
Tak ada malam syahdu mendayu yang bikin orang jadi ngantuk plus boring, yang ada malam ini Bandung berguncang dan bergelora meramaikan sabtu malam-nya para darah muda.
Alam sedang ikut meramaikan pesta rakyat yang digelar, ia menyelimuti langit dengan gelapnya malam seolah sedang satu frekuensi tak ingin ketinggalan ikut serta dalam euforia punk--rock--metal holic.
Lihatlah gadis ini, sudah seperti odong-odong berlampu karena sticklightnya begitu benderang kerlap-kerlip diantara kegelapan, berikut telinga kelinci dan bajunya. Beberapa penonton yang berada di dekat Ganis sampai lebih fokus pada dirinya ketimbang melihat band pembuka di atas panggung sana. Untung saja asupan nutrisinya hari ini terpenuhi, jadi ia memiliki amunisi untuk teriak-teriak disaat yang lain mulai merasakan efek sajen yang mereka konsumsi, beberapa orang mulai teler sambil menikmati musik, terkadang ikut rusuh seperti kuda lumping manakala sajian band di atas panggung megah sana membawakan musik bergenre keras, memicu adrenalin para anak manusia, kadang melow terombang-ambing layaknya kapal nelayan saat band di atas membawakan lagu yang sedikit lembut.
Ganis sedikit komat-kamit ikut bernyanyi, tidak dipungkiri ia hafal beberapa lagu yang sering diputar Wira di rumah, mau tak mau ia jadi ikut hatam lagu-lagu itu, mungkin juga menyukai beberapanya.
Mata dan pikiran Wira bercabang antara pekerjaan dan Ganis.
Ting! suara ponsel Wira, rupanya Ganis memberitahukan posisi gadis cantik itu melalui jepretan foto ia dan Rindu. Wira sampai terkekeh melihatnya.
"Cie, bu negara ya Ra?!" Mulder yang ada di dekatnya ikut menengok melihat layar pipih Wira. Betapa tidak Wira terkekeh, lihatlah Ganis ia pikir ini konser korea pop atau apa? Telinga kelinci dan sticklight ditengah-tengah serdadu the dark lord dan tersenyum manis-manis bikin sakit gigi.
"Iya," jawabnya singkat kembali memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku celana, tak mau Mulder melihat Ganis lama-lama.
Kondisi sedikit panas dan ricuh saat penampil bintang Seringai dan Burgerkill naik panggung, teriakan histeris dan bersemangat berkobar terdengar memenuhi satu stadion. Tak sedikit juga penonton yang saling senggol karena asiknya bergoyang ala cacing kejer hingga saling senggol dan tersinggung.
"Anyyinnkkk! Sia, nincak suku aing!"
(An%#%!*@*! Lu, nginjek kaki gua!),
Bukan hanya di satu atau dua tribun saja, melainkan beberapa. Disinilah panitia, dan keamanan bekerja ekstra. Karena pengaruh obat-obatan, minuman keras, dan emosi hingga hal sepele saja jadi besar.
Rindu dan Ganis saling berpegangan tangan agar tak terpisah, kedua gadis ini berusaha menjauh dari keributan agar tak ikut tergulung, seraya menikmati penampilan. Tak jarang mereka ikut tersiram air yang di semprotkan selang pemadam.
"Ihhh! Balik-balik masuk angin ini mah!" dumel Ganis, Rindu mengangguk setuju.
"Nis, aku khawatir Damar sama yang lain!" teriaknya, mereka memang terpaksa harus berteriak karena suara dentuman drum, dan lengkingan gitar dan bass memekakkan telinga, belum lagi suara vokalis yang seperti keselek bulu b4 bii, bikin Ganis meringis ikut mengusap-usap tenggorokannya merasa ikut serak.
"Itu ngga sakit gitu ya?!" Rindu terkikik, "ya engga atuh Nis, kayanya udah biasa ada tekniknya juga, namanya scream!"
"Oh! Ganis berasa ikut serak aja tau ngga!" tawa Ganis.
Ganis mengalihkan perhatiannya pada panggung lagi saat nama satu band disebutkan diatas panggung, band yang cukup Ganis tau.
"Eh!!! SHA!" seru Ganis, semangatnya kembali berkobar.
"Kamu suka Nis?" tanya Rindu. Ganis mengangguk cepat, "mayan!"
Band itu memulai aksi memukau dan membakar jiwa muda dengan permainan musik mereka diatas panggung.
__ADS_1
"Ganis suka lagu ini!!" teriak Ganis, ia mengacungkan kedua sticklightnya dan berjingkrak-jingkrak kaya mon yet baru dapet kelapa, sambil meneriaki nama band dan lirik lagu, meski nantinya mungkin Ganis harus minum gula asam setibanya di rumah karena suaranya habis.
"A Mbenk!!! A Chio, i love you!!! Wooooo!!!" jeritnya memalukan, Rindu tak berhenti tertawa melihat aksi Ganis dipikirnya lebih mirip simpanse manis lagi masa kawin.
Penampilan Ganis yang berbeda membuatnya shine diantara para penonton, mata sang idola melihat tanpa harus bersusah payah memicing. Mereka tertarik melihat satu paling berbeda diantara lainnya.
Diantara jeda lirik, si vokalis memanggil salah satu penonton untuk naik ke atas panggung dan bernyanyi bersama, yang tidak lain dan tidak bukan....
"Oke! Gua mau manggil seorang penonton yang dari tadi gua liat paling beda, paling heboh neriakin nama stand here alone diantara yang lain!" ucap si vokalis.
"Kamu yang pake sticklight!" tunjuknya, hingga semua mata kini menyorot Ganis, sementara gadis itu terbengong sambil menunjuk dirinya sendiri. Lampu sorot bahkan dialihkan pada gadis cantik itu, kini jelas sudah wajahnya.
