
Ganis sudah mengganti kembali bajunya dengan seragam di kamar Wira, meskipun roknya masih basah.
"Bu, Ganis pamit dulu deh! Mumpung ujannya udah reda, udah mau magrib juga," pamit Ganis pada ibu.
"Oh, ya sudah hati-hati pulangnya. Kok celananya diganti, ini roknya masih basah loh?!" ibu memegang rok Ganis yang masih basah.
"Ngga apa-apa bu, Ganis pake rok aja," senyumnya hangat.
"Iya teh, padahal mah biarin atuh pake aja celana Indi!" tambah Indi. Tapi seketika senyum hangat Ganis luntur berganti jadi rasa mual.
"Bu, ikut ke belakang!" Ganis menahan perut dan mulutnya berlari menuju kamar mandi.
"Eh! Kenapa neng?!" ibu dan Indi ikut terkejut.
"Ganis?!" Wira menyusul saat mendengar Ganis yang muntah-muntah.
Huwekkk!
"Nis,"
"A, teh Ganis masuk angin kali! Tadi ujan-ujanan," Indi dan ibu ikut menyusul, keduanya melihat Wira sedang memijit tengkuk Ganis.
"Iya a, kasih minum anget dulu! Ibu bikinin dulu," ibu langsung beranjak menuju dapur.
"Ndi, tolong ambilin kayu putih di kamar ibu," pinta ibu.
"Iya!" begitupun Indi yang langsung bergegas.
"Udah muntahnya?" tanya Wira, Ganis mengangguk dan meraih gayung, lalu menyiram bekas muntahan. Ia membasuh mulutnya yang terasa ketir, perutnya masih terasa seperti dikocok.
"Bang Nat, Ganis belum dateng bulan," bisiknya panik.
"Belum?" Wira menautkan kedua alisnya, Ganis mengangguk.
Wira terlihat sedang berfikir, "oke, nanti di jalan kalo nemu apotik kita beli tespeck." Seingatnya ia selalu melakukan pem buahan di luar milik Ganis, ia tau bagaimana aturan mainnya, atau mungkin ia kebablasan saking asiknya bermain di dalam kepunyaan Ganis?
Wira merangkul Ganis membawanya duduk kembali di kursi tengah.
"Masih mual?" tanya Wira, Ganis menggeleng, "dikit."
"Diminum dulu neng," pinta ibu menyerahkan secangkir teh hangat yang langsung diterima Wira begitupun minyak kayu putih dari Indi yang langsung disambar Wira. Ibu hanya sempat tersentak kaget saat dengan tak canggungnya Wira mengelusi perut Ganis di balik seragam putihnya dengan kayu putih, padahal tadinya ia yang akan menawarkan diri mengusapi minyak kayu putih untuk Ganis.
Ibu dan Indi saling menatap, "aa kok kayanya ngga malu ngusapin perut teh Ganis?!" tanya Indi.
Baik Ganis maupun Wira langsung terdiam, wajah Ganis memucat sementara Wira berusaha tetap tenang.
"Kamu ih!" tegur Ganis berbisik lirih, mencubit pinggang Wira.
"Refleks Ndi, khawatir!" jawabnya, Wira menghentikkan kegiatannya.
"Biar ibu aja, a!" ambil alih ibu, membuat Ganis menelan salivanya sulit.
Setelah dirasa cukup kuat Ganis memutuskan untuk segera pulang saja, mengingat waktu sudah lewat dari magrib juga, ia sangat penasaran dengan kondisi dirinya saat ini.
"Bu, Ganis pamit ya!"
__ADS_1
"Udah kuat neng? Kalo masih sakit, besok jangan dipaksain sekolah,"
"Iya bu, makasih. Ndi, Ganis pulang dulu ya!" pamitnya pada Indi.
Gadis itu mengangguk, "iya teh, hati-hati, cepet sehat lagi atuh teh!"
"Bu, Nata anter Ganis dulu," Wira menggenggam tangan Ganis menuju motor.
"Bisa ngga naiknya?" Wira memutar kepala bertanya ke arah Ganis.
Ganis mengangguk seraya naik ke atas jok belakang, "bisa."
Tangannya memeluk erat perut Wira, Ganis menaruh dagunya di pundak kiri Wira, "kalo sampe jadi gimana? Ganis takut, kita masih sekolah. Keluarga?" ucap Ganis bergetar di antara dinginnya udara malam setelah hujan.
Wira melepas tangannya sebelah dari stang dan mengusap lembut tumpukan tangan Ganis di perutnya, "semuanya bakalan baik-baik aja. Aku bakalan tanggung jawab Nis, aku akan lamar kamu malam ini juga."
"Kalo kita udah nikah, kamu ngga perlu ikutan kerja, cukup diem di rumah aja bareng ibu, urusin aku..anak-anak kita, kalau masih mau sekolah nanti aku yang biayain," jawab Wira menjabarkan semua rencana ke depannya jika memang pernikahan harus segera terjadi diantara mereka.
Wira menghentikkan motornya di halaman sebuah apotik, bukan Ganis yang turun tapi Wira yang masuk, "kamu tunggu disini, biar aku yang beli!" wajah Ganis sudah harap-harap cemas.
Wira melihat wajah gelisah Ganis, ia menangkup pipi Ganis, "hey, liat aku!" mata Ganis berkaca-kaca dan sudah memanas menatap Wira memelas.
"Ada aku, aku bakalan tanggung jawab termasuk di depan keluarga kamu. Pegang tangan aku, kita sama-sama lalui ini!" Ganis menangis memeluk Wira.
"Aku masuk dulu, keburu makin malem!"
************
Langkah gontai Ganis memasuki toilet umum sebuah SPBU, ia lebih memilih menghentikkan laju motor Wira disana ketimbang melakukannya di rumah.
