
"Nis--Nis itu rontok rambut gua!" keluh Damar meringis.
"Awww, abang liat istri tua mu bang," rengek Raja bersuit-suit centil sambil memukul-mukul lengan Wira gemas.
"Cere'in aja bang dia bang, udah ngga yahud lagi di ranjang," tambah Damar. Ganis melotot, "njayyy!"
"Alah siah Ra, kumaha ieu. Adil moal pamajikan 3?" tawa teh Imel.
(Halah Ra, gimana ini. Bisa adil ngga, istri 3?)
"Abang pasti kuat iman ya kan bang?! Ngga akan dengerin pelakor berjakun ini," Ganis meminta pendapat Wira.
"Insyaallah abang bakalan adil," jawab Wira.
"Yessss!" Damar dan Raja refleks berdiri dan ber-jos ria semakin menampakkan keseksian keduanya yang bikin bulu kuduk merinding.
"Aaaa, ya Allah! Gila ih!"
"Njirrrr!" Malik sampai memalingkan wajahnya
"Kenalin mbak'e, nama eike Imas..imut-imut gemas tapi kalo siang Dimas asal Banyumas, istri ketiga bang Wira setelah mbak Yunita," tunjuk Damar pada Raja seraya meraih tangan Ganis dan bersalaman dengannya, Rindu bahkan sudah bergidik geli, "geli gua Mar, astaga.."
"Ha-ha-ha Yunita sama Imas," Ganis menahan perutnya.
"Aduh ngga kuat Ganis pengen pipis," tawanya meringis menahan perut bagian bawah, gelak tawa tak lepas menghiasi warung slebor. Inilah yang menjadi sisi positif anak-anak ini bagi teh Imel, tak ada yang sedekat mereka padanya.
Bel masuk akhirnya menghentikan drama penganiayaan istri tua pada istri-istri muda.
Dengan hati yang berat dan mulut misuh-misuh Damar dan Raja keluar dari warung, dililitkannya jaket mereka di pinggang.
Ganis dan Rindu sampai terbatuk-batuk karena tertawa.
"Kapok ngga?" tanya Rindu pada Damar setengah mencibir ia berjalan bersampingan dengan Damar. Sontak saja mereka jadi pusat perhatian siswa-siswi yang mereka lewati.
"Engga," dengan mulut yang dimajukan dan gerakan mengecup tak kena pada Rindu.
"Gua selirnya abang Nata," seloroh Raja dengan suara rendah memperkenalkan diri pada siswa yang menatap sambil tertawa, mungkin pikir mereka Raja dan Damar kebanyakan ngobat jadinya pagi-pagi sudah oleng, ia memeluk lengan Wira dan menyenderkan kepalanya di lengan itu dari samping berjalan bersama menuju kelas.
"Awas ah! Lu berdua yang taruhan gua yang kena!" tolak Wira mentah-mentah mendorong kepala Raja, lelaki itu merangkul istri usilnya agar berjalan bersama.
"Ih, abang...judes jadi gemes deh! Senyum bang kalo ngga senyum ta cium!" balas Raja genit, jemari kasarnya mencubit Wira pelan.
"Amit-amit Ganis punya madu kaya begini, yang ada Ganis di gantung hidup-hidup."
"Gua bini muda bang Nata!" balas Damar tak kalah sewot dengan suara bass nan jantannya, sontak Malik yang sedang minum tersedak.
"Aduh Ganis bener-bener ngga kuat pengen pipis!" ringisnya menahan tawa, ia bahkan sudah menangis karena tertawa melihat Wira diperebutkan manusia setengah-setengah ini.
"Pipis dulu kalo gitu, jangan nanti kamu pipis di celana!" ujar Wira, Ganis berlari ke arah toilet yang paling dekat darisana.
"Berasa liat ben conk lagi berantemin pelanggan tau ngga!" ujar Luki. Niat hati ingin membalas Ganis tapi gadis itu malah tergelak habis-habisan sampai ia kebelet dan sedang ngompol.
"Astaga Ja!" Rere yang melihat Raja dari jauh mengulum bibirnya. Raja sontak berlindung di balik tubuh Wira.
"Ini taruhan yang kemarin?" Rindu mengangguk mengiyakan.
"Ya allah," Rere tertawa renyah.
"Malu gua njirrr!" omel Raja.
__ADS_1
"Kabur Ja, gua juga maluuu !!" Damar melepaskan rangkulannya dari Rindu dan berlari di susul Raja. Sontak Ganis yang baru saja datang kembali langsung menyusul, "Damar, Raja jangan lari!!! Ntar rok Ganis sobekkk, oon ih!!!" teriak gadis itu.
