
"Nis, biar abang bayarin?!" datangnya tiba-tiba so jadi pahlawan kesorean padahal tak ada angin tak ada hujan. Ganis sampai mendongakkan kepalanya ke atas langit senja.
Ngga ujan ah! Apa dunia bentar lagi udahan?!
Ganis beralih menatap jijik padanya, sejak kapan mama dan papa mengangkatnya jadi kakak Ganis.
"Kang berapa?" tanya pada si mamang seblak yang sedang membereskan dagangannya padahal sudah rapi, demi terlihat sibuk. Ia mendongak bloon, "30 kang," angguknya.
"Nggak perlu!!" bentak Ganis sengit, Indi yang tak mengerti siapa musafir gaje ini dan kenapa kaka iparnya bisa sampai membentak begitu hanya bisa melongo sambil garuk-garuk kulit kepala.
Lelaki itu malah tersenyum, "dijajanin malah ngga mau," ia kembali memasukkan kembali dompetnya ke dalam saku belakang celana jeansnya. Dengan melihat Nugraha sekarang, Ganis cukup bisa menilai kenapa Wira sampai menyebutnya lelaki br3nk sek. Memang pantas sebutan itu untuknya.
"Ngga usah, Ganis masih dikasih jajan sama bang Nata! Ayo Ndi," ajak Ganis mengambil kresek seblak dan membayar, meski pake uang receh. Dengan tanpa permisi ataupun basa-basi ia melewati Nugraha yang tengah menghadang jalannya.
Nugraha menahan jalan Ganis dan menjegal lengannya.
"Nis, bisa ngomong sebentar?!" tatapnya dibuat menakutkan, ternyata Nugraha ini aslinya si rubah. Jangan fikir Ganis akan takut lalu mau diajak mojok, tampang Nugraha belum ada apa-apanya dibanding pangeran kegelapan di rumah.
"Ngga ada yang perlu diomongin antara Ganis sama bang Nugraha. Apapun yang Ganis liat sore ini bukan urusan Ganis, yuk Ndi pulang aja, liat orang selingkuh kok rasanya pengen ngasah golok," dia hempaskan lengannya agar terlepas dari cekalan Nugraha tapi sia-sia, lelaki ini seperti enggan untuk melepasnya.
"Siapa sih teh?"
"Eh a, maaf ngga usah pegang-pegang teh Ganis! Teteh udah punya suami!" Indi membela kakak iparnya dengan mencoba melepaskan tangan Nugraha dari lengan Ganis, ia menatap penuh permusuhan pada Nugraha si manusia entah darimana datangnya, tiba-tiba saja langsung bersikap kurang aj ar.
Nugraha tak menggubris Indi, tatapannya masih melihat Ganis dari atas sampai bawah penuh penilaian dan sulit diartikan apakah itu mesum atau semacam ketertarikan, membuat gadis ini tak nyaman. "Ngga usah kurang aj ar ya!" sengaknya, tak Nugraha sangka Ganis membungkuk melepaskan sendal jepit dan mengacungkannya di depan wajah lelaki mesum ini. Seharusnya tadi Ganis injak saja ee' kucing di jalan menuju kesini.
"Kamu kira kenapa Wira sama Ivana mau terima job? Kamu ngga tau mereka dulunya pasangan paling harmonis, tapi Ivana kecantol abang? Kamu ngga tau apa yang terjadi di belakang kamu selama mereka bareng akhir-akhir ini? Ngga curiga lagi balikan?!" ujar Nugraha berusaha mempengaruhi Ganis, ibu jarinya malah sudah mengusap-usap kulit lembut Ganis membuat alis Ganis menukik tajam, matanya memancarkan tatapan penuh dengki dan giginya sudah menggertak kesal, "si*alan, cowok otak se lang kangan,"
Pletak!!!!
Akhirnya si alas sendal legend ini mendarat di bahu, dan dada Nugraha, tak peduli baju lelaki ini jadi kotor, Ganis memukul seenak emosinya, yang penting puas! Lumayan kan pelampiasan kesel sama Wira yang ngga inget pulang.
__ADS_1
"Aduh, aduh!"
Masih belum puas gadis itu bahkan menginjak kaki Nugraha sekerasnya, "Awas!" sarkas Ganis galak, jangan harap gadis manis pujaan hati abang satu ini bakalan manggut-manggut ayam dimodusin kadal buntung, karena nyatanya kadal ini buntung beneran. Enak aja, main sentuh-sentuh, elus-elus dikira hape touchscreen.
"Aw!"
"Ganis! Cepat atau lambat kita bakalan ketemu lagi, dan kalo saat itu tiba, abang ngga akan lepasin kamu!" ucapnya.
