
Ganis berlari kecil masuk ke dalam rumahnya, disusul Wira di belakangnya.
Tak ada sawer agung untuk menyambutnya atau sekedar red carpet, hanya mama dan papa yang anteng nyemilin buah di ruang makan.
"Yuhuuu, lagi pada ngapain nih habibie ainun?!" kekehnya, ia langsung duduk di samping mama dan tanpa permisi mencomot pepaya yang sudah dipotong-potong.
"Main ambil aja, tangannya cuci dulu!" tepuk mama di punggung tangan Ganis.
"Aduh, satu doang ma!" kunyahnya. Wira datang dan menyalami kedua mertuanya.
"Nat, sini duduk. Udah pada makan siang belum? Makan deh!" mama menunjukkan menu makan siang hari ini.
"Wih, udang dong! Sikat ah!" matanya berbinar melihat makanan favorit.
"Awas, Gem sisain!" ujar mama beranjak.
"Iya ah. Ma, Ganis cuma mau ambil buku kesini!" ujarnya asik mengunyah, sementara papa makan pepaya dengan khidmat kaya lagi mengheningkan cipta.
"Hm," jawab mama mencuci piring di wastafel, ada rasa sedih di hati, ia harus terima jika putrinya ini sudah menikah dan milik orang. Ternyata kebersamaan saat merawat Ganis selama 7 bulan ini membuatnya menyadari jika selama ini ia sudah jauh dari anak-anaknya dan betapa berharganya waktu itu.
"Nanti jangan sungkan nginep disini! Sepi kalo ngga ada si cerewet, Nat." Bisik papa pada Wira.
Wira mengulas senyum hormat, "iya pa,"
"Papa, Ganis ngga cerewet ih!" antengnya mengupas kulit dan kepala udang, dipreteli kaya lagi buka baju.
"Coba deh bang Nat," tanpa meminta persetujuan Wira, Ganis menyuapkan daging udang langsung ke mulut Wira dari tangannya, mungkin jika tak malu dengan mama papa, ia sudah menyuapi Wira dengan mulutnya kaya anak burung.
"Enak kan bang?" tanya Ganis.
"Enak, tapi lebih enak kalo kamu bisa masak sendiri," jawabnya, Ganis cemberut karena ia memang belum mahir memasak.
"Iya, nanti Ganis belajar masak! Jadi istri teladan," jawabnya dengan senyum lebar yang dibuat-buat.
"Telatan kali, bukan teladan!" tak ada angin tak ada hujan, ga tau kabel nyambung darimana, Gemilang asal nyambar saja layaknya petir.
"Nih! Dateng akhirnya kaka pertama,"
"Iya adik kedua," jawab Gemilang tertawa.
Mama menyemburkan tawanya, "ceu patkay maksudnya? Astaga!"
"Ihhh! Masa yahud begini disamain ma ce leng!" merengutnya memukul Gemilang yang menangkis.
"Udah ah, Ganis mau ngambil dulu buku. Mau pergilah dari sini, awas kalo pada kangen!" hentaknya di lantai lalu pergi ke kamarnya di lantai atas.
"Jangan terlalu lama, abang ada janji sama temen di rumah," pesan Wira mewanti-wanti, pasalnya Ganis jika sudah diam di satu tempat, suka lupa waktu apalagi ini rumahnya.
"Iya,"
"Atau mau disini dulu, nanti aku jemput?" tawar Wira.
__ADS_1
Ia menggeleng, "ngga usah, nanti abang bolak-balik kasian!" jawabnya.
"Loh, dikirain mau pada nginep disini?" tanya papa.
"Iya, kirain mau pada nginep?" setuju mama.
"Nata lagi ada kerjaan pa," sahut Wira menerima minum yang dibuatkan mama untuknya, "makasih ma."
"Kerjaan apa Nat? Wah asyik nih banyak job?!" seloroh Gemilang, beda dengannya yang hanya berdiam saja di rumah, tak ada kegiatan lain selain kuliah. Gemilang salut pada adik iparnya ini, yang notabenenya masih SMA, sudah memiliki penghasilan sendiri, dan yang jelas mau berusaha untuk keluarga juga Ganis.
"Tawaran jadi event organizer bang, lumayan buat tabungan biaya kuliah Ganis nanti," jawabnya. Mama dan papa mengangguk paham, sebesar itu tanggung jawab Wira kepada Ganis.
"Makasih Nata, dibalik kejadian buruk yang lalu, mama sama papa bersyukur Ganis menikah dengan kamu," mama mengangguk seperti kakak tua setuju dengan ucapan suaminya.
"Iya, meskipun tuh anak manjanya kebangetan, ga bisa ngapa-ngapain. Tapi jaga Ganis, ya Nat!" tambah Gemilang.
"Iya bang," jawab Wira singkat.
"Pa," panggil Wira.
"Ya?" papa menoleh padanya.
"Ganis bilang, dia mau ijab kabul ulang,"
"Oh, boleh-boleh! Mau kapan?" tanya papa antusias.
"Bagus tuh, biar lebih afdol lagi halalnya Nat, mama setuju!" seru mama.
"Nanti tinggal direncanain aja, biar kita panggil penghulu. Cukup keluarga saja yang datang," usul papa mencetuskan ide, Wira mengangguk, "boleh pa, atur aja ma.."
Ganis turun dengan membawa satu tas kain penuh buku miliknya drngan kepayahan, mulai dari buku catatan, paket, dan lks ia masukkan semuanya ke dalam tas kain hijau go green.