"Astaga naga!!!" Rindu kembali menyemburkan tawa yang hampir habis karena kelakuan mereka bertiga.
"Wahahaha, si Raja diangkat roknya, kaya kena razia satpol pp!" tunjuk Malik.
...----------------...
Akhirnya penderitaan Raja dan Damar berakhir hari ini, melewati drama dimarahi guru, lalu dijahili teman laki-laki lainnya dan ditertawakan satu sekolah.
"Nih, rok lu. Sempit amat! Jangan salahin cowok kalo otak mesum, salahin cewek kenapa pake baju seneng yang memancing kaum adam buat mesum!" Raja menyerahkan kembali rok Ganis pada si empunya.
"Rok Ganis standar loh, kamunya aja yang ketinggian!" bela Ganis.
"Ih, dicuciin lah. Masa iya bau apaan coba!" gidik Ganis membayangkannya saja ia ogah.
"Ngga apa-apa lah, biar kamu nempel sama gua, Nis!" kekeh Raja.
"Nih, roknya. Sekalian sama ongkos laundry," Damar menyerahkan rok milik Ganis dan uang pecahan 2 ribu dan 5 ribu rupiah.
"Idih pelit!"
"Segitu juga aku kasih Nis, dibanding Raja, hayokk?!" Damar menyipitkan matanya.
"Ay, pulang sekarang?" tanya Wira terlihat buru-buru mengajak Ganis menuju motornya berada.
"Aku anter pulang dulu ya. Abang sama yang lain mau ke bubat dulu sebentar, abis itu langsung ngerjain project, mampir sebentar ke Vulcan." Ucap Wira menjabarkan seluruh kegiatannya hari ini.
Hm, sudah waktunya Wira sibuk dengan pekerjaan ya?! Ganis menatap tak rela.
"Hm, udah mulai sibuk ya?" Ganis mengangguk paham.
"Hey, buat kamu juga." Wira menangkup wajah Ganis, kedua jempolnya mengusap kulit sehalus pualam.
"Peluk dulu!" Ganis melingkarkan tangannya di badan Wira, menuntaskan rasa ragu dan rindu sampai lelaki ini kembali.
"Ra, jadi ngga?!" teriak Suci keluar dari dalam warung slebor, membuat alis Ganis saling bersentuhan melongokkan kepala ke belakang badan Wira.
"Gua anter dulu Ganis balik bentar!" jawabnya kalem.
"Abang cuma bantu buat ketemuin mereka, kalaupun Reza emang bapaknya, dia harus tanggung jawab kan?" tanya Wira melihat keraguan di mata Ganis.
"Iya,"
"Ngga usah kemana-mana lagi, nanti abang hubungin kalo lagi ngga sibuk. Arbi mau kerumah kan?"
"Heem."
"Ya udah yuk! Kamu ngga usah mikirin apa-apa. Belajar aja yang bener, katanya mau kuliah di ITB atau UPI."
Biarlah abang yang tetap berada diantara kerikil dan pisau tajam di dunia yang kelam, asal Ganis tetap berada di awan lembut berselimut hari-hari indah.
"Abang jangan lupa makan siang, Ganis janji belajar masak!" Ganis mendongak.
"Jangan ancurin dapur ibu, nanti abang harus benerin." Kekeh Wira mengacak rambut depan Ganis. Keduanya lantas pulang, lebih tepatnya Wira mengantarkan Ganis pulang, ia hanya mengganti pakaian dan kemudian pergi lagi.
"Bu, kalo ada yang datang ke rumah nanyain rumah Ganis atau bang Nata minta tolong suruh masuk aja, itu mungkin bang Arbi guru les Ganis temennya bang Gem," pesan Ganis, sementara ia akan berganti pakaian dan pembalut yang sudah hampir bocor.
"Iya neng, makan siang dulu! Nata ada makan siang dulu?" tanya ibu menaruh setiap piring lauk nasi di meja.
__ADS_1
Ganis menggeleng, "katanya makan di luar aja, soalnya buru-buru."
"Oh gitu, ya udah."
Ganis menghentikan langkahnya di ambang pintu kamar mandi, "bu.."
"Hm?" ibu menoleh lagi.
"Ganis mau belajar masak!" serunya penuh keyakinan.
"Yakin?" tanya ibu.