"Berani lu?! Gua lapor abang Nata, lu abis!" teriak Indi.
"Dengan senang hati! Dan ingatkan Ganis jika saat itu tiba buat bawa goloknya mantri su nat!" teriak Ganis.
"Wuhuuuu! Teh Ganis, aku pendukungmu!" Indi bertepuk tangan heboh, menjadi tim hore Ganis.
"Cabut Ndi, ngga usah di ladenin lagi lah, dia mah orang ngga waras!" Ganis berjalan ngebut menarik tangan Indi untuk segera pulang.
"Ngga jadi beli thai tea-nya teh?" tanya Indi menurut saja di gusur begini.
"Teh, emang mantri nyu nat orang pake golok? Serem amat!" tanya Indi.
"Ya kali aja mantri juga punya golok di rumahnya, ngga harus buat nyu nat juga, siapa tau kan dia punya buat ngupas kelapa !" kekehnya. Indi ikut tertawa, "dikira buat nyu nat!"
"Dia siapa sih teh?! Rese banget, teteh kenal dimana? Dia kenal Ivana?" pertanyaan terakhir Indi sukses membuat Ganis menghentikkan langkahnya, selera makannya benar-benar sudah berhamburan sepanjang jalan pulang. Hati yang kepalang rindu, mendadak rapuh dan mudah disusupi setan. Setidaknya Ganis terguncang oleh ucapan Nugraha, bagaimana pun mereka adalah manusia bukan malaikat yang tak memiliki nav su.
"Dia suami Ivana," jawab Ganis redup.
Indi menganga, "ha?! Serius?!" Ganis berjalan lebih dulu di depan Indi, gadis itu langsung berlari menyusul Ganis.
"Teh, teteh ngga percaya kata-kata dia barusan kan?" tanya Indi khawatir, karena kini wajah Ganis terlihat tak baik-baik saja.
"Kata-kata dia yang mana?" tanya Ganis dingin.
__ADS_1
"Yang bilang kalo a Nata ada apa-apa sama Ivana? Please jangan dulu kehasut!" mohon Indi mengguncang-guncangkan bahu Ganis.
"Ngga nyaman sih! Ketakutan bakalan selalu ada..Ndi, walaupun bukan karena ucapan bang Nugraha tadi. Bang Nata sama Ivana kan pernah jalin hubungan, dan mungkin kandas karena dulu Ivana khilaf, apa gimana ngga ngerti lah aku ngga tau dan ngga mau tau, ngga menutup kemungkinan kalo ketemu terus dan ada kesempatan mereka bisa bersemi kembali," jelas Ganis sendu, sementara Indi menyimak dengan sesekali memperhatikan jalan takut nyungseb di got.
"Tapi Ganis ngga bisa sepicik itu, kalo cuma mikirin ketakutan atau omongan orang bikin kita jadi curigaan jatohnya kita sendiri nanti yang rugi," Ganis menarik sudut bibirnya ke atas, menularkan senyuman hangat pada Indi.
"Ganis percaya bang Nata!" angguknya pasti.
"Udah ah, buruan. Ntar bang Nat keburu pulang, katanya mau pulang hari ini. Kalo nanti datang terus liat bini seksehhh nya ngga ada di rumah, bisa-bisa pohon di halaman di gares abis!" tawa Ganis, diikuti tawa Indi.
"Teh Ganissss, dikira aa-nya Indi rayap!" tawanya renyah.
"Bukan sih, lebih ke ulet sagu!" balas Ganis.
"Abis darimana?" tanya nya melipat di dada, kini lelaki jangkung itu berdiri menghalangi pintu masuk rumah, mencegat kedua gadis yang terciduk keluar rumah tanpa seijinnya. Dengan wajah galak yang masih berkeringat juga sedikit berminyak, ia menginterogasi istri dan adiknya.
"Jajan," Indi dan Ganis mengangkat keresek seblak di depan muka, tanpa menggeser posisi berdirinya sedikit pun.
Ganis mencondongkan kepalanya ke depan, dan membaui badan Wira. Hanya ada bau rokok, keringat dan mungkin sedikit aroma-aroma neraka tapi masih dominan parfum miliknya.
Ia menyunggingkan senyumnya, "ngga bau cewek!" ujarnya menabrak dada Wira untuk masuk ke dalam rumah.
"Ha-ha-ha!" Indi tertawa keras, melihat tindakan Ganis dan wajah kebingungan kakaknya, ia bernyanyi, "biasanya tak pake minyak wangi....!" gadis itu ikut masuk.
.
.
.
.
__ADS_1