"Bang Nat ih! Liat istrinya kesusahan malah diem, bantuin ih!" sewotnya dari atas menggusur tas di lantai menuju tangga. Wira langsung bangkit dari duduk membantu si istri manjanya.
"Tuh kan, baru diomongin."
"Lu tuh makan digedein, tenaga letoy! Bisanya apa cobak?!" seru Gemilang mencibir setengah berteriak, seakan sedang memberitahu dunia jika adik satu-satunya ini manjanya kebangetan.
"Ngabisin duittt!" balas Ganis tertawa miring.
"Sa ae, bocil!"
...----------------...
"Abang ketemu temen jam berapa?" tanya nya melilitkan tangan di perut Wira. Suaranya tetap jelas meskipun beradu dengan angin seperti adu banteng.
"Jam 3an,"
"Mau kemana?" matanya menyipit menatap wajah Wira dari samping dengan menumpukkan dagunya di pundak Wira, ahhh! Ini akan jadi posisi favoritnya menempel kaya anak monkey, mengeratkan pelukannya takut lelakinya terbang dan hilang. Padahal dulu saja ia mencibir saat ada sepasang muda-mudi menempel begini.
"Engga kemana-mana, temen mau ngobrol nawarin kerjaan event. Mau ada konser punkrock di Bubat," jawabnya.
__ADS_1
"Oh!" mulutnya membulat.
"Lumayan, buat tabungan kuliah kamu!" lanjut Wira.
"Sama kamu juga..." balas Ganis tersenyum, sementara Wira hanya membalasnya dengan wajah datar, dalam pikirannya planing kuliah hanya ada 40% saja, selebihnya adalah bekerja, mencari uang untuk menafkahi keluarganya.
Laju motor bergerak cepat, mengingat bukan pada jam sibuk.
"Badan Ganis lengket, langsung mandi ah!" larinya kecil masuk ke dalam rumah, meninggalkan Wira bersama tas berisi bukunya yang seabrek-abrek, selain suami Wira adalah kuli angkut Ganis rupanya.
Ia mengangkat tas itu dengan mudahnya seolah yang dibawa adalah kapas, hanya saja saat terangkat urat dan ototnya langsung menonjol.
Ganis langsung menyambar handuk dan menuju kamar mandi sambil menyapa dan bercanda dengan Indi.
Wira merebahkan dirinya di ranjang, menatap langit-langit seolah sedang mendalami pikirannya sendiri, "kuliah," gumamnya. Ganis sangat ingin dirinya melanjutkan kuliah bersama-sama, tapi pikiran utama seorang lelaki yang sudah beristri bukan pendidikan, melainkan uang tak peduli berapa pun umurnya.
Lama ia terhanyut, tak sadar jika Ganis sudah kembali dengan wajah segar dan wangi, handuk kecil yang melilit kepalanya pertanda Ganis keramas.
"Bang Nat mandi gih, mukanya udah dekil gitu kaya uang kembalian terasi," ujar Ganis sekenanya dengan wajah nyinyir khas Ganis.
Wangi yang menguar membuat jiwa kelaki-lakian Wira bangun, ia beranjak dan menghampiri Ganis, "sun dulu kalo gitu!" pintanya, mata Ganis memicing, "bang Nat bau!"
"Iya kasih bekel dulu buat ke kamar mandinya, biar ngga kangen!" balasnya beralasan.
"Cih, masa ke kamar mandi doang harus dikasih bekel, kaya anak tk?!" Wira menarik pinggang Ganis, "harus dong!" ia mengecup kening Ganis lalu turun ke hidung dan bibir.
Ganis cekikikan merasa geli, karena Wira mengecupi keseluruhan centi wajahnya, "ini mah Ganis bau lagi nih!"
"Dah," Wira mengulas senyuman tipisnya lalu menyambar handuk dan pergi ke kamar mandi. Gadis itu kembali duduk sambil bercermin menyelesaikan ritual sehabis mandinya. Baru saja Ganis menyisir dari luar terdengar suara.
"Punteun!" (permisi)
Gadis itu menoleh, "eh ada orang ya di luar?!" alisnya saling bertautan menampakkan ekspresi bingung setengah mencari tau.
Beberapa saat orang tersebut mengucapkan lagi permisi, tapi tak terlihat Indi ataupun ibu melintas untuk membukakan pintu, mungkin tak terdengar atau mereka yang masih sibuk di ruangan masing-masing.
"Punteun!"
"Iya sebentar!" Ganis beranjak dari duduknya untuk melihat siapa yang datang. Seperti kebiasaanya tak pernah langsung membukakan pintu, melainkan mengintip terlebih dahulu dari kaca rumah untuk melihat siapa tamu yang datang.
Betapa terkejutnya ia saat melihat kedatangan seseorang dengan pakaian amburadul, jangankan rapi bak sales-sales tiger paw, dari ujung rambut sampai ujung kaki saja penampilannya sungguh awur-awuran.
Pupil coklat itu semakin menelisik penampilan si tamu yang sekali scanning saja Ganis langsung menebak, "maling deh kayanya! Wah mesti dihajar ini mah!" segera Ganis mengambil sapu.
"Ada siapa teh?" tanya Indi baru saja keluar dari kamar.
"Ndi, bantuin aku. Ada maling di depan!"
.
.
__ADS_1
.
.