"Ganis?!"
"Iya kamu!"
Mereka mengangguk, "yeeee! Ganis!"
"Sorry, kru! Boleh diajak naik ke atas panggung nggak?!" pinta vokalis membuang nafas tersendat-sendat akibat aksinya menguras tenaga, keringat bahkan mengucur deras ampun-ampunan.
Beberapa kru kini mendatangi tempat Ganis.
"Si Ganis njirrr!" tawa Damar.
Anggukan salah seorang kru mengajak Ganis untuk naik ke atas panggung.
"Nis!!!!"
"Itu Ganis?!" tanya Ivana, Rexi, dan beberapa teman Wira yang mengenal Ganis.
"Bini lu, Ra?!" Wira mengangguk sambil memperhatikan Ganis yang naik ke atas panggung, pakaiannya sedikit basah, begitupun rambut lepek campuran keringat dan air.
Sorakan mengiringi naiknya seorang Ganis.
"Nama kamu siapa?" tanya nya, sedekat ini dengan artis membuat Ganis berjingkrak gemas, melupakan jika disana suaminya mungkin tengah memancarkan alarm peringatan, agar jaga jarak, jaga sikap, jaga mata, hati dan jaga-jaga lainnya.
"Aaa!!" pekiknya tertahan, sontak personil SHA tertawa gemas di tengah nafas yang terbuang dengan terburu.
"Rengganis Prawira!" jawabnya mencantumkan nama Wira disana, biar yang disana tau kalau Ganis cuma miliknya. Yang jelas sih, biar ngga kena amuk dan dompetnya aman sentosa.
"Aku liat outfit kamu beda dari yang lain, tapi teriakan kamu paling kenceng dan hafal lagu kita,"
__ADS_1
"Aku FOSHA loh a, Family Of Stand Here Alone!" Ganis menepuk-nepuk kepalan tangannya di dada kirinya, membuat fan base SHA ikut bersorak bangga dan gembira sambil membentangkan spanduk 'we are FOSHA' di belakang sana.
Si vokalis mengangguk-angguk, "oke, kalo FOSHA pasti hafal lagu-lagu SHA dong,"
"Woiyaaaa hafal dong,"
"Nyanyi bareng disini?!"
Ganis mengangguk cepat, "mau!!!" antusiasnya heboh.
Ganis bernyanyi bersama SHA di atas panggung sambil mengangguk-anggukan kepala diantara musik bergenre keras, tapi yang tak dapat dipercaya oleh semuanya gadis manis yang cocoknya datang ke acara grand opening pabrik permen ini begitu fasih, lirih, dan suaranya ngga sumbang-sumbang amat, justru terkesan merdu-merdu gemes mirip-mirip pembawa acara anak lagi nyanyiin lagu band asal Bandung beraliran pop punk ini.
Banyak diantara mereka yang tertipu penampilan Ganis kemudian mereka ikut bernyanyi, tak peduli bagaimana tampilan luarmu yang penting dalamnya satu jiwa dan satu aliran darah.
"Wah, pinter emang si Ganis! Apa nanti kalo ada konser lagi gua juga mesti gitu kayanya, pake bando kelinci punya ponakan sambil bawa lampu kelap-kelip!" tawa Mulder dan Acuy, para panitia dan promotor yang awalnya berada di tempatnya masing-masing silih berebut ingin melihat kelinci unyu fan base SHA.
Lagu berakhir tapi Ganis masih diatas panggung, "a pengen foto bareng sama minta tanda tangan, boleh ya?!" pinta Ganis, dikasih hati minta empedu. Ia malah sudah menyiapkan salah satu kaos milik Wira yang sengaja ia bawa, hasil dari mengobrak-abrik lemari sang suami. Karena pada kenyataannya Ganis tidaklah se'Fosha itu, semua ini hanya untuk Indi. Walau tak dipungkiri ia memang hafal hampir semua lagu metal--punk kesukaan Wira, gimicknya hasil searching dari mbah gugle.
"Oh boleh, di backstage aja ya!" Ganis mengangguk dan sekali lagi Ganis bukanlah Ganis jika tidak mengeluarkan sikap absurdnya.
"A, boleh cubit engga meni gemes da ganteng?!" suaranya dari mik. Tak ayal aksi ini mengundang tawa greget dan renyah, tak sedikit pula termasuk pihak promotor dan management yang mengabadikan ini dalam sebuah foto atau video.
"Hah? Jangan atuh nanti sakit," tawa si vokalis.
"Engga, cuma cubit gemes aja! Abisnya seneng ketemu idola, geningan gantengan ketemu langsung!" jawabnya penuh sorot mata berharap namun penuh candaan dan intrik gombal. Mereka sampai tertawa dengan pengakuan Ganis, terkesan gombal tapinya menggemaskan, jika cupcake mungkin Ganis sudah ia gigit.
"Oke, peluk lengan aja ngga apa-apa sama cewek cantik mah!" ujarnya balas berseloroh, sontak bukan hanya Ganis yang berseru ingin, mungkin para penonton gadis akan iri pada Ganis malam ini karena bisa nyanyi, foto bareng, dan melukin lengan sang idola. Gadis itu memilih hanya berjabat tangan tanpa berani benar-benar memeluk lengan sang vokalis, meskipun tak terlihat ia tau Wira sedang melihatnya dengan tatapan laser akibat ulahnya.
"Nah loh, Ra! Ganis kepincut a Mbenk," tawa Acuy.
Rexi menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, "bini si Wira emang langka, mahiwal!" senggolnya pada Ivana yang menatap Ganis penuh makna terutama merasa kalah.
.
.
.
Note :
* mahiwal : beda dari yang lain
__ADS_1
* geningan : ternyata