Ganis mengusap sudut mata dan hidungnya, lalu membuka bungkusan yang membalut alat tes kehamilan berbentuk pipih, mencelupkan pada air urine miliknya.
"Nis," Wira mengetuk pintu kamar mandi setelah dirasa cukup lama Ganis di dalam.
Pintu terbuka, menyajikan pemandangan seorang gadis SMA yang menangis sesenggukan sambil memegang sebuah alat tes kehamilan bergaris 2.
Ganis langsung menghambur memeluk Wira, "ini gimana?! Ganis hamil!" Wira menghembuskan nafas kasar langsung memeluk Ganis, "kita pulang sekarang, Gemilang ada di rumah?"
"Ada, barusan whatsapp marah-marah nyuruh pulang," suaranya bergetar.
*******
Baru saja motor Wira sampai depan gerbang, Gemilang sudah keluar dari dalam rumah.
"Ganis masuk!!" tegasnya sarat akan ancaman, kemarahan, dan amukan. Gemilang mengepalkan tangannya, ia berusaha sekeras mungkin agar tak memukul Wira di depan Ganis, tapi sepertinya itu cukup sulit karena pada kenyataannya tangan Gem sudah mencengkram jaket Wira kuat-kuat.
"Berapa kali gua bilang! Jauhin Ganis!!!"
"Abang jangan abang, Ganis mohon!" Ganis menahan lengan Gemilang.
"Masuk Ganis, masuk!" bentaknya.
"Engga! Lepasin dulu tangan abang dari Nata, baru Ganis masuk," jawab Ganis.
Gemilang memasang tampang keruh tak bersahabat, tak ingin dibantah, "udah berani ngelawan? Diajarin apalagi sama dia, hum? Mabok, ngobat, jadi cewek ngga bener? Tau ngga dia tuh ceweknya banyak Ganis, dimana-mana!" Gemilang melepaskan cengkramannya dengan mendorong Wira meski tak berpengaruh banyak pada Wira yang masih diam menerima cercaan Gemilang untuknya. Wira hanya perlu membiarkan Gemilang menghabiskan tenaga dan amarahnya saja dulu baru ia akan bicara.
__ADS_1
"Abang tau dia di luar gimana, kamu tuh terlalu polos buat dia yang bejat!" tunjuk Gemilang.
"Bang Gem! Abang ngga berhak hina-hina orang kaya gitu! Abang juga ngga ada bedanya kan kaya Nata. Ganis tau! Lagian abang ngga tau dalemnya Nata kaya gimana?!" balas Ganis sambil menangis.
"Nis," tegur Wira.
"Gem, gua minta restu buat lamar Ganis," kalimat itu lolos dari mulut Wira disaat Gemilang tengah berdebat dengan Ganis, seketika keduanya diam.
"Apa?! Lu Mabok?! Berapa botol?! Lu pikir gua larang lu deketin Ganis terus bakalan ijinin kalo lu lamar Ganis?! Pake otak dong lu, bank sadh! Langkahi dulu mayat gua!"
Bughhh!
Gemilang meninju rahang Wira.
"Jangan mimpi bisa bersanding sama Ganis!"
"Abang!!" jerit Ganis sambil menangis menyaksikan keduanya berkelahi, bahkan tak segan-segan Gem meraih kursi teras dan hendak melayangkannya ke arah Wira.
"Bang Gem jangan bang,"
"Mamposss lu!"
"Bang Gem, jangan! Nata ayahnya anak di perut Ganis!" tangisnya menghentikkan gerakan Gemilang.
"Apa?!!" bukan lagi terkejut, Gemilang membanting kursi itu tepat ke arah Wira namun untungnya Wira segera mengelak, hingga kursi itu hanya menimpa teras keramik saja.
Brakkk!
Gemilang berbalik dan mencengkram kedua pundak Ganis kuat-kuat.
"Kamu.....!!" ia mengguncang badan bergetar Ganis.
"Iya, Ganis hamil!" tangisnya semakin menjadi.
"Br3nk sek!!!!"
"Masuk!!!" Gemilang mendorong Ganis kasar ke dalam rumah.
"Gem! Gua mau ngomong Gem, gua bakalan tanggung jawab! Tapi jangan hukum Ganis, lu boleh lampiasin semuanya sepuas hati lu sama gua tapi jangan Ganis! Gua mau ketemu sama mama papa lu dan Ganis secepatnya buat lamar Ganis," teriak Wira dari luar mencoba mengetuk pintu rumah.
"Abang," Gemilang menarik adiknya setengah menyeret ke dalam kamar.
"Kamu bikin malu! Dari awal abang udah bilang jangan coba-coba deketin si br3nk s3k Wira! Udah kaya gini, mau gimana?! Apa yang harus abang bilang sama mama papa, abang gagal jagain adek satu-satunya!" mendadak kepalanya berdenyut sakit, semua rasa marah, kesal, kecewa, sedih, malu dan bingung bercampur jadi satu di kepala Gemilang.
"Kamu masuk!!" Gemilang mendorong adiknya masuk ke dalam kamar, lalu mengunci Ganis di dalam.
Blugh
Ceklek...
"Abang!!! Jangan dikunci abang!" teriak Ganis mengetuk-ngetuk pintu kamarnya. Gemilang turun dari kamar dengan cepat, sampai-sampai ia melewati 2 sampai 3 anak tangga sekali langkah dengan tergesa, dada yang naik turun dan wajah memerah marah pertanda ia akan segera meledak lagi. Dan benar saja belum sampai berapa menit, Wira masih berada di luar Gemilang menghantamnya dengan bogeman telak beberapa kali secara membabi buta, Wira menerimanya tanpa melawan.
.
.
__ADS_1
.