itunya?" tanya Ganis.
"Itunya apa Nis?" goda Malik dan Luki bergantian, sementara Tomi sudah tergelak bersama Damar dan Raja juga Rindu.
"Abang ih! Liat temen-temen kamu!" adunya cemberut.
"Itunya tuh harus jelas, apanya? Payung, sepatu, tas, baju?" jawab Raja menjabarkan.
"Ck, KECEBONG ! ! !" bentak Ganis.
"Bhahahahaha!!" Wira ikut tertawa bersama yang lain kecuali Suci, dan Reza. Menggoda Ganis ternyata menyenangkan.
"Dimasukkin!" jawab Suci.
"Za?!" tanya Wira, karena Reza malah diam.
Introgasi mereka akhirnya dipotong bel masuk yang berbunyi.
"Yahhh bel masuk Ndu,"
"Ijin aja ijin Nis, bolos!" jawab Raja santai, "hooh Nis, masalahnya belom kelar nih!" tambah Malik.
"Ngga usah ngajakin bini gua ngga bener!" Wira bersuara, mereka nyengir.
"Astagfirullah Ndu!" Ganis melotot dan menepuk jidatnya.
"Kenapa? Ada yang sakit, atau apa?" tanya Rindu ikut cemas karena wajah Ganis yang panik.
"Ganis piket!!!" Tanpa bertanggung jawab atas apa yang sudah dilakukannya gadis itu segera berlari keluar warung menuju sekolah.
"Nah loh, dihukum yang lain ngga ikut piket!"
"Cihuyyyy liat Ganis dihukum oyyy!"
"Bang Nat, terusin aja. Ganis lupa piket!" serunya panik.
"Ya udah, dari tadi abang suruh kamu masuk jangan disini. Nah kan sekarang gimana?"
"Ngga tau deh, Ganis ngaku macet aja di jalan!" bohongnya.
"Ahhh bocorin yuk bocorin, Ganis boong tuh!" kompor 5 sekawan, Damar, Raja, Malik, Luki dan Tomi. Rindu mengehkeh.
"Awas aja lu semua!" Ganis mengepalkan tangannya di udara.
"Bang Nat, Ganis masuk duluan deh!"
"Teh Imel punya Ganis berapa, cireng 2 sama air minum satu?!" ujarnya buru-buru.
"5 ribu,"
"Tagih Bang Nat!" jawabnya sambil berlari, tak enak diujung. Rindu menyusul, "Nis tunggu!"
"Za, gua cuma mau lu gentle...Lu temen gua Za, kalo memang lu lakuin lu tanggung jawab, jangan jadi pecundang," kini situasi kembali tegang setelah kepergian Ganis.
.
.
.
.
__ADS_1
.