"Yakin banget! Biar bisa masakin tiap hari buat bang Nat, kasian kalo jajan di luar terus bu. Bang Nat juga kalo beli makanan suka jorok, yang masuk ke perut dia kebanyakan yang instan-instan,"
Ibu tersenyum, tak perlu ada adegan pemaksaan, atau sindir-sindiran sampe teriak-teriak kaya di tv-tv, menantu dan mertua jadi musuh bebuyutan. Ia tau Ganis adalah gadis baik, dewasa meski terkadang kekanakan dan manja but overall she is the true wife, yang peduli dan mau belajar dengan alasan tanggung jawab dan rasa sayangnya terhadap suaminya Nata Prawira.
Sejauh ini Ganis bukan gadis yang macam-macam, ia gadis penurut, baik, pintar tentunya, ditatapnya menantu yang tengah serius memperhatikan Arbi di ruang tamu sambil sesekali melihat buku catatan sambil berfikir. Ibu mengulas senyuman dari gawang pintu ruang tengah menuju tamu.
Ia percaya Ganis akan menjadi orang berhasil di kemudian hari, ia terlahir dari keluarga baik-baik dan sukses. Dalam artian sukses dalam menggapai apa yang diinginkan, maka gen keluarga akan membawa Ganis meraih apa yang ia cita-citakan juga.
"Neng," panggil ibu, Ganis dan Arbi menoleh.
"Masa ada tamu dianggurin," ibu membawa nampan berisi teh manis hangat dan cemilan.
"Ah iya bu, Ganis sampe lupa!" Ganis menyerbu dan menerima nampan dari ibu.
"Eh, ngga usah repot-repot bu, Nis...ngga apa-apa," ucapnya sopan.
"Ngga apa-apa bang, elah! Kaya sama siapa aja! Ga usah so ngga enakan gitu, biasanya juga di rumah main sikat-sikat!" tawa renyah Ganis mendapatkan delikan tajam dari Arbi, "ck, kamu Nis!"
"Nis," bisik Arbi saat mereka sedang menjeda acara belajarnya.
"Hm," Ganis mengalihkan pandangannya sejenak dari ponsel pada Arbi dengan tangan sibuk meraup pilus.
"Wira ngga ikutan belajar juga? Kalian bukannya samaan ya bentar lagi mau ujian?" Arbi menyeruput teh yang masih hangat itu, kawasan rumah Wira memang terletak di daerah cukup dingin jadi minuman hangat sangat cocok diminum disini.
"Wira sibuk kerja bang, dia lagi ada project event konser apa ya namanya, Ganis lupa ngga nanya. Ga terlalu suka sama musik-musik underground gitu, metal, punkrock, apalah namanya!"
"Wah, asik dong! Ada tiket promo atau diskonan ngga nih buat kerabat promotor? Dibeli lah, biasanya Wira kalo ngurusin event, band-band-nya tenar!"
Ganis menggidikkan bahunya acuh, masa bo*doh mau band papan atas atau band papan penggilesan sekalipun Ganis tak pernah suka dengan musik keras, Wira juga tak pernah memaksanya untuk menyukai itu, malah terkesan sering melarangnya untuk ikut, karena satu dan lain hal, katanya mending di rumah aja nontonin BTS atau si dora sambil rebahan bareng Indi, suami kejam!
"Emh, nanti coba Ganis tanyain ya bang. Ganis ngga ngerti yang begituan, taunya ngabisin duit !" tawa Ganis, Arbi memutar bola matanya, "beuh! Semua cewek begitu,"
"Ya abis ngapain lagi. Kan emang gitu konsepnya, laki cari duit bini yang abisin. Buat apa dicari kalo ngga dipake, mau ditanem biar jadi pohon duit? Daripada uangnya mubadzir kan mendingan diabisin, nih ya kalo cewek ngga ngabisin uang, terus kerjanya laki apa dong?" Arbi manggut-manggut setuju dengan pendapat gila dari adik sahabatnya yang sama-sama gila, "iya juga sih!"
"Ah, kalo disini bang Arbi jadi kebawa be*go lah!" sewotnya menggerutu, Ganis terkikik.
"Kamu tuh cepat tanggap, kalo gini caranya belajar kita bisa lancar jaya Nis, itu kisi-kisi sama latihan soal tahun-tahun lalu jangan lupa dikerjain sama dihafal. Biasanya soal modelan begitu banyak keluar,"
Ganis mengangguk, "oke,"
"Semoga bisa masuk ITB atau UPI ya, sesuai harapan!"
"Aamiin!" jawab Ganis.
.
.
__ADS_1